Afgan memerintah Titah, "Nih, cuci jaket saya sekarang!"
Titah menurut, "Baik, Mas. Sini jaketnya."
Afgan memberikan jaketnya, "Ini jaket saya. Cuci yang bersih dan yang penting harus wangi ya. Ingat, harus wangi!"
Samsul berpikir dalam hati, "Den Mas Afgan benar-benar keterlaluan. Masa orang disuruh cuci jaketnya sih, em, Den Mas Afgan..."
Afgan bertanya, "Em, apa? Kenapa, Samsul?"
Samsul bertanya, "Kok Mbaknya disuruh cuci jaketnya Den Mas Afgan sih?"
Afgan menjawab, "Ya, dia lah yang harus cuci. Kalau bukan dia, siapa lagi? Kamu? Tidak... Saya mau dia tanggung jawab lah..."
Titah menjawab, "Baik, Mas. Saya akan tanggung jawab. Saya cuci jaketnya."
Afgan menambahkan, "Bagus kalau kamu paham nih. Ingat ya, harus wangi!"
Titah menjawab, "Iya, Mas. Saya paham..."
Pak Faisal menggerutu, "Yo Allah, Afgan Syah Reza! Apo nan waang lakukan? Jan keterlaluan yo waang!"
Ibu Dewi menasehati, "Biarkan, Pah. Inyo nan babuek, inyo jua dong nan musiti bertanggung jawek."
Pak Faisal meminta Titah, "Nduk, Cah Ayu, ampun nggih. Ampun ing wisuh jakete putra Pak De."
Titah menolak, "Mboten, Pak De. Mas-e niki leres. Kula ingkang sampun mbuat jakete reged, mila kula ingkang kedah bertanggung jawab konjuk mencucinya."
Pak Faisal masih mencoba membujuk, "Tapi, Nduk..."
Titah pamit, "Pak De, Kung, dan semuanya, Titah pamit ya..."
Pak Kyai Abdullah, Pak Faisal, Samsul, dan Afgan menjawab, "Inggih..."
Titah memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Mereka membalas, "Wa’alaikumsalam."
Titah pergi. Fitra datang memberi tahu Pak Kyai Abdullah bahwa Pak Nano sudah sampai di depan pesantren, tetapi tidak bisa masuk karena kunci gerbang dibawa Cecep dan Daus.
Di Luar Pesantren Darussalam - Mobil Pak Nano
Ibu Rossa bertanya pada Makmur, "Loh, Mur, kok kamu balik lagi ke mobil? Bukannya buka gerbangnya sana? Kenapa?"
Makmur menjawab, "Maaf, Bu Rossa, gerbangnya digembok."
Pak Nano bertanya, "Loh, memangnya tidak ada yang jaga? Cecep dan Daus tidak ada di pos, Mur?"
Makmur menjawab, "Mboten enten, Pak Nano."
Di Dalam Pesantren Darussalam
Fitra melihat mobil Pak Nano, "Sepertinya ada tamu deh. Saya lihat dulu deh..."
----
Ibu Rossa menyarankan, "Mas, sepertinya itu ada santri deh. Coba saja minta tolong untuk dibukakan gerbangnya."
Pak Nano setuju, "Iya, benar, Mur..."
Makmur menjawab, "Inggih, Pak Nano..."
Pak Nano meminta, "Itu sepertinya ada santri deh. Tolong kamu ke sana, minta dibukakan gerbangnya ya."
Makmur menjawab, "Oke..."
Di Dalam Pesantren Darussalam
Makmur memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Fitra membalas, "Wa’alaikumsalam."
Fitra bertanya, "Mas Makmur..."
Makmur menjawab, "Inggih, Den Mas Fitra."
Fitra bertanya, "Kaliyan sinten dhateng mriki, Mas Makmur?"
Makmur menjawab, "Kaliyan Pak Nano uga Bu Rossa, Den."
Fitra bertanya, "Oh, mesti kersa mlebet dhateng pesantren nggih, Mas Makmur?"
Makmur menjawab, "Inggih, Den..."
Fitra menjelaskan, "Bang Cecep uga Mang Daus mboten enten ing pos, Mas Makmur. Tenga riyen ing mriki nggih. Kula pados Mang Daus uga Bang Cecep e riyen."
Makmur menjawab, "Oh, nggih, Den Mas Fitra."
Di Masjid Pesantren Darussalam
Fitra khawatir, "Duh, Mang Daus dan Bang Cecep ke mana sih? Kasihan Mas Makmur, Pak De dan Bu De nunggu di luar kelamaan..."
Oyong melihat Fitra, "Itu kan Mas Fitra. Kok kaya orang kebingungan gitu ya? Ke sana saja deh untuk bertanya."
Oyong memberi salam, "Assalamu’alaikum, Mas Fitra."
Fitra membalas, "Wa’alaikumsalam, Oyong."
Oyong bertanya, "Mas Fitra, punapa ta saking wau kula perhatikan Mas Fitra mondar-mandir ing mesjid? Menapa enten ingkang sanguh kula bantu konjuk Mas Fitra?"
Fitra menjelaskan, "Niki loh, Yong. Kula saweg mencari Bang Cecep uga Mang Daus. Panjenengan ningal mboten? Ing pos satpam Pesantren Darussalam mboten enten mereka berdua. Sawatawis punika ing njawi Pesantren Darussalam enten Pak De Nano uga Bu De Rossa, karep mlebet dhateng lebet Pesantren Darussalam, Oyong."
Oyong ber-seru, "Oh..."
Fitra bertanya, "Inggih, panjenengan ningal Bang Cecep uga Mang Daus mboten?"
Oyong menjawab, "Ningal, Mas. Wau punika Bang Cecep uga Mang Daus radin dhateng wingking Pesantren Darussalam kaliyan supir tamunya Pak Kyai Abdullah, Mas Fitra."
Fitra berterima kasih, "Oh, mekaten. Nggeh, sampun kula dhateng wingking Pesantren Darussalam sakmenika nggih. Maturnuwun nggih, Oyong, informasinya."
Oyong menjawab, "Inggih, Mas, sami-sami."
Fitra memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Oyong membalas, "Wa’alaikumsalam, Mas Fitra."
-----
Fitra memanggil Titah, "Itu kan Titah! Tah, Titah!"
Titah menjawab, "Inggih, Mas..."
Fitra bertanya, "Panjenengan telas saking pundi?"
Titah menjawab, "Kula telas bucal sampah, Mas."
Fitra bertanya, "Panjenengan pethuk kaliyan Bang Cecep uga Mang Daus mboten ing ngrika, Dik?"
Titah menjawab, "Inggih, Mas, pethuk kaliyan Bang Cecep uga Mang Daus. Enten Kung ugi kok ing ngrika."
Fitra menyuruh, "Nggih, sampun, Mas, dhateng ngrika kemawon lajeng."
Titah menjawab, "Inggih, Mas..."
Fitra berkata, "Itu dia, Bang Cecep dan Mang Daus. Benar apa kata Titah, ada Pak Kyai Abdullah juga. Sudah, saya ke sana saja deh sekarang."
Fitra memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Mereka membalas, "Wa’alaikumsalam."
Fitra meminta maaf, "Maaf, Pak Kyai Abdullah..."
Pak Kyai Abdullah bertanya, "Inggih, Ngger, enten menapa?"
Fitra menjelaskan, "Dados kados niki, Pak Kyai Abdullah. Kula mencari Bang Cecep uga Mang Daus."
Cecep bertanya, "Ha... Mencari ane ame Mang Daus? Kenapa, Mas Fitra, cari kita berdua?"
Fitra menjelaskan, "Pak De Nano uga Bu De Rossa enten ing njawi Pesantren Darussalam. Mereka sampun ngentosi dangu ing njawi Pesantren Darussalam, Bang Cecep."
Daus bertanya, "Loh, kok Mas Fitra malah ke sini? Bukannya buka pintu gerbangnya?"
Fitra mengeluh, "Mau dibuka pakai apa, Mang Daus? Kan pintu gerbangnya digembok!"
Daus menyadari, "Oh, iya, Astaghfirullahalazim! Lupa saya! Ya sudah, saya ke depan Pesantren Darussalam dulu deh ya."
Pak Kyai Abdullah berpesan, "Inggih, Daus, ati-ati."
Daus menjawab, "Inggih, Pak Kyai Abdullah."
Daus memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Mereka membalas, "Wa’alaikumsalam."
Pak Kyai Abdullah berkata, "Ya sudah, kalau begitu kita kembali ke Pesantren Darussalam ya."
Mereka menjawab, "Baik, Pak Kyai Abdullah."
Afgan berpikir, "Jalannya pelan-pelan saja deh. Pas begitu ada celah untuk kabur lagi, saya kabur..."
Pak Faisal bertanya, "Tunggu! Afgan mana?"
Samsul menjawab, "Ini, Tuan..."
Pak Faisal mencegah, "Sini kamu pindah dekat Papa. Nanti kamu kabur lagi!"
Afgan kecewa, "Ya, Pah..."
Di Luar Pesantren Darussalam - Mobil Pak Nano
Ibu Rossa bertanya, "Masih lama tidak sih, Mas?"
Pak Nano menjawab, "Tidak tahu, Sayang. Tunggu sebentar ya."
Ibu Rossa menjawab, "Iya, Mas."
Pak Nano memanggil, "Mur... Mur... Mur... Makmur..."
Makmur menjawab, "Inggih, Pak Nano."
Pak Nano menyuruh, "Kamu ke gerbang pesantren lagi, gih."
Makmur menjawab, "Oke..."
Di Depan Pintu Gerbang Pesantren Darussalam
Makmur memanggil Daus, "Oh, sudah ada Daus! Daus..."
Daus menjawab, "Iye, Mur..."
Makmur menyuruh, "Cepat dibuka pintu gerbangnya!"
Daus menjawab, "Iye, Mur. Eni baru mau dibuka pintunya. Sabar ngapa ya..."
Makmur menjawab, "Oke..."
----
Ibu Rossa bertanya, "Sudah, Mur?"
Makmur menjawab, "Sampun, Bu Rossa."
Pak Nano menyuruh, "Ya sudah, cepat jalan, Mur!"
Makmur menjawab, "Oke..."
Di Depan Pintu Gerbang Pesantren Darussalam
Daus mempersilakan, "Mari, Pak Nano!"
Kantor Pak Kyai Abdullah
Pak Kyai Abdullah berkata, "Ya sudah, kita tunggu Nano di sini saja ya, Faisal. Oh ya, Fitra, kamu tolong antar Afgan, santri baru di Pesantren Darussalam ini ya."
Fitra menjawab, "Inggih, Pak Kyai Abdullah."
Afgan bertanya, "Pah, ini beneran Afgan dimasukkan ke pesantren ini?"
Pak Faisal menjawab, "Iya..."
Fitra berkata, "Ya sudah, Pak Kyai Abdullah, Pak De Faisal, saya permisi. Ayo, Afgan, ikut dengan saya."
Mereka menjawab, "Iya..."
Fitra dan Afgan memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Pak Kyai Abdullah dan Pak Faisal membalas, "Wa’alaikumsalam."
Asrama Santri Putri
Rizky menunggu Titah, "Duh, Dede Titah mana ya? Kok belum keluar-keluar juga ya dari asrama putri..."
Frensky bertanya, "Duh, masih lama tidak, Ky?"
Rizky menjawab, "Masih. Emang kenapa, Ky?"
Ucup menjawab, "Takut ketahuan, Ky, sama Mas Fitra atau Pak Ustadz Maulana."
Frensky menambahkan, "Nah, benar apa yang dikatakan oleh Ucup, Ky."
Rizky meyakinkan, "Tenang, tidak bakalan ketahuan. Aku yang jamin, Cup, Ky."
Ucup bertanya, "Terus kalau dihukum bagaimana?"
Rizky menjawab, "Dihukum ya kita jalani sama-sama."
Di Tempat Lain
Fitra menjelaskan pada Afgan, "Nah, Afgan, ketahuilah, selain kamu bisa masuk ke taman dan ruang kelas mana pun, ada larangannya juga loh, Afgan."
Afgan bertanya, "Oh ya, di ruang mana itu, Mas?"
Fitra menjelaskan, "Ini..."
Afgan menyadari, "Oh, asrama santri putri. Loh, Mas, katanya tidak ada yang boleh masuk ke asrama santri putri. Tapi itu kok masih ada yang melanggarnya..." Afgan melihat Rizky, Frensky, dan Ucup.
Fitra berkata, "Itu kan Rizky dan teman-temannya. Em, pasti sedang menunggu Titah keluar dari asrama santri putri, Afgan. Kita ke sana yuk."
Afgan bertanya, "Tapi kata Mas, tidak boleh ke sana. Kok kita malah ke sana sih, Mas?"
Fitra menjelaskan, "Saya pengawas di sini, di asrama santri putri dan juga santri putra. Jangan takut kalau kamu bersama dengan saya. Ayo."
Afgan menjawab, "Iya, Mas..."
Di Depan Asrama Santri Putri
Frensky ketakutan, "Walah, Cup, Cup..."
Ucup cuek, "Apa sih, Ky? Sudah, ah..."
Frensky memberitahu, "Ih, ini anak ya! Itu lihat siapa yang datang!"
Ucup panik, "Waduh, Ky! Kita harus beritahu Rizky ini!"
Ucup dan Frensky memberi kode pada Rizky, "Ky... Ky..."
Rizky cuek, "Sudah diam kalian berdua!"
Fitra memberi salam pelan, "Assalamu’alaikum."
Ucup dan Frensky membalas pelan, "Wa’alaikumsalam, Mas Fitra."
Fitra menyuruh, "Kalian berdua kembali ke asrama santri putra sana."
Frensky pamit, "Inggih, Mas Fitra. Amit..."
Ucup dan Frensky memberi salam pelan, "Assalamu’alaikum."
Fitra membalas pelan, "Wa’alaikumsalam."
Fitra mencolek Rizky, "Em..."
Rizky tidak menyadari, "Apa sih, Ky, Cup? Sudah, ah, tenang saja. Saya jamin aman. Tenang, tenang, oke..."