Part 20

1144 Words
Novita melirik Dellia yang tampak tenang menikmati makan siangnya. Tampak ia tak keberatan dengan kakinya yang dibalut perban pun tidak terlihat rasa sakit di wajahnya. Namun begitu, Novita masih tetap merasa tidak enak pada sahabatnya itu yang mendapatkan luka akibat kecerobohannya, niat bercanda malah berujung petaka. Dellia yang sejak tadi merasakan tatapan dari sampingnya menolehkan wajahnya pada sahabatnya itu. Keningnya sedikit berkerut melihat Novita yang tak berkedip melihatnya. Sedangkan Putri yang sedang menikmati makanannya ikut menoleh menatap Novita dan Dellia bergantian, terlihat bingung dengan kedua sahabatnya yang saling tatap tanpa berbicara. "Kalian kenapa?" Pertanyaan tiba-tiba dari Putri sontak membuat Novita tersentak kaget, ia lalu mengalihkan pandangannya pada Putri yang melontarkan pertanyaan. Bahkan ia sendiri tidak sadar sejak kapan menatap Dellia begitu lama. "Si Novita, Put, tidak tahu kenapa sejak tadi lihatin aku terus." Dellia kembali menyantap makanannya dengan nikmat, ia tak tahu perutnya begitu lapar sampai ada yang mengisinya. Sekarang memang sudah waktunya untuk makan siang bersama, Putri dan Novita lebih memilih makan siang di tenda menemani Dellia yang kakinya sedang terluka. Novita menggaruk pipinya. Senyumnya canggung menatap kedua sahabatnya yang menatapnya bingung. "Kamu tidak marah, Dell?" "Marah kenapa?" Dellia semakin mengerutkan keningnya. Ia menoleh pada Putri yang malah mengangkat bahu tanda tidak mengerti. Sahabatnya itu kemudian kembali menikmati makanannya. "Kaki kamu, Dell. Kaki kamu terluka itu gara-gara aku. Jangan bilang kamu lupa." "Ohh." Dellia tertawa kecil sehingga ia hampir saja tersedak oleh makanan di dalam mulutnya yang belum sempat ia telan. Ia buru-buru meneguk air minum yang diberikan oleh Novita padanya. "Ya ampun, Nov. Itu 'kan murni kecelakaan. Kamu juga tidak ada niatan untuk melakukan itu 'kan. Kaki aku juga sudah diobati dan sekarang baik-baik saja, bahkan aku sudah bisa berjalan dengan baik juga. Jangan terlalu dipikirkan, Nov dan nikmati saja makananmu sebelum dingin." "Iya, Nov, lebih baik kamu habiskan makananmu sebelum kami semua selesai dan kamu berakhir cuci piring sendiri di sungai. Lagipula Dellia baik-baik saja. Aku juga tadi panik, kok, tapi melihat Dellia masih bisa makan kayak orang yang tidak pernah makan selama seminggu rasa panikku hilang." Putri tertawa singkat melihat Dellia melotot padanya, sebelum melanjutkan ucapannya dengan alis yang ia naik turunkan menatap kedua temannya. "Ditambah lagi, Dellia bisa dapat servis gratis dari kakak kelas ganteng. Itu adalah sebuah anugerah di balik kemalangan yang menimpanya." "Oh iya, ya." Novita menepuk tangannya sekali membenarkan ucapan Putri yang benar-benar ia percayai. "Beruntung banget Dellia dibantu sama kakak kelas itu." Ia menoleh pada Dellia yang sedang meneguk minumannya karena mendadak tenggorokannya kering mendengar percakapan kedua sahabatnya yang tidak punya akhlak di matanya. "Selamat, ya, Dell." Dellia tanpa sengaja menyemburkan minuman yang masih menampung di mulutnya dan belum sempat ia telan. Semburannya itu tentu saja mengenai Putri yang tengah duduk di depannya sementara Novita hanya terkena sedikit di lengannya. "Astaga, Dellia jorok banget, sih." Putri mengambil selembar tisu dan mengeringkan wajahnya dari semburan gratis yang diberikan Dellia padanya. Untungnya tadi ia masih sempat menjauhkan makanannya yang belum habis dan beruntung tidak terkena semburan juga. Jika tidak, ia tidak akan bisa melanjutkan makannya nanti. Dellia memberikan tatapan bersalahnya dengan senyum canggung, sebenarnya ia ingin tertawa keras melihat kesialan sahabatnya itu akibat perbuatannya sendiri, namun ia cukup takut melihat tatapan melotot yang diberikan Putri padanya. "Maaf, Put. Aku tidak sengaja, sumpah." Matanya kemudian beralih pada Novita yang ternyata diam-diam tertawa tanpa suara melihat Putri yang benar-benar s**l. "Heh, jangan ketawa kamu. Ini semua gara-gara kamu tahu." "Lah, aku salah apa coba?" Novita mencoba memberi pembelaan atas tuduhan bersalah yang diberikan padanya. "Aku 'kan cuma memberi selamat," lanjutnya. "Justru karena itu. Kamu memberi selamat untuk hal yang tidak seharusnya." "Apa salahnya, sih, dell? Toh apa yang dibilang Novita ada benarnya juga." Putri masih berusaha mengeringkan bajunya yang basah dengan tisu akibat perbuatan Dellia beberapa saat yang lalu. "Ya ampun kalian berdua ini kenapa, sih? Tadi itu rasanya malu banget tahu. Diangkat sama orang yang tidak dikenal, terus dilihatin oleh semua orang. Rasanya kalau bisa aku mau menenggelamkan diri di sungai saat itu juga." Dellia membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya mengingat kejadian memalukan yang terjadi satu jam yang lalu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya saat digendong oleh pemuda itu yang mungkin saja sudah seperti kepiting rebus. "Tidak usah menyangkal, Dell. Kami tahu di dalam hatimu kamu sedang berbunga-bunga. Tadi juga aku sempat lihat kamu terus-terusan memandangi kakak kelas itu dari jauh, kok. Ayo ngaku saja. Bohong dosa, lho." "Serius, Nov? Berarti Dellia naksir sama kakak kelas itu, dong. Terus Raka bagaimana?" Dellia memukul lengan Putri dengan agak keras sehingga suara telapak tangannya yang menyentuh kulit lengan Putri dapat terdengar jelas di telinga mereka bertiga di dalam tenda itu. "Jangan sembarangan kalau bicara. Terus hati-hati kalau mau menyebut nama Raka di sini. Kalau ada anak kelas tiga yang lewat terus dengar pembicaraan kita bagaimana? Kamu mau tanggung jawab kalau aku dilabrak sama kakak kelas?" Putri menggeleng dengan bahasa tubuh yang melakukan gerakan seolah-olah sedang menutup resleting di bibirnya, tanda ia akan tutup mulut dan menjaga rahasia itu agar hanya mereka bertiga yang tahu. "Aku janji akan hati-hati, yang tadi itu keluar dari mulutku tanpa kusadari. Oh ya, gomong-ngomong." Ia menoleh ke kanan dan kirinya memastikan tidak ada yang sedang menguping pembicaraan mereka meskipun sebenarnya hal itu sia-sia karena ia tak bisa melihat keberadaan orang-orang di sekitar mereka dari dalam tenda dan hanya kesunyian yang dapat mereka dengar dari luar. Ia mendekatkan wajahnya, mengajak Dellia dan Novita ikut mendekatkan wajah mereka berdua kemudahan berbisik, "Bagaimana dengan Raka? Apa kalian semakin dekat? Terus cowok misterius yang kamu temui di depan kelas waktu itu sudah kamu tahu namanya?" Dellia menggeleng seraya menjauhkan wajahnya. "Raka masih sama seperti biasa, hangat saat di telepon dan dingin saat bertemu langsung. Aku heran, deh, apa mereka dua orang yang berbeda? Tadi aku sempat ketemu Raka, sih, dia sapa aku tapi rasanya tetap ada yang aneh. Dia kayaknya tidak kenal sama aku." Putri dan Novita saling berpandangan, kemudian Putri mengeluarkan suaranya. "Sebaiknya kamu tanyakan langsung sama Raka, deh. Daripada menduga-duga dan akhirnya tetap tidak menemukan jawaban." Dellia tampak berpikir sedangkan Novita mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan ucapan Putri yang menurutnya langkah yang pas untuk diambil. Namun Dellia tetap ragu dan bingung untuk melakukannya. "Aku tidak tahu, Put, Nov. Sudah beberapa kali aku mau bertanya soal itu tapi selalu ragu. Takut menyinggung perasaannya." "Kenapa harus ragu? Tanyakan saja. Tentang bagaimana responnya nanti itu urusan belakangan. Lagipula Raka orangnya baik, kok, aku yakin dia tidak akan tersinggung apalagi marah. Itu juga supaya kita bisa tahu alasan di balik sikapnya yang suka berubah-ubah." "Nanti aku usahakan, deh." Dellia tak mau ambil pusing dengan ucapan Putri dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan yang membahas Raka. Ia teringat dengan pertanyaan sahabatnya itu yang belum sempat jawab. "Oh iya, soal cowok misterius itu aku belum tahu namanya, tapi dia orang yang bantu obati lukaku tadi," ujarnya santai sambil menghabiskan makanannya yang tersisa sedikit tak acuh dengan kedua sahabatnya yang kini membelalakkan matanya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD