Puputan angin memainkan kerudung keduanya. Ari menoleh pada sisi wajah Fatimah. Pipinya yang putih merona oleh suhu panas, setelah beberapa hari sejak tsunami gerimis mendera daerah pesisir. Dalam diari itu, sempat terbersit rasa hati dari si Kenyo untuk menjadikan Fatimah Chen ini ibunya.
“Mau jalan ke pantai?”
Mereka berdua menyusuri Pantai Pasauran. Dari bibir pantai terlihat jelas Anak Gunung Krakatau yang senantiasa mengepulkan asap. Ada juga Pelabuhan Pasauran yang sudah beroperasi dari satu abad lampau. Pernah juga Ari mengajak Kenyo naik ke Menara Pengamatan Anak Gunung Krakatau, hanya agar bocah itu sedikit membuka diri. Hasilnya nihil.
“Ari sudikah awak mendengar satu rahasia?"
"Rahasia apa, Kak?" Ari menampilkan seulas senyum. Tentulah sebagai seorang sahabat ia sudi mendengar apa jua keluh kesah Fatimah.
"Rahasia hidupku?”
“Saya, Kak?” Ari sedikit ragu. “Saya tahu sedikit tentang, Akak. Ibu dari empat orang anak. Punya kemampuan layaknya dokter.”
Fatimah Chen mengulas senyum.
"Kamu tahu kenapa saya piawai dengan hal medis? Karena Akak memang lulusan universiti perubatan."
Giliran Ari yang melongo. Pantas saja. Meskipum berulang kali mendapat pelatihan dari tim dokter, PMI kemampuan Ari hanya seputar membalut luka dan memasang infus. Jadi, Fatimah Chen seorang dokter?
“Awak tahu kenapa saya boleh bercakap nyambunh dengan mereka?"
"Karena Akak, smart."
"Saya lahir dan besar di Indonesia."
"Masya Allah, pantesan. Ari pikir setiap tertawa itu hanya iya-iya paham."
Ari benar memuji kemampuan berbahasa Fatimah Chen. Dia mampu bertutur menggunakan beberapa bahasa sekaligus. English, Thai, Melayu, bahkan Bahasa Jawa. Meskipun tidak mahir dia juga paham Bahasa Sunda dan Serang Banten sehingga tidak mengalami gagap bahasa dengan penduduk Banten Kidul yang lebih kental dengan penuturan Sundanya.
Fatimah tergelak, lalu diam menelan segala rasa yang lama ia pendam.
"Setelah menggenggam ijazah sarjana kedokteran, keluarga memberi restu menikah. Harusnya, Akak yang sedang khusuk menempuh koass, jenjang profesi untuk jadi dokter fokus terhadap pendidikan. Tetapi, kami justru terdampar di daerah konflik. Negeri Siam sekitar tahun 2004.”
“Dokter muda? Kuliah di sini?" Ari membekap bibirnya.
"Yah."
"Lalu menjadi kombatan perang?” Ari menggigit bibirnya. Wajahnya pias seketika.
“Banyak yang bilang, kami mabuk agama. Namun, dulu istilahnya bukan kombatan. Mereka anggap kami tersasar, menjadi militan. Meski tidak semua harakah mendorong kita untuk melawan tiran. Tetapi, yah, pada akhirnya—.” Fatimah menelan ludah, “Itu benar terjadi. Kami terjebak doktrin, hilang logika.”
Lagi-lagi apa yang ingin diluahkan hanya serupa desisan. Seperti satu kepalan batu bersarang di tenggorokan. Membuatnya kelu dan sesak napas secara bersamaan.
“Kenapa, Akak cakap ini, ke kamu?”
“Jangan lanjutkan andai, Kak Fat, merasa itu akan membuka pekung di d**a. Yang paling penting, tujuan mulia di sini. Maksud Ari, saat ini sudahpun bangkit. Ibarat seorang bijak berkata: lebih baik menjadi mantan pencuri dari pada menjadi mantan kyai.”
Ari kebingungan. Menghadapi penyintas bencana dengan orang yang mengaku terdoktrin pahaman serong. Seperti dianggap sesat, teroris bahkan jagal. Beda, sangat berbeda. Meskipun dia pernah ada dalam posisi itu, dituduh sebagai militan. Paling halus disindir sok suci. Paling nyelekit disapa: hai anak buah teroris tukang ng-bom. Karena orang abai, menyamaratakan setiap gerakan Islam adalah sama. Tanpa cek, tanpa tabayun.
Semua orang pernah belajar dari kesalahan. Bahkan penemuan mesin uap melakukan banyak kesalahan diawalnya. Mereka juga menentang penguasa, karena dianggap mendobrak norma. Di cap kiri atau kanan suatu pahaman sejatinya tidak penting. Karena di manapun, tiran hanya mengenali satu saja solusi. Hanguskan, ratakan dengan tanah.
“Saat semuanya lebih baik, kenapa tidak memberi kabar, kerabat atau orang tua di sini? Empat belas atau lima belas tahun, Kak.”
“Empat belas tahun lebih tepatnya.”
Fatimah melemparkan pandangannya jauh ke tengah laut di bawah sana. Kenangan-kenangan itu jauh berada di kedalaman palung. Memerlukan oksigen lebih untuk sampai di dasar sana lalu mengangkatnya ke permukaan.
Keduanya sama-sama terdiam. Melihat pada deburan ombak yang mengikis batuan, ongokan sisa-sisa kayu, juga serpihan masa lalu tentang keindahan sebelum semua terengut oleh gulungan ombak yang marah.
“Ibu sudah meninggal saat, aku, SMP. Jangan bilang aku tak berusaha menghubungi mereka,” ujar Fatimah menerawang lagi.
"Mungkin nomer ponselnya ganti. Meski sangsi, zaman dulu, semua serba mahal. Bahkan, Akak mencoba menghubungi telepon rumah. Naas, mereka sudah pindah dari rumah dinas. Selama ini, hubunganku dengan ipar punya sejarah yang buruk. Pasang surut seperti air laut. Meski, yah, sudah berbaik-baik padanya. Mungkin, dia tidak penah menyampaikan pesan. Mungkin juga, beliau terlalu kecewa, lebih memilih melepaskan ingatan akan diri ini. Adiknya yang durhaka.”
Ari meremas tangan Fatimah, ketika curhatan yang awalnya penuh kelucuan itu bertukar mendung lalu gerimis dalam seketika. “Kak Fat, ditempa pengalaman luar biasa. Saya bisa bantu, cari mereka. Kak Fat mau mencobanya?”
Fatimah menggeleng. “Biar saja begini. Bagaimana denganmu?”
Ari tertawa. Tertawa dalam merawat lukanya sendiri. Ia menghela napas panjang dan dalam. Sepoi angin tak dapat mengusir kegalauan.
“Ari— janda. Yah, belum punya anak setelah hampir sepuluh tahun menikah. Saat ini, mantan suami ada di penjara karena rasuah. Diri ini tidak kuat menghadapai cercaan. Suami tidak tahan dengan godaan. Akhirnya kami, ya, itu tadi, berpisah.”
Ari mengigit bibirnya. Soalan tentang bagaimana dia saat ini, selalu saja muncul. Orang-orang yang menanyakan tentang perpisahan dirinya. Menjadi janda sama rawannya dengan jomlo akut yang belum berkomitmen.
“Maaf ….” Fatimah nampak bersimpati.
“Saat mengenakan tiara, dan penghulu mengatakan, sah, semua mengelu-elu, Nareswari serupa Cinderella."
"Cinderella adalah mimpi semua anak gadis."
"Benar sekali." Ari melukis wajah Opick dalam kalimatnya. "Suamiku seorang yang bahkan dalam mimpipun tak pernah terpikirkan, saking jauhnya kasta kami. Dia juga terlalu tampan, terlalu kaya dan posesif.”
Ari terkekeh ketika raut muka perempuan di sampingnya berubah drastis. Seperti takut melukai. Padahal keadaan Fatimah lebih parah lagi.
"Sorry."
“Semua sudah berlalu." Tidak ada air mata yang mencoba mengganggu usaha Ari untuk sekadar bercerita. "Oh, ya, karena tsunami ini, Kak Fat, datang dan pulang kampung ke Banten?” Ari mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ya, musibah ini menggerakkan ingatan akan tempat ini. The most beautiful a high school period, you know? Janabijana. Tanah ini melebihi tanah kelahiran.”
“Ya! Benar sekali, masa putih abu-abu. Memangnya kenangan apa paling menghanyutkan? A first love? Atau, kita berandai-andai, Kak Fat berjumpa dengan keluarga yang hilang, that’s an extraordinary moment. Aku doain, deh.”
“I hope so. Aamiin Ya Allah.”
“Laa tahinuu walaa tahzanuu … jangan lemah dan jangan bersedih!” Mereka berucap hampir bersamaan.
“Kok, Ari jadi ber aku, duh, nggak sopan.”
"Relakslah."
"Kalau Akak bagi izin. Ari boleh bantu cari saudara Kak Fat."
"Akak pernah iseng mencari nama mereka di media sosial. Sekitar Maret 2009 tak ada postingan apa-apa. Linkidin, sepertinya dia tak ada di Indonesia."
“Eh, ngomong-ngomong, dulu Kak Fat tinggal dimana? Maksud Ari, Banten sebelah mana?”
“SMP di Jakarta dua tahun. Kelas tiga di Cilegon. Karena, Mas kerja di pabrik baja sini. Saat SMA pindah Serang, jadi anak kos. Dan, yah itu tadi, sedikit ricuh dengan ipar. Masa kuliah balik ke Jakarta, kos, paling pulang ke tempat, Om. Adiknya almarhum Bapak. Dan seperti yang aku cerita, datang ke daerah konflik dengan misi mulia, versi jamaah kami. Ikut suami.”
“Bermakna, suami Kak Fat …?” Ari tak jadi melanjutkan.
Fatimah mengeleng. “Akak terdampar di wilayah konflik muslim di Naratriwat yang saat itu sedang melawan junta militer. Bagi orang Indonesia, mungkin lebih mengenal Pattani. Ada empat distrik yang menjadi base muslim Melayu di Negeri Siam. Naratriwat, Pattani, Songklah dan Yala.
"Komunitas muslim di Pattani paling besar. Kamu tahu, tokoh-tokoh yang menolak asas tunggal. Beliau antara tokoh pergerakan dari Indonesia yang pernah berjuang, dan mukim di Siam. Tapi kembali ke sini, ketika rezim tumbang bersamaan era reformasi. Kami, Akak dan suami terpisah. Suami gugur, ketika itu, akhirnya bisa menyebrang ke perbatasan Malaysia, daerah Kelantan,” sedu Fatimah.
Sebak tiba-tiba menerjang mengingat kejadian itu. Tangan Fatimah yang putih, mungil mendekap perutnya, “Termasuk anak kami, yang masih berusia lima bulan kandungan. Dia meninggalkanku dalam kesendirian, sesal dan air mata juga semangat hidup kian surut.”
Fatimah menghela napas panjang, mengusir kenangan itu menjauh. Dia bukan perempuan muda yang dalam keadaan buncit perutnya, sebagai pelarian, kelaparan dan ketakuatan. Dia ingat ketika itu, usia kandungannya memasuki minggu ke delapan belas.
Menurut teori yang dia hapal di luar kepala, harusnya fetus itu seukuran ubi jalar, ikut merasakan apa yang dia rasa, mendengar apa yang dia dengar. Rasa takutnya, rasa laparnya, juga kerinduan yang semakin merimbun setiap waktu. Kerinduan untuk pulang pada kampung halaman.
“Kak?”
Fatimah menyeka air mata yang menderas. Dia mengigil, mencengkram erat baju kurungnya. Ari tahu pundaknya memang tidak kokoh. Tapi satu tangannya merengkuh pundak rapuh itu agar bersandar padanya. Meski mencoba untuk tidak membicarakan masa lalu yang pahit, nyatanya Fatimah masih ingin berbagi rasa.
“Akak boleh tumpahkan semuanya. Anggap saja, ini pundak suami, almarhum bapak atau saudara lelaki yang mungkin dia juga sedang merindukanmu.”
Ari ingin ikut menangis. Namun, hatinya seketika tawar, rasanya tidak pantas. Kerikil hidupnya tidak setajam itu. Dia hanya selalu tersedu-sedu sambil melepas celana dalamnya yang lagi-lagi bersimbah darah. Linglung mencari tampon yang sebenarnya selalu ada di kabinet kamar mandinya. Opick menyusul, meredam tangisnya dalam kehangatan pelukan. Sambil tangan besar itu menyisir rambutnya dengan lembut. Suaranya melenakan seperti puputan bayu. Memberi kesejukan seperti oase di padang pasir.
“Nggak apa-apa, Neng. Allah nyuruh urang pacaran tiheula. Sapuluh warsih Akang bakal antos.” (1)
Sayangnya, semuanya nyata, cinta mereka hanya kekal sepuluh tahun untuk mampu bertahan dalam bersabar. Dia terlalu lena, merasa sangat dicintai, dipuja Opick. Ari tahu, Opick selalu merasa tertekan di hadapan Ende Hairul, apalagi setelah Ende Nenden berpulang. Zuriat itu harus ada, bagaimanapun juga.
Ari menggeleng lagi. Tidak. Hidupnya tidaklah semenderita Fatimah. Apa yang dia lihat di channel TV soal perang dan pengungsi itu mengobrak-abrik hati siapapun.
Politik memang sekejam itu. Tidak ada kawan maupun lawan abadi. Yang ada adalah persekongkolan untuk kepentingan sebuah dinasti. Perempuan dan anak-anak senantiasa tereksploitasi jadi pagar betis. Semboyan yang melatarbelakangi praktik kolonialisme dan imperalisme oleh bangsa-bangsa Eropa dikenal dengan istilah, Gold, Glory, dan Gospel. Nyatanya saat ini semua puak melakukanya tak peduli apapun, asalkan semua tujuan tercapai.
Fosfor putih, yang pada konsentrasi kecil tadinya dapat menjadi zat adiktif makanan, pupuk, senyawa pembersih, bisa berubah menjadi bom yang mengerikan. Konflik di Mosul, Irak, Perang Gaza. Bahkan ada selentingan dari media Australia bahwa tentara negara juga mengunakan bom fosfor pada kelompok bersenjata, di Papua. Meski rilis tersebut dibantah, dianggap provokatif. Ari ngeri membayangkannya.
“Kak Fat, tahu nggak, apa yang kakak alami membuat Ari banyak bersyukur. Seorang penyair berkata: siapa yang berbaik sangka pada Pemilik Arsy, dia akan memetik manisnya buah yang dipetik di tengah-tengah pohon berduri.”
Fatimah kembali menggogohi dalam tangis.
--------
1. Nggak apa-apa, Neng. Allah menyuruh kita pacaran dulu. Sepuluh tahun juga akang tunggu.
Sedikit ngompol, ya; ngomong politik. Part ini menerangkan siapa Fatimah Chen. Sejarahnya dia yang terpisah dari keluarganya yang asli Indonesia. Dari mana dia mendapat nama itu nanti part setelah ini. Pasti sudah mendug siapa keluarga si Fatimah di Indonesia, 'kan?
Tahulah. Pinter.