Kerjasama Kakak dan Adik

1102 Words
Begitu melihat Faris datang, Ari dan Doni langsung mendekatinya dan bertanya-tanya tentang masalah semalam. "Istri lo masih marah-marah?" tanya Ari. Faris menggeleng. "Dia mana bisa marah lama-lama sama gue," jawab Faris dengan bangga. "Tapi istri lo kalo lagi marah serem juga, ya," kata Ari. "Ya, tumben aja dia kayak gitu, biasanya sih enggak," sahut Faris. "Karena perbuatan lo benar-benar udah keterlaluan, Bro!" ceplos Doni yang merasa tidak enak hati pada Anin. "Istri lo udah capek kerja, udah happy karena mau dijemput dan merayakan anniversary malah lo lupain, terus bisa-bisanya lo enggak minta maaf malah nanyain soal nasi goreng." Doni geleng-geleng kepala mengingat kelakuan sahabatnya. Faris terdiam, selama ini ia memang tidak pernah meminta maaf pada Anin padahal seringkali berbuat salah. Egonya sebagai pria dan kepala keluarga sangat tinggi. "Udahlah enggak usah bahas dia,bikin mood gue rusak." Faris berjalan lebih dulu meninggalkan dua sahabatnya. Sebelum memulai bekerja, Faris menghubungi adiknya untuk mengajaknya bersengkongkol membohongi Anin. Ia yakin Anin sudah mengetahui perihal sepatu itu karena ia meletakkan struk pembeliannya di saku kemeja dan lupa mengeluarkannya. "Halo, Kak. Ada apa?" "Kamu dimana? Kok suaranya kayak abis bangun tidur?" "Emang abis bangun tidur." Spontan Faris melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat. "Kamu enggak ke kampus?" "Nanti siang, lagian udah tinggal nunggu wisuda ini," jawab gadis berusia dua puluh tiga tahun itu. "Ada apa nelpon pagi-pagi? Mau ngasih duit, ya?" Farin terkekeh. Faris mengembuskan napas kesal. "Duit aja yang dipikirin, dasar matre!" "Terus mau ngapain dong?" "Kalau Anin bertanya soal sepatu, kamu jawab sepatu itu memang untuk kamu wisuda, ya." "Oh ... Bisa, tapi enggak gratis, lho." "Nanti Kakak Transfer dua ratus ribu." "Ih, receh banget cuma dua ratus ribu." Farin protes ia pun meminta Kakaknya untuk membelikan sepatu yang sama seperti punya Celine, tentu saja Faris menolak karena seminggu sebelumnya ia sudah memberikan uang untuk adiknya itu berbelanja kebutuhan wisuda. Farin mulai merajuk. "Sepatunya enggak cocok buat wisuda, Kak." Akhirnya dengan berat hati Faris menuruti keinginan adiknya yang manja itu. Farin bersorak senang karena keinginannya selalu dituruti kakaknya. "Tapi jangan lupa, yang tadi Kakak bilang." Faris mengingatkan. "Masalah kecil itu mah, kita kan sudah terbiasa membohongi si Anin." Farin tertawa terbahak-bahak, Faris langsung memutuskan sambungan teleponnya, lalu membuka aplikasi M-banking untuk mentranfer uang ke rekening Farin. Faris tiba-tiba teringat pada Anin, selama menikah ia memang tidak pernah jujur pada istrinya. Mulai soal jabatan dan gajinya di kantor, sampai kejadian semalam. Bukannya lupa tapi pura-pura lupa, ia malas menjemput dan mengajak Anin makan malam, bahkan sengaja mematikan ponsel. Sejak awal ia tidak memiliki perasaan apapun pada Anin, ia berpikir seiring berjalannya waktu rasa cinta itu akan hadir, nyatanya semua masih sama saja. Apalagi kini sang mantan sudah kembali. *** Anin melepaskan kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya, akhir-akhir ini ia merasa sangat lelah. Beban pekerjaan baik di kantor maupun di rumah semakin banyak, dia awal-awal menikah Faris mau membantunya mencuci piring setelah sarapan atau makan malam. Sekarang, jangankan mencuci piring, membawa piring dan gelas kotor ke sink pun tidak. Dulu urusan mencuci dan menyetrika diserahkan ke laundry, tetapi kini harus dikerjakan sendiri karena harus berhemat. Setelah Ayah Faris meninggal, Ibu dan adiknya meminta jatah bulanannya dinaikkan, yang tadinya dua juta dan lima ratus ribu menjadi tiga juta dan satu juta. Anin berharap suaminya mengerti akan pengorbanannya, nyatanya hanya kecewa yang didapat. Faris tidak pernah sekalipun membantunya mengurus rumah. Ketukan di pintu menbuat lamunannya buyar, wanita pekerja keras itu memakai kembali kacamatanya. Anin membuka pintu dan ia sangat terkejut karena dua sahabatnya teriak. "Duh, kalian ini bikin kaget aja!" kata Anin sembari memegangi dadanya. Winda dan Aditya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Anin. Mereka ingin mengajaknya makan siang bersama, Anin menolak karena membawa bekal dari rumah. "Bekelnya dibawa aja, yuk," ajak Winda. "Lagi males keluar, Win. Lagian masih ada kerjaan yang belum beres." tolak Anin. "Lo enggak bosen di kantor mulu, Nin?" tanya Winda yang dijawab Anin dengan gelengan dan senyuman. "Jangan terlalu keras pada diri sendiri, kendurkan sedikit urat-urat ditubuhmu, istirahat sejenak tidak akan menimbulkan masalah," bujuk Aditya. Anin dan Aditya saling tatap, padahal mereka sudah dekat sejak berseragam putih abu-abu, tetapi Anin baru menyadari bahwa tatapan mata sahabatnya begitu teduh dan menenangkan. "Ehem ... ehem!" Winda yang merasa dicueki berdeham. Spontan Anin dan Aditya memalingkan wajahnya. "Kalian berdua pergi aja, aku enggak apa-apa," kata Anin. Akhirnya Aditya dan Winda pergi makan siang di restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor. Setelah mereka berdua pergi Anin menyantap makan siangnya, lalu menghubungi Farin karena penasaran dengan sepatu itu. Setelah berbasa-basi dengan menanyakan kabar dan kuliahnya, Anin baru bertanya tentang sepatu. "Iya, kemarin abis dibeliin sepatu sama Kak Faris, kenapa? Apa ada masalah?" Farin bertanya balik dengan nada suara yang tidak mengenakan. "Enggak ada apa-apa, cuma penasaran aja." "Kak Anin iri karena aku dibeliin sepatu mahal sama Kak Faris?" Farin terkekeh. Anin menarik napas dalam-dalam, ingin sekali Anin menjawab "Iya". Selama menikah Faris tidak pernah sekalipun membelikannya barang-barang, dititipi jajanan saja tidak mau dengan alasan tidak ada uang atau lupa. "Rin, sebentar lagi kamu wisuda, di tempat Kakak kerja lagi buka lowongan yang pas banget sama bidang kamu, kamu bisa segera mengajukan lamaran," ujar Anin. "Cepet-cepet amat, aku tuh mau santai dulu dan menikmati hidup," sahut Farin dengan santai. "Mau sampai kapan?" "Ya ... terserah aku! Lagian ngapain sih ikut campur urusanku." Farin mulai kesal. "Kak Anin mau kamu segera bekerja supaya kalau mau beli sepatu, baju, atau jajan enggak minta uang lagi sama Kak Faris, Kakak kamu sudah menikah, dia punya tanggung jawab sendiri. Kak Anin harap kamu bisa mengerti." Saat Farin ingin bicara, Anin mematikan sambungan teleponnya. Ia yakin gadis manja itu akan mengadu pada Ibunya atau ke Faris. Meskipun demikian Anin sama sekali tidak gentar memang sudah waktunya gadis itu berhenti mengandalkan Kakaknya dan harus bisa berdiri dengan kaki sendiri. *** "Siapa yang abis nelpon? Kok langsung bete gitu?" tanya Celine sembari merangkul Farin. "Kakak ipar gue yang sok banget nasehatin," jawab Farin. "Dia orangnya gimana sih? Cantik enggak?" Celine penasaran. "Mukanya pas-pasan, penampilannya cupu!" Mata Celine melebar, tidak percaya dengan apa yang Farin katakan. "Tapi kenapa Kakak lo mau nikah sama dia?" "Kak Faris patah hati banget lo tinggal gitu aja, makanya pas dijodohin sama almarhum Ayah dia langsung mau," jelas Farin. Celine tersenyum puas karena hal yang membuatnya penasaran terjawab. Ia sudah pernah bertanya pada Faris, tetapi pria itu tidak mau menjawab yang sebenarnya. "Gue jadi tambah penasaran pengen liat dia." "Cepet atau lambat lo juga bakal ketemu sama dia," sahut Farin. "Lo dukung gue buat mendapatkan hati Kakak lo lagi, kan?" Celine mengeratkan rangkulannya. "Bukan cuma gue, nyokap juga dukung." Jawaban Farin semakin membuat Celine bahagia dan yakin bisa memiliki Faris kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD