Setelah Ijab Kita Akan
Aku menikah hari ini.
Waktu penghulu dan saksi mengatakan sah, jujur jantungku rasanya seperti mau copot. Apalagi pas mereka bilang aku harus ambil tangan Naga untuk dicium. Serius, rasanya aku mau kabur dari acara pernikahan ini. Aku, tuh, menangis karena meratapi hidup yang tidak mujur. Tapi, orang lain malah anggap aku menangis karena bahagia nikah sama Naga.
Kalau bukan ingat Papi yang lagi duduk di kursi roda dengan wajahnya yang pucat menatap kami berdua, aku mending kabur dari sini sebelum ijab dimulai. Asli sedih banget. Aku tidak pernah menyangka kalau kisah cintaku akan berakhir seburuk ini.
Mudah-mudahan ini sudah akhir dari kemirisan kisah cintaku. Perjalanan rumah tangga nanti aku tidak mau ada drama sedih-sedih atau hal buruk lainnya. Pokoknya sudah cukup di awal pernikahan aku merasa ini buruk. Perjalanan nanti aku tidak mau makin buruk. Intinya, Naga harus bisa bikin aku bahagia lahir batin.
Soal pernikahanku dengan Naga, bukan karena aku gadis miskin yang harus diumpanin ke Anak Juragan buat melunasi utang atau buat biaya berobat sakit Papi-Mami. Tidak sama sekali. Bahkan kalau dilihat dari strata ekonomi, keuangan keluargaku hampir setara dengan keluarga Naga. Aku dan Naga juga sama-sama anak tunggal. Bedanya, Naga anak yang mandiri dan jenius. Sedangkan aku, seperempat kepintarannya saja kelihatannya tidak ada.
Hidup dia mujur, lantaran punya otak jenius. Yang aku tahu, dia SMP masuk kelas akselerasi jadi cuma sekolah selama 2 tahun, SMA juga cuma 2 tahun, kuliah S1 cuma 3 tahun 8 bulan, S2 1 tahun 9 bulan. Pokoknya begitu. Masa sekolahnya singkat banget dan selalu dapat beasiswa. Papi bilang, gen dia bagus buat nanti keturunan aku biar agak pintar sedikit. Ih, kalau oon zaman sekarang sudah banyak bimbel online!
Makanya Papi sir setengah mati sama Naga. Coba saja Papi itu perempuan, pasti Papi yang akan kawin sama dia. Bukan aku. Tapi, kalau Papi perempuan, terus aku jadi anaknya siapa, dong?
Tuh, 'kan, kelihatanya aku memang sudah terjebak, deh, sama Naga. Lagi pula, kenapa Tuhan harus menakdirkan Miller jadi saudara tiriku?
Yah, benar. Papi melarang aku dekat-dekat dengan Miller bukan karena dia orang yang jahat, buruk, atau bagaimana. Nope. Papi juga orang yang baik, kok. Dia tidak pernah memandang orang dari harta ataupun status sosialnya. Papi murni menilai orang dari apakah dia itu baik luar dan dalam atau tidak.
Masalahnya, Miller--laki-laki yang aku dekati baru beberapa bulan lalu--ternyata anak sulung dari suami baru Mami. Ya iya, mungkin semua orang akan bilang aku b**o banget bisa sampai punya hubungan dengan saudara tiri sendiri dan aku benar-benar tidak tahu kalau dia adalah anak suami barunya Mami.
Jadi, begini ceritanya. Mami dan Papi bercerai sekitar sekitar 5 tahun yang lalu. Waktu itu umurku 18 tahun. Oke, aku tidak pernah merasa jadi anak broken home. Karena di masa itu aku sudah bisa berpikir bahwa mungkin ini memang jalan yang terbaik buat Mami dan Papi supaya mental mereka sama-sama sehat. Ya, tahu sendiri walaupun sudah cukup lama berumah tangga kalau memang sudah tidak sejalan bisa bikin menyiksa masing-masing.
Saat Papi dan Mami memutuskan untuk cerai walaupun sebenarnya berat, aku bisa terima keputusan mereka dan berharap ini yang terbaik. Soal harta gono-gini, mereka tidak pernah berdebat sama sekali. Mami juga punya harta sendiri dan Papi juga bukan orang yang tidak bertanggung jawab.
Sampai di sini, aku tuh sebenarnya bingung, Mami dan Papi banyak kesamaan--sama-sama orang baik maksudnya. Tapi, kenapa mereka tidak bisa bersama untuk selamanya?
Padahal, orang-orang di luar sana yang setiap hari bertengkar bisa, langgeng sampai kakek nenek. Cuma, aku yang memang tidak tahu apa-apa soal mereka, memilih untuk percaya saja kalau keputusan diambil adalah keputusan yang terbaik.
Berhubung aku sudah dewasa, jadi aku bebas bisa pilih mau tinggal dengan siapa. Kebetulan aku memilih tinggal dengan Papi karena Mami pulang ke rumah nenek. Jadi, beliau ada yang urus. Sementara, Papi memilih hidup sendiri di rumah lama. Jelas aku tidak tega meninggalkan Papi sendirian. Minimal aku bisa urus dia, walaupun cuma bisa kasih sarapan nasi goreng sama telur dadar.
Itu pun masih ditertawakan Mbak Iis--asisten rumah tangga kami--karena telur dadarku hancur. Tapi, 'kan, paling tidak aku ada usaha buat urus Papi. Malah sekarang Papi sering bermasalah dengan lambungnya. Jadi, aku sudah mirip alarm yang harus ingatkan Papi kapan harus makan dan minum obat.
Balik lagi ke soal percintaanku.
Satu tahun yang lalu Mami memutuskan untuk menikah lagi dengan dengan seorang duda yang juga pengusaha namanya Hilman Hariwijaya. Sebetulnya hubunganku dengan keluarga baru Mami tidak buruk sama sekali. Waktu Mami adakan syukuran untuk pernikahan mereka, aku datang ke sana dan keluarga baru Mami welcome banget sama aku.
Pak Hilman juga punya satu orang putra.
Masalahnya waktu Mami kenalkan ke aku, dia lagi tidak ada di rumah dan aku juga bukan tipekal orang yang suka mengamati sekitar. Cuek-cuek saja. Pak Wilman bilang namanya Ditio. Sialnya, aku tidak tahu kalau itu cuma nama kesayangan dari Pak Hilman karena dia lebih suka nama anaknya ada unsur nasionalis. Sementara, Miller itu nama pemberian dari mantan istrinya.
Takdir Tuhan, aku yang tidak pernah bertemu Miller di rumah baru Mami tanpa sengaja bertemu dia di bandara waktu mau jemput Susi, sepupuku yang mau liburan di rumah.
Ceritanya drama banget. Aku tidak sengaja bersenggolan dengan dia sampai barang-barang dibawa berantakan. Dan, di pertemuan pertama itu juga aku rasanya kayak mau pingsan lihat lelaki dengan tubuh tinggi tegak, iris mata kecoklatan, dan juga wangi parfum yang menggoda. Benar-benar bagai bidadari lagi cuti liburan dari surga turun ke dunia. Aku bilang, sih, dia ganteng banget.
Gara-gara saking groginya, aku sampai gemetaran waktu benahi barang-barang dia yang berserakan di lantai. Terus, dengan baiknya dia juga ikut berjongkok untuk bantu pungut barang-barangnya sendiri.
Selanjutnya, kami berkenalan dan dia menyebut namanya Miller. Bukan salah dia, sih, akunya saja yang b**o tidak pernah tanya nama lengkapnya siapa. Tahu-tahu sudah jatuh cinta.
Singkat cerita dari pertemuan tidak sengaja itu kami udah bertukar nomor handphone. Kita rajin chatting. Banyak basa-basi, sampai akhirnya Miller datang ke kampus. Pas dia datang, hampir semua mahasiswi terkagum-kagum lihat aku bisa didatangi Miller. Seperti aku sebut di atas, memang dia luar biasa.
Tadinya kupikir Miller cuma iseng-iseng saja. Tapi, setelah seminggu, dua minggu, bahkan sampai tiga bulan, kami mulai makin akrab. Sampai Miller bilang kalau dia suka dengan aku, sebab di mata dia aku anak yang lucu, periang, dan apa adanya. Bonusnya lagi dia bilang aku punya wajah yang cantik alami.
Siapa coba perempuan di dunia dia tidak terbang melayang hatinya dinyatakan cinta dan dipuji sama orang seganteng dan sekeren Miller. Waktu dia buat pilihan misal aku ambil bunga tandanya terima cinta dia, sedangkan buang berarti aku menolak, otomatis tanpa pikir panjang aku ambil bunga itu dan menyimpannya. Karena memang aku suka sama Miller.
Nah, di sini bencana dimulai. Setelah resmi punya hubungan dengan Miller, aku diajak dia untuk makan malam bersama keluarga. Tadinya, mau Miller dulu yang datang ke rumah, tapi aku menolak. Lebih baik aku yang tahu dulu siapa keluarga Miller sebelum Papi. Soalnya, Papi tidak suka anaknya pacaran. Kalau memang sudah serius, Papi lebih memilih untuk menikahkan kami.
Sedih, sumpah. Aku yang sudah dandan rapi dan cantik--menurutku--malam itu langsung menganga mulutnya ketika sampai di restoran mewah kelas VIP yang duduk di satu meja dengan Miller adalah Mamiku sendiri dan suami barunya. Saking malunya aku buru-buru memeluk Mami dan beralasan kalau datang ke sini karena ada acara dengan teman.
Tapi, namanya kebohongan tidak bisa ditutupi lama-lama. Beberapa jam setelahnya mereka sadar kalau aku ada hubungan dengan Miller. Papi yang akhirnya juga tahu jadi kepikiran setengah mati. Gara-gara itu dia sampai sakit.
Papi tidak mau aku punya hubungan yang salah atau terjebak cinta dengan saudara tiri sendiri. Makanya Papi mati-matian carikan calon buatku dan dapatlah si Naga. Waktu aku menolak, Papi sampai kepikiran dan jatuh sakit. Buktinya, dia hadir ke acara akad pernikahan saja harus sampai pakai kursi roda. Boro-boro mau marah. Aku malah tidak tega dengan kondisi Papi. Makanya, aku terima perjodohan ini dan meninggalkan Miller yang mungkin memang sudah ditakdirkan tidak akan pernah jadi jodohku.
Sedih. Sakit hati. Rasanya benar-benar hancur. Kalau bisa, aku niat mau mengakhiri hidup. Tapi, masalahnya aku takut mati. Nanti kalau aku mati jadi roh penasaran, masuk neraka aku nggak kuat membayangkan di situ. Makanya aku bertahan hidup, siapa tahu nanti ada mukjizat yang bisa mengubah nasib yang buruk ini jadi manis mirip kisah Cinderella.
Aku juga tahu Miller pasti hancur hatinya. Dia bahkan sampai berurai air mata waktu aku titip undangan ke Mami dan langsung datang ke rumah tanya baik-baik apakah memang sudah tidak ada jalan lagi buat kami bisa bersama.
Aku tidak tahu, secara hukum agama boleh atau tidak menikah dengan saudara tiri. Tapi, yang jelas Papi tidak mau kalau aku punya hubungan dengan keluarga baru Mami. Buat Papi sudah sama saja seperti kakak sendiri. Nanti kalau ada masalah dalam rumah tangga bakal jadi ricuh. Makanya Papi menghindari banget.
Doaku setulus hati buat Miller, semoga dia bisa bertemu dengan jodoh yang jauh lebih baik dari aku. Dan sekarang, aku harus menerima Naga sebagai suami. Walaupun sebenarnya belum masih belum ikhlas.
"Cie!" Susi mencolekku ketika Naga sibuk meladeni teman-temannya mengobrol meninggalkan aku yang sendirian di kursi pelaminan. Susi sengaja naik ke atas karena aku minta diambilkan minum. Dari tadi melamun sampai tenggorokan jadi kering.
"Nanti malam ada yang mau belah duren, nih."
Eh, belah duren?
Maksudnya?
Aku lagi bingung soal ucapan Susi, dia malah kabur begitu saja. Keningku sampai sakit sendiri lantaran aku mengerutkan alis kelamaan. Belah duren apa coba? Siapa yang beli duren!
Momen yang tidak aku duga berikutnya adalah, pas Naga menoleh waktu aku tanpa sadar lagi memikirkan step berikutnya. Naga, lelaki tinggi yang punya aura sexy brain dan punya dua lesung pipi--aslinya tidak jelek-jelek amat, memang--menatapku singkat sebelum berpaling pada teman-temannya lagi.
Di detik itu juga aku mau menjerit. Belah duren, akhirnya aku baru sadar setelah berpikir selama beberapa menit. Sakhi oon! Berarti, nanti malam aku sama dia bakal ada acara buka-bukaan, dong?
Tanpa sadar aku menyilang tangan di d**a sendiri. No, big no! Aku sudah menurut kata Papi untuk menikah sama dia biar tidak bisa punya hubungan dengan Miller. Apa aku masih harus tetap lakukan 'itu' juga?
Aku harus bagaimana?
Aku tidak siap diapa-apakan sama cowok yang aku tidak cinta. Ditambah, aku juga tidak tahu Naga cinta atau tidak sama aku. Buktinya, sejak diputuskan kami akan menikah dia jadi orang yang selalu dingin ke aku--calon istrinya.
Ya Allah, aku tidak mau ada acara belah duren seperti yang Susi bilang. Kalau Naga memaksa mau belah duren aku bakal bawa dia ke Istana Buah terus suruh pilih sendiri mau duren mana yang dibelah! Jangan aku.
.