Beberapa kalimat ini saya kutip dari curahan hati seorang anak usia sepuluh tahun saat dia harus diserahkan penjagaanya dari sang nenek dari pihak ayahnya kembali pada sang ibu kandung.
So sad. Tidak ada perpisahan yang tidak membawa luka, air mata, dan trauma. Apalagi ketika sudah ada anak di dalamnya.
-----------
Memasuki satu pekan pertama, jumlah relawan mulai menyusut. Ari yang awalnya di tempatkan di pos informasi Pasauran yang mendapat amanah mengurus dan mengelola kebutuhan informasi. Dari pendataan jumlah pengungsi, logistik, koordinasi relawan juga mengurusi administrasi lainnya.
Pendataan jumlah pengungsi juga harus detail, antara yang membutuhkan rawatan lanjutan, luka ringan atau berat yang masih bisa di caver medis di pengungsian. Mana yang harus mendapat rujukan ke rumah sakit daerah atau harus di kirim ke Rumah Sakit besar.
Saat ini, Ari sudah menjelma menjadi makhluk setengah mutan bernama kutu loncat. Meskipun mengenakan jubah labuh, perempuan cantik itu begitu gesit berpindah dari satu pos ke pos yang lain. Kalau dapur umum memerlukan tambahan relawan, dia akan segera siap siaga ke sana. Atau pos kesehatan yang bisa dibilang sangat tidak dia kuasai. Akan terapi, Ari maju juga. Banyak hal baru yang dia dapat, terutama kaitannya dengan first aid.
Penat? Sudah pasti. Namun, Ari seperti mendapat suntikan vaksin mengobati kegalauan hatinya. Dengan dia melayani para penyintas, dia mendapat semangat baru, ilmu dan ketrampilan secara bersamaan. Hal itu nilainya melebihi sekarung uang atau aset kekuarga Hairul Aman.
Berjumpa banyak orang membuat kemampuannya untuk melebarkan senyum semakin cangih saja. Semua Ari lakukan tanpa takut muncul sebuah pertanyaan.
Benar kamu sudah tidak apa-apa?
Atau, kalau mau menangis, ya, sudah nangis saja, jangan ditahan.
Ari tidak selemah itu menghadapai keterpurukan yang menderanya bertubi-tubi.
“Awak ada i********: atau f*******:?”
Ari urung membidikkan kameranya, ketika ada satu suara menyapanya.
Fatimah Chen. Seorang relawan asal Malaysia. Perempuan cantik itu selama ini berada di posko kesehatan membantu para tenaga medis. Namun, karena Kenyo lah yang membuat itu juga menyerupai kutu loncat.
“Akak mau gambar ini? Kenyo in frame dengan tampang mendung tak berarti hujan?” tanya Ari menyodorkan kameranya sambil senyum simpul.
Fatimah Chen mengangguk diiringi tawa berderai. Meskipun sering dibuat kesal, tetapi Kenyo memang membuatnya rindu. Maklum saja keempat anaknya lelaki. "Lawa lah, bocah, nih. Lihat dia punya tatapan sayu. Tak garang macam biasa."
“Huum, tumben dia terlihat manis. Tapi, maaf, nih, Ari tak main media sosial. Nomer w******p, saja yang ada.”
“Ingat nak tag, awak.” Fatimah lagi-lagi tergelak. “Awak lawa, ingat selegram masa jumpa first time.”
“Idih, Kak Fatimah, buat malu aja. Muka pasaran macam ini, duh!” Mau tak mau Ari menghentikan kegiatan memotretnya.
“Kenyo masih bungkam, atau sudah oke?”
"Menurut, Akak?"
“Tak taulah. Akak tak hirau, dia. Susah betul nak bercakap dengan bocah, tuh.”
“Padahal kemarin, bocah itu menurut dengan Kak Fat.” Ari merenungi wajah Fatimah yang sedikit dikerumuni keringat. “Menurut Kak Fat, dia bakal marah nggak?”
“Marah? Pasal apa dia marah dekat awak?”
“Ari mencuri baca diari si Kenyo.”
Fatimah membelalakkan mata. Awalnya dia memang terlihat dekat dan mampu menyelami hati Kenyo, meski belum sampai dalam. Setidaknya masih mau merespon apa yang Fatimah katakan. Namun, entah kenapa si Kenyo tiba-tiba menjauh.
“Ada jumpa hal yang mampu ungkap jati diri dia?” Fatimah sangsi ada petunjuk meski mencuri tulisan bocah menyebalkan itu.
Giliran Ari tertawa sumbang. Dia mengajak Fatimah sedikit menjauh dari keramaian kanak-kanak yang kini tengah Asyik bermain englek itu.
“Awalnya kita semua berusaha mengerti. Post syndrome itu mungkin salah satu sebabnya dia bersikap menyebalkan. Sedangkan dia juga tidak mau bercerita tentang orang tuanya, atau sedikit saja titik terang untuk menunjukkan identitasnya.”
Gadis belia yang mereka juluki sebagai Kenyo itu sampai empat hari setelah kejadian tsunami melanda, atau sehari setelah Ari sampai di lokasi pengungsian. Memakai jas hujan plastik tipis yang terlihat kucel dan robek pada beberapa bagian. Dia datang dengan luka sobek memanjang yang cukup parah di lengannya. Untung tidak sampai terinfeksi bakteri tetanus.
"Yah, Akak memang memastikan yang luka dia itu kemungkinan lukanya berumur lebih tua dari umur tsunami, mungkin sempat diobati, tetapi bertambah parah oleh air kotor tsunami."
Fatimah adalah paramedis yang pertama kali mengungkap diagnosa itu. Luka milik Kenyo adalah luka lama. Luka yang mungkin akan membuatnya tak mampu lagi menarik bow untuk mengesek biola.
Dengan sikapnya yang penyendiri, enggan terbuka pada siapapun membuat semua relawan sedikit abai terhadapnya. Bagaimana dia mendapat luka aneh itu.
“Sesuai dengan prediksi kita, doi seorang anak broken home," helah Ari menyodorkan tas kecil milik Kenyo.
"Ayah ibunya bercerai?"
"Ya. Dia rindu pada ayahnya. Intinya seperti itu. Oh, satu lagi, ibunya sudah dua kali kawin.”
“Itu!” Fatimah mendekap mulutnya yang sejak tadi terbuka tapi tak mampu mengeja kata. “b***k itu, tak mau bicara padaku, mungkin sebab itu, kot?”
“Karena apa? Maksud Akak tentang kegagalan pernikahan? Ari pikir memang seperti itu juga.”
“Akak tiga kali menjanda.”
Giliran Ari tergagap. Dirinya juga pernah menikah, dan saat ini predikatnya satu kali menjanda. Itu menjadi sebab Kenyo menjauhi Fatimah? Apakah Kenyo juga akan menjauhinya jika tahu statusnya yang seorang janda.
Gadis bernama Kenyo itu sering bergumam tak jelas tentang, kenapa harus memiliki banyak ayah, tetapi banyak orang seperti tak mengindahkannya. Hal itu yang membuat Ari nekat. Saat dia disodori tas selempang rajut berisi buku tulis bergambar Megatron bagian dari main cast Transformer itu. Dia nekat membongkar tas kecil berukuran sejengkal itu yang selalu tersampir di bahu gadis kecil itu, bahkan saat tidur sekalipun.
Tas kecil itu, berisi sebuah buku tulis bergambar Megatron yang digulung rapi, diikat dengan getah karet. Buku itu dibagikan relawan, bersama satu bolpoin, satu pensil 2B dan penghapus. Semua anak-anak mendapat bagiannya, tidak ada yang aneh. Dompet tanpa satu kartupun, dan uang tunai 665 ribu 500 rupiah. Angka yang sangat cantik, pikir Ari saat itu.
Pada lembar pertama yang dia lihat di buku tulis itu membuatnya menganga. Ini dia, desis Ari, sambil terus merapal maaf atas kelancangannya.
24 Desember 2018
Kamp: 11.00 am
Mamaku tercinta. Aku menyukainya. Tapi kenapa mereka berpisah. Aku terima, seandainya harus dan akan memiliki ayah lebih, tetapi kenapa mengikatku dengan jerat leher seakan anak anjing? Aku berhasil lari, naik kendaraan umum, lalu ombak menyeretku sampai jauh.
Usiaku sudah 15 tahun, tiga jam setelah tsunami.
Kamp: 01.30 pm.
Namanya lucu, seperti nama burung, orangnya manis, the sweeten up.
Ari mengernyit, lalu tersenyum. Seakan dia merasa tersanjung, ungkapan gadis remaja itu. Jujur, sangat manis memang. Rasanya yang dimaksud manis itu, dirinya.
Hidungku membaui kuah kaldu seperti masakan Mama. Saat Mama masih sering memberi bekalan nasi untuk Abah. Aku belum tahu kalau itu adalah cinta atau bakti. Masih terlalu ingusan, sih. Akan tetapi, kenapa aku ingat?
Really miss you, Abah.
Kamp: 6.30pm.
The sweeten up volunteer sedang menelpon seseorang, seperti mengendap-endap. Mungkin itu juga cinta.
Ari mengernyit. Orang yang dia telepon kalau bukan Nyonya Suryati, ya, mertuanya.Satu keanehan lagi, catatan itu tidak semuanya ditulis detail, berupa hari, tanggal dan jam. Tidak ada diksi yang rumit, tetapi lumayan rapi.
28 Desember 2018
Harusnya aku ikut tenggelam atau mengikuti saja air yang membawa tubuhku. Namun nyaliku hanya sebesar biji sawi. Aku lari tunggang langgang ketika melihat ombak dalam kegelapan.
Aku melihat biji sawi saat usiaku tujuh tahun. Itu adalah saat terakhir aku melihat Abah di sekitar rumah. Ayah yang mungkin akan kulupa seperti apa wajahnya.
Abah, semoga engkau dijauhkan dari keriput dan uban. Agar aku tak keliru jika ada waktu untuk kita bersua. Aamiin.
Ari meraba tulisan itu. Abah. Si Kenyo begitu merindui sosok ayah, meski selalu mendapat galang ganti. Ari sendiri tak mengingat sosok bapaknya. Hanya selembar foto yang menjadi bukti keberadaanya dalam dekapan seorang lelaki yang dapat dia panggil sebagai, Bapak.
Umurnya baru dua tahun. Setelah memasuki alam remaja, barulah Ari tahu, bapaknya seorang pelaut, yang konon meninggal saat bertugas lalu jasadnya di larung di laut juga. Sebagaimana kemestian pada zaman itu. Itulah kenapa dirinya membenci pantai, laut dan ikan. Karena ikan-ikan itu telah memangsa bapaknya tak tersisa. Ari tidak perlu mendengar suara-suara sumbang lain tentang orang tuanya. Itu tidak penting
Kamp:7.30am.
Beauty and prettier volunteer, maukah kamu jadi mamaku? Dia kembali membelai perban tanganku. Kata orang-orang, kami mirip.
Fatimah? Ari dapat menerkanya.
Ustadzah yang mengajariku mengaji bilang, bahwa mati bisa kapan saja, tidak peduli tua atau muda. Kematian bisa menyergap makhluk tanpa sempat pamit apalagi mengucap salam perpisahan.
Jadi, mungkin saja Mama bohong. Aku ingin bertemu Abah, lalu dia bilang, Abahmu sudah mati. Aku sangsi, karena saat itu Abah cuma bilang: Abah pamit, hati-hati Nadi sayang.
Namamu Nadi, tho. Ari bergumam sendiri.
Kamp: 01.38pm.
Namanya Kak Budi. Orangnya lumayan tampan, tetapi ngebodor abis dan pandai mengombal. Ada cinta di matanya, untuk si manis itu. Dia bilang begitu padaku. Aku jadi patah hati.
Ari tersedak dengan tulisan itu. Budi… Budi. Lalu sebuah senyum tersimpul dari bibirnya yang setengah terbuka merekah.
Kamp: 5.30pm.
Aku rasa mamaku mati ditelan ombak. Apa aku harus berdoa semoga dia masuk surga?
29 Desember 2018
Mungkin Abahku benar sudah mati. Atau, dia tinggal planet Mars, sehingga tiada koran atau situs daring yang mewarta tentang aku yang lepas dari gulungan ombak. Kalian tahu kan, negara kita belumlah maju?
Aku lapar, tidak ada kuah kaldu.
Kamp:10.55 am.
Relawan cantik apa kamu mau jadi mamahku? Mengantikan mamaku yang mungkin sudah mati digulung ombak.
Kamp:1.45 pm.
Dia itu, ternyata seperti mamaku. Dia memberi anaknya lebih dari seorang ayah. Apakah aku suatu saat nanti juga akan seperti mamaku dan juga dia itu? Memiliki banyak lelaki dalam hidupnya?
Kamp: 4.00 pm.
Abah, Mama dan Nadi. My family. Kenangan masa laluku, tolong Abah jangan lupakan kami. Jangan lupa putrimu ini.
Di ujung kalimat itu ada gambar seorang anak yang diapit dua orang dewasa. Mirip logo Kekuarga Berencana. Minus satu anak. Ari tercenung. Apa yang dicurahkan Nadi lebih dewasa dari yang semua orang pikir. Meskipun tulisan ini hanya terhenti di tanggal 29 Desember. Hari itu kemarin.
Keadaan psikis seorang Nadi, si Kenyo nyebelin itu, akumulasi dari masa kecilnya. Kemarin, di depannya, Kenyo, gadis itu bersuara untuk pertama kalinya. Yah, teriakan, makian, sumpah serapah lebih tepatnya.