Saya mencintai tokoh Pambudi. Dia akan muncul di tempat-tempat penting di masa depan.
Salah satu yang membuat seorang relawan terlihat strong saat berada di daerah bencana itu ya banyak tertawa, sering nyanyi meskipun garing dan suara fals.
Sedih banget melihat banjir yang tak kunjung surut. Di bulan yang sama di tahun 2019 sebagian besar wilayah Indonesia bahkan dilanda kemarau panjang. Mengawal distribusi air, pembuatan sumur untuk publik menjadi agenda setiap hari. Bahkan sampai tengah malam.
Semoga banjir di Pulau Kalimantan, Jawa dan semua daerah terdampak segera surut.
Semangat relawan, semangat berjuang!
-------------
"Ijinkan aku pergi," ujar Budi nyaring sedikit berirama. Persis seperti saat Broery Marantika menyanyikan lagu Pamit.
Ijinkan aku pergi
Apalagi yang engkau tangisi
Semogalah penggantiku
Dapat lebih mengerti hatimu
Memang berat kurasa
Meninggalkan kasih yang kucinta
Namun bagaimana lagi
Semuanya harus kujalani
S'lamat tinggal kudoakan
Kau selalu bahagia
Hanya pesanku
Jangan lupa kirimkan kabarmu
"Bud, kena sawan, ya?" tanya Indah.
Perempuan itu meski seperti relawan lainnya yang menampilkan muka zombie dengan kantung mata sebesar kantong teh celup, tetapi tetap senantiasa tertawa ngakak dengan banyolan Pambudi.
"Mbak, kalau aku jumpa si bapak, terus aku kudu piye? Aku harus bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" tanya Ari. "Indah, ada bye-bye fever. Demam sepertinya bocah ini."
"Bapak yang pakai kaca mata itu? Kapan-kapan aku mau tahu cerita komplitnya."
"Siapa sudi ghibah sama kamu!" tukas Indah.
Lusa adalah tahun baru. Indah sudah memutuskan untuk menuntaskan misinya bersamaan dengan pergantian tahun. Tadi pagi dia bertolak pulang. Sedangkan Budi akan bergerak ke daerah Sumur yang masih membutuhkan relawan untuk memulihkan infrastruktur. Mungkin menggenapkan satu bulan di pengungsian.
Meskipun selalu berada dalam satu kawasan, tetapi frekuensi pertemuan mereka sangat jarang. Terkadang hanya saling sapa ketika penat telah merangkumi tulang sekerat atau saat malam tiba ketika koordinasi sekaligus evaluasi kerja.
Menurutnya, pada tahap ini, para pengungsi mulai bisa melupakan kejadian naas itu. Psychological frist aid (PFA) atau pertolongan psikologis sangat perlu, ketika menyadari nyawa mereka selamat, tetapi mereka jatuh sejatuhnya. Harta benda lenyap, tiada rumah untuk berlindung. Ari akan membersamai penyintas sampai akhir, mungkin ia baru akan pulang ketika tenda dan mes dibubarkan.
Ari menghela napas, tahu siapa yang dimaksud dengan bapak oleh Pambudi.
Sambil melipat jarinya, dan sudah sekian hari setelah perpisahan di Posko Koramil, Ari tidak sekalipun menghubungi atau dihubungi Rahmadi, walaupun mereka berdua jelas-jelas saling bertukar nomer penyerta. Sepertinya, pria itu begitu sibuk. Mungkin juga keluarganya belum ditemukan.
Apakah pantas menghubungi dulu, dengan sebuah pertanyaan standar. Pak, bagaimana keluarga, anak istri sudah ketemu?
Ataukah, Pak, bagaimana istri bapak yang cantik, tetapi galak itu? Apakah selamat?
Ari mengeleng, mengusir pikiran naif dan kotornya. Menghubungi bukan berarti kepo, itu bagian dari silaturahmi, 'kan? Sudut hatinya yang lain berbisik.
Perempuan itu seperti terjebak perasaan asing, yang mengelayuti hatinya. Jauh di dasar sana, rasa ingin tahunya justru kembali menyeruak kuat, tak terbendung, lalu berujung gelisah. Bagaimana mungkin?
Ari mencela hatinya sendiri yang kini rawan sejak perjumpaan itu. Jelas saja, pria itu lebih ramah. Luar biasa ramah, beda dengan penampakannya dua belas tahun silam. Apakah benturan di kepalanya dulu sangat keras, hingga karakternya jadi berubah? Lagi-lagi andaian itu muncul. Akan tetapi, pria itu tidak mengalamai hilang ingatan.
Ari meraup wajahnya yang mulai dihiasai jerawat. Dia tengadah, matanya yang sipit, semakin mengecil. Dia mensugesti dirinya sendiri agar tetap fokus. Menjadi relawan yang di hadapinya adalah orang-orang yang tengah papa, merajut hati yang terkoyak karena bencana. Pikiran gila yang merayapi mindanya harus dienyahkan.
Pria itu tengah sibuk mencari keberadaan anak dan istrinya. Ari membisiki hatinya lagi. Entahlah, dirinya hanya ingin sedikit merisik kabar. Rasanya memang ada hal penting yang belum terlerai, tetapi tidak mungkin mengungkapnya ketika di depan Budi maupun Indah.
Apakah karena saya, bapak keluar dari perusahaan dan kota ini?
Hati Ari sedikit tercekat. Meski pertemuan ini diluar garis kuasanya, ada sisi sayu yang melilit hatinya untuk melepas Rahmadi seketika itu. Pria itu hanya mengangguk sambil menyalami semua. Bahkan ketika bersalaman dengan Budi terlihat sedikit lama. Sambil menepuk pundak lelaki itu dan membisikan sesuatu, sedemikian peka telinga Ari, sampai-sampai masih mampu mendengar bisikan, yang berbaur gerimis kala itu.
“Jaga bocah magang saya, ya, Mas Budi.” Yang di sambut Budi dengan kekehan.
“Sah … Pak! Sah …!” Budi melirik Ari yang cemberut kala itu.
“Pak, Pajeronya nggak takut di embat orang, Pak?” Sopir mereka meringis ingin tahu.
Dan lagi-lagi Rahmadi hanya tersenyum. “Itu mobil milik patner saya. Dan ada sopirnya di dalam lagi tidur itu, pas saya tinggal.”
Yang disahuti dengan, ohhh panjang dari semua. Kecuali Ari.
Patner? Terdengar sedikit sumbang.
Rahmadi, pria yang dia kenal seperti monster di perusahaan. Tapi pada kenyataanya, rapuh. Hanya diam ketika makian istrinya yang menyerupai tembakan mortir. Menurut cerita Bu Tutik saat Ari datang menyerahkan laporan, pria itu bersitegang hebat dengan istrinya.
Sebelum Ari membuat Erlita terpelanting, perempuan itu terlebih dahulu membuat perhitungan dengan suaminya. Dia datang untuk menendang, menampar, menjambak, dan, ah, Ari tak sampai hati memdengarnya, padahal dia tahu pria itu jelas sedang cedera karenanya.
Rahmadi melindunginya dari tindakan beringas seorang istri yang sedang terbakar cemburu buta. Istri Imam Junaidi. Saat itu sebersit tanya menjelma, apakah Rahmadi ini pria yang minus emosi? Atau, sikap judesnya di perusahaan adalah topeng kelemahannya.
Mungkin juga cinta yang demikian kuat yang mengikat mereka. Pasangan yang menurutnya sangat aneh, hingga lebih baik diam, maka semua akan baik-baik saja. Sayangnya, Ari hanya mampu menitip semua kegundahan, ucapan terima kasih lewat Andri dan anak-anak lain yang ikut membesuk Rahmadi di sebuah rumah sakit.
“Ari, awak nampak Kenyo, tak?” sapa seseorang setengah terengah.
“Kenyo nyebelin itu?”
Fatimah Chen berlari-lari kecil dari gapura menuju Posko Masjid. Fatimah relawan asal Malaysia itu biasanya berada di posko kesehatan membantu para tenaga medis di Puskesmas. Namun, sudah tiga hari pindah ke Posko SD Cipanas.
“Dia tak pamit. Ada yang nampak Kenyo ke mari bawa violin,” ujar Fatimah terlihat jengkel.
Posko SD Cipanas berada dua kilometer dari posko Masjid. Posko itu berada di tempat yang lebih tinggi dan menanjak dengan rentang hampir dua kilometer lebih dari bibir pantai.
“Akak jalan kaki dari atas?” tanya Ari sedikit prihatin.
“Tak lah. Akak naik ojek.”
“Teh Ari, nyari Kenyo?”
Ari segera mengangguk ketika takmir masjid menyahut kepanikan Fatimah. “Ada nampak b***k itu, Mang?”
“Tadi, Mamang ada sapa dia. Kalem wae. Lempeng dia jalan turun. Padahal belum boleh ke pantai. Mungkin dia ke pantai, Teh.”
Ari mengangguk sekali lagi, kemudian menyeret Fatimah menuju jalan. Dari pos masjid ke arah jalan besar tak sampai enam menit. Mereka bergegas menyusul ke arah yang ditunjukkan takmir masjid.
“Kenyo masih bungkam juga. Dan Ari masih menahan diary kumalnya.”
“Jangan-jangan dia tahu, awak curi baca diary kumal, tu?”
“Bisa jadi. Dia marah dalam diam karena rahasianya terbongkar."
"Tiada nama emak bapa dia? Tetap saja kita tak dapat nak cari identitinya. Atau, ambil awak gambar lepas itu share ke sosial media," usul Fatimah.
Ari terdiam. Perempuan itu tidak ingin menyakiti hati Kenyo yang begitu lunak. Biar saja gadis itu menata perasaannya.
"Akan Ari pikirkan. Ayo, kita menyusulnya ke pantai," ajak Ari.
Ari mengajak Fatimah mempercepat langkah mereka. Setelah menyeberangi Jalan Anyer-Sirih yang mulai ramai, kebanyakan masih ambulance juga mobil relawan. Suasana pantai masih muram, sejauh mata memandang adalah sampah yang masih sangkut di pepohonan.
“Assalamulaikum. Damang, Kang!”
Ari menyapa seorang pria yang merapikan warung miliknya. Bangunan semi permanen itu, masih lumayan kokoh meskipun kotor oleh selut.
“Waalaikumussalam. Damang, Teh. Ada apa, nyak?”
“Ada nampak bocah perempuan, setinggi kuping saya ini. Rambut cepak, tangannya digendong?" Ari tak pasti apakah Kenyo masih menuruti perintah untuk tidak membiarkan tangannya menggantung tanpa penyangga.
Pria itu langsung menunjuk ke balik pohon tumbang di tepi pantai.
“Saya tanya, dia diam saja. Perasaan pernah lihat itu bocah di mana, lupa-lupa ingat. Saya biarkan, tetapi saya awasi juga, Teh. Ini, Teh Ari, nyak?”
“Iya, Kang … ini Ari.”
Pria ini pernah membangunkannya karena putrinya yang masih balita mengalami demam lumayan tinggi. Demam yang ditakutkan akan menimbulkan kejang pada bayi.
“Kalau begitu, saya pamit dulu. Nuhun.”
Ari lega ketika pandangannya terlempar pada tunggul kayu, ternyata memang Kenyo ada di sana. Fatimah Chen ternyata sudah lebih dahulu melabuhkan diri di sana. Ketika Ari mendekat, gadis itu mendongak, lalu melangkah pergi menyusuri Pantai Pasauran ke arah utara. Setelah menemukan batu besar dia duduk di sana, sengaja menghindar.
“Penat juga, ya, nak mengurus si Kenyo,” ujar Fatimah pada diri sendiri.
Bagi semua relawan ketika Pambudi pergi, lalu Kenyo menjauhi Fatimah keadaan menjadi sedikit sulit.
"Semua jadi runyam. Setidaknya, kita sudah berusaha merangkulnya, Kak."
Mereka berdua terdiam. Puputan angin memainkan kerudung keduannya. Ari menoleh pada sisi wajah Fatimah. Pipinya yang putih, merona oleh suhu panas, setelah beberapa hari sejak tsunami gerimis mendera daerah pesisir. Kini mereka boleh merasa lega kerika merasakan hangatnya sinar matahari.
Ari menorehkan senyuman, dalam diari itu, sempat terbersit rasa dari si Kenyo untuk menjadikan Fatimah Chen ibunya.
“Mau jalan ke pantai?”
Mereka berdua menyusuri Pantai Pasauran. Dari bibir pantai terlihat jelas Anak Gunung Krakatau yang senantiasa mengepulkan asap. Ada juga Pelabuhan Pasauran yang sudah beroperasi dari satu abad lampau. Pernah juga Ari mengajak Kenyo naik ke Menara Pengamatan Anak Gunung Krakatau, hanya agar bocah itu sedikit membuka diri. Namun hasilnya nihil. Kenya memang mengekorinya, tetapi mulutnya tetap rapat terkunci.
“Ari sudikah awak mendengar satu rahasia?"
Dengan sedikit melongo Ari menoleh pada raut pucat itu.
"Rahasia apa, Kak?"
"Rahasia hidupku?”
“Saya, Kak?” Ari sedikit ragu. “Saya tahu sedikit tentang tentang, Akak. Ibu dari empat orang anak. Punya kemampuan layaknya dokter.”
Fatimah Chen mengulas senyum.
"Kamu tahu kenapa saya piawai dengan hal medis? Karena Akak memang lulusan universiti perubatan."
Giliran Ari yang melongo. Pantas saja. Meskipun berulang kali mendapat pelatihan dari tim dokter atau PMI, kemampuan Ari dibidang kesehatan hanya seputar membalut luka dan memasang infus.
Jadi, Fatimah Chen seorang dokter?