Masjid Pesantren Darussalam
Ibu Rossa melihat Titah, "Itu Titah, Mas!"
Pak Nano membenarkan, "Oh, iya, benar, Sayang."
Ibu Rossa memanggil, "Tah, Nduk..."
Titah menyapa dan mencium tangan, "Inggih, oh, Ibu uga Bapak."
Pak Nano bertanya, "Akung di mana, Nduk?"
Titah bertanya balik, "Di Pesantren Darussalam mungkin, Pak. Ibu sama Bapak ke sini, tumben. Mas Aldi mana? Ikut kan, Bu?"
Ibu Rossa menjawab, "Mboten, Nduk. Masmu mboten ndherek."
Titah ber-seru, "Oh..."
Ibu Rossa bertanya, "Panjenengan rampung sholat, Nduk?"
Titah menjawab, "Inggih, Bu. Sampun rampung sholat."
Ibu Rossa melihat jaket, "Loh, Nduk, niki kados jaket cah lanang. Gadhah sinten niki, Nduk? Mboten bokmenawi gadhah panjenengan ta, Nduk?"
Titah menjelaskan, "Oh, sanes, Bu. Niki gadhah putra tamunya Kung. Titah mboten sengaja mengenai piyambakipun nalika membuang sampah wau. Titah kedah tanggung jawab uga wisuh jakete."
Ibu Rossa mengerti, "Oh, begitu..."
Pak Nano berpikir, "Anak tamunya Bapak... Jangan-jangan jodohnya Titah dan anaknya Mas Faisal lagi..."
Titah memanggil, "Pak... Bapak..."
Pak Nano bertanya, "Inggih, Nduk, punapa?"
Titah bertanya, "Bapak punapa kok melamun? Enten ingkang Bapak pikirkan nggih?"
Pak Nano menjawab, "Mboten, Nduk. Mboten enten punapa-punapa. Nggeh, sampun, Bapak uga Ibu mu langsung dhateng Pesantren Darussalam kemawon nggih, Nduk, konjuk pethuk kaliyan Kungmu, Pak Kyai Abdullah."
Titah menjawab, "Oh, inggih, Pak..."
Pak Nano mengajak, "Mangga, Bu..."
Ibu Rossa menjawab, "Inggih, Pak..."
Pak Nano dan Ibu Rossa memberi salam, "Assalamu’alaikum, Nduk."
Titah membalas, "Wa’alaikumsalam, Pak, Bu."
Di Depan Asrama Santri Putri
Rizky menyadari kehadiran Fitra, "Ih, apa sih, Ky, Cup? Eh, Mas Fitra, hehe..."
Fitra bertanya, "Lagi apa panjenengan ing mriki, Ky?"
Rizky berbohong, "Lagi golek barang aku sing ilang, Mas Fitra."
Fitra curiga, "Em, ngapusi ta panjenengan, Ky?"
Rizky menyangkal, "Mboten, Mas Fitra. Aku mboten ngapusi, Mas Fitra."
Titah melihat Fitra, "Loh, itu kan Mas Fitra. Ada apa ya di depan asrama santri putri..."
Titah memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Mereka membalas, "Wa’alaikumsalam."
Rizky melihat Titah, "Dede Titah..."
Fitra berkomentar, "Nah, kan ketuaan..."
Rizky mengakui, "Ketahuan, Mas Fitra..."
Fitra menegur, "Nah, iya, itu maksudku. Sekarang sudah tidak bisa mengelak lagi kamu. Ngapusi aku ta? Sudah, ayo ikut saya!"
Rizky bertanya, "Marang endi, Mas Fitra?"
Fitra menjawab, "Aku karep memberikan panjenengan hukuman. Ayo melu aku saiki uga. Afgan, panjenengan uga melu ya."
Afgan bertanya, "Ha... Ke mana, Mas?"
Fitra menjelaskan, "Ke kamarmu, Afgan. Ke asrama santri putra. Dan panjenengan, Rizky, bertemu dengan Mas Fitri dan Pak Ustadz Maulana."
Afgan menjawab, "Oh, iya, Mas."
Fitra memanggil Titah, "Tah..."
Titah menjawab, "Iya, Mas Fitra."
Fitra pamit, "Saya duluan ya..."
Titah menjawab, "Oh, inggih, Mas..."
Mereka memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Titah membalas, "Wa’alaikumsalam."
Asrama Santri Putra - Kamar Fitra dan Fitri
Oyong bertanya, "Telas saking pundi, Mas Fitri?"
Fitri menjawab, "Telas bereskan kamar konjuk santri ingkang enggal, Oyong."
Oyong terkejut, "Oh, eh..."
Fitri bertanya, "Panjenengan punapa ta, Oyong?"
Oyong bertanya, "Santri barunya punika anak tamunya Pak Kyai Abdullah, sanes, Mas Fitri?"
Fitri menjawab, "Kula mboten mangertos, Oyong. Kula saking enjang mboten enten ing Pesantren Darussalam. Kula enten ceramah ing njawi Pesantren Darussalam."
Oyong menyadari, "Oh, nggih, kesupen kula..."
Di Depan Kamar Afgan
Fitra berkata, "Nah, Afgan, sekarang kamu istirahat ya. Ini kamar kamu."
Afgan menjawab, "Iya, Mas Fitra."
Fitra melanjutkan, "Ya sudah, kalau begitu saya mau ke kamar dan kasih hukuman untuk ini anak..."
Afgan menjawab, "Iya, Mas Fitra..."
Fitra memberi salam, "Assalamu’alaikum."
Afgan membalas, "Wa’alaikumsalam."
Kamar Afgan
Afgan merencanakan, "Oh iya, tadi kan saya ketemu dengan dia, cewek yang melemparkan sampah dan jaket saya jadi kotor dan juga bau. Tadi juga saya lihat kalau jaket itu dia bawa. Berarti belum dia cuci dong. Saya harus bisa keluar dari asrama santri putra dan juga masuk ke asrama santri putri sekarang untuk mencari dia. Tapi bagaimana caranya ya?"
Beberapa Menit Kemudian
Afgan menemukan ide, "Aha..!! Saya tahu bagaimana caranya..."
Rumah Pak Kyai Abdullah
Pak Nano mengajukan permintaan, "Saya ingin membicarakan sesuatu besok dengan Mas Faisal, bisa?"
Pak Faisal menjawab, "Tentu saja bisa dong. Saya juga ingin membicarakan sesuatu dengan kamu."
Afgan tidak sengaja mendengar, "Ha... Papa ingin membicarakan sesuatu dengan temannya tentang apa ya?"
Pak Nano berkata, "Ini mengenai rahasia yang sudah kita sepakati dan yang belum Afgan dan Titah ketahui, Mas Faisal."
Pak Faisal menyarankan, "Iya, setuju. Bagaimana kita bertemu dan membicarakan rahasia tersebut di halaman belakang rumah Pak Kyai Abdullah saja?"
Pak Nano setuju, "Oke, boleh juga. Saya setuju. Oh ya, sudah malam. Saya duluan ya, Mas Faisal."
Pak Faisal menjawab, "Iya, saya juga mau ke kamar."
Afgan bertanya-tanya, "Rahasia yang belum saya ketahui? Dan siapa itu Titah?"
Asrama Santri Putri - Kamar Titah dan Lesti
Lesti bersyukur, "Alhamdulillah, Mbak Titah tidur di asrama santri putri. Saya kira hari ini tidur di rumah Pak Kyai Abdullah."
Titah bertanya, "Kenapa, Lesti, takut ya?"
Lesti menjawab, "Hehe, iya, Mbak Titah. Tahu saja, Mbak Titah, kalau Lesti paling takut tidur sendirian."
Titah menyuruh, "Ya sudah, tidur gih."
Lesti melihat jaket, "Loh, Mbak Titah, ini jaket siapa?"
Titah menjawab, "Punya anak tamunya Kung, Pak Kyai Abdullah."
Lesti mencium jaket, "Em, Mbak..."
Titah bertanya, "Kenapa, Lesti?"
Lesti menjelaskan, "Ambete mboten eca, Mbak. Kados ambet sampah, em... uwek..."
Titah menjelaskan, "Hehe, emang inggih, Lesti. Ambet sampah punika. Kula mboten sengaja membuang sampah ingkang mboten sengaja mengenai piyambakipun."
Lesti bertanya, "Terus, Mbak Titah yang cuci jaketnya gitu?"
Titah menjawab, "Inggih, Lesti. Kula kedah bertanggung jawab ta. Nggeh, sampun, ayo tilem supaya benjing mboten kesiyangan. Benjing kita awiti membatiknya ta. Uga kula ugi badhe mencuci jakete benjing, enjang saksampune sholat subuh, supaya sadurung sholat lohor sanguh kula entas uga ugi sanguh kula kembalikan dhateng pemilike."
Lesti setuju, "Oh, nggih, ayo tidur, Mbak..."
Depan Asrama Santri Putri
Afgan melihat banyak orang, "Loh, kok banyak orang sih di sini? Oh iya, saya lupa kalau kata Mas Fitra tadi, kalau di asrama santri putri dan juga asrama santri putra ada yang mengawasi. Ya, berarti hari ini gagal dong. Ya sudah, besok lagi saja deh saya coba lagi deh..."
----
Rumah Pak Faisal
Ibu Dewi masih sedih dan tidak mau makan. Arsya melihat kondisi ibunya dan meminta bantuan Darmi untuk mencari kabar Afgan melalui Samsul.
Keesokan Harinya - Rumah Pak Faisal
Arsya bertanya pada Darmi, "Bi Darmi..."
Darmi menjawab, "Inggih, Den Mas Arsya."
Arsya bertanya, "Mama mana?"
Darmi menjawab, "Di kamarnya, Den. Masih sama seperti kemarin, tidak mau makan."
Arsya berterima kasih, "Oh, ya sudah, terima kasih ya, Bi. Nanti biar saya yang coba bujuk Mama deh..."
Darmi pamit, "Inggih, Den Mas, sami-sami. Amit..."
Kamar Pak Faisal dan Ibu Dewi
Arsya membujuk, "Mah, sarapan ya. Mama harus makan ya, biar perutnya tidak kosong dan juga tidak sakit. Nanti kalau Uda Afgan dengar Mama sakit, pasti Uda Afgan sedih deh..."
Ibu Dewi menolak, "Biarin! Nanti pasti Uda kamu pulang ke rumah, Mama tetap tidak mau makan, titik..."
Ibu Dewi bertanya, "Kamu tidak sekolah?"
Arsya menjelaskan, "Tidak, Mah. Kalau Arsya sekolah, yang jaga Mama siapa? Sedangkan Mama dalam keadaan seperti ini..."
Ibu Dewi menyuruh, "Mama kenapa memangnya? Orang Mama tidak kenapa-kenapa juga. Sudah, kamu masuk sekolah saja gih sana!"
Arsya mencoba membantah, "Tapi, Mah..."
Ibu Dewi bersikeras, "Sudah, sana sekolah, Mama bilang!"
Arsya menurut, "Iya, Mah..."
Di Dapur
Arsya meminta bantuan, "Bi Darmi..."
Darmi bertanya, "Inggih, Den Mas Arsya. Ada yang bisa Bi Darmi bantu?"
Arsya meminta, "Tolong telepon Samsul ya. Tanya kabar Uda. Tapi telepon Samsulnya di depan Mama ya, supaya Mama tahu keadaan dari Uda."
Darmi semangat, "Oh, oke. Siap! Laksanakan! Beres! Itu mah, Den, serahkan semuanya pada Darmi, Den Mas!"
Arsya menjawab, "Oke..."