Alhamdulillah, bisa up juga. Kelar juga edisi balik zaman jebotnya. Meskipun, nanti ada lagi di depan. Pokoknya bolak balik masa sebelum 2G menuju 4G. Apa, sih, haaa.
Selamat membaca, semoga berkenan.
-------------
Ari melempar pandangannya pada jalan Anyer-Carita yang sudah mulai dibuka. Listrik juga sudah menyala. Sejauh mata memandang yang dibatasi oleh ruang gelap, samar terindra puing-puing bangunan dan kendaraan berserakan di sana-sini. Sebagian onggokan sampah sudah dipindahkan ke tepi jalan, sebagian lagi masih menunggu eskavator. Bisa saja besok atau lusa.
Suasana Koramil Cinangka juga lumayan riuh. Ia melihat pria itu tampak gesit berpindah pada satu sisi meja ke meja lainnya. Memeriksa setiap papan dengan lembaran-lembaran kertas berisi data pengungsi.
"Kamu stay di sini?"
"Ya, Pak. Arahan dari pusat seperti itu," jawab Ari sedikit tergagap ketika Rahmadi mendekati tempatnya berdiri.
Saat tiba, perempuan itu langsung sigap diperbantukan di posko pendataan pengungsi. Pengungsi yang baru turun dari perbukitan karena khawatir adanya tsunami susulan.
"Saya akan terus ke Tanjung Lesung. Malam ini juga jika ada akomodasi yang akan diberangkatkan ke sana."
"Semoga Ibu Erlita dan putrinya Pak Adi segera ditemukan."
"Aamiin.
"Bapak mau kopi? Saya bisa ambilkan," usul Ari yang segera berdiri mengambil gelas karton yang tersedia di dekat dispenser. Pada pengamatan Rahmadi, perempuan mantan bocah magangnya itu bahkan tidak canggung sama sekali berada di tengah-tengang posko pengungsian berbaur dengan banyak orang. Orang baru tentu saja. "Ini, lumayan buat doping."
"Terima kasih, Ri." Rahmadi memandang tepat pada manik mata Ari. "Saya kok bisa nggak tahu namamu, ya, dahulu."
"Enggak dihisab juga. Tenang saja, Pak."
Keduanya lantas diam. Memandang ke arah laut yang hanya terpisah jalan raya Anyer-Carita dari tempat mereka berhimpun saat ini. Di salah satu posko terpadu Kecamatan Cinangka.
"Saat kejadian tsunami, suasana pantai terasa normal saja. Normal, tidak ada hujan, dan tenang. Sangat tenang, itu kata penduduk yang sempat saya tanyai tadi."
"Namun, seperti pepatah tentang air. Air yang tenang kadang menghanyutkan. Air banjir dapat menggoyang kursi seorang gubernur. Entah dengan air tsunami ini, akan membawa ke mana haluan negara kita," ujar Ari begitu sarkastik.
"Masih saja, ya, nyrempet politik gitu."
"Pada dasarnya, politik itu ngurusi rakyat. Wajar saja sebagai bagian dari rakyat, saya harus melek politik."
"Iya, deh. Semangat bertugas, ya, Nak."
Ari menyeruput kopinya. Perempuan itu berniat meninggalkan Rahmadi ketika seorang petugas berseragam Babinsa mendekat.
"Bapak Rahmadi. Ada rombongan tambahan dari Basarnas akan menerobos Tanjung Lesung malam ini. Sila bersiap, ya. Ikut arahan Bapak Edy."
Seorang pria paruh baya yang masih terlihat berbadan tegap dengan rompi warna oranye tampak menerangkan jalur yang akan ditempuh unit bantuan pembuka jalan menuju Tanjung Lesung. Unit perintis istilahnya.
Sepeninggal pria anggota basarnas itu, Rahmadi menoleh pada Ari yang masih asyik dengan kopinya.
"Ri, saya mohon maaf untuk semua kejadian yang menimpa kamu dahulu. Saya harap tidak ada mis persepsi tentang kita, yang membuat kamu —."
Rahmadi tidak jadi mengungkap gajalan hatinya. Apakah Perempuan muda di hadapannya ini menjadi sedemikian dingin atau bahkan memutuskan melajang sampai saat ini karena peristiwa lampau yang dia yakini pasti membuat luka yang amat kentara. Luka begitu dalam dan meninggalkan parut.
"Saya sudah kasih maaf jauh-jauh hari. Namanya salah paham. Ada seminggu lebih saya meraung meruntuki nasib. Pas diingat-ingat, bahwa keimanan setiap manusia pasti diuji. Apakah dia patut untuk naik kelas atau tidak. Saya mensugesti diri, akhirnya, ya, sudah. Ikhlas."
"Syukurlah. Coba, ikhlaskan, lepaskan. Meskipun saya telat belasan tahun untuk ngomong seperti ini."
"Waktu itu saya berprinsip, tidak ingin hidup bermodalkan dendam."
Rahmadi yang sudah menyandang ranselnya sedikit terperangah, "Maksud kamu?"
"Tidak sedikit orang berjuang lantaran menyimpan dendam. Dendam karena pernah diremehkan. Saya, pernah remehkan di hadapan banyak orang. Dihina lebih tepatnya. Mereka mengatakan yang saya adalah, wadon s****l!"
***
Ari pernah melakar dalam hati, bahwa ia selalu menyukai hari Jumat. Karena dirinya sendiri lahir di hari Jum’at Legi pada waktu Dhuha. Akan tetapi, hatinya justru dirajam nestapa di hari Jumat petang.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Jum'at petang itu. Kenapa harus Ari?
Ketika mobil dinas perusahaan berwarna biru itu membawanya dalam gemetar karena berada seorang diri di dalam kursi tengah dengan serbuan AC yang begitu dingin, sebenarnya Ari tidak gentar sama sekali. Hati gadis itu hanya dimamah serbuah kebingungan.
Tangan Ari mencengkram kerah jubahnya erat-erat.
"Kita sudah sampai, Nong. Mungkin, Pak Rahmadi juga sudah sampai lebih dahulu."
Ingin rasanya Ari berkata kasar. Peduli setan dengan Rahmadi. Namun, seketika ingatannya merekam semerah darah yang mengucur deras dari kepala pria itu.
"Saya harap, Pak Rahmadi tidak cedera serius."
"Kamu tenang, ya, Nong. Nggak usah panik."
"Iya, Pak."
Ari sampai di pelataran rumah sakit menjelang Magrib. Masih salah satu anak grup perusahaan baja. Namun, sentakan tangan kuat itu menuntunnya setengah menyeret menuju IGD. Amarahnya membumbung ke angkasa tanpa bisa dicegah.
"Nggak usah diseret, Pak Satpam. Saya bisa jalan dengan tegak, kok. Saya nggak pincang." Hanya saja, hati saya remuk tanpa tahu apa puncanya.
"Maaf, Nong. Maaf, ya." Satpam perusahaan yang Ari taksir berusia melampaui empat puluh tahun itu terlihat panik. Padahal, pria itu sesaat tadi menyuruhnya untuk tidak panik.
Ari memandang langit-langit ruang IGD. Merujuk keadaan berdasarkan kedaruratan, rasanya, Rahmadi pasti ada pada prioritas pertama. Triase merah, istilah kedokterannya. Prioritas perawatan gawat medik.
"Halo, Cantik." Seorang perawat berumur muncul membawa tensimeter. "Apanya yang sakit?"
"Hati saya, Ibu Perawat."
"Wah. Berat. Coba saya lihat lukanya," ujar perawat itu masih dengan wajah berseri. "Saya periksa tensinya dahulu. Selepas itu lukanya baru dibersihkan."
Perawat itu meninggalkan Ari kembali pada kesunyian. Meskipun suara silih berganti memekik pada sisi ruangan lain, ia mencoba tidak peduli. Kepalanya pening, rasanya hampir meledak.
Ari pikir, kejadian di depan portal sudah selesai. Namun, ibarat tahapan gunung berapi yang hendak meletus, kejadian tadi hanyalah dapur magma yang tengan mempersiapkan lava pijar.
Proses terjadinya gunung meletus juga tak lepas dari magma yang terdorong oleh gas yang bertekanan sangat tinggi. Bisa saja orang-orang itu yang memberi tekanan. Biar runyam, biar riuh sekalian.
Sumber letusan itu kini berada di hadapannya. Perempuan itu menyibak tirai berwarna biru ruang IGD dengan wajah merah padam. Berkacak pinggang dengan d**a naik turun.
Merah dan biru, alangkah kontrasnya, pikir Ari.
"Kamu bocah bernama Ari?!"
Ternyata, kejadian di portal masih berbuntut panjang..
"Ya, saya, Ari. Kita pernah bersua, Bu." Dia bukan gadis lemah yang akan membiarkan dirinya dihina sedemikan rupa. Dipersalahkan tanpa tahu apa salahnya. "Bu Erlita nyari, Bapak? Beliau di ujung sana. Yang ada tanda garis merah."
"Saya mau buat perhitungan dengan kamu!"
Ari memijat pelipisnya. Di tengah antrian mendapat rawatan, perempuan bernama Erlita justru ingin membuat perhitungan. Perhitungan yang dimaksud adalah dengan posisi ingin mencakar atau ....
Erlita bukan hanya mencoba, tetapi langsung menerjang. Perempuan itu membuat gerakan mencekikik dengan kedua tangan, belum puas juga, dia juga menarik kerudung Ari hingga terlepas. Kain segi empat itu kini dia lilitkan pada leher gadis paling laknat di matanya itu.
"Bagaimana mungkin gadis semanis ini bisa menjadi ular, Ya Allah! Bagaimana bisa, kamu begitu mirip dengannya!"
Lilitan kain itu semakin kencang, membuat sosok bergamis merah maron itu kehabisan napas.
Sesaat kemudian gadis itu tersadar.
Ari mengambil napas terakhir yang hampir putus itu. Ia sekuat tenaga membuat gerakan melepaskan diri dengan menyodokkan sikunya persis mengenai area vital bagian atas milik Erlita. Ketika perempuan cantik itu terhuyung menahan sakit dengan memegangi dadanya, Ari langsung berbalik, menyarangkan pukulan dan tendangan sekuat tenaga ke arah perut lawan yang membuat sosok Erlita terpental menabrak brankar.
"Saya bisa bunuh kamu!" jeritnya.
Bukannya mereda, gadis itu justru membuka kaki bersiap dengan kuda-kuda untuk pukulan jarak jauh yang mematikan.
"Jangan gunakan tenaga dalam hanya untuk menuntaskan dendammu!" Sebuah tepukan mendarat di punggung Ari. Setelahnya, pandangan gadis itu gelap, dia rebah karena lelah, bisa juga karena kalah.
***
“Ri! Afwan, ya … ini salahku.”
Ari membuka mata, terasa lengket, berat seperti ada yang menganjal. Cahaya lampu menyergap pandangannya, membuat mata gadis itu kembali terpejam. Bibirnya juga terasa tebal. Genggaman tangan Kamila semakin erat, hangat, lalu tubuh itu mengeratkan dekapan ketika kesadaran Ari mulai pulih.
“Mil, ponselku, mana, ya?”
“Ponsel?”
Kamila menyeka sisa air matanya. Mengaduk tas, lalu mengulurkan ponsel berwarna biru itu.
“Aku lupa belum menghubungi Kabiro sama … anak-anak Majalah Uswah.”
Ari berusaha menegakkan badan, tetapi ditahan oleh Kamila. Tanpa berniat bercerita tentang apa yang baru saja merenggut kesadarannya. Ari berusaha menggagahkan diri untuk bangun.
"Biar aku yang telepon Kak Mira. Iya, Kak Mira, kan, Kabiro Syiar dan Pers?"
Ari mengangguk.
"Kamu tahu Mila, apa yang membuat hatinya patah tersapu badai," ujar Ari parau sambil kembali merebahkan diri.
Dia memiringkan tubuhnya. Bayangan Rahmadi, Imam Juanidi, Erlita dan sosok perempuan cantik berambut selurus jalan tol itu memenuhi pandangannya yang kembali mengabur.
Wadon s****l! s****l!
"Aku minta maaf, Ri."
“Apa aku boleh, pulang? Aku harus bertemu seseorang. Mungkin dia tengah menungguku sekarang, Mila.”
Ari teringat janjinya dengan Amanda. Dia tahu magangnya hampir berakhir, dan malam ini adalah satu-satunya kesempatan. Mungkin setelahnya, Ari tak akan berjumpa Amanda lagi. Kapan lagi dia pulang tengah malam? Mungkin saat pulang dari rental komputer. Mungkinkah? Bisa jadi tak akan ada pertemuan-pertemuan lain. Meski tak pasti juga, buat apa bertemu Amanda. Tidak ada urgensinya, ‘kan?
Tidak, Ari harus berjumpa, lalu meyakinkan Amanda untuk berpatah balik. Menjadi manusia seutuhnya.
Gadis itu tiba-tiba bangun dan menangkupkan kedua tangannya ke wajah. Ia tidaklah sepolos yang orang kira. Mungkin Allah ingin mengingatkan Ari agar berhenti menjadi orang tamak.
Kesempatan wawancara dengan Amanda akan menjadi titik perjuanganya untuk menghadirkan artikel berbobot. Redaktur koran yang berkedudukan di Taman Yasmin itu membutuhkan artikel yang akan Ari tulis. Artikel yang akan menjembataninya menjadi seorang wartawan junior.
"Maaf, tapi ini sudah tengah malam, Ri. Istirahatlah. Atau, aku panggil perawat, nih!" ancam Kamila.
"Kenapa kamu berulang kali meminta maaf, Mil? Biasanya ada orang yang mewakilimu untuk selalu berkata maaf. Hampir setiap pagi, kalau bukan Abah, ya, Ibu. Kamu aneh, deh?"
Kamila tergagap berusaha melarikkan pandangannya pada ruangan perawat di dekat pintu bangsal.
"Perawat! Pasien atas nama Nareswari pelu obat penenang!"
"Dasar enggak waras!"
***
Ari kembali ke Bogor pada hari Kamis. Bukan tengah malam, dia justru sampai ketika jam yang melingkar di tangan kirinya menunjuk angka sepuluh malam. Keadaan sama, seperti yang sudah-sudah, seperti tengah malam yang seharusnya kembali mempertemukan dia dengan Amanda, tetapi hanya kegelapan yang menyapa.
Meskipun dari jauh matanya merekam sosok-sosok jangkung lainnya. Tentu, bukan yang menjulang seperti menara. Ada yang sedang bernegosiasi dengan pelangan, ada yang menjepit sigaret yang dari jauh hanya serupa titik merah di kegelapan. Beberapa mengobrol, sambil mematik korek api untuk mendapat seberkas cahaya.
"Hai, Teteh sekalian, hallo. Boleh aku tanya sesuatu?"
"Wartawan! Wartawan," seru satu suara serak.
"Bukan, Teteh."
"Eike nggak banyak waktu meladeni kanua!" Sosok dengan dress totol macan mengembuskan asap rokoknya. "Cepetan, dong, ah!"
"Di mana saya bisa ketemu, Amanda?"
"Hello! Jangan mimpi. Diana sudah himalayang."
"Apa! Hi—hilang kemana?"
"Mana akika tahu! Jali-jali kali. Eh, kanua tahu bahasa kita?" Sosok itu bertepuk tangan meminta perhatian rekan-rekannya. "Pere nyari Amanda. Kanua pacang Amanda?"
"Enggak, Teteh. Saya bukan pacar Amanda. Nggak boleh pacaran, ya. Ehm, kemarin nggak ikut pengajian di Masjid Raya?"
"Aih, ustadzah. Akika takut ...."
"Takut apa?"
Sosok itu menunjuk pada kantong jaket yang dikenakan Ari. Tali tape recorder-nya menjuntai keluar dari saku.
Malam itu, sebenarnya Ari tidak ingin berceramah seperti biasa. Tidak ada interview. Dia hanya ingin mendongeng saja, tentang para pria matang yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya, yang membuatnya kini diterkam perasaan asing. Memikirkan pria itu, bermakna menafikan norma. Bukan minat. Bukan pula hasrat.
Entahlah, kenapa mesti Amanda yang harus mendengar keluh kesahnya. Hanya saja, ia hampir sama dengan Amanda yang juga melanggar norma, mencarik-carik aturan agama, lalu terbuang dari keluarga. Ari bisa saja terbuang dari kampus jika pihak perusahaan mengirim tembusan ke fakultas. Dia juga mengacam bunuh pada istri pembimbing lapangannya.
Allahu yahdik. Semoga Allah memberimu petunjuk dan hidayah, Aa.
Ari menjauh dari kerumunan para puan jadi-jadian itu. Ia berdiri galau di persimpangan. Sekali lagi Ari menoleh. Dia rasa, Amanda tidak akan pernah muncul lagi.
Detik waktu melaju menutup gelap. Ari pikir suratannya bersama Amanda atau orang-orang yang mematahkan hatinya dengan tuduhan buruk itu, mungkin, hanya sampai di situ saja. Cukup melupakan semuanya dan menyongsong asa baru.
Namun, malam ini setelah dua belas tahun, dia kembali bersua dengan Eko Rahmadi Widagdo. Terperangkap dalam sebuah perjalanan singkat menyusuri pesisir Banten.
Lalu, apa lagi cerita yang akan tertulis ke depannya.