Mobil Pak Faisal
Samsul mencoba membangunkan Afgan, "Den... Den Mas Afgan..."
Afgan menggerutu, "Em... apaan sih, Sul? Masih ngantuk nih, ganggu tidur orang saja. Hus, sana, sana..."
Samsul ketakutan, "Haduh, benar kan? Pasti Den Mas Afgan marah lagi ketika saya bangunkan."
Halaman Depan Pesantren Darussalam
Pak Faisal memberi salam, "Assalamu’alaikum, Pak Kyai Abdullah."
Pak Kyai Abdullah membalas, "Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Pak Kyai Abdullah bertanya, "Maaf, Anda siapa dan apa tujuan Anda datang ke sini? Anda ingin bertemu anak Anda di sini? Siapa namanya, biar nanti saya minta tolong untuk dipanggilkan?"
Pak Faisal menjelaskan, "Maaf, Pak Kyai Abdullah, saya adalah anak Pak Kyai Sobri, teman Nano waktu kecil dulu."
Pak Kyai Abdullah mengingat, "Oh, Faisal ya?"
Pak Faisal menjawab, "Iya, Pak Kyai Abdullah."
Pak Kyai Abdullah bertanya, "Saya sudah tahu apa tujuan Anda datang ke sini. Anda ingin menitipkan anak Anda, Afgan, kan, di Pesantren Darussalam ini?"
Pak Faisal membenarkan, "Iya, benar, Pak Kyai Abdullah."
Pak Kyai Abdullah berkata, "Ya sudah, kalau begitu kita bicarakan di kantor Pesantren Darussalam saja. Oh ya, di mana anak Anda? Apakah dia ikut?"
Pak Faisal menjawab, "Ikut, Pak Kyai Abdullah. Ada di mobil, sedang dibangunkan supir saya. Tunggu sebentar ya, Pak Kyai Abdullah."
Pak Kyai Abdullah menjawab, "Inggih, Faisal..."
Mobil Pak Faisal
Pak Faisal membangunkan Afgan, "Afgan Syah Reza, ayo bangun!"
Afgan menolak, "Em... ih, Pah, apaan sih? Masih ngantuk, tahu!"
Pak Faisal bersikeras, "Ayo bangun! Tidak ada alasan! Sudah sampai kita di pesantren! Ayo bangun..."
Afgan terpaksa bangun, "Iya... iya, Pah... Afgan bangun."
Halaman Depan Pesantren Darussalam
Pak Kyai Abdullah mengingatkan Pak Faisal, "Sudah, Faisal, kontrol emosimu. Bapak tahu kamu sedang marah pada anakmu, Afgan, tapi tidak seperti ini."
Afgan berkata kurang ajar, "Oh, sudah sampai ya? Eh ya, jangan ikut campur urusan keluarga Pak Faisal ya, Pak Kyai. Sudah kan, Pah? Afgan sudah bangun."
Pak Faisal marah dan menampar Afgan, "Afgan Syah Reza..."
Pak Kyai Abdullah mencoba menengahi, "Astaghfirullahalazim, Faisal! Sudah... sudah... Bapak bilang kan, kontrol emosimu! Maaf, Afgan, Bapak tidak bermaksud ikut campur urusan keluarga Ayahmu, tapi hanya mengingatkan saja. Sekali lagi Bapak minta maaf ya. Ya sudah, kalau begitu kita bicarakan semuanya di dalam saja yuk, di kantor Pesantren Darussalam."
Dalam Hati Afgan, "Duh..., ternyata Papa beneran masukkan saya ke pesantren. Ini semua gara-gara Arsya. Saya harus kabur dari sini. Tapi bagaimana caranya ya? Aha... aku punya ide..." Afgan melirik Samsul.
Pak Faisal mengajak Samsul masuk, "Yuk, Afgan, kita masuk."
Samsul terkejut, "Pritigiwir, Den Mas! Loh, Tuan, kok tangan saya sih..."
Pak Faisal menyadari, "Loh, kok jadi kamu, Sul? Afgan mana?"
Samsul menjawab, "Kabur, Tuan..."
Pak Faisal panik, "Haduh, Afgan Syah Reza... Kejar, Samsul!"
Pak Kyai Abdullah mencegah, "Faisal, tunggu! Jangan buru-buru mengejar Afgan. Dia tidak akan bisa kabur dari pesantren ini. Sudah, kamu ikut Bapak saja ya. Cecep, Daus, kalian berdua ikut Samsul untuk mengejar Afgan, anak keponakan saya ini ya."
Cecep dan Daus menjawab patuh, "Laksanakan, Pak Kyai Abdullah."
Di Belakang Pesantren Darussalam
Afgan mencari tempat bersembunyi, "Duh, ngumpet di mana ya?"
Samsul mengejar, "Den Mas Afgan, tunggu!"
Afgan melihat Samsul dan orang lain mendekat, "Duh, Samsul lagi datang. Ada orang juga lagi datang. Sudahlah, saya ngumpet di dalam lubang itu saja. Sepertinya tidak dalam." Afgan masuk ke lubang sampah.
Kantor Pak Kyai Abdullah
Pak Kyai Abdullah berkata, "Oh, jadi seperti itu. Insyaallah, Bapak bantu ya untuk membuat Afgan merubah sifatnya. Oh ya, Bapak juga sudah kasih tahu Nano kalau kamu mau datang ke Pesantren Darussalam. Mungkin sebentar lagi sampai."
Pak Faisal berterima kasih, "Terima kasih, Pak Kyai Abdullah, sebelumnya sudah mau membantu saya."
Pak Kyai Abdullah menjawab, "Inggih, sami-sami, Faisal. Oh ya, bagaimana itu supirmu? Sudah belum menemukan anakmu?"
Pak Faisal menjawab, "Oh iya, Pak Kyai Abdullah, benar. Saya belum mendapatkan kabar juga. Biar saya telepon supir saya itu ya, Pak Kyai Abdullah..."
Pak Kyai Abdullah menyarankan, "Oh ya, Faisal, jangan lupa tanyakan posisi supirmu berada di mana sekarang. Nanti kita susul ke sana."
Pak Faisal menjawab, "Baik, Pak Kyai Abdullah."
Di Belakang Pesantren Darussalam
Samsul panik mencari Afgan, "Duh, siapa lagi ini yang telepon? Tidak tahu kondisi sedang genting apa ya? Em, pasti si Darmi ini yang telepon."
Cecep memberitahu, "Mas Samsul, HP-nya bunyi terus tuh..."
Daus ikut mengeluh, "Tahu, angkat saja kenapa sih itu teleponnya? Berisik tahu!"
Samsul terkejut melihat layar HP-nya, "Iya, Mas Daus, pritigiwir... Pak Bos saya telepon, Cep."
Cecep menyarankan, "Diangkat dong, Mas. Siapa tahu saja penting."
Daus setuju, "Benar, siapa tahu saja penting."
Samsul menjawab, "Iya, ini baru mau diangkat."
Tempat Persembunyian Afgan
Afgan lega, "Sementara aman, hehe..." Ia memperhatikan Samsul, Cecep, dan Daus yang mencarinya.
**
[Samsul : Assalamu’alaikum, Tuan.]
[Pak Faisal : Wa’alaikumsalam, Samsul.]
[Pak Faisal : Kamu di mana sekarang, Samsul? Afgan bagaimana? Sama kamu atau belum ketemu? ]
[Samsul : Belum, Tuan. Den Mas Afgan belum ketemu.]
[Pak Faisal : Sekarang kamu ada di mana? ]
[Samsul : Di belakang Pesantren Darussalam, Tuan.]
[Pak Faisal : Oh, ya sudah, sekarang saya ke sana ya. Kamu lanjutkan mencari Afgan saja.]
[Samsul : Inggih, Tuan...]
[Pak Faisal : Assalamu’alaikum.]
[Samsul : Wa’alaikumsalam, Tuan...]
**
Kantor Pak Kyai Abdullah
Pak Kyai Abdullah bertanya, "Bagaimana, Faisal? Mereka berada di mana?"
Pak Faisal menjawab, "Di belakang Pesantren Darussalam, Pak Kyai Abdullah."
Pak Kyai Abdullah berkata, "Ya sudah, kita ke sana sekarang."
Pak Faisal menjawab, "Baik, Pak Kyai Abdullah."
Tempat Persembunyian Afgan
Afgan mengeluh, "Duh, kok mereka tidak pergi-pergi juga sih dari sini..."
Di Belakang Pesantren Darussalam
Titah melihat Cecep dan Daus, "Loh, itu kan Bang Cecep dan Mang Daus. Sedang apa ya di situ? Coba ke sana saja deh, Mang Daus, Bang Cecep..." Titah memanggil mereka.
Cecep dan Daus menjawab, "Iya..."
Titah memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Cecep, Daus, dan Samsul menjawab, "Wa’alaikumsalam."
Titah bertanya, "Sedang apa di sini?"
Daus menjawab, "Sedang membantu Samsul mencari anak tamunya Pak Kyai Abdullah, Mbak Titah."
Titah ber-seru, "Oh..."
Cecep bertanya, "Loh, Mbak Titah ngapain di sini?"
Titah menjawab, "Ini saya mau buang sampah. Disuruh Mas Fitri, Bang Cecep."
Cecep dan Daus ber-seru, "Oh..."
Samsul berpikir dalam hati, "Wah, siapa wanita ayu ini? Cocok untuk Den Mas Afgan?"
Pak Kyai Abdullah dan Pak Faisal memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Titah, Samsul, Daus, dan Cecep menjawab, "Wa’alaikumsalam."
Pak Kyai Abdullah bertanya, "Loh, nduk, saweg menapa ing mriki?"
Titah menjawab, "Karep bucal sampah, Kung."
Pak Kyai Abdullah ber-seru, "Oh..."
Pak Faisal bertanya, "Apunten, Pak Kyai Abdullah, sadurunge niki sinten nggih?"
Pak Kyai Abdullah menjelaskan, "Panjenengan kesupen nggih, Faisal. Niki Titah, putrane Nano. Uga Titah niki adalah kawan Romo panjenengan. Panjenengan riyen memanggilnya Pak De Faisal."
Pak Faisal menyadari, "Oh, inggih, kesupen kula, Pak Kyai Abdullah. Gimana pringon panjenengan, nduk?"
Titah menjawab, "Pringon kula alhamdulillah sae, Pak De."
Pak Faisal bertanya, "Panjenengan sampun bucal sampah ta, nduk?"
Titah menjawab, "Sisa setunggal, Kung."
Pak Kyai Abdullah menyuruh, "Oh, nggih. Sampun bucal riyen sampahé telas. Punika bantu Kung uga Pak De Faisal pados putrane nggih, nduk."
Titah pamit, "Oh, inggih, Kung. Amit..."
Tempat Persembunyian Afgan
Afgan bergumam mendengar percakapan dalam bahasa Jawa, "Apo ambo indak salah danga, Apak mangecek bahasa Jawa? Bisa jua Apak ambo mangecek bahasa Jawa, hehe..."
----
Titah selesai membuang sampah, "Alhamdulillah, selesai..." Sampah mengenai Afgan.
Tempat Persembunyian Afgan
Afgan terkejut, "Woi... woi... woi... Eh, tunggu..." Ia keluar dari persembunyiannya.
Di Belakang Pesantren Darussalam
Afgan keluar, "Eh, tunggu..."
Samsul melihat Afgan, "Loh, itu Tuan, Den Mas Afgan!"
Pak Faisal marah, "Afgan Syah Reza..."
Pak Kyai Abdullah mengingatkan, "Faisal, ingat apa kata Bapak ya? Kontrol emosimu!"
Pak Faisal berusaha tenang, "Inggih, Pak Kyai Abdullah..."
Titah bertanya, "Iya, Mas, ada apa tadi memanggil saya?"
Afgan marah, "Tidak usah sok polos ya kamu! Nih, lihat, bau sampah tahu? Sampah yang kamu lempar tadi itu mengenai saya!"
Pak Faisal menegur, "Afgan, yang sopan ya kamu!"
Pak Kyai Abdullah menyarankan, "Sudah, Faisal. Biar mereka berdua menyelesaikan masalah mereka berdua. Kita cukup mengawasi mereka saja dari sini."
Pak Faisal setuju, "Inggih, Pak Kyai Abdullah..."
Titah meminta maaf, "Maaf ya, Mas. Saya tidak sengaja. Saya juga tidak tahu Mas ada di sana tadi."
Afgan masih kesal, "Alah, alasan saja kamu ini!"
Titah bertanya, "Baik, kalau begitu, apa yang harus saya lakukan untuk Mas?"