Bab 15-Salam Terakhir

1787 Words
Flashback yang hampir kelar ini nulisnya lumayan tercabik-cabik .... Alhamdulillah bisa update juga, emot minta dikasih seblak. Cuaca yang lumayan tak bersahabat membuat badan lumayan ringkih. Semoga semua diberi kesehatan. Aamiin. Selamat membaca, semoga berkenan. ------------- “Assalamualaikum, Pak.” Ketika suara dari dalam menyuruhnya masuk, yang dilihat Ari saat ini lebih mencengangkan dari berjumpa dengan buaya Rawa Dano. Monster Ijo sedang tengkurap dengan seorang tukang pijat. Tukang pijat di ruangan manajer? Astagfirullah! Kenapa tidak di rumah? Meski tukang pijatnya adalah seorang Mamang. Tetap saja, itu merusak pemandangan dan membuat Ari maju mundur untuk konsultasi. “Ini serius, Pak?” Ari mendongakkan kepalanya. Matanya berlari menatap langit-langit ruangan. Kemanapun, asal tidak pada sosok yang sedang tertelungkup di sofa itu. Selamatkan mata perawanku, Ya Allah. Kenapa harus berhadapan dengan adegan tidak senonoh ini, batin Ari kesal, merasa dipecundangi. “Kenapa? Kalau enggak ada yang mau ditanya, berkemas saja. Tigapuluh menit lagi, pulangkan?” ujar Pria itu lempeng saja. "Si eta teh parawan keneh. Kuduna mah era nempo lalaki lain mahramna teu make baju.” [1] Mamang, si dukun pijat menepuk bahu Rahmadi. “Heeh, bener itu, Mang. Bukan mahram, Pak Adi. Enggak tau malu.” Mending kalau aduhai macam—Keanu Reeves. Secuek-cueknya Ari, dia tetap perempuan. Tentu saja normal matanya bisa silau dengan apa yang tersaji di depannya saat ini. Meskipun yang tersaji hanya setipis irisan keripik kentang. Referensi Ari tentang lelaki telanjang d**a, ya, hanya, Pakde atau omnya, juga para petani yang mencangkul di sawah. Bahkan kedua saudara laki-lakinya, tidak pernah telanjang d**a meski cuaca sangat panas sekalipun. Rahmadi yang saat itu tengkurap di sofa tiba-tiba mendongak, punggungnya mengilat karena minyak urut. Pria itu dengan tangan terulur memetik jari persis di depan muka Ari. “Oi, bocah, jadi konsultasi enggak? Itu kenapa matanya mendelik saja?” “Yaaa, jadilah. Tinggal dua kali lagi sesi diskusi sama konsultasi dengan Bapak. Senin sama Selasa saya ijin, Pak.” Ari menaikan ujung kerudungnya, dia hampir bersin. Entahlah ruangan Pak Manajer terasa lebih dingin mencekam dari biasanya. “Tapi, masak iya, acara pijat memijatnya enggak bisa dipending di rumah. Memang, Bu Erlita nggak pandai mijat gitu?” “Memang kamu pandai mijat?” Rahmadi justru balik bertanya. “Kecil,” ujar Ari menjentik kelingkingnya. “Kata Ibu saya, itu modal perempuan, kudu pintar apa saja. Selain pintar masak, kudu pintar pijat memijat juga.” Rahmadi terkekeh. Namun, wajahnya kembali serius, ketika meminta Ari membacakan data yang sudah dia ambil. Pria itu dengan gerakan pantas menyarungkan kaos dan kemeja. “Saya hari ini langsung ke Jakarta, ada seminar sama symposium pada hari Seninnya. Jadi, enggak ada libur langsung,” serunya serupa gumamnya. “Terima kasih, koleksi gambarnya, ya, Pak?” Rahmadi mengangguk, sambil membuka lembaran-lembaran yang tadi disodorkan Ari. “Bapak tahu, Riza Marlon?” “Photografer alam liar? Tahulah.” “Gambarnya keren. Pak Adi boleh bersaing dengan Om Riza Merlon." "Biasa saja." Ari meringis karena pujiannya ternyata mental. "Ehmmm, ada link internet, ‘kan? Boleh numpang kirim email, Pak.” Rahmadi menaikkan pandangannya sejenak, kemudian mengangguk lagi. Jadi, antara mahasiswa dan sebuah peluang gratisan itu memang berkaitan erat. Simbiosis mutualisme yang mengarah pada pemanfaatan sinyal gratis. Bukan! Itu bukan pentuk korupsi. Masih sepuluh menit lagi, Ari mengetikkan pass masuk, dengan cepat membuka jendela yahoo untuk mengirim artikel miliknya. “Nggak langsung dikirim ke media?” Ari sedikit tergagap sampai tetikus yang dia genggam hampir terlepas. “Jadi, artikelnya disensor dulu, istilahnya dikurasi dulu sama senior yang merangkap sebagai editor. Sesuai atau tidak. Layak tayang dan dikirim ke media nasional atau tidak. Dan yang paling penting, harus memuat ide atau gagasan dari, yah, Bapak tahu maksud saya?” “Harakah yang kamu ikuti?” Ari mengangguk canggung. Andai kata Rahmadi berniat mengajaknya berdebat sebenarnya dia siap. Meskipun bukan kapasitas dirinya untuk maju menerangkan A hingga Z. Perdebatan ikhwan dan akhwat memang tidak diperkenankan. Ari nyeri sendiri akan niatnya nanti malam. Interview rahasia dengan nara sumber, Amanda. Ari memang sedikit gila, membayangkan dirinya sekeren Dana Scully, di cerita The X-File yang semakin membosankan itu. Amanda tunggu saya, ya! "Mamang pijat orang mana, ya?" "Padarincang, Neng?" Ari memang sengaja meriuhkan suasana dengan obrolan agar tidak canggung. Eh, kenapa harus canggung. Pak Rahmadi saja terlihat santai tidak terbebani. Ari langsung menunduk membereskan acara berkirim artikel. Alhamdulillah, selesai sudah hari ini, batinnya. "Senin dan Selasa cuti, bermakna kamu tinggal masuk hari Rabu dan Kamis, ya? "Iya, Pak. Akhirnya." "Akhirnya kenapa?" "Satu tahapan terlewati." Ari menyeringai hingga matanya semakin menyipit. "Kalau laporannya jadi, jangan lupa ganti uang lelahnya, ya, Pak. Biaya rental, kertas, dan camilan saat bergadang." "Ck! Saya lihat dulu seberapa bermutu laporan kamu." "Bapak gitu. Laporan ini akan lebih bermutu seandainya saya diberi keluasan kesempatan," cibir Ari mencoba menginggatkan keributan yang terjadi setiap bocah magang dari Bogor meminta hak-nya untuk ikut ke lapangan. Permintaan yang hanya sebagian diluluskan oleh Rahmadi. "Okelah! Dah, pulang sana nanti kemaleman di jalan." "Iya, Pak." "Bagian yang saya lipat itu tolong direvisi, ya. Kalau masing ngarep duit lelah." Ari mengangguk sambil menggeser kursi sang menejer yang dia gunakan tanpa rasa berdosa itu. Gadis itu membiarkan Rahmadi membungkuk merentang tangan pada meja saat mencoret beberapa bagian laporan miliknya. "Alhamdulillah, beneran game! Selamat tinggal Pak Monster Ijo," jerit Ari tanpa sadar. "A—apa yang Monster Ijo?" Ari merapikan semua barang bawaan termasuk draf laporannya dan memasukkan dalam ransel. Gadis itu sekali lagi nyengir lebar sampai telinga. "Julukan dari anak-anak, Pak. Bukan saya, lho." Tujuknya menaikkan dua jari mengajak berdamai. "Monster Ijo, hadew." "Permisi Pak Adi. Mari, Mang. Doakan saya selamat sampai Bogor, ya." "Hmmm ...." "Ati-ati di jalanna, syukur dugi ka tujuan anjeun, sareng uih, Neng." (2) Kalau orang Cilegon memanggilnya Nong, sedangkan orang Padarincang memanggilnya Neng. "Assalamualaikum ...." "Waalaikumussalam." Ari mengerling lengan kirinya, jam lima kurang lima menit. Dia memelankan langkahnya saat menuruni tangga dari Departemen Produksi. Gadis itu menoleh ke belakang ketika sampai pada anak tangga pertama. Ia mendongak pada lantai dua, persis di mana kantor manajer produksi berada. Ari mengembangkan senyumnya, teringat saat pertama datang. Mata si Monster Ijo yang menyipit tetapi tajam mengawasi bocah magang. Seperti deja vu. Tirai gulung berwarna putih dari jendela kantor manajer produksi terbuka. Pria itu ada di sana menatapnya. Ari buru-buru menundukkan pandangan. Patutkah mengucap salam terakhir? Bukankah masih ada hari mendatang di mana ia menggenapakan waktu magang? Masih ada moment dirinya menyerahkan laporan. Aneh! Ari kembali melangkah menuruni tangga. Ketika sampai pada jalan beraspal di depan gedung kantor produksi, sekali lagi ia menoleh lalu memandang pada lantai atas. Gadis itu mendongak dan matanya kembali bertembung dengan pandangan Rahmadi yang juga sedang menatapnya dengan tatapan tak biasa. Tatapan yang sulit diartikan. Jangan buat Ari salah paham, dong, Pak! gumamnya parau. Tak ingin dipengaruhi lusinan tanda tanya, Ari mempercepat langkah menuju gerbang. Beberapa kali dia terlihat mengguncang ransel yang terasa berat di punggung. Seperti membawa bongkahan gunung. Gadis itu juga menaikan ujung kerudungnya. Sensasi meriang, demam dan pilek. Selalu seperti itu bila dia sedang datang tamu bulanan. Pejalanan malam ini ke Bogor pasti tak akan senyaman biasanya. Ketidaknyamanan itu justru langsung menjelma di depan mata Ari. Sosok perempuan cantik dengan dress selutut, menghadangnya di depan gerbang. Perempuan dengan gaya rambut kekinian. Diberi sentuhan warna sedikit coklat lembut dan tergerai lurus seperti jalan tol efek rebonding. Dia menujuk jari langsung ke hidungnya. Pandangan perempuan itu seakan ingin meremukkan gunung. Ari tidak menduga hal buruk itu menghampirinya. Setelah memanjatkan kesyukuran karena laporannya sudah sembilan puluh persen tersusun rapi. Dia juga berhasil mengirim artikel ke biro syiar sebelum tengat waktu yang ditentukan. Bagai sebuah pulau yang dijatuhi bom nuklir. Yang radiasi nuklirnya tidak akan hilang dalam dua dasa warsa ke depan. Yah, lima belas menit kemudian Ari justru babak belur karena sebuah kesalahpahaman terhadap perempuan asing yang baru sekali ini dilihatnya. “Sakit, Buk! Aduh!” Ari memegangi pangkal lehernya. Kerudungnya hari ini hanya disemat menggunakan jarum pentul. Ujung jarum itu mengores kulit lehernya yang lembut ketika ada tangan menarik kerudungnya ke belakang dengan paksa. “Sakit, ya? Tahu sakit! Dasar wadon s****l! Enggo kudung kelakuan s****l. Kurang picis sira, ya? Hah?” (3) “Yang, udah!” lerai Pak Imam. "Pak Im—aww!" Kepalan tangan lembut itu terajung, mampu juga membuat hidung Ari berdarah. Perempuan cantik itu tetap merangsek maju, meski tubuh tinggi pria yang Ari kenal sebagai kepala bagian di Departemen Produksi itu coba menghalanginya. “Isin! Malu dilihat orang.” “Oh, duwe isin, Jun? Gona apa gatel anter bocah s****l iki, hah?” (4) “Bu, sabar! Jangan! Itu batu!” pekik tukang ojek yang tadi mengantar perempuan cantik berambut ikal itu. Gerakan cepat seperti kena rasuk setan. Istri Imam Junaidi itu jelas kerasukan karena dililit amarah. Karena gerakan brutal dan pantas itu, tak dapat lagi dicegah ketika sebongkah batu yang berada di dekat portal perpindah tangan. Langkah gesit perempuan cantik itu meluru ke arah Ari. Gadis itu masih terduduk memegangi kerudungnya yang hampir lepas menjerit tertahan ketika sebuah bayangan menudunginya. “Astagfirullah … Ya Allah!” teriak satu suara. “Berdarah itu, Pak Adi.” teriak satu suara lain dari dalam pos satpam. Gadis itu semakin tertelungkup hampir mencium aspal. Ari tidak rahu siapa sosok yang menuduginya, juga suara yang laksana ribut petir. Teriakan bersahutan yang menginvasi gendang telingannya. “Bocah, kamu, nggak papa?” Ari termangu. Sepertinya, separuh kesadarannya tercerabut entah ke mana. Pandangannya kosong. Ketika ada tepukan di pipinya, yang pertama dia lihat adalah wajah si Monster Ijo yang sudah bersimbah darah. “Bapak ….” Setelah mengatakan itu, Ari dirangkul sosok berseragam putih biru. Dirinya dituntun masuk dalam mobil milik perusahaan air tempatnya magang dalam dua bulan ini. Mobil berwarna biru tua jenis Kijang itu biasanya yang mengantar mereka meneroka satu tempat ke tempat lainnya. Rumah Pompa I, Rumah Pompa II, maupun memanjakan mata dengan mengamati Rawa Dano dari puncak bukit di Padarincang. Kini mobil yang sama membawa Ari dalam gemetar karena berada seorang diri di dalam kursi tengah. Dirinya tidak gentar, hanya dimamah sebuah kebingungan. Apa yang baru saja terjadi. Tangan Ari mencengkram kerah jubahnya dari luar baju. "Kita sudah sampai, Nong. Mungkin, Pak Rahmadi juga sudah sampai terlebih dahulu." Ari sampai di pelataran rumah sakit menjelang Magrib. Masih salah satu anak grup perusahaan baja. Namun, ia hendak bungkam ketika sekali lagi tangan kuat itu menuntunya setengah menyeret menuju IGD. Ini bukan Ari yang membiarkan dihina sedemikan rupa. Dipersalahkan tanpa tahu apa salahnya. "Nggak usah diseret, Pak Satpam. Saya bisa jalan dengan tegak, kok. Saya nggak pincang." Hanya saja, hati saya remuk tanpa tahu apa puncanya. ----------------- 1.Dia masih gadis lagi. Mestinya malu lihat lelaki bukan mahram telanjang d**a. 2. Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tempat tujuan. 3.Dasar perempuan nggak bener! Pakai kerudung kelakuan gatel. Kurang duit kamu, ya? 4. Oh, tahu malu Jun? Kalau malu kenapa antar perempuan gatal ini, hah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD