Meja Makan
Arsya mengeluh, "Samsul mana sih? Kok lama sekali membangunkan Uda? "
Kamar Afgan
Samsul terkejut, "Den Mas Afgan, pritigiwir..." Ia melihat bantal guling di balik selimut.
Darmi bertanya, "Ngapa, Sul? Wis atau durung membangunkan Den Mas Afgan?"
Samsul menjawab, "Wis, Mi, tapi..."
Darmi bertanya, "Tapi apa, Sul?"
Samsul menjelaskan, "Tapi sing ana neng panggon turu ne Den Mas Afgan dudu Den Mas Afgan, Mi..."
Darmi bertanya, "Lah, terus apa, Sul, sing ana neng panggon turu ne Den Mas Afgan?"
Samsul menjawab, "Bantal guling, Mi..."
Darmi menyarankan, "Ya wis, yuk, awake laporkan nang Tuan wae, Sul..."
Samsul setuju, "Mangga, Mi. Mi tunggu aku..."
----
Ibu Dewi berkata, "Nah, itu dia, Samsul dan Darmi."
Pak Faisal bertanya, "Loh, Samsul, Darmi, kalian berdua kenapa?"
Arsya menebak, "Pasti Uda Afgan marah lagi sama kalian berdua, karena masuk kamarnya tanpa izin dulu, ya kan?"
Samsul menjawab, "Bukan, Den Mas Arsya."
Darmi menjelaskan, "Begini, Tuan. Ketika Samsul membuka selimutnya Den Mas Afgan, Den Mas Afgan tidak ada di kamarnya. Yang ada hanya bantal guling di tempat tidurnya, Tuan."
Ibu Dewi bertanya, "Jadi, maksudmu, Afgan anakku tidak ada di kamarnya sejak tadi begitu, Sul, Mi?"
Darmi dan Samsul menjawab serempak, "Inggih, Nyonya."
Ibu Dewi kecewa, "Keterlaluan Afgan ini! Lalu, sekarang Afgan di mana?"
Afgan pulang dalam keadaan mabuk.
Arsya memberitahu, "Itu Uda Afgan, Pah."
Pak Faisal berteriak, "Afgan Syah Reza!"
Afgan menjawab dengan mabuk, "Eh, iya, Pah. Lupa pagi semua."
Pak Faisal memutuskan, "Hmm..., Papa putuskan hari ini Papa akan membawa kamu ke pesantren, Darmi, Samsul."
Darmi dan Samsul menjawab serempak, "Inggih, Tuan."
Pak Faisal memerintah, "Siapkan mobil dan baju Afgan, saya tunggu."
Darmi dan Samsul menjawab serempak, "Laksanakan, Tuan."
Ibu Dewi memohon, "Pah, tunggu, Pah..."
Arsya mengeluh, "Haduh, Uda, cari gara-gara terus..."
Afgan berkata mabuk, "Wih, sarapan nih. Nanti saja deh saya sarapannya. Saya mau istirahat dulu di kamar." Ia lalu pingsan.
Arsya panik, "Waduh, Uda... Ya, Uda pingsan lagi, Mah, Mah, Uda, Mah..."
Ibu Dewi bertanya, "Kenapa, Arsya?"
Arsya menjawab, "Uda pingsan."
Ibu Dewi panik, "Ya Allah, Afgan anak Mama... Ya sudah, Arsya, kamu tolong Mama ya, bopong Kakakmu ke sofa di ruang tengah."
Arsya menjawab, "Iya, Mah..."
Ruang Tengah
Ibu Dewi menyuruh Arsya, "Ya sudah, di sini saja, Arsya. Sekarang kamu ambilkan minyak kayu putih atau balsam ya untuk Uda kamu, supaya sadar."
Arsya menjawab, "Iya, Mah..."
Pak Faisal bertanya, "Mau ke mana kamu, Arsya?"
Arsya menjawab, "Mau ambil balsam, Pah."
Pak Faisal marah, "Jangan! Tidak perlu! Percuma! Orang seperti ini, tidak perlu balsam untuk membangunkannya!"
Arsya bertanya, "Terus caranya bagaimana, Pah?"
Pak Faisal menjawab, "Caranya, tunggu sebentar ya, Arsya." Ia memanggil Darmi, "Darmi!"
Darmi menjawab, "Inggih, Tuan. Sudah siap semua keperluannya Den Mas Afgan untuk di pesantren, Tuan..."
Pak Faisal meminta, "Sekarang kamu panggil Samsul ya."
Darmi menjawab patuh, "Inggih, siap laksanakan, Tuan..."
Garasi
Darmi memanggil, "Sul, Samsul..."
Samsul bertanya, "Inggih, Mi, apa?"
Darmi menjawab, "Di panggil Tuan."
Samsul menjawab, "Oh, oke..."
Ruang Tengah
Samsul bertanya, "Inggih, Tuan. Kata Darmi, Tuan memanggil saya. Ada apa, Tuan?"
Pak Faisal bertanya, "Iya, mobil sudah siap belum?"
Samsul menjawab, "Sudah, Tuan..."
Pak Faisal meminta, "Ini tas dan koper saya, tolong kamu masukkan ke mobil. Sekalian punya Afgan juga."
Samsul menjawab patuh, "Laksanakan, Tuan..."
Pak Faisal meminta lagi, "Dan untuk Darmi, bawakan saya air di ember kecil." Ia meletakkan Afgan di lantai.
Ibu Dewi bertanya, "Loh, Pah, kok Afgan dipindahkan sih?"
Pak Faisal menjawab tegas, "Sudah, Mama tidak perlu ikut campur. Mama lihat saja apa yang akan Papa lakukan pada Afgan."
Darmi memberikan ember, "Ini, Tuan, airnya."
Pak Faisal berkata, "Ya, taruh di situ saja, Mi. Ini cara membangunkan anak ini." Ia mengguyur Afgan dengan air.
Afgan tersentak, "Hujan... banjir... banjir... eh..."
----
Pacitan
Pesantren Darussalam
Rumah Pak Kyai Abdullah
Pak Kyai Abdullah baru saja selesai menelepon Pak Kyai Sobri. "Ya, Sobri, dengan senang hati saya menerima cucumu. Iya, saya tunggu. Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," katanya.
Titah memanggil Umi Destya, "Uti..."
Umi Destya bertanya, "Inggih, nduk, menapa?"
Titah bertanya, "Akung di mana ya, Uti?"
Umi Destya menjawab, "Mungkin di teras depan rumah, nduk. Biasanya sebelum ke pesantren kan duduk di situ."
Titah berkata, "Oh, begitu. Ya sudah, Titah ke sana ya, Uti."
Umi Destya menjawab, "Inggih, nduk..."
Pak Kyai Abdullah berkata, "Oh ya, saya habis minum kopi langsung ke pesantren saja."
Titah memberi salam, "Assalamu’alaikum, Kung."
Pak Kyai Abdullah membalas salam, "Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, nduk."
Pak Kyai Abdullah bertanya, "Ada apa, nduk?"
Titah menjawab, "Titah mau ke ruang batik hari ini. Kalau boleh, besok Titah izin keluar pesantren ya, Kung."
Pak Kyai Abdullah bertanya, "Mau pergi ke mana, nduk?"
Titah menjelaskan, "Mau membeli buku baru, Kung. Diantar Lik Jo kok, Titah tidak sendirian keluar pesantrennya. Boleh ya, Kung?"
Pak Kyai Abdullah mengizinkan, "Iya, boleh..."
Umi Destya memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Pak Kyai Abdullah dan Titah menjawab, "Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..."
Umi Destya berkata, "Ini kopinya, Pak."
Titah berkata, "Ya sudah, Titah pergi ke ruang batik sekarang saja ya, Kung, Uti. Takut mengganggu kalian berdua, hehe."
Pak Kyai Abdullah berkata, "Inggih, nduk..."
Umi Destya berpesan, "Ati-ati, nggih, nduk..."
Titah pamit, "Inggih, Kung, Uti. Assalamu’alaikum."
Pak Kyai Abdullah dan Umi Destya membalas, "Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
----
Rumah Pak Faisal - Ruang Tengah
Pak Faisal marah pada Afgan, "Apa hujan, apa banjir, ha... Kamu mabuk lagi kan? Papa sudah capek seharian juga mengantarmu ke pesantren, Darmi, kasih baju Afgan!"
Afgan terkejut, "Apa pesantren, Pah..!!"
Pak Faisal bertanya, "Iya, mana, Mi, baju ganti untuk Afgan?"
Darmi menjawab, "Ini, Tuan."
Ibu Dewi memohon, "Pah, jangan, Pah..."
Pak Faisal bersikeras, "Keputusan Papa sudah bulat, Mah. Nih, cepat kamu ganti baju!"
Tiga Puluh Lima Menit Kemudian
Pak Faisal bertanya pada Arsya, "Sudah siap kamu? Yuk, berangkat sekolah. Arsya, kamu berangkat bareng Papa atau naik angkot?"
Arsya menjawab, "Naik angkot saja, Pah..."
Pak Faisal berkata, "Oh, begitu. Ya sudah, ini ada uang untuk ongkos naik angkotmu sampai lusa ya. Mama jaga rumah dan jaga Arsya saja."
Ibu Dewi ingin ikut, "Tapi, Pah, Mama mau ikut menemani Afgan."
Pak Faisal mengingatkan, "Sudah ya, cukup, Mah. Mama lupa apa yang Papa bilang kemarin?"
Ibu Dewi menjawab, "Iya, Pah, ingat..."
Ibu Dewi berpesan pada Afgan, "Kamu jaga kesehatan ya, Afgan, di sana. Kabari Mama ya, Afgan. Maaf, Mama tidak bisa membantumu soal urusan ini."
Afgan menjawab, "Iya, Mah..."
Pak Faisal menyuruh, "Ya sudah, yuk, berangkat sekarang. Samsul sudah menunggu di depan."
Pak Faisal dan Afgan berangkat ke Pesantren Darussalam. Sesampainya di sana, Afgan mencoba melarikan diri. Pak Faisal memerintahkan Samsul untuk mengejarnya.
Untuk menghindari Samsul, Afgan bersembunyi di lubang sampah. Saat Afgan bersembunyi, Titah tanpa sengaja membuang sampah di lubang tersebut. Afgan marah pada Titah. Pak Faisal dan Samsul akhirnya menemukan Afgan.
Afgan tinggal di Pesantren Darussalam. Pak Faisal kemudian bertemu ayah Titah, Pak Nano, untuk membahas rahasia yang membuat Afgan penasaran.
Keesokan Harinya - Pacitan - Pesantren Darussalam
Halaman Depan Pesantren Darussalam
Di Mobil Pak Faisal
Pak Faisal berkata, "Alhamdulillah, sudah sampai. Afgan, bangun! Afgan! Itu pasti Pak Kyai Abdullah. Samsul, bangunkan Afgan ya. Saya mau menghadap Pak Kyai Abdullah dulu."
Samsul menjawab, "Inggih, Tuan."
Halaman Depan Pesantren Darussalam
Cecep memanggil Daus, "Mang Daus... Mang Daus..."
Daus bertanya, "Iya, Cep, kenapa?"
Cecep bertanya, "Noh, mobilnya siapa ya, Mang Daus?"
Daus menjawab, "Kaga tahu ane. Tamunya Pak Kyai Abdullah kali, Cep. Sudah, lanjut jaga yuk."
Cecep menjawab, "Oke..."