“Demi apa, Dellia. Kenapa kamu baru bilang sekarang?” Novita berusaha meraih lengan Dellia dan memberi cubitan sayang di sana, namun si pemilik tangan langsung menjauhkannya dari jangkauan sahabatnya yang sudah seperti singa kelaparan itu.
“Jawabannya sederhana. Aku lupa.”
Putri tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Dellia dan Novita di depannya. Ia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya berusaha menghabiskan sisa makanannya yang masih tersisa banyak dan terasa hambar saat ini akibat mereka terlalu banyak mengobrol sejak tadi. “Ya udah, sih, Nov. Yang penting kita sudah tahu siapa cowok misterius itu. Ternyata dia adalah kakak kelas kita dan teman sekelas Raka, cuma aku tidak tahu siapa namanya.”
“Sepertinya dia memang tidak terkenal.” Novita ikut menghabiskan makanannya melihat piring Dellia sudah kosong dan piring Putri yang sedikit lagi bersih dari makanan. Ia tidak mau ketinggalan dan berakhir cuci piring sendirian di sungai nantinya. Ia paling takut jika berdekatan dengan air sungai, apalagi jika sungai itu dalam dan tidak tampak bagian dasarnya. “Aku cukup tahu semua cowok poupler di sekolah, tapi dia tidak ada di dalam daftar. Jadi wajar saja kalau kita tidak kenal.” Ia meneguk minumannya sebentar. “Tapi anehnya dia dekat dengan Raka.”
Kening Dellia berkerut mendengar ucapan Putri yang menurutnya sedikit aneh. “Memangnya kenapa kalau dia dekat dengan Raka?”
Novita memberikan tatapan seolah-olah Dellia baru saja bertanya tentang gajah yang bertelur. “Kamu ‘kan tahu sendiri kalau Raka itu populer, Dell. Jadi siapa pun yang dekat dengannya sudah pasti populer juga.”
“Atau kalaupun dia tidak populer, setidaknya orang-orang pasti kenal dengannya.” Putri menumpuk piring kosongnya di atas piring Dellia yang sudah selesai makan sejak beberapa saat yang lalu. “Karena kamu tahu sendiri apa pun yang berhubungan dengan Raka atau siapa pun yang dekat dengannya pasti bakal dicari tahu oleh siswa lain.”
Dellia memijit pelipisnya karena rasa pusing yang datang tiba-tiba mendengar pembicaraan Putri dan Novita. Otaknya mendadak buntu akibat terus-terusan mendengar nama Raka keluar dari mulut sahabatnya. “Sudah cukup pembahasan tentang Raka.” Ia meraih piringnya yang ditumpuk piring Putri kemudian memandangi Novita yang mendongak menatapnya karena posisinya yang tengah berdiri saat ini. “Kamu sudah selesai? Aku mau cuci piring sekarang.”
Mendengar ucapan Dellia membuat Novita kelabakan dan segera menghabiskan makanannya hingga ia hampir muntah dibuatnya. “Tunggu aku, Dell.” Ia terpaksa menyisakan makanannya sedikit melihat Dellia dan Putri yang sudah berjalan keluar dari tenda. Apa yang ia takutkan tadi kini terjadi sesuai bayangannya.
Ia berlari-lari kecil mengejar langkah Dellia dan Putri yang kini sudah tiba di pinggir sungai dengan beberapa teman sekelas dan juga kakak kelas yang masih berada di pinggir sungai melakukan apa yang mereka ingin lakukan. Ia sedikit menggerutu di dalam hatinya melihat kedua sahabatnya yang malah meninggalkannya tanpa mau menunggunya sedikit pun, ia bahkan heran melihat Dellia yang masih bisa berjalan dengan cepat dan normal dengan kaki yang luka dan dibalut perban. Sangat berbanding terbalik dengan keadaannya tadi yang bahkan tidak bisa berdiri karena rasa sakit yang ia rasakan.
*****
Langit sudah mulai gelap dengan warna kemerahan yang menandakan malam akan segera tiba. Dellia duduk sambil memeluk kedua lututnya di depan tenda sambil memperhatikan Putri dan Novita yang sibuk membuat api unggun bersama teman sekelasnya yang lain dan dipandu oleh Pak Harun yang memang bertugas sebagai wali kelas mereka. Terkadang keningnya berkerut jika melihat beberapa wajah asing yang tidak ia ketahui namanya muncul dan bergabung dengan teman-temannya, ia hanya tahu bahwa orang itu pasti tidak lain adalah kakak kelasnya atau teman satu kelas Raka.
Ia sebenarnya agak canggung harus bergabung dengan kelas tiga, apalagi tidak ada yang ia kenali di sana selain Raka yang meskipun mereka sudah cukup dekat lewat telepon namun tetap saja terasa jauh saat bertemu langsung. Jika bisa, ia ingin melakukan kemah bersama ini hanya dengan teman sekelasnya saja tanpa bergabung dengan kelas lain apalagi kakak kelas yang tentu saja harus mereka hormati sebagai senior.
Dellia tak sadar langit sudah begitu gelap saat teman-temannya berhasil menyalakan api unggun yang besar dan beberapa sudah mengambil tempat duduk mengelilingi api unggun. Beruntung tendanya tak begitu jauh dari tempat api unggun sehingga ia tidak perlu khawatir untuk berjalan mendekat sekadar bergabung dengan mereka. Ia cukup duduk di depan tenda saja dan sudah temasuk bagian dari pesta api unggun yang diadakan saat itu.
Salah satu pemuda yang berada satu kelas dengannya mengambil gitar dari tendanya dan mulai memetik senarnya, menyanyikan lagu bersama orang-orang yang berkumpul di sana termasuk Putri dan Novita. Dari tempatnya duduk Dellia bisa melihat jelas bagaimana raut wajah Raka saat melihat gitar dan berusaha menjauhi alat musik tersebut. Pertanyaan demi pertanyaan yang tentunya tak memiliki jawaban mulai bermunculan di kepalanya tanpa bisa ia kontrol. Bagaimana mungkin pemuda tampan itu dengan percaya dirinya mengatakan bahwa ia senang bermain gitar di saat wajahnya saat ini saja sudah menjelaskan semuanya bahwa ia begitu benci dan trauma dengan benda itu.
“Suara Angga ternyata bagus juga, ya?” Novita yang datang sambil membawa dua kaleng minuman di tangannya yang akan ia bagikan kepada Dellia dan juga dirinya, sedangkan Putri tampak membawa minuman miliknya sendiri di belakangnya.
Dellia tersenyum sambil menerima kaleng minuman yang diserahkan Novita padanya sambil menggumamkan kata terima kasih. Matanya sedikit penasaran dari arah datangnya kedua sahabatnya itu yang mana di sana ada banyak orang yang berkerumun ditemani oleh seorang guru perempuan yang jika ia tidak salah namanya adalah Bu Nani, guru Sejarah yang mengajar di kelas tiga. “Apa yang mereka lakukan di sana?”
Putri menoleh ke belakangnya ke arah mata Dellia memandang. “Oh, di sana mereka lagi panggang daging. Biasalah, acara kemah seperti ini tidak akan lengkap kalau tidak ada pesta barbeque. Kamu mau ikut panggang daging? Di sana ada Raka juga, lho. Dia paling jago kalau soal panggang daging, racikan bumbunya juga enak dan pas di lidah.”
“Tidak berminat, aku cuma mau makan, tapi tidak mau repot.”
“Dasar.” Putri tergelak. Ia meneguk minumannya sampai habis dan menikmati lagu yang dibawakan Angga. Ketua kelasnya itu jika diperhatikan memang manis dan tampan, ia juga pintar, namun sifatnya yang pendiam dan tampak sangat disiplin itu membuat banyak siswi yang mau mendekatinya jadi mundur.
“Apa Angga memang selalu bernyanyi seperti ini di acara kemah bersama?” Dellia menolehkan kepalanya pada Novita yang tampak begitu menikmati lagu yang dibawakan Angga sambil sesekali menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan mengikuti irama lagu.
Novita menggeleng. “Ini kali pertama dia bernyanyi. Makanya kami juga cukup heran saat dia maju dan mengambil alih gitar dari tangan Fauzan. Karena kamu sendiri tahu ‘kan bagaimana kakunya Angga saat di sekolah.” Novita sedikit berbisik saat mengucapkan kalimat terakhirnya, takut ada yang mendengarnya dan berakhir terjadi kesalahpahaman.
Dellia mengangguk. “Iya juga, sih.”
“Tapi, aku beberapa kali dengar dari orang-orang di sekolah kalau Angga di luar sana memang tergabung dengan salah satu band indie yang suka tampil di salah satu café. Dan kebetulan posisi yang ia ambil memang vocalis. Tapi tidak tahu juga rumor itu valid atau tidak.” Putri mengangkat bahunya tanda ia sendiri ragu dengan apa yang ia ucapkan barusan, ia hanya menyampaikan apa yang ia dengar di sekolah.
“Wow, keren, dong.”
Ungkapan kekaguman Dellia membuat Putri dan Novita mengangguk setuju. Mereka bertiga kemudian beranjak dari posisi duduk mereka saat Pak Harun memanggil mereka untuk bergabung bersama menikmati daging panggang yang sudah siap untuk disantap bersama. Dellia tidak bisa menahan ekspresi berbinarnya melihat beberapa potong daging dan sosis yang sudah dipanggang dengan sempurna ditambah dengan bau bumbunya yang semakin menggugah selera. Ia bahkan sesekali mengusap perutnya yang mendadak berontak untuk segera diisi. Saat ia melihat pada Putri dan Novita, ia tak bisa menahan senyumnya melihat kedua sahabatnya itu juga ternyata memberikan reaksi yang sama.
Sambil mengambil beberapa potong daging ke dalam piringnya, Dellia sesekali mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Ia cukup penasaran melihat sosok yang sedang memanggang daging saat ini, lebih tepatnya ia cukup penasaran dengan Raka. Namun ternyata pemuda tampan itu tidak ada di sana dan hanya ada beberapa kakak kelas laki-laki yang sedang memanggang daging yang tentu saja tidak ia kenali wajahnya.
Tak mau membuat macet antrian, Dellia segera mengambil daging sesuai kebutuhannya dan mengikuti langkah Putri dan Novita yang mendekati pohon besar dan duduk di bawahnya. Ia lihat piring kedua sahabatnya itu lumayan banyak terisi daging tidak seperti dirinya yang hanya mengambil beberapa potong yang membuatnya mendadak menyesal tidak ikut mengambil banyak.
“Kaki kamu sudah tidak terlalu sakit, Dell?” tanya Novita sambil memperhatikan kaki Dellia yang bisa digerakkan seperti biasa dan tidak tampak raut kesakitan di wajah gadis itu.
Dellia mendudukkan dirinya di samping Novita dengan beralaskan potongan kayu yang lumayan goyang saat ia duduki. “Sudah tidak sesakit tadi. Cuma memang agak sedikit nyeri saat berjalan, tapi syukurnya itu tidak terlalu mengganggu.”
“Syukurlah, jangan lupa sebelum tidur nanti kamu harus minum obat.”
“Iya, Put. Ingatkan aku, ya. Kamu tahu sendiri kalau aku ini pelupa.”
Putri hanya mengangguk, saat ia ingin menyendokkan daging ke dalam mulutnya, matanya menangkap sosok Pak Harun yang melambai ke arahnya. Ia segera meletakkan piringnya ke tanah dan menarik Novita untuk ikut dengannya. “Ikut aku,” ujarnya seraya menarik tangan sahabatnya itu.
“Kalian mau kemana?” Dellia yang melihat Putri dan Novita yang tengah berdiri dan bersiap untuk melangkah pergi melontarkan pertanyaan.
“Pak Harun memanggil, aku dan Novita akan ke sana sebentar. Kamu tunggu di sini saja.”
Dellia hanya mengangguk sambil memperhatikan Putri dan Novita yang semakin dekat dengan Pak Harun, keduanya kemudian berjalan mendekati pemanggang daging dan mengambil alih pekerjaan di sana. Dellia rasanya ingin bergabung di sana juga dan ikut membantu kedua sahabatnya, ia tentu merasa tidak enak duduk bersantai sambil menikmati daging panggang sendirian di sini sementara Putri dan Novita sibuk memanggang daging di sana. Ia meletakkan piring berisi dagingnya yang belum ia sentuh sedikit pun dan berencana pergi dari sana untuk bergabung dengan kedua sahabatnya saat sebuah suara menghentikan langkahnya.
“Mau kemana?”
Dellia menoleh pada pemuda yang berdiri di samping pohon dengan sekaleng minuman di tangannya. Ia adalah pemuda yang sudah menolongnya tadi sore dan tentunya yang telah berjasa mengobati luka di kakinya. Ia tersenyum canggung. “Mau gabung bersama mereka.” Tangannya menunjuk pada Putri dan Novita yang sedang memanggang daging dengan sesekali tertawa bersama, tampak seru jika ia melihatnya dari sini.
Pemuda itu ikut menoleh ke arah yang ditunjuknya. “Di sana sudah banyak orang, kamu tidak perlu repot-repot ikut membantu. Lagipula kakimu masih sakit ‘kan?” Pandangannya menurun pada kaki Dellia yang terbalut perban.
“Sudah tidak terlalu sakit, sih. Makanya aku mau ikut membantu. Apalagi rasanya tidak enak kalau aku bersantai di sini sementara mereka semua sibuk di sana.”
“Aku rasa teman kamu juga pasti mengerti sama keadaan kaki kamu yang luka, makanya mereka tidak mengajak kamu juga. Jika tidak, mungkin kamu tidak akan sendirian di sini saat ini melainkan bergabung bersama mereka.”
Pemuda itu duduk di tempat yang tadi diduduki oleh Putri tadi sambil sesekali meneguk minumannya. Dellia ikut duduk di tempatnya semula dan merasa canggung dengan situasi saat ini. Ia tidak tahu nama pemuda itu pun mengenalinya jadi wajar jika ia merasa canggung dengannya. Dalam hati ia berharap agar Putri dan Novita segera kembali bergabung bersamanya agar kecanggungan yang ia rasakan saat ini segera hilang. Beberapa detik berlalu dan hanya keheningan yang menyelimuti mereka berdua, Dellia bahkan tidak enak untuk menikmati daging panggangnya sendirian yang ia yakini saat ini pasti sudah dingin.
Ia mengangkat wajahnya menatap pemuda itu yang ternyata sedang menatapnya. Ia segera buang muka dan berpura-pura melihat ke arah lain, jantungnya mulai berdebar tidak karuan saat ini apalagi menyadari pemuda itu malah tersenyum karena tingkahnya.
“Kenapa kamu tidak makan? Dagingmu mulai dingin, tuh.”
Dellia mengangkat piringnya sambil tertawa kecil. “Aku memang sengaja menunggunya dingin.” Ia memberanikan diri menatap pemuda itu yang ternyata sedang menatap ke depan, ke arah kerumunan yang sedang berada di dekat pemanggangan daging. “Kakak tidak makan?”
“Aku sudah, tadi aku ikut memanggang daging dan sesekali mencicipinya sampai kenyang.” Ia tertawa di akhir kalimatnya.
Dellia ikut tertawa, ia juga sering seperti itu saat disuruh ibunya membantu menggoreng pisang atau makanan lainnya yang membuatnya berakhir kekenyangan sendiri sehingga tidak bisa menikmati makan bersama dengan keluarganya setelah itu. Ia teringat sesuatu dan akan menanyakannya pada pemuda itu saat matanya menangkap sosok Raka yang berjalan mendekati mereka berdua, lebih tepatnya pemuda di sampingnya yang merupakan teman pemuda tampan itu.
“Ternyata kamu di sini. Dicariin sama yang lain, tuh. Permainannya sebentar lagi dimulai.” Mata Raka terpaku pada Dellia yang diam-diam memperhatikan mereka, ia hanya tersenyum singkat kemudian kembali menatap pemuda di depannya, menunggu temannya itu untuk segera bergerak dari duduknya.
Pemuda yang masih belum Dellia ketahui namanya itu menatap Dellia dengan senyum di bibirnya. “Aku pergi dulu, ya.” Kemudian ia berdiri dan berjalan menjauh bersama Raka.
Sepeninggal mereka berdua, Dellia masih sempat mendengar percakapan keduanya yang membuat perasaannya tidak karuan. Ia sempat mendengar Raka yang bertanya pada pemuda di sampingnya apa ia mengenalinya atau tidak dan pemuda itu hanya tersenyum sebagai jawaban, sementara Raka kembali mengatakan kalimat yang membuat Dellia seperti ditikam dari belakang.
*****