Part 22

1183 Words
Tidak lama setelah kepergian Raka dan pemuda yang belum ia ketahui namanya sampai saat ini, Putri dan Novita datang sambil membawa piring yang berisi penuh daging dan sosis yang masih mengepulkan asap. Itu adalah hadiah bagi mereka berdua karena telah membantu kakak kelas yang butuh ke kamar mandi sebentar. "Dell." Dellia masih termenung di posisinya saat Putri menepuk pundaknya dan membawanya kembali ke realita. Ia menoleh dan matanya langsung terpaku pada piring yang tengah dipegang oleh sahabatnya itu. Melihat banyaknya daging yang masih panas di sana ia bertanya dengan kuning berkerut. "Kalian nambah lagi? Padahal daging yang tadi 'kan belum habis." "Itu reward buat kita, Dell. Karena sudah membantu." Novita tertawa sambil duduk di tempatnya semula ia duduk dan mulai menikmati dagingnya yang mulai dingin, beruntung dagingnya tidak keras sehingga tidak membuatnya kesulitan untuk menggigitnya. "Kamu mau?" Putri bertanya sambil menyodorkan piring di tangannya pada Dellia yang membuat gadis itu segera menggelengkan kepalanya. Dellia menunjukkan piringnya yang masih penuh. "Punyaku masih banyak." "Astaga, Dellia. Kamu tidak sengaja menunggu kami untuk makan bersama 'kan?" Dellia tersenyum pada Novita dan menggeleng singkat. "Tadi dagingnya panas dan gigiku tidak kuat, jadi aku menunggunya dingin. Ayo makan, aku sudah lapar." Beruntung Putri dan Novita tidak bertanya lagi dan bisa menerima alasannya dengan baik, ia hanya tidak ingin menceritakan apa pun mengenai kedatangan pemuda tadi dan berbincang-bincang dengannya. Bukan bermaksud untuk merahasiakannya dari kedua sahabatnya, hanya saja ia rasa itu tidak perlu. Ditambah lagi dengan kehadiran Raka yang membuatnya merasa tidak tenang. Ia tentu tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Raka ternyata benar-benar tidak mengenalinya. Bagaimana pemuda tampan itu bertanya pada pemuda misterius tadi mengenai siapa namanya dan dari kelas mana ia berasal. Berarti selama ini saat mereka bertemu dan Raka bersikap biasa saja padanya memang karena pemuda itu tidak kenal padanya dan bukan karena ingin menyembunyikan fakta bahwa mereka berdua saling kenal. Lalu, jika ternyata selama ini Raka tidak mengenalinya, lalu siapa orang yang selama ini berbalas pesan dengannya? Dellia menggeleng pelan berkutat dengan pikirannya sendiri, mengundang perhatian Putri dan Novita yang menatap heran padanya namun juga tidak bertanya apa-apa. ***** Dellia rasanya ingin kembali ke tenda saat ini juga dan menikmati tidur yang nyenyak di tendanya yang hangat. Sejak tadi ia, Putri dan Novita beserta teman-teman lainya sedang bermain permainan Truth or Dare yang terasa sangat membosankan untuknya. Apalagi sejak tadi ia hanya menjadi penonton yang sama sekali belum berpartisipasi di dalam permainan, padahal Putri dan Novita sudah beberapa kali mendapat giliran. Ia hanya bisa menyaksikan Dinda, salah satu teman sekelasnya yang memilih Dare dan disuruh untuk menyatakan cinta pada orang yang ia sukai. Gadis cantik berkacamata itu ternyata memilih Angga dan menyatakan cintanya dengan malu-malu. Riuh tepuk tangan dari yang lainnya memenuhi suasana malam yang sepi itu, sementara Dellia hanya diam memperhatikan ekspresi wajah Angga yang sejak tadi tidak memberikan reaksi apa-apa. Dellia bahkan tidak bisa menebak apakah pemuda itu sedang marah, kesal atau merasa malu saat ini. Karena dinginnya malam yang membuat tubuhnya sedikit menggigil, akhirnya ia berbisik pada Putri untuk kembali ke tenda. "Put, aku kembali ke tenda, ya. Di sini semakin dingin soalnya. Aku juga mulai ngantuk." Putri mengangguk dan hanya memberikan jempolnya sebagai jawaban setuju. Dellia kemudian berdiri dan akan segera berjalan menjauh dari sana untuk menikmati malam yang hangat di dalam tendanya, namun ternyata nasib baik sedang tidak berpihak padanya saat ini. Saat seseorang menyebutkan namanya dan saat ia menoleh semua mata kini mengarah padanya. Ia tentu saja bingung dengan apa yang sedang terjadi saat Novita menariknya untuk duduk kembali. "Sekarang giliranmu, Dell. Truth or dare?" Dellia menunjuk dirinya sendiri masih dengan ekspresi bingung di wajahnya. "Aku?" tanyanya dan mendapat anggukan antusias dari Novita, bahkan saat ia menoleh pada Putri, sahabatnya itu juga mengangguk. Ia berpikir sejenak, mau memilih truth namun ia takut untuk diberikan pertanyaan yang menjurus ke hal-hal pribadinya, tapi jika ia memilih Dare juga tidak menjamin bahwa ia tidak akan diberikan perintah yang aneh-aneh, seperti harus kayang, minum minuman aneh yang dicampur oleh temannya. Apalagi jika harus disuruh menyatakan cinta, ia benar-benar benci dan sebisa mungkin ingin menghindari hal itu. "Bagaimana? Truth or dare?" Pertanyaan dari salah satu kakak kelas perempuan yang tidak ia ketahui namanya membuat jantungnya berdegup dengan kencang. Padahal tadi sempat merasa bosan karena tidak mendapat giliran untuk bermain, namun sekarang saat ia diberi kesempatan untuk mendapat giliran ia malah menyesali keinginannya tadi. "Aku pilih truth," jawabnya kemudian, berharap dalam hati tidak mendapatkan pertanyaan aneh. "Oke, kalau begitu, siapa cinta pertamamu?" Kembali kakak kelas perempuan tadi bertanya, ia tersenyum lebar menantikan jawaban yang akan keluar dari mulut Dellia. Sementara Dellia sendiri bingung harus menjawab apa. "Jangan jawab papah kamu, ya. Itu jawaban yang sama sekali tidak asyik," lanjut kakak kelas tadi yang membuat Dellia menghela napas panjang, sepertinya kakak kelas itu tahu apa yang ada di pikirannya. Putri menepuk bahunya dan berbisik padanya. "Jawab sembarang nama saja, Dell, biar aman." "Tapi siapa?" Dellia bertanya frustasi, ia nyaris saja menggaruk kepalanya seperti orang gila saat ini jika ia tidak ingat sedang di keramaian dan menjadi pusat perhatian. "Siapa saja asalkan orangnya tidak ada di sini. Sepupumu yang cowok misalnya atau siapa pun yang mereka tidak kenal." Novita ikut berbisik di telinganya mencoba memberi bantuan. Dellia mengedarkan pandangannya dan dapat ia lihat pemuda yang berbicara dengannya tadi ikut menunggu jawaban yang keluar dari bibirnya. Jantungnya semakin berdebar, ia menutup kedua matanya dengan rapat sebelum mengucapkan sebuah nama yang tiba-tiba meluncur dari bibirnya tanpa ia pikirkan. "Hendra," jawabnya lantang yang kemudian mendapatkan tepuk tangan riuh dari orang-orang. Dellia membuka matanya, menoleh pada Putri dan Novita yang mengacungkan jempol untuknya pertanda ia berhasil. Ia menghela napas lega, sebelum sebuah pertanyaan kembali dilemparkan untuknya. "Apa orangnya ada di sini?" tanya seorang pemuda yang ia yakini kakak kelas juga. "Bukan, dia teman SMP-ku dulu." "Apa kalian sempat berpacaran?" Kembali kakak kelas yang perempuan tadi memberikan pertanyaan-pertanyaan. Dellia mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan situasi saat ini. Ia memang tidak tahu dengan pasti tentang aturan bermain permainan ini, namun ia yakin sekali bahwa setiap orang hanya akan diberi satu pertanyaan sesuai dengan apa yang ia lihat dari permainan ini. "Tunggu, tunggu, bukannya cuma satu pertanyaan, ya? Ini kenapa pertanyaannya malah jadi banyak begini?" Novita menyuarakan pendapatnya yang benar-benar sesuai dengan apa yang sedang dipikirkan Dellia saat ini. Kakak kelas tadi meminta maaf dan mengisyaratkan untuk memutar botolnya kembali. Dellia merasa lega dengan itu, dan tentu saja berterima kasih pada Novita yang telah berjasa membantunya dari situasi menegangkan tadi. Saat menoleh pandangan Dellia tak sengaja berpapasan dengan tatapan pemuda yang sedang duduk di samping Raka yang hanya memberikan senyumnya sebelum kembali memperhatikan jalannya permainan. "Dell, Hendra itu siapa? Apa dia benar-benar cinta pertama kamu di SMP? Perasaan sejak SMP kamu tidak pernah tertarik sama cowok mana pun." Pertanyaan dari Novita di sampingnya langsung membuat mood-nya memburuk seketika. Rasanya ia ingin meledak saat ini juga. Padahal yang tadi menyuruhnya untuk menyebutkan sembarang nama adalah dirinya dan Putri, namun kini malah ikut penasaran. "Ya ampun, Nov, yang tadi menyuruhku menyebut nama secara asal itu siapa?" jawabnya kesal yang tentu saja hanya dibalas cengiran oleh Novita dan tak menyadari bahwa seseorang sejak tadi memandanginya tak berkedip. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD