Siapa pernah ke Carita, cung?
Hanya bertanya, kok.
---------------
Raut penuh ketegangan itu mulai memudar, bersalin celoteh kanak-kanak yang terdengar riang. Tiga hari yang lalu bocah-bocah itu mulai menyibukkan diri. Selain mengaji, menyanyi, menulis juga kegiatan menggambar. Berbekal sekotak krayon, pensil warna juga kertas yang berhamburan membuat penyintas anak berusaha melupakan trauma malam yang memilukan itu.
Nisa, 10 tahun sedang asyik menggambar garis melengkung di selembar kertas kuning memakai krayon warna hitam saat Ari mendatangi posko Masjid Pasauran.
Gadis kecil itu malas memakai kertas gambar warna putih, mudah kotor katanya. Posko Masjid adalah beberapa tempat yang sering Ari datangi selain Puskesmas dan SD Pasauran. Ia bergerak sesuai kebutuhan relawan. Mengunjungi pengungsian dan terus menguatkan mereka.
Tak ada raut wajah tegang saat dia mengakhiri gambarnya dengan pantai di sisi bawah jalan raya. "Saya enggak takut pantai," kata bocah itu.
Nisa merupakan satu dari ratusan anak yang mengungsi di Posko Masjid sejak tsunami menerjang pesisir Banten pada Sabtu, 22 Desember 2018. Rumah Nisa berada persis di bibir pantai sekitar swalayan yang menghadap langsung pantai Pasauran. Rumah dan warung milik ayahnya hancur diterjang gelombang. Beruntung keluarganya selamat dalam musibah itu.
Penyintas bahagia, para relawan dirundung kelegaan berlipat ganda.
Suasana yang jelas berbeda ketika Ari baru saja sampai malam itu. Meskipun Jalan Anyer-Sirih sudah mulai dibuka sepenuhnya, tetapi onggokan sampah masih memenuhi sisi jalan. Listrik belum sepenuhnya menyala.
Malam itu, banyak penyintas yang baru turun dari perbukitan karena takut suara gemuruh Krakatau semakin keras terdengar. Tubuh para pengungsi kotor dan ada beberapa yang terluka. Mereka belum tersentuh bantuan. Tanpa makanan, menyisakan baju yang hanya melekat di badan, itupun pemberian warga di atas bukit betapa papa keafaan menyayat hati itu. Bukan belasan, tetapi ratusan jiwa. Mereka masih kebingungan harus mengungsi di mana. Posko awal di Koramil pun dipindah karena tempat itu berhampiran pantai yang hanya dipisahkan jalan raya.
Setelah berpisah dengan Rahmadi di Koramil Cinangka, malam itu juga Ari naik ke lokasi yang lebih tinggi yaitu Posko Pasauran. Sedangkan pria itu meneruskan perjalananya ke Carita lalu Tanjung Lesung bersama pasukan Basarnas.
Penyintas tsunami yang terdampak langsung diklasifikasikan menjadi tiga kelas.
Pertama pengungsi yang kodisi rumahnya hancur atau rusak. kedua, warga yang mengungsi karena adanya peringatan radius aman untuk menjauh 500 sampai satu kilometer dari bibir pantai. Kelompok ketiga adalah pengungsi bodong yang lebih memilih berada di tenda sepanjang Jalan Anyer.
Pengungsi terakhir ini sebenarnya adalah penyintas gadungan, karena Jalan Anyer adalah kawasan steril dari pengungsi.
"Teh, buku buat Teteh."
"Saya? Oh, makasih banget. "
"Bukan saya, Teh. Itu punya Kenyo."
Bocah yang tangan dan juga bajunya belepotan dengan sisa pewarna itu menyerahkan buku tulis bergambar Transformer. Setelah berhasil menyerahkan buku itu, mereka berlari menuju kelompoknya lalu kembali larut dalam kegembiraan tak terperi.
Ari akan berada di Posko Masjid sampai sore.
Ada kalanya di sore hari, kegirangan itu semakin berlipat, oleh dongeng fable yang disempurnakan dengan gerak lagu boneka dari sarung tangan. Mata-mata sebening kristal itu telah kembali. Sepertinya sore ini, dia pasti kembali mendapat tugas merekam kegembiraan itu.
***
Ya Rahman, Ya Rahiim, Ya Malik, Ya Qudus … Ya Salam ….
Ya Lathiif, Ya Khabiir, Ya Halim, Ya ‘Azhiim, Ya Ghafuur ….
Mereka melangitkan puji-pujian pada kebesaran asma Allah. Meskipun satu dua terlihat tersipu malu-malu mencuri lihat gerak bibir sesama temannya. Gemuruh tepukan kembali membahana meski tak seirama ketika kelompok terakhir maju ke depan. Mereka bukan hanya bertepuk tangan, tetapi meletupkan buncah gembira. Rekah dari bibir-bibir mungil itu, suara tawa yang semerdu seruling bambu.
"Aku-aku difoto, Teh," pinta mereka malu-malu.
Ari tentu saja tak lupa mengabadikan senyum mereka. Anak-anak lebih senang ditangkap dengan kamera DSLR dari pada ponsel. Terlihat keren karena aksi lensa yang maju-mundur, katanya. Kalau itu mampu melahirkan kegembiraan, Ari akur menurutinya.
"Siapa yang ingin jadi photografer?"
Ada lima anak yang mengacungkan jari tanpa malu-malu. Sisanya hanya tertawa dan saling dorong untuk maju mengapai kamera yang terlampau keren itu.
"Hai Kenyo, kamu nggak ingin jadi photografer?" tanya Ari pada gadis remaja dengan postur kurus yang melamun sambil menggendong tangannya.
Gadis remaja itu mendongak, tetapi terlihat tak acuh dengan panggilan Ari.
"Nisa, Abdi, Rega, Nina, dan Putra. Sini sayang," panggil Ari. "Masing-masing boleh ambil gambar dan bergaya menjadi photografer selama lima menit. "
"Horeeee!" teriak anak-anak yang mendapat kesempatan menggunakan kamera mahal milik Ari.
"Allahu Akbar, Mbak Ari. Itu kamera aku intip di web Finasialku, harganya bikin perut mules," ujar Indah setengah mencibir karena iri.
Ari mengembangkan senyumnya lebar sekali. "Tidak semahal tas milik Syahrini, 'kan?"
"Anda benar. Tapi, tidak ada jaminan tas itu miliknya. Bisa jadi, ehm, pinjaman. Yah, aku pernah masuk kalangan sok elit yang isinya arisan pinjam meminjam barang branded. Belajar membuat narasi sok bijak soal barang yang mereka sewa. Fake semu!"
Ari lagi-lagi tersenyum. Perempuan itu hanya tiga tahun lebih tua darinya. Seorang yang status pernikahanya juga sedang bermasalah. Indah awalnya seorang perawat yang akhirnya menikah dengan seorang dokter bedah thorax senior. Berbeda 18 tahun.
Awalnya bahagia dan saling tergila-gila. Namun, belakangan ini sang suami kembali pada istri pertama. Indah hidup terkatung-katung seperti kapal tanpa nahkoda dan haluan. Akhirnya perempuan itu memilih menjadi relawan. Pilihan yang tepat dan mereka berjumpa dalam kemah relawan yang diadakan oleh Madani Mulia setahun sebelum gempa Lombok.
"Mbak Indah boleh, kok, pinjam kameraku. Itu bukan hasil minjam. Tapi hasil nginem!"
"Nginem di mana? Tempatnya Nia Rahmadhani? Sultan Brunai? Pangeran Arab?" Salah seorang relawan dari bagian dapur umum ikut nimbrung.
"Astagfirullah. Bukan mereka. Pokoknya, ada, deh," jawab Ari malu-malu.
"Nggak takut rusak?" tanyanya lagi.
"Rusak, ya, repair. Kalau nggak bisa ya di musiumkan."
"Hallo, sesimple itu otak kamu? Heran, deh."
Indah tertawa sampai kram perut. "Kalau kamu tahu tempat dia nginem, bisa pingsan."
Relawan perempuan itu mencebikkan bibir, tetapi akhirnya ikut tertawa. Ari tidak ingin orang-orang tahu siapa dirinya. Ia terlalu kenyang dihujat. Apa yang sudah Ari lampau tiga tahun lalu tidak ingin terulangi lagi. Dihujat orang awam mungkin bisa tahun, tetapi dihujat penyintas bencana, Ari belum siap.
"Sini aku bantu mengagihkan makan malam."
"Makan sore!" Bentak si relawan dapur pura-pura galak.
"Iya, deh."
Ari menggantung kamera ketika bocah yang mendapat kesempatan terakhir menggunakan kameranya datang mendekat. Perempuan itu melipar jari menghitung hari yang telah dilalui. Tiga, empat hari.
"Teh, lihat apa yang aku foto."
Nisa memperlihatkan hasil jepretannya. Terlihat Kenyo berusaha memainkan biola miliknya meski keadaanya sangat tidak memungkinkan.
Ari menguntumkan senyuman, "Teteh coba bujuk dia, ya, Nisa. Percaya badai pasti berlalu," bisiknya.
"Iya, Kak Kenyo lebih mirip mendung kelabu."
Gadis remaja bernama Kenyo itu terus berusaha mengesek bow meski dalam kepayahan. Namun, ia segera meletakkan biola miliknya ketika Ari mendekat dengan membawa dua piring nasi.
Gadis belia yang Ari juluki sebagai Kenyo itu sampai dua hari setelah kejadian tsunami melanda, atau sehari setelah Ari sampai di lokasi pengungsian. Memakai jas hujan plastik tipis yang terlihat kucel dan robek pada beberapa bagian. Dia datang dengan luka sobek memanjang yang cukup parah di lengannya. Untung tidak sampai terinfeksi bakteri tetanus.
Menurut sepintas dokter yang merawat, kemungkinan lukanya berumur lebih tua dari umur tsunami, mungkin sempat diobati, tetapi bertambah parah oleh air kotor tsunami. Luka yang mungkin akan membuatnya tak mampu lagi menarik bow untuk menggesek biola. Dengan sikapnya yang penyendiri, enggan terbuka pada siapapun membuat semua relawan sedikit abai terhadapnya. Bagaimana dia mendapat luka aneh itu. Berpindah dari mengikuti Ari di Posko Masjid, kemudian berpindah lagi ke Posko SD Pasauran.
Kenyo yang tak pernah berbicara itu hanya akrab dengan Fatimah Chen relawan asal Malaysia dan Pambudi. Sayangnya, kedua orang relawan itu bisa dibilang memiliki skil di atas rata-rata. Jadi, mereka jarang berada di sesi trauma healing atau Psychological frist aid (PFA).
"Kamu lihat mereka terlihat bahagia. Para wanita mulai turun ke dapur. Para lelaki ikut serta menyingkirkan ogokan sampah yang mengunung, sisa-sisa harta benda yang seketika ranap ditelan air. Mereka mulai beraktifitas di sekitar pemukiman, sedang malam hari kembali ke posko. Mereka keluarga kita saat ini, Kenyo."
"Ya."
"Gelorakan siang dengan perjuangan. Hidupkan malam dengan qiamul lail dan Al Quran. Berkali-kali azzam itu disematkan pada semuanya, baik relawan maupun penyintas bencana. Keletihan pada siang hari mendera hanya bisa diobati dengan sujud-sujud panjang. Kamu sudah sholat Asar?"
Kenyo memandang tajam persis pada anak mata Ari.
"Dasar, sok suci! Ceramah, we!"
"Afgan! Sadis, kamu, bocah!"
"Aku bukan bocah!"