"Ealah nguya-nguyu. Ra bener bocah iki."
Ari tersengih, menatap sekilas pada pria di sampingnya. Kemudian fokusnya kembali pada layar ponsel. "Lagi nulis roman picisan," elaknya.
"Yoh ...."
"Sing sabar, ya, Pakde. Orang sabar rezekinya moncer. Siapa tahu tiket ke Philipina cepat turun."
Apa yang diutarakan Ari terdengar seperti sebuah nasihat bijak, sejatinya dia sedang mengejek pria di sampingnya.Tentu saja nasihat bijak itu hanya ditimpali dengan dengkusan kuat. Tawa keduanya lalu berderai.
"Hmmm, Pakde hanya bisa berdoa. Semoga nggak offside lagi"
"Siapa yang offside? Bambang Pamungkas? Egy Maulana Fikri?" tungkas Ari geli, sambil mengerutkan dahi, "rasanya perlu membuat surat kaleng untuk Pak Menteri."
"Kok, Pak Menteri? Kamu ini, lho, Nduk."
"Apaan, sih?"
"Kalau lihat kotak persegi itu, sambil senyum girang sendiri, apalah ujungnya kalau bukan hal itu. Semoga itu yang terbaik. Syukur habis lebaran ada undangan buat kondangan. Pakde berdoa dari jauh. Eh, dekat ini."
Ari mencebik melanjutkan mengorak langkah. Pria yang dipanggilnya Pakde itu mengajaknya melihat kebun percobaan yang letaknya berada di sisi lereng sebelah timur dari D'Jinggo.
Keduanya masih terus bercerita sambil sesekali tertawa lebih galak lagi.
Meski pembawaan aslinya pendiam, tetapi Ari jadi tahu sejarah si Pakde, saat berjumpa dengan Kang Dedi. Pegawai BKSDA itu mengatakan Pakde ramai peminatnya. Untuk hari ini entahlah, Pakde asik mengusik hal yang sebenarnya ada benarnya ada tidak benarnya juga. Karena Ari tidak pasti dengan hatinya sendiri. Belum pasti dan belum yakin.
"Habis lebaran, ya, saling maaf memaafkan." Ari meningkahi sindiran Pakde.
"Nikahan juga banyak. Ikut sunnah rosul."
Ari menusuk dadanya sendiri. Lalu tawanya pecah. "Itu ada riwayatnya, Pakde. Menikah bisa kapan saja. Tidak terpaku pada hari naas atau hari baik. Rosulullah sengaja ingin mematahkan mitos kesialan saat bulan syawal. Di mana para perempuan Arab di zaman jahiliyah menolak dinikahi saat bulan Syawal.
"Alasannya mereka cukup lucu, karena unta betina menolak didekati unta jantan dengan cara mengangkat ekornya. Mereka menamakan perilaku unta betina itu dengan sebutan Syalat bi dzanabiha —menolak dengan mengangkat ekornya. Dari kata, 'Syalat' ini pulalah orang Arab Jahiliyah mengambil asal-muasal kata Syawal." ( 1)
"Serius, Ri? Astagfirullah. Sudah lama Pakde nggak ngaji. Otak jadi jamuran."
Ari tiba-tiba memberi tanda agar Pakde tidak menyelanya. Perempuan itu memilih berjalan maju beberapa langkah untuk sedikit mencipta jarak. Dia sedang menerima sebuah panggilan penting.
"Ya." Ari mengangguk, tetapi matanya membeliak ke atas.
"UMKM memiliki peranan penting dalam perekonomian nasional, di mana sebanyak 64,2 juta UMKM memiliki kontribusi terhadap PDB, investasi, dan ekspor. Jadi, kamu kudu ikut!" ujar si penelpon dengan nada tinggi. Persis Mariah Carry saat pamer jeritan tujuh oktafnya.
"Insya Allah. Bapak nggak ikut?"
"Saya, kan, bukan UMKM."
"Oh, iya. Lupa." Bapak sudah memimpin perusahaan besar milik Ende Hairul, batin Ari.
"Kenapa, huff? Kamu punya produk yang bisa naik taraf, Nareswari. Ngerti!" Si penelpon bersuara lebih keras dan sangat ketus. "Kapan lagi gua bisa marai lo!"
"Woi!"
"Kenapa? Nggak puas hati?"
"Ya! Awas aku aduin sama Kang Opick!"
Ari berdeham kemudian menutup sambungan teleponnya. Dia ingin melontarkan makian, tetapi ia tahu itu satu bentuk kesia-siaan. Kenapa juga dia membawa-bawa nama Opick. Aish!
Satu pekan ke depan Ari akan terbang ke Dubai. Iya, Dubai. Bukan menyusul Rahmadi, tetapi ada pertemuan penting yang harus dia hadiri.
Pihak Himpunan Pengusaha Muda sedang memberi jalan dan memberi dorongan agar usaha mikro, kecil dan menengah bisa lebih mendunia. Jadi, sang ketua himpunan beserta 50 orang pengusaha muda dari berbagai daerah akan berangkat ke Dubai untuk menjajaki pasar eksport.
Tentu saja itu sebuah inisiatif dan terobosan yang luar biasa dilakukan oleh sang ketua umum.
"Ini merupakan sebuah langkah yang sangat baik, karena kita perlu membuat kegiatan komprehensif untuk mendukung UMKM kita agar bisa lebih berdaya saing dan siap untuk bersaing di pasar dunia."
Sang ketua menjelaskan bahwa permasalahan yang dihadapi oleh UMKM dan dunia usaha di Indonesia sangat bervariasi. Namun, demikian pada pokoknya dapat dikelompokkan dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan pasar, modal, teknologi, manajemen dan akses global.
Selain mengunjung Dubai Expo, mereka juga akan bekerja sama dengan diaspora-diaspora Indonesia di luar negeri. Menjajaki dan memasarkan produk-produk UMKM Indonesia adalah misi utama.
Ari tentu saja akan membawa kerajianan anyaman juga potensi wisata D'Jinggo.
"Orang mana dia?"
"Siapa?" Ari menimang ponselnya. "Si Agusta. Ih, pingin nonjok aja."
"Bukan dia. Aku tahulah kalau yang telepon awakmu itu Agusta. Orang yang membuat kamu senyum-senyum tadi. Sebelum Agusta telepon."
"Wong Alas!" timpal Ari sok galak sambil melotot.
"Tarzan?"
"Udah deh introgasinya. Kalau bakat jadi polisi kenapa milih jadi Insinyur Pertanian. Eh, ralat Sarjana Pertanian ini. Ih, jurusan kuliah kok pindah-pindah. Fahutan lah, Faperta lah."
"Teman kuliah?" cecar pria itu terus menerus.
Ari mengerucutkan bibirnya. "Bukan siapa-siapa!" tegasnya. Perempuan itu memperagakan tingkah seorang ibu-ibu yang cerewet. Menurutnya, Pakde mirip perempuan tua yang cerewet.
Ari sendiri rawan hati. Toh, hubungannya yang membaik sekitar sebulan ini, di awali dari Nadi yang mengalami menstrual pertamanya. Kalau itu bisa disebut hubungan.
"Apakah berbalas pesan, saling telepon, sekedar panggilan video itu bisa ditasbih sebagai bentuk hubungan?"
Ari meluahkan rasa hatinya, lebih pada bergumam. Namun, lawan bicaranya sepertinya mengerti. Karena gumaman Ari seperti kucing di musim kawin.
"Setiap hubungan ada tahapan, dan aku yakin, seseorang, siapapun itu untuk menjadi bagian dari masa depanmu harus sudah siap dengan segala pahit masa lalumu. Tahu, dan ngerti siapa Nareswari yang akan dinikahinya. Harapanku, lelaki itu yang terakhir. Lelaki itu harus seorang yang dewasa baik pikiran, perkataan dan perbuatannya."
"Pramuka itu mah. Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan," tunjuk Ari pada segerombolan remaja berseragam pramuka yang melewati tempat mereka mengobrol.
"Ck, bocah. Diajak ngomong serius, malah cengengesan."
"Ya, karena Ari belum yakin. Menurut Pakde, wajarkah perempuan move on lebih dahulu. Baru setahun, dan menentukan pilihan baru?"
Masalahnya, Ari hanya merasa nyaman. Sedikit berdebar yang tentu saja sebuah kewajaran. Dirinya baru merasa berdebar kemarin. Lebih tepatnya dua hari yang lalu. Rahmadi pria dewasa, dia juga perempuan dewasa. Kalau tidak berdebar justru aneh.
"Masalahnya kami ini seperti nggak ada listriknya. Rasa seperti tersengat listrik, atau griming-griming karena terjun dari ketinggian itu nggak aku rasakan. Sangat berbeda dengan saat bersama Opick."
"Dasar, Nareswari. Ya, jelas beda. Opick bergaul sebagai suamimu. Orang baru itu sebagai teman."
"Jadi, gimana, dong?"
"Move on bagi perempuan itu, ada aturannya jelas. Selewat-lewatnya masa iddah." Pakde menatap Ari lekat-lekat.
"Iya, ya. Selewat masa iddah." Ari meringis menutupi rasa malu. "Kenapa jadi bloon, ya?"
"Lha, ini sangat bukan Ari yang aku kenal. Dia yang aku kenal, nggak mikir komentar orang, apalagi komentar nggak mutu. Ari yang aku kenal itu, yang dalam bertindak pasti sudah mempersiapkan hujah-hujah nomer wahid. Jadi ...?"
"Waktu ke Banten kemarin, aku ...."
Ari terdiam, menjeda ketika hembusan angin lumayan kuat menghamburkan daun-daun cemara hutan. Satu tangannya tengadah hingga beberapa helai daun jarum itu ada dalam gengamannya. Perempuan itu meniup helaian daun jarum itu.
Seorang psikolog lingkungan mengatakan: rindang pohon cemara dapat menghilangkan stress. Dikaitkan dengan makna pohon cemara itu sendiri yang berarti kesejahteraan dan kepuasaan dalam kehidupan.
"Aku berjumpa seseorang. Banyak orang lebih tepatnya. Mereka menyeretku pada kisah lampau. Pakde ingat, atau ibuku pernah cerita, gonjang-ganjing rumah tanggaku di awal saat pernikahanku?"
"Yang Opick ngajak pisah ranjang, muasalnya pesan dari teman kuliahmu itu? Wah, lama nian. Ketemu orang itu? Orang yang kirim sms atau yang jadi 'bara api' di sms itu?"
"Dua-duanya," helah Ari sekali lagi. "Ya, enggak usah kali pakai istilah 'bara api'. Sadis! Bisaan, ya, Pakde jadi orang sadis."
"Liat orangnya, gimana wujudnya? Takut hoaks," bidas Pakde sambil mengarahkan Ari duduk di gazebo. "Mana sini, aku terawang."
"Aduh kayak deteksi duit palsu aja, diterawang. Ini juga, enggak biasanya kepo," jerit Ari tidak terima.
Namun, jarinya berlari juga pada kotak galeri. Video Rahmadi sedang menekuni notebooknya, tetapi dikejutkan polah tingkah Kenyo yang sibuk dengan gerakan menjelirkan lidah, kakinya berada di atas sofa, sedang kepalanya di bawah melekat pada karpet lantai.
Lalu jarinya bergeser pada foto dengan pose selfish berlatar Etihad Museum. Satu-satunya yang Ari punya, itu juga Kenyo yang mengirimnya dua hari yang lalu.
Degupannya sedikit bertambah iramanya saat melihat foto Rahmadi saat sendirian itu. Pembawaan Rahmadi itu bukan bermakna egois, tetapi lebih kepada tampang penuh tekad.
Meskipun itu hanya sebuah repersentasi numeric dari sebuah gambar dua dimensi. Lalu video itu, interaksi anak dan bapak yang sangat biasa, bisa dia nukil di laman youtube, melimpah ruah. Hal sederhana itu mengusik dimensi hatinya.
Ari bergumam, "Bagaimana kalau aku punya anak sebesar itu?"
Entah kenapa dia berdegub hebat saat melihat interaksi keduanya di video itu. Karena dengan sangat aneh dan tiba-tiba Ari membayangkan bahwa pria itu adalah Opick dan dirinya bersama anak mereka. Aneh, sangat aneh karena pada tahapan itu Ari bisa berhalusinasi. Buka saat dirinya tertidur. Dia menerima kiriman vidio itu dalam keadaan sadar, dan terang benderang.
"Mukanya standar, kaya aku," gurau Pakde.
Ari meringis. Tergagap karena sasar oleh lamunannya sendiri.
"Jauh mukanya kalau dibandingkan mantan kamu. Lebih tua dari Opick, juga, ya."
"Memang lumayan berumur." Ari sudah menduganya. Woi, ini belum fix! batinnya sedikit mangkel.
"Gadis remaja ini, anaknya? Duda lah?"
"Iya, duda. Dia itu pembimbing Ari pas magang dulu. Anak dia salah satu penyintas saat bencana. Berawal dari ketemu anaknya, berjumpa juga sama bapaknya. Enggak pasti juga, sih, umurnya si bapak berapa. Mungkin seumuran Pak Gubernur, kali ya."
Ari termangu. Mengira hal bodoh yang berkeliaran di otaknya. Menambah, mengurangi selisih umurnya dengan Rahmadi. Secara otomatis memainkan metoda jari matika.
Pria di sampingnya tidak mampu lagi menahan tawa. Jari-jari pria itu yang tadi ada di dalam saku celana kini menyisir rambutnya yang setengahnya sudah berubah abu-abu. "Kamu nggak nyindir aku, kan, Nduk?"
"Lah, kok nyindir? Ini serius. Lah, memang Pakde setua Pak Gubernur? Nggak kan? Pakde baru sebaya Kang Opick. Setahun dua lebih tua. Yah, meski aku juga heran, itu uban dari mana sih import nya. Ghuangzou? Atau Pasar Legi? Hah ...."
"Kang Opick? Ini kamu sudah siap beneran? Pakde sendiri bingung kalau mertuamu, Pak Dadang ke sini. Semua dilobi supaya kamu bisa balikan sama Opick."
Ketika nama mertuanya disebut, seketika Ari menepuk jidatnya sendiri.
"Allahu Akbar. Untung saja Pakde ingatkan soal mertuaku."
-------
1. Dinukil dari Lisanul Arab Ibnu Mundzir (Jilid 11/ halaman 374).