Konsekuensi Ketidaksopanan Afgan

1180 Words
Pesantren Darussalam - Rumah Pak Kyai Abdullah - Halaman Belakang Ibu Rossa memberikan teh, "Ini, Mas, tehnya..." Pak Nano menerima, "Iya, terima kasih, Istriku." Afgan berniat menguping, "Kemarin saya dengar percakapan Papa dan temannya itu ingin membicarakan rahasia di belakang rumah Pak Kyai Abdullah. Berarti di sini dong. Itu dia, Papa dan temannya..." Pak Kyai Abdullah melihat Afgan, "Itu siapa ya? Ehem..." Pak Kyai Abdullah memberi salam, "Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Afgan curiga, "Kok ada yang bilang Assalamu’alaikum ya? Jangan-jangan..." Pak Kyai Abdullah bertanya, "Kamu sedang apa, Afgan?" Afgan menjawab, "Eh, Pak Kyai Abdullah. Saya ke sini mencari perempuan yang kemarin mencuci jaket saya, hehe..." Pak Faisal bertanya pada Pak Nano, "Itu, Pak Kyai Abdullah, dengan siapa ya?" Pak Nano menjawab, "Tidak tahu, Mas." Pak Kyai Abdullah menjelaskan, "Dia cucu saya, namanya Titah. Dia di asrama santri putri. Kamu mencarinya ada keperluan apa?" Afgan menjelaskan, "Saya ingin meminta jaket saya, Pak Kyai Abdullah." Pak Kyai Abdullah menginformasikan, "Kamu tunggu saja di ruang batik karena Titah, cucuku, akan pergi ke ruang batik sekarang untuk mengajar batik pada adik-adiknya di Pesantren Darussalam ini." Afgan berterima kasih, "Baik, Pak Kyai Abdullah. Saya ke sana sekarang." Afgan memberi salam, "Assalamu’alaikum." Pak Kyai Abdullah membalas, "Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Afgan mengeluh, "Ih, kenapa pakai ketahuan segala sih? Sekarang aku harus cari cewek yang kemarin cuci jaket saya deh, akhirnya hmm... Tadi kata Pak Kyai Abdullah dia ada di mana ya? Batik atau mana sih? Ada orang, tuh, tanya saja deh..." Depan Dapur Pesantren Darussalam Afgan menyapa tidak sopan, "Eh, kalian..." Rizky menegur, "Eh, kamu itu tahu tata krama gak ta? Datang-datang ya kasih salam gitu loh. Datang-datang malah bilang ‘Eh, kalian’..." Ucup menambahkan, "Tahu nih..." Frensky menambahkan, "Kasih salam dong..." Afgan cuek, "Ya... Ya... Whatever ya..." Frensky bertanya, "Maksudnya?" Afgan menjawab, "Terserah..." Ucup menegur, "Yang sopan dan pakai tata krama bisa gak?" Afgan menjawab, "Kan sudah gue bilang tadi terserah..." Oyong bertanya, "Iku ana apa ta ribut-ribut?" Fitri menjawab, "Emboh, Yong. Delok, ayo." Rizky menegur Afgan, "Yang sopan loh, kita ini senior kamu. Jangan malah seperti itu." Ucup bertanya, "Tunggu, tunggu, tunggu! Kamu itu santri baru yang kemarin baru masuk kan, yang bersama dengan Mas Fitra semalam?" Afgan menjawab, "Kalau iya kenapa emang? Lain ya, gue ke sini cuma mau tanya doang sama kalian, tahu..." Frensky berkata, "Alah, percuma..." Ucup bertanya pada Rizky, "Kita gak akan jawab ya, Rizky?" Rizky menjawab, "Inggih, Cup." Fitri dan Oyong memberi salam, "Assalamu’alaikum." Mereka membalas, "Wa’alaikumsalam." Fitri menegur, "Loh, kalian ngapain di sini sih, Trio RUF? Bukannya belajar sana?" Rizky menjelaskan, "Iya, ini baru mau ke kelas, Mas. Cuma ada orang baru yang ngeselin nih, jadi menghambat kita ya, Cup, ya, Ky?" Ucup dan Frensky menjawab, "Inggih, Mas Rizky..." Afgan menjawab, "Whatever..." Rizky menunjuk Afgan, "Kamu..." Fitri menyuruh, "Haiya... Sudah... Sudah... Sudah... Sekarang gini saja, kamu, Yong, urus santri baru ini, dan saya mengurus anak-anak ini." Oyong menjawab, "Inggih, Mas..." Fitri menyuruh, "Ya sudah, ayo masuk ke dalam sana, ayo... Ingat, Yong, urus dia ya..." Mereka memberi salam, "Assalamu’alaikum." Afgan dan Oyong membalas, "Wa’alaikumsalam." Oyong bertanya pada Afgan, "Namamu siapa?" Afgan menjawab, "Afgan..." Oyong bertanya, "Ada yang saya bantu?" Afgan menjawab, "Saya mau bertemu dengan cucunya Pak Kyai, namanya siapa ya, aku lupa. Pokoknya Ti... Ti... Ti... Gitu deh..." Oyong mengerti, "Oh, Titah ta." Afgan membenarkan, "Nah, iya, itu." Oyong mengajak, "Ya sudah, ayo." Fitra bertanya pada Oyong, "Loh, Yong, kamu mau ke mana?" Oyong menjelaskan, "Ke Titah, Mas. Antar ini, suruh Mas Fitri." Fitra meminta maaf, "Oh, oh iya, lupa. Maaf sebelumnya, Assalamu’alaikum." Oyong membalas, "Iya, Mas, gak apa-apa. Wa’alaikumsalam." Fitra menginformasikan, "Ya sudah, sana. Titah masih di ruang batik kok." Oyong berterima kasih, "Inggih, Mas, matur nuwun." Fitri membalas, "Nggih, sami-sami. Assalamu’alaikum." Oyong membalas, "Nggih, Mas, Wa’alaikumsalam." ---- Depan Ruang Batik Lesti berkata, "Untung ada sisa banyak kain yang masih ada. Sayang mubazir kalau tidak dipakai..." Oyong memberi salam, "Assalamu’alaikum." Lesti membalas, "Wa’alaikumsalam." Oyong bertanya, "Lesti..." Lesti bertanya, "Nggih, eh, Oyong, ngapa?" Oyong bertanya, "Titah ana?" Lesti bertanya, "Mbak Titah ta?" Oyong bertanya, "Nggih, ana ora?" Lesti menjawab, "Ana, mlebu wae, Yong..." Oyong menjawab, "Oke..." Ruang Batik Oyong memberi salam, "Assalamu’alaikum." Titah membalas, "Wa’alaikumsalam." Titah menyuruh Lesti, "Taruh saja di situ, Lesti. Nanti saya periksa lagi. Oh ya, masih ada tidak kain sisanya?" Oyong mengklarifikasi, "Maaf, Tah, ini saya, Oyong, bukan Lesti." Titah meminta maaf, "Astaghfirullahalazim, Oyong! Maaf, saya sedang fokus membatik." Oyong menjelaskan, "Nggih, mboten punapa-punapa, Tah. Niki loh, enten ingkang karep bertemu kaliyan panjenengan." Titah melihat Afgan, "Kamu..." Afgan menjawab, "Ya..." Titah bertanya, "Kenapa sih kamu ketus begitu? Masih gak terima kejadian kemarin?" Afgan bertanya, "Ya iyalah! Kalau bukan gara-gara elu, gak mungkin gue berada di sini, tahu?" Titah menjelaskan, "Kan saya sudah bilang kemarin maaf dan juga saya tidak sengaja melempar sampah itu ke kamu. Kamu nya juga kenapa berada di situ? Itu kan tempat pembuangan sampah di pesantren ini." Afgan menuntut, "Whatever! Oh yeah, where is my jacket that I told you to wash? Here?" Titah menjawab, "You think I don't understand and can't speak English? You want your jacket? Wait a moment and come with me. Don't worry, don't be afraid of losing your jacket or me taking your jacket. Because I have a lot more jackets than you know. I have jackets like yours. I can even buy more than one. Just one jacket is so arrogant. I'm done and come on now, you come with me." Afgan setuju, "Yes, I've come along with you now too to take my jacket." Titah meminta bantuan, "Okay, but before we go, wait a minute, Oyong..." Titah meminta Oyong (dalam bahasa Arab), "لاحقًا، إذا جاء ليستي إلى هنا، من فضلك قل أنني سأخرج لفترة من الوقت، لدي شيء لأفعله، وسأعود قريبًا، حسنًا؟" Oyong menjawab (dalam bahasa Arab), "نعم..." Titah memberi salam, "السلام عليكم ورحمة الله وبركاته" Oyong membalas, "وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته" Asrama Santri Putri - Depan Asrama Titah memberi peringatan, "Oh ya, tunggu dulu! Kamu tunggu di sini, saya ambil jaket kamu. Laki-laki tidak boleh masuk ke dalam, dan ini kawasan terlarang untuk kamu." Afgan memperingatkan, "Oke! Awas ya, kalau sampai rusak! Itu jaket mahal dan harganya mahal, tahu!" Titah menjawab santai, "Just take it easy! If it's damaged, your jacket can be replaced with a double." Beberapa Menit Kemudian Afgan tidak sabar, "Mana sih ini orang? Lama banget! Jangan-jangan jaket gue rusak lagi! Wah, gak bisa ini! Gak bisa dibiarkan! Saya harus masuk ke dalam cari dia! Enak saja..." Kamar Titah dan Lesti Titah berharap, "Mudah-mudahan masalah ini cepat selesai dan mudah-mudahan saja saya tidak berurusan lagi deh dengan orang itu. Bikin naik darah saja..." Taman Asrama Santri Putri Afgan mencari Titah, "Mana sih dia? Kenapa gak ada di sini?" Afgan menyapa santri putri, "Hai, cantik..." Dinda protes, "Loh, siapa dia? Kok laki-laki bisa masuk sih ke dalam asrama santri putri?" Aurel menambahkan, "Iya, benar! Kamu ngapain di sini? Kamu nggak baca apa itu? Laki-laki dilarang masuk ke dalam asrama santri putri, tahu!" Afgan bersikeras, "Ah... Diam! Berisik banget sih lho... Gue ada urusan sama cucunya Pak Kyai Abdullah. Minggir! Hus... Hus... Hus..." Aurel dan Dinda melaporkan Afgan pada Pak Ustadz Maulana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD