Bab 21-Duri

1651 Words
Ari pernah mengolok Pak Adi yang nggak se-sexy Om Nunu aka Keanu Reeves. Ketawa ngukuk saya. Ngetik part ini sambil nonton pilm jadul 'Speed' yang di situ Om Nunu cakep beud. Enggak nyambung, enggak pa-pa, ya. Selamat membaca, semoga berkenan. --------------- Fatimah masih menggogohi dalam tangis. Ari kembali meniupkan cerita-cerita usang saat dia sekolah. Ari memang pernah menginjak duri. Duri sungguhan, bukan sekedar kiasan untuk menggambarkan penderitaan seseorang. Duri pelepah salak. Yah, Ari berjalan bahkan berguling di atasnya saat ujian pengambilan sabuk pencak silat yang dia ikuti saat SMA. Dulu saat masih remaja, Ari memang menggelikan. Bukan terjebak cinta monyet, seperti kebanyakan remaja seusianya, justru mencari kesaktian, mendalami tenaga dalam saat SMA. Memiliki dua saudara lelaki yang sering mengintimidasi memang membuatnya kokoh. Ribuan kilo jalan yang ku tempuh Lewati onak duri untuk jadi pendekar Ibuku sayang restui langkahku untuk terus berjalan Walau tapak kaki Penuh darah penuh nanah Olok-olok yang di lontarkan kedua kakaknya. Mereka dengan sengaja memparodikan lagu milik Om Iwan Fals. Fatimah tertawa dengan sisa tangis yang masih mengalir di pipi. Ari menghapus dengan ujung jari kurusnya. Mereka sama-sama terdiam kembali. “Akak, menikah lagi?” Suara Ari memecah deburan jantung dari keduanya yang saling bersahutan. Ketika pundaknya yang tadi basah kini samar mulai mengering karena gelora angin, Fatimah lagi-lagi melempar pandangannya pada lautan yang begitu tenang. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa sepekan ini. “Fatimah Chen itu seorang pelarian. Dia kawin lari diusia 22 tahun saat itu. Dia saudara baru.” “Saudara baru?” Ari mengernyit tak paham. “Mualaf. Nama aslinya Chen Siew Lan. Menikah dengan pemuda muslim yang hanya bekerja sebagai kerani, di kota Kulim, Kedah. Lalu part time kuliah malam.” “Kerani? Like, My Stupid Boss? Office clerk? Admin, bahasa kita?” Ari mempertegasnya. Fatimah menganguk. “Dia orang berada sebenarnya. Untuk menjadi Fatimah, dia banyak berkorban. Cinta menyatukan mereka yang berbeda. Perkawinan campur baik di sini maupun di Negeri Jiran sama saja. Mereka dikucilkan. Apalagi mereka tadinya berada di kampung. Bukan bandar besar macam KL yang lebih heterogen. "Mereka menikah di Nahratriwat. Fatimah tetap di sana sampai keadaan reda, distrik Sungai Golok. Sedangkan suaminya dari Kulim lalu berhijrah ke Rantau Panjang. Perbatasan antara Kelantan dan Thailand, lebih dekat untuk mencapai Sungai Golok. LDR, istilah sekarang. Namun, musibah itu datang. Dia terluka lalu wafat karena terkena serpihan peluru junta militer, ketika mereka berhasil merangsek lalu memukul mundur para militan. Kantong-kantong gerilyawan disapu bersih. Identitas orang mati itu yang membuatku bertahan hidup, sampai sekarang.” “Fatimah yang memberi identitas ini?” Ari mendekap mulutnya. Perempuan di sampingnya mengangguk. “Di Songklah, Naratriwat, pernikahan siri banyak terjadi. Apalagi pernikahan campur. Surga bagi para pelaku poligami atau yang ingin menikah diam-diam, tetapi sah di mata agama. Ya, di Malaysia menikah dengan mahar yang bisa membuat bangkrut, apalagi menikah kali kedua, biayanya sangat tinggi. Bila menyebrang lebih miring, 2/3 lebih murah. Di sana juga, banyak bocah ingusan menikah. Menikah di usia 15 tahun sangat lumrah, meski mereka baru berhubungan saat usia mencecah 18 tahun. Sebagian besar, bahkan para pekerja migran dari negara kita. Semacam bisnis. Tapi, pernikahan akak bukan bisnis. Akak merawat anak mereka.” “Innalillahi, jadi begini, Kak Fat, menikah dengan mantan suami Fatimah Chen, benar begitu?” Fatimah mengangguk. Kemudian tersenyum sumir. “Dari situ Akak tahu, kenapa Fatimah begitu berjuang untuk bersama suaminya. Sazali mau bekerja apapun. Bertungkus lumus untuk masa depan mereka yang harus kawin lari. Terkadang aku cemburu pada orang mati itu. Meski telah memberi Sazali dua orang anak. Kenangan itu mengikat pria itu begitu rupa, hingga membuat semua terluka.” Ari menggelengkan kepala berulang-ulang. Kisah perempuan di sampingnya ini memang sedikit ganjil. “Kak, bertungkus lumus itu apa?” Fatimah tersenyum. Bahasanya yang bercampur-campur membuat Ari sesekali mengernyit.Terkadang membahasakan diri sebagai Akak, atau aku. Bahasa Melayu yang rancu. “Orang yang berusaha dengan keras, sepenuh hati. Istilah orang jawa, ‘Sirah dadi sikil, sikil dadi sirah.” “Kak Fat, cemburu? Wajarlah. Cemburu itu nama lain dari cinta. Manusiawi, toh, Aisyah juga cemburu dengan Khadijah yang sudah wafat.” Ari menepuk pipinya keras. Bukan nostalgia yang indah. Dia jelas punya kenangan yang tidak mengenakan dengan tempat ini. Namun itu yang membuatnya harus datang. Bukankah relawan siap memberi darma bakti di mana saja, kapan saja. “Kakak mau mendengar ceritaku tentang tempat ini? Tapi, ini sesuatu yang memalukan.” “Memalukan? Bukan cerita bidadari mandi di kali, bajunya di curi, 'kan?” Ari terkekeh sambil mengeleng. “Saat itu, Ari masih berstatus mahasiswi dari Kota Hujan. Tanpa sengaja terlibat affair kecil dengan karyawan perusahaan tempat magang. Hanya berawal dari sebuah tumpangan mobil yang seharusnya tidak Ari ambil. Ngerinya, bahkan Ari hampir mati dirajam batu sebesar kepala. Lucunya, itu karena keisengan teman. Patner magang yang kesengsem sama tipe-tipe bapak-bapak, atau istilah Hot Daddy. Kak Fat bisa bayangkan!” "Kamu?" Ari mengangguk. Dia sudah memaafkan Kamila. Bagaimana bisa kedua istri para penggawa Departemen Produksi nyasar sampai depan portal perusahaan, bahkan mengeruduk Ari sampai IGD rumah sakit. Kamila pelakunya. Itulah kenapa malam itu, puluhan kali sahabatnya itu meluahkan kata maaf. Hampir semalaman, apalagi saat Ari meringis kesakitan karena efek obat pereda nyeri yang mulai hilang. Seluruh tubuhnya ngilu, remuk dari atas sampai bawah. "Badai sudah berlalu. Lucunya baru kemarin ini, Ari jumpa lagi sama si Bapak itu setelah sekian tahun. Dan ...." "Apa?" Fatimah ikut tertawa karena Ari juga tertawa kecil. "Sampai saat ini, Ari masih mikir apa yang sebenarnya dahulu terjadi. Gemes saja kalau ingat. Semacam noktah. Siapa yang naksir siapa? Siapa terkena getahnya ...." “Karena kamu mengemaskan.” Fatimah terkekeh. “Padahal kamu sudah serupa Ninja Hatori, ya? Bagaimana kalau jadi Sexy Lady. Atau, dulu ….” “Oh, Lady Boy seperti di Hat Yai lebih sexy dari kita yang perempuan tulen.” Ari menghapus air yang membersit keluar karena terlalu sering tertawa. Seketika matanya terpejam. Lalu terbuka. Dia memandang Fatimah tepat pada matanya. “Saya merasa heran, kenapa bahasa Kak Fat bisa tidak ikut logat sana. Kak tidak tinggal di sempadan lagi?” Ari pernah berlibur ke banyak tempat dan kawasan. Ke Malaysia tentu saja pernah beberapa kali. Bersama mertuanya terkadang bersama dengan Opick. Urusan bisnis. Hanya seputar Menara Kembar Petronas, Putrajaya, Genting Highland dan Langkawi. Sangat tidak mengesankan. Karena dia hanya jalan-jalan, sedang Opick sibuk dengan kolega bisnisnya. Jadi nama-nama kota yang di sebutkan oleh Fatimah terdengar asing di telinganya. Dia tidak menyukai keramaian, bangunan menjulang. Meski pada beberapa perempuan akan bahagia dengan berdesakan di seputar pusat pebelanjaan yang ada di menara kembar itu. Yah, Ari memang banyak berjumpa dengan masyarakat Indonesia berkeliaran. Entah sekedar cuci mata, atau apa, dia malas mencari tahu. “Saat Sazali bertemu dengan kedua orang tua Fatimah alias Chen Siew Lan, kesedihan dan rasa bersalah itu membunuhnya pelan-pelan. Tujuh tahun setelah semuanya terasa baik-baik saja. Akak bahkan tidak ingat dari mana asal diri ini. Yang ada di pelupuk mata, hanya Sazali dan anak-anak. Anak kami. Namun sayang, hati Sazali masih terikat oleh Fatimah, meski telah beda dimensi. Dan, Sazali pergi.” “Gimana-gimana, pergi?” Ari menegang, “meninggal?” Fatimah menatap langit. Mata yang sipit seperti kini tinggal segaris. "Sazali meninggal menyusul cinta sejatinya, Fatimah Chen. “Lalu dari Rantau Panjang kami berhijrah ke Shah Alam untuk menyambung hidup, aku bekerja di kilang atau pabrik. Ijazah Chen Siew Lan, diploma manajemen. Sangat tidak nyambung. Namun, akak giat belajar. Bekerja pada prodaction line, kemudian masuk HRD. Lalu ada pria lain setelah Sazali. Kami menikah. Punya anak lagi, tetapi tidak bahagia. "Saat ini Akak sedang dalam masa iddah. Dahulu, mungkin aku akan berperam di rumah. Tetapi, lihatlah sekarang, diri ini begitu jauh berbeda dari yang dulu. Bahkan dalam mimpipun, tidak pernah terpikirkan untuk menikah sampai tiga kali. Menjalani masa iddah dengan bekerja, lalu ke Banten untuk jadi relawan.” Ari dahulu juga tidak pernah berpikir akan menikah lebih dari sekali. Meskipun dia tidak pasti apakah akan sanggup menikah lagi dengan orang lain. Ari hanya takut jika pria itu hanya akan menjadi batu pijakannya untuk mengasingkan diri dari keluarga Hairul Aman. Pasti semua perempuan di muka bumi ini ketika dibawa ke pelaminan, bermimpi bahwa itu adalah pernikahan pertama dan terakhir. Cinta, sampai maut memisahkan. Dia tidak punya pembanding. Opick, pria itu masih menjadi pusat dunianya. Sampai semua terkikis pelan-pelan. Sayangnya, hatinya yang abrasi masih meninggalkan beberapa kepingan harapan. Untuk mengusir memorinya, bahkan telah tiga kali Ari melakukan test darah. Mungkin akan menjadikan gunting tajam yang memotong silaturahminya dengan keluarga Opick kalau mereka tahu. Ari hanya waspada. Dia tidak mau menjadi bodoh, menangis di pojokan karena dinyatakan mengidap HIV. Dia tidak yakin Opick bersih, setelah kejadian itu. Dia selalu mengirimnya hasil skrining testnya ke tempat pria itu. Caranya menyalahkan sekaligus memaafkan Opick. Kecuali, satu hasil testnya yang lain .... Ari meraba bagian bawah perutnya yang tiba-tiba seperti diplintir, mulas membayangkan yang sudah dia lakukan. Apakah hal gila menuruti kemauan Ende Hairul? Tentu tidak gila.Toh, embrio beku itu miliknya dengan Opick. Koloni cintanya, yang diambil sebelum Opock ditahan. Ari dan Opick memulai program untuk bayi tabung pada 2014. Ada sepuluh embrio, lalu coba dimasukkan dua embrio tetapi gagal. Akhirnya mereka berhenti berusaha. Sampai Opick ditahan atas tuduhan penyuapan sebuah proyek. Tahun 2017, atas permintaan Ende Hairul, Ari kembali melakukan prosedur Frozen Embryo Transfer (FET) untuk ketiga kalinya menggunakan sisa embrio beku yang sudah tersimpan selama tiga tahun. Berhasil. Buncah bahagia itu tak mampu Ari sembunyikan. Ya, karena hadirnya bayi yang begitu dia nanti-nanti. Dia berhasil mengandung. Ada nyawa berusaha tumbuh di rahimnya. Sayangnya bayinya pergi begitu cepat. Secepat perginya kepercayaan seorang Nareswari pada Taufik Hairul Aman. Di tahun 2017 menjadi titik nadir kehidupan Ari. Hamil lalu memutuskan bercerai. Lengkap sudah kesakitan yang sudah Opick torehkan dalam hidupnya. Keinginan menikah mungkin hanya sebuah kamuflase agar ibunya bahagia. Meskipun dia tidak pasti apakah akan sanggup menikah lagi dengan orang lain. Ari hanya takut jika pria itu hanya akan menjadi batu pijakannya untuk mengasingkan diri dari keluarga Hairul Aman. Keluarga Hairul Aman yang masih mengikatnya begitu erat dengan duri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD