Sepatu Untuk Siapa?

1102 Words
Ari dan Doni mengambil jaket mereka yang tersampir di sandaran sofa dan berpamitan hendak pulang karena situasi dan kondisi yang bertambah panas. "Sebelum pulang, beresin dulu kekacauan yang kalian buat di rumah ini!" bentak Anin. "Nin, masa tamu suruh beres-beres? Enggak sopan kamu," kata Faris. "Bikin rumah orang berantakan dan kotor, apakah itu perbuatan sopan!" sahut Anin. "Kan bisa dikerjakan besok, Nin." Anin berkacak pinggang. "Siapa yang mau beresin, hah? Pasti aku lagi, udah capek tambah capek!" "Nanti aku bantuin." "Terserah! Aku udah malas." Anin berjalan menuju dapur yang keadaannya lebih kacau dari ruang tamu, bungkus makanan dan kaleng minuman memenuhi meja makan, gula dan kopi berceceran di lantai yang mengundang semut. Anin menghela napas berat, besok ia harus bangun ekstra pagi untuk membereskannya Karena Faris melarang dua sahabatnya untuk beres-beres dan membiarkan mereka pergi begitu saja. Anin masuk ke kamar untuk berganti pakaian dan membersihkan diri, kucuran air dari shower membuatnya sedikit rileks. Ada perasaan lega karena semua unek-unek di dalam hatinya berhasil ia keluarkan, tetapi juga terselip rasa khawatir Faris akan menceritakan masalah ini ke ibunya. Ketika Anin keluar dari kamar mandi, Faris sudah duduk di tepi ranjang jari-jarinya sibuk mengetik sesuatu. "Ngadu lagi ke Ibu?" tanya Anin sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Siapa yang ngadu, ngaco aja," elak pria yang berusia setahun lebih tua dari Anin. "Biasanya juga suka ngadu, aku telat bikin sarapan ngadu, rasa masakan aku keasinan ngadu, aku ...." "Udah sih, berisik banget tau!" Faris memotong perkataan Anin. "Kita udah sama-sama dewasa harusnya menyelesaikan masalah berdua aja, jangan melibatkan orang tua atau ipar." "Eh, yang ngadu itu siapa?" Faris berkacak pinggang. "Kamulah! Kamu yang punya orang tua dan adik, aku enggak ada," sahut Anin. Orang tua Anin meninggal dalam sebuah kecelakaan saat ia berusia lima belas tahun, sejak saat itu ia tinggal bersama Bude dan Padenya. "Kamu nyebelin banget jadi orang, selalu aja membesar-besarkan masalah!" Brak! Faris keluar kamar dan menutup pintu dengan keras. Anin menatap wajahnya di cermin dan menyemangati dirinya sendiri bahwa ia mampu melewati semua ini, di hatinya masih tersimpan keyakinan bahwa pada suatu hari Faris bisa benar-benar mencintainya dengan tulus, sama seperti ia yang tulus mencintai Faris. Pukul setengah empat pagi Anin sudah bangun, ia menyalakan air untuk mengisi mesin cuci. Sebelum memasukkan pakaian kotor, ia memeriksa saku kemeja dan celana karena takut ada sesuatu yang penting. Anin menemukan dua lembar struk di kemeja Faris. Matanya membulat melihat total harga yang tercetak di struk tersebut yang sangat besar. Satu struk berasal dari sebuah restoran, menu makanan yang dipesan harganya mahal dan masing-masing untuk dua porsi. Struk satu lagi berasal dari butik yang menjual sandal dan sepatu, struk itu merupakan bukti pembayaran sepasang sepatu wanita dengan harga dua juta lebih. Anin jadi bertanya-tanya dengan siapakah Faris makan siang sehingga totalnya sampai enam ratus ribu, sepatu itu juga untuk siapa, apakah untuk dirinya sebagai hadiah pernikahan. Anin senyum-senyum sendiri, kekesalannya pada sang suami memudar. Ia yakin sepatu itu untuk dirinya karena ukuran kakinya sama. 'Mungkin dia akan menyerahkan nanti pas sarapan atau pulang kerja,' ucapnya dalam hati. Faris bangun jam lima ketika semua pekerjaan rumah tangga sudah diselesaikan Anin, rumah dalam keadaan rapi, bersih, dan wangi, sarapan pun sudah terhidang di atas meja berupa capcay bakso dan ayam goreng. Anin tersenyum dan meminta suaminya untuk segera mandi dan sarapan. Faris merasa senang karena istrinya sudah tidak marah lagi, ia merasa memang sudah seharusnya seorang istri tunduk dan patuh pada suaminya serta tidak membesar-besarkan masalah. Faris sama sekali tidak merasa bersalah atas peristiwa semalam, toh Anin bisa pulang sendiri dengan ojek online atau kendaraan umum dan kenapa juga harus menunggu selama itu, padahal kalau udah sejam enggak datang dan memberikan kabar langsung pulang, pikir Faris. "Aku enggak sempat bikin sambal," kata Anin sambil menata makanan di kotak bekal Faris. "Ya." Faris menarik kursi dan mengambil nasi beserta lauk pauknya, lalu makan dengan lahap. Anin pun melakukan hal sama. "Kemarin makan siang sama siapa?" tanya Anin tiba-tiba yang membuat Faris tersedak. Pria bertubuh tinggi dan tegap itu batuk-batuk, dengan sigap Anin membantunya minum sembari menepuk-nepuk punggungnya. "Kamu enggak apa-apa, Mas? Baru ditanya gitu aja kok kaget sih." "Makan siang sama klien," jawab Faris. "Cuma berdua? Cewek atau cowok kliennya?" Anin melontarkan pertanyaan. "Ngapain kamu nanya-nanya sampai detail gitu sih?!" Faris gusar sekaligus bingung dari mana Anin mengetahui hal itu. "Cuma mau tau aja, soalnya sampai habis banyak gitu." Anin menjawab. "Terus bekal makan siangnya kamu kemanain?" "Aku makan." Senyum lebar kembali mereka di bibir tipis wanita itu, meskipun sikap Faris cenderung cuek setidaknya ia masih menghargainya dengan memakan bekal yang ia siapkan. "Kenapa senyum-senyum sendiri gitu?" Faris keheranan. "Aku senang kamu makan bekal yang aku siapkan dari pagi, tadinya aku mengira kamu enggak pernah menghargai aku, Mas." Faris tersenyum tipis dan kembali melanjutkan sarapannya meskipun tidak selahap sebelumnya. Faris melirik istrinya ada perasaan bersalah di hatinya karena sudah beberapa bulan ini tidak menyantap bekal yang dibuatkan Anin, bekal itu kadang diberikan kepada Ari atau Doni, kadang juga dibuang. Anin yang senang memasak sama sekali tidak masalah harus menyiapkan sarapan dan bekal, ia ingat dengan pesan Budenya, untuk selalu memanjakan mata, perut, dan bagian dibawah perut agar suami betah. Selain itu, mereka juga harus berhemat karena kebutuhan yang sangat banyak. Cicilan rumah, mobil, listrik serta wifi, belum lagi belanja bulanan dan harian. Delapan puluh persen pengeluaran itu Anin yang menanggungnya, penghasilan Faris lebih banyak digunakan untuk keluarganya, jatah ibunya tiga juta rupiah, jatah adiknya satu juta, belum lagi kalau ada keperluan kuliah. "Abis makan siang kamu mampir ke suatu tempat dulu enggak?" Anin mulai memancing Faris. Faris menggeleng. Sebelum Anin mengajukan pertanyaan lebih banyak, lebih baik ia menghindar dengan bersiap untuk ke kantor. "Mas, jangan lupa bekalnya," teriak Anin mengingatkan. "Iya." Anin menatap punggung suaminya, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan dan itu bukanlah hal yang baik. Sepatu itu masih menjadi misteri apakah untuknya sebagai hadiah anniversary, atau untuk Farin, atau .... Anin menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran itu. "Enggak mungkin kalau untuk wanita lain." Ia mensugesti dirinya sendiri dan tetap menanamkan pikiran positif meskipun semakin hari hubungannya dengan Faris semakin dingin. Anin bergegas menyelesaikan pekerjaannya, lalu bersiap berangkat ke kantor. Ia mengeluarkan motornya terlebih dahulu dan menutup pintu gerbang, tak sengaja tatapan matanya memandang tetangga depan rumahnya, sang istri mencium punggung tangan suaminya dengan takzim dan dibalas suaminya dengan kecupan mesra di kening. Anin iri sangat iri, ia ingin seperti itu juga. Jika ingin berangkat kerja Faris enggak pernah berpamitan, saat Anin ingin mencium punggung tangannya pun ia menolak dengan alasan terlalu berlebihan. Anin menggelengkan kepalanya. 'Duh, aku harusnya bersyukur, enggak sepatutnya iri sama orang lain,' ucapnya dalam hati. Ia pun segera berangkat ke kantor. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD