Rahasia Terungkap di Pesantren

1088 Words
Pacitan Pesantren Darussalam Masih di masjid pesantren darussalam.. "Oh sanes bu, niki gadhah putra tamunya akung, Titah mboten sengaja mengenai piyambakipun nalika membuang sampah wau, Titah kedah tanggung jawab uga wisuh jakete", jawab Titah yang membawa jaket milik Afgan. "Oh begitu", kata ibu Rossa. "Anak tamunya bapak, jangan-jangan jodohnya Titah dan anaknya mas Faisal lagi", kata pak Nano di dalam hati. "Pak, bapak..", kata Titah yang melihat pak Nano melamun. "Inggih nduk, punapa ?", tanya pak Nano. "Bapak punapa kok melamun, enten ingkang bapak pikirkan nggih ?", tanya Titah juga. "Mboten nduk, mboten enten punapa-punapa, nggih sampun bapak uga ibu mu langsung dhateng pesantren darussalam kamawon nggih nduk, konjuk pethuk kaliyan akung mu, pak kyai Abdullah", jawab pak Nano. "Oh inggih pak", kata Titah. "Mangga bu", sambung pak Nano. "Inggih pak", kata ibu Rossa. "Assalamu'alaikum nduk", pak Nano dan ibu Rossa memberikan salam pada Titah. "Wa'alaikumussalam pak, bu", Titah menjawab salam dari pak Nano dan ibu Rossa. Di depan asrama santri putri.. "Ih apa sih ky, cup, eh mas Fitroh, hehe", kata Rizky yang baru menyadari Fitroh ada di belakangnya dan juga tertawa. "Lagi apa panjenengan ing mriki ky ?", tanya Fitroh. "Lagi golek barang aku sing ilang mas Fitroh", jawab Rizky. "Em ngapusi ta panjenengan, ky ?", tanya Fitroh lagi. "Mboten mas Fitroh, aku mboten ngapusi mas Fitroh", jawab Rizky lagi. "Loh itu kan mas Fitroh, ada apa ya di depan asrama santri putri ?", Titah bertanya-tanya sendiri ketika melihat Fitroh berada di depan asrama santri putri. "Assalamu'alaikum", Titah memberikan salam pada Fitroh, Afgan, dan Rizky. "Wa'alaikumussalam", Fitroh, Afgan, dan Rizky menjawab salam dari Titah. "Dede Titah..", kata Rizky ketika melihat Titah yang baru saja datang ke asrama santri putri. "Nah kan ketuaan..", kata Fitroh. "Ketahuan mas Fitroh", sambung Rizky. "Nah iya itu maksudku, sekarang sudah tidak bisa mengelak lagi kamu, ngapusi aku ta, sudah ayo ikut saya", kata Fitroh lagi. "Marang endi mas Fitroh ?", tanya Rizky. "Aku karep memberikan panjenengan hukuman ayo melu aku saiki uga, Afgan, panjenengan uga melu ya", jawab Fitroh. "Ha.., kemana mas ?", tanya Afgan. "Ke kamarmu Afgan, ke asrama santri putra, dan panjenengan Rizky bertemu dengan mas Fitri, mas Fitra, dan pak ustadz Maulana", jawab Fitroh. "Oh iya mas", kata Afgan. "Tah..", kata Fitroh memanggil Titah yang ada didepan Fitroh. "Iya mas Fitroh", jawab Titah. "Saya duluan ya", kata Fitroh lagi. "Oh inggih mas", sambung Titah. "Assalamu'alaikum", Fitroh, Afgan, dan Rizky memberikan salam pada Titah. "Wa'alaikumussalam", Titah menjawab salam dari Fitroh, Afgan, dan Rizky. Di asrama santri putra Di kamar Fitroh, Fitra, dan Fitri.. "Telas saking pundi mas Fitri ?", tanya Fitra. "Telas bereskan kamar konjuk santri ingkang enggal Fitra", jawab Fitri. "Oh, eh..", kata Fitra yang mendengar jawaban dari Fitri. "Panjenengan punapa ta Fitra ?", tanya Fitri. "Santri barunya punika anak tamunya akung sanes mas Fitri ?", tanya Fitra juga. "Kula mboten mangertos Fitra, kula saking enjang mboten enten ing pesantren darussalam, kula enten ceramah ing njawi pesantren darussalam", jawab Fitri lagi. "Oh nggih kesupen kula", kata Fitra. Di depan kamar Afgan.. "Nah Afgan sekarang kamu istirahat ya, ini kamar kamu", kata Fitroh. "Iya mas Fitroh", sambung Afgan. "Ya sudah kalau begitu saya mau ke kamar dan kasih hukuman untuk ini anak", kata Fitroh lagi. "Iya mas Fitroh", sambung Afgan. "Assalamu'alaikum", Fitroh memberikan salam pada Afgan. "Wa'alaikumussalam", Afgan menjawab salam dari Fitroh. Di kamar Afgan.. "Oh iya tadi kan saya ketemu dengan dia, cewek yang melemparkan sampah dan jaket saya jadi kotor dan juga bau, tadi juga saya juga lihat kalau jaket itu dia bawa, berarti belum dia cuci dong, saya harus bisa keluar dari asrama santri putra dan juga masuk ke asrama santri putri sekarang untuk mencari dia, tapi bagaimana caranya ya ?", Afgan bertanya-tanya yang sedang merencanakan sesuatu. Beberapa menit kemudian.. Masih di kamar Afgan.. "Aha..!!, saya tau bagaimana caranya", kata Afgan yang menemukan cara keluar dari asrama santri putra. Di rumah pak kyai Abdullah Di depan rumah pak kyai Abdullah.. "Saya ingin membicarakan sesuatu besok dengan mas Faisal besok, bisa ?", tanya pak Nano. "Tentu saja bisa dong, saya juga ingin membicarakan sesuatu dengan kamu", jawab pak Faisal. "Ha.., papa ingin membicarakan sesuatu dengan temannya tentang apa ya ?", tanya Afgan yang tidak sengaja mendengar percakapan pak Nano dan pak Faisal. "Ini mengenai rahasia yang sudah kita sepakati dan yang belum Afgan dan Titah ketahui mas Faisal", kata pak Nano. "Iya setuju, bagaimana kita bertemu dan membicarakan rahasia tersebut dihalaman belakang rumah pak kyai Abdullah saja", sambung pak Faisal. "Oke boleh juga, saya setuju, oh ya sudah malam, saya duluan ya mas Faisal", kata pak Nano. "Iya, saya juga mau ke kamar", sambung pak Faisal lagi. "Rahasia yang belum saya ketahui, dan siapa itu Titah ?", tanya Afgan yang masih mendengarkan percakapan dari pak Nano dan pak Faisal. Di asrama santri putri Di kamar Titah dan Lesti.. "Alhamdulillah mbak Titah tidur di asrama santri putri, saya kira hari ini tidur di rumah pak kyai Abdullah", kata Lesti. "Kenapa Lesti takut ya ?", tanya Titah. "Hehe iya mbak Titah, tau saja mbak Titah, kalau Lesti paling takut tidur sendirian", jawab Lesti. "Ya sudah tidur gih", kata Titah. "Loh mbak Titah ini jaket siapa ?", tanya Lesti. "Punya anak tamunya akung, pak kyai Abdullah", jawab Titah. "Em mbak..", kata Lesti saat mencium jaket Afgan. "Kenapa Lesti ?", tanya Titah saat melihat Lesti mencium jaket Afgan. "Ambete mboten eca mbak, kados ambet sampah em.. uwek..", jawab Lesti yang mencium jaket Afgan. "Hehe emang inggih Lesti ambet sampah punika, kula mboten sengaja membuang sampah ingkang mboten sengaja mengenai piyambakipun", kata Titah lagi. "Terus mbak Titah yang cuci jaketnya gitu ?", tanya Lesti lagi. "Inggih Lesti, kula kedah bertanggung jawab ta, nggih sampun ayo tilem supaya benjing mboten kesiyangan, benjing kita awiti membatiknya ta, uga kula ugi badhe mencuci jakete benjing, enjang saksampune sholat subuh, supaya sadurung sholat lohor sanguh kula entas uga ugi sanguh kula kembalikan dhateng pemilike", jawab Titah lagi. "Oh nggih ayo tidur mbak..", kata Lesti. Di depan asrama santri putri.. "Loh kok banyak orang sih disini, oh iya saya lupa kalau kata mas Fitroh tadi, kalau di asrama santri putri dan juga asrama santri putra ada yang mengawasi, ya berarti hari ini gagal dong, ya sudah besok lagi saja deh saya coba lagi deh", kata Afgan. Afgan kembali ke kamarnya, keesokan harinya ibu Dewi (ibu Afgan) masih tidak mau makan dan juga masih memikirkan Afgan yang di kirim ke pesantren oleh pak Faisal. Arsya (adik Afgan) tidak melihat keadaan ibunya segera meminta tolong pada Darmi untuk mencari informasi tentang kabar dari kakaknya di pesantren darussalam lewat Samsul.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD