Part 23

1272 Words
Suara keramaian yang berasal dari luar tendanya membuat Dellia segera membuka matanya. Ia menatap Putri dan Novita yang masih terlelap dalam tidurnya dan saat ia membuka ponselnya ia bisa melihat jam sudan menunjukkan pukul delapan pagi. Ia duduk sambil berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih melayang-layang setengah sadar akibat rasa kantuknya yang masih besar. Tadi malam mereka memang baru bisa tidur setelah pukul dua dini hari akibat bermain Truth or dare yang ternyata cukup seru untuk dilakukan, apalagi ia mulai terbiasa dengan kehadiran kakak kelas yang ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan. Kembali ia menoleh pada Putri dan Novita yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun juga, ia memutuskan untuk keluar sendiri dan mencuci muka di sungai yang airnya memang sangat jernih dan tentunya aman untuk dipakai bahkan untuk masak sekalipun. Saat sudah tiba di pinggir sungai, Dellia bisa melihat ada beberapa siswa yang juga sedang membersihkan wajahnya di sana. Ia berjongkok dan mulai mengambil air menggunakan kedua tangannya dan mengusapkannya ke wajahnya yang langsung memberikan efek segar di pagi hari, membuat rasa kantuk yang ia rasakan tadi langsung hilang seketika. Saat masih sibuk membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir di sungai, ia bisa merasakan seseorang datang mendekat. Saat ia menoleh di samping kanannya, ia bisa melihat Raka sedang berjongkok tidak jauh dari tempatnya. Pemuda tampan itu sedang mengisi air ke dalam jerigennya, sontak hal itu membuatnya menghentikan apa pun yang sedang ia lakukan saat itu dan bergegas untuk pergi dari sana. Ia tak mungkin lupa dengan ucapan pemuda itu tadi malam yang membuat harga dirinya sakit. bisa-bisanya setelah keakraban mereka di telepon pemuda itu malah dengan mudahnya melupakannya. Saat melangkah pergi dari sana ia bisa merasakan pandangan Raka yang tertuju padanya, ia yakin pemuda itu pasti sedang bingung melihat sikapnya yang tidak sopan pada kakak kelas. Namun ia cukup malas untuk melakukan hal-hal seperti sopan santun saat ini. Tiba di tendanya, ia bisa melihat Putri dan Novita yang terlihat baru bangun tidur dan sedang meregangkan tubuh mereka di depan tenda, tentu saja sambil menguap lebar dan sama sekali tidak takut jika ada yang melihat sisi jelek mereka yang memang termasuk siswi yang cantik namun sangat anti bersikap anggun di hadapan orang-orang. Putri yang pertama kali menyadari keberadaannya dan bertanya dengan wajah bantalnya. “Dari mana, Dell?” “Habis cuci muka di sungai.” Novita melihat sikat gigi beserta pasta gigi yang berada di dalam genggaman Dellia. “Sambil sikat gigi juga?” Sungguh itu adalah pertanyaan tidak berbobot yang ia lontarkan pagi ini, mungkin karena ia masih setengah sadar dari tidurnya. “Tidak.” Dellia menggeleng sambil berjalan masuk ke dalam tenda, ia mencari kopernya dan menaruh sikat giginya yang masih kering di sana. “Ih, jorok.” Novita bergidik, berusaha menampilkan ekspresi wajah jijik untuk menggoda Dellia. “Biarin, dari pada kalian yang belum cuci muka sama sekali.” Dellia menjulurkan lidahnya dan kemudian memberikan gerakan seolah-olah mengusir kedua sahabatnya yang masih dengan wajah bantal mereka. “Sudah, kalian cuci muka sana sebelum airnya habis dipakai orang lain.” “Air sungai tidak akan bisa habis, Dell.” Novita memutar matanya. “Bisa, kalau airnya sudah habis.” Menanggapi guyonan garing Dellia, Putri hanya geleng-geleng kepala dengan senyum tipis dan menyeret Novita untuk ikut dengannya. Sedangkan yang diseret langsung mengeluarkan protes karena masih ingin berdebat dengan Dellia. Sepeninggal kedua sahabatnya, Dellia memutuskan untuk duduk di depan tenda sambil menikmati air mineral yang dingin, ia sedikit bergidik saat air dingin itu melewati tenggorokannya. Efek udara yang dingin di sana membuat semuanya terasa dingin di pagi hari, bahkan saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan saat ini pun embun pagi masih terlihat menyelimuti tempat mereka berkemah. Ia sedikit menyesal tidak menyeduh kopi sachet-an yang ia bawa ketimbang harus meminum air yang dingin dan membuatnya menjadi kedinginan. Sambil memainkan botol mineralnya yang sudah setengah kosong ia melihat sekeliling di mana semuanya tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bahkan dari tempatnya ia bisa melihat Pak Harun yang sibuk mengarahkan beberapa siswa untuk menyiapkan makanan untuk mereka semua bisa nikmati di pagi hari itu. Pada awalnya guru memang sepakat agar para siswa memasak sendiri makanan untuk mereka. Selain lebih praktis dan bisa makan makanan apa pun yang mereka inginkan dengan bahan yang sudah disediakan juga untuk melatih mereka agar bisa lebih mandiri. Namun nyatanya ide itu tidak berjalan dengan lancar, mengetahui bahwa ada beberapa siswa yang bahkan tidak makan karena tidak bisa memasak yang akhirnya membuat mereka kelaparan. Jadi pada akhirnya aturan kembali ke semula, di mana mereka akan masak bersama-sama dan tentu saja menikmatinya bersama-sama juga. “Baunya enak, nih. Sepertinya makanan sudah siap.” Novita muncul dengan wajah yang lebih bersih dan cerah berbanding terbalik dengan dirinya yang baru bangun. “Sudah, ayo cepat kita ke sana untuk bantu-bantu. Kalian tidak mau ‘kan disebut pemalas karena tidak membantu sama sekali dan hanya bisa makan?” Dellia menatap Putri dengan perasaan takjub, merasa sedikit curiga bahwa yang sedang bebicara dengannya saat ini adalah benar sahabatnya Putri atau orang lain. “Tumben kamu bijak begitu,” serunya, sedangkan Novita di sampingnya mengangguk setuju dengan ucapannya. Putri mengibaskan rambutnya dengan dramatis. “Aku memang selalu bijak,” ujarnya beranjak dari sana yang diikuti oleh Dellia dan Novita yang tertawa bersama. ***** “Aturan mainnya cukup sederhana. Kalian hanya perlu mencari harta karun yang sudah disembunyikan oleh kakak kelas dan membawanya ke sini. Ini adalah titik pertemuan kita kembali setelah menyelesaikan pertandingan.” Angga berdiri di tengah dan menjelaskan aturan permainan yang akan mereka lakukan sebentar lagi, sementara tak jauh dari mereka anak kelas tiga juga sedang melakukan diskusi. “Ini adalah pertandingan per individu, namun nantinya akan ditentukan pemenangnya melalui jumlah pemain yang berhasil berdasarkan kelas mereka. Misalnya yang lebih banyak menemukan harta karun tersembunyi berasal dari kelas dua yaitu kelas kita, maka kelas kita lah yang akan menerima hadiah utamanya, dan tentunya siapa pun yang menang nantinya juga akan tetap mendapatkan hadiah masing-masing.” Putri mengangkat tangannya, melihat itu Angga langsung memberinya kesempatan untuk memberikan peranyaan. “Bentuk harta karunnya bagaimana? Apa masih sama seperti tahun lalu?” “Oh, benar. Aku lupa menjelaskannya.” Angga memperlihatkan sebuah bola berbentuk telur yang besarnya seukuran telapak tangan orang dewasa dengan warna emas yang menyelimuti seluruh permukaannya. “Berbeda dengan tahun lalu yang menggunakan kotak segi empat, tahun ini bentuknya seperti telur dan tentu saja penempatannya juga akan lebih sulit dijangkau dari yang lalu.” Mendengar ucapan Angga membuat Dellia berpikir keras, entah kenapa otaknya rasanya sulit mencerna semua yang dikatakan oleh ketua kelasnya itu. Ia tak bisa membayangkan akan sesulit apa permainan ini nantinya. Ia memperhatikan baik-baik benda berbentuk telur yang digenggam Angga dan berusaha mengingat bentuknya, namun ia berpikir akan tetap sulit untuk menemukan benda sebesar itu di tengah hutan terlebih lagi saat malam begini. Bahkan mereka tidak diberikan peralatan apa pun dan hanya boleh mengandalkan flash dari ponsel untuk membantu mereka melihat dalam kegelapan. “Sepertinya akan sulit untuk menang.” Putri berbisik di telinganya dan Dellia langsung mengangguk setuju. “Tapi setidaknya kita masih bisa melakukannya bersama-sama.” Novita memperlihatkan telapak tangannya dan kedua sahabatnya langsung menepukkan telapak tangan mereka dengan perasaan bahagia. “Dan satu lagi ….” Ucapan Angga yang terputus itu langsung mengundang semua perhatian kepadanya termasuk Dellia, Putri dan Novita yang dengan tenang menunggu kelanjutan ucapannya. “Aturan kali ini kalian harus melakukannya sendiri-sendiri, tidak ada kelompok meskipun itu cuma terdiri dari dua orang.” Seketika tubuh Dellia lemas mendengar aturan yang baru saja diucapkan oleh Angga dengan santainya. Ia takut kegelapan dan terlebih lagi harus berkelana di dalam hutan yang gelap dan tentunya tidak ada yang tahu hal mengerikan apa saja yang akan terjadi di dalam sana. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD