“Ya ampun, kamu ini seperti sudah tidak punya rumah saja. Kamu pikir ini sudah jam berapa?”
Omelan keras ibunya langsung menyambut Dellia ketika ia pertama kali melangkahkan kaki memasuki rumahnya yang sudah mulai ramai kembali. Ia memasang wajah cemberut seraya membuka sepatu sekolahnya dan meletakkannya di atas rak yang memang tersedia di samping pintu. “Aku terpaksa mengungsi di rumah Putri gara-gara tidak bisa masuk ke rumah. Aku telepon mamah tapi ponsel mamah tidak aktif. Rio malah mengabaikan teleponku.” Matanya melotot pada adiknya yang baru saja keluar dari dapur dengan segelas air dingin di tangannya.
“Aku sibuk.” Rio memberikan tatapan tidak bersalah dan malah berjalan melewatinya menuju televisi yang menayangkan sinetron kesukaan ibunya, sementara ayahnya sudah duduk santai di sofa menyeruput kopi panas yang disediakan ibunya.“
Mendengar penjelasan Dellia membuat ibunya sedikit melunak, kali ini adalah kesalahannya jadi ia tak bisa melanjutkan omelannya seperti biasa. “Maafkan mamah.” Ibunya sedikit menggaruk pipinya yang tidak gatal akibat canggung, kebiasaan yang ia turunkan kepada anak perempuan satu-satunya di hadapannya. “Mamah lupa menyimpan kunci rumah di dalam pot dan malah membawanya ke rumah teman mamah. Ditambah lagi ponsel mamah kehabisan baterai jadinya mati. Adik kamu Rio malah lupa bawa ponsel.”
Kedua mata Dellia melotot mendengar penjelasan ibunya, ia bahkan rasanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh perempuan paruh baya yang terkenal perfeksionis di hadapannya. “Astaga, mamah. Pantas saja aku tidak bisa dapat kuncinya.” Wajahnya semakin cemberut kala melihat ibunya malah tertawa.
“Iya, maafkan mamah. Kali ini mamah yang salah. Ya sudah, kamu ganti baju dulu terus makan, ada ayam goreng kesukaan kamu yang sudah mamah masak di dapur.”
Sebenarnya Dellia masih ingin marah dengan ibunya dan tentu saja ingin melanjutkan acara marahnya pada ibunya terlebih lagi perutnya juga masih kenyang setelah numpang makan malam di rumah Putri, namun mendengar kata ayam goreng yang memang menjadi makanan kesukaannya apalagi jika dibuat sendiri oleh ibunya membuat hatinya luluh.
“Serius, mah? Asyik, ada ayam goreng!” Dellia segera berlari menuju dapur bahkan sebelum mengganti seragam sekolah yang masih menempel di tubuhnya. Ia hanya meletakkan ranselnya di samping ayahnya yang saat ini sibuk dengan ponselnya yang dalam pikiran Dellia pasti menyangkut pekerjaan di kantor. Ayahnya memang lebih pendiam dibanding ibunya yang sangat cerewet, namun kedua anaknya tidak ada satu pun yang mewarisi sikap tenang dan pendiamnya, malah mengikuti sikap ibunya yang berisik dan penuh omelan.
Melihat anak perempuan satu-satunya berlari menuju dapur tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu membuat perempuan paruh baya itu berteriak dengan keras. “Dellia, ganti baju dulu!”
*****
Dellia menyalakan lampu belajar di atas mejanya dan bersiap untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan Bu Santi padanya. Namun kedipan layar ponselnya mengalihkan niatnya itu dan malah meraih ponselnya. Ternyata Raka baru membalas pesannya yang sudah ia tunggu sejak kemarin. Jantungnya cukup berdegup kencang saat membuka pesan pemuda tampan itu yang sudah membuatnya penasaran untuk waktu yang cukup lama, meskipun sebenarnya baru lewat sehari semalam namun rasanya sudah setahun ia menunggu.
[Maaf, aku baru bisa balas pesanmu. Kemarin aku terlalu sibuk dengan kegiatan sekolah.”
[Tidak apa-apa, aku lihat kamu memang sibuk akhir-akhir ini.]
[Oh, kamu tahu?]
Dellia sedikit ragu untuk membalas pesan terkahir Raka akibat kecerobohannya yang mengetik tanpa berpikir, ia takut Raka menganggapnya sama dengan penggemar beratnya yang begitu tahu dengan setiap kegiatan yang ia lakukan di sekolah. Padahal ia hanya tak sengaja melihatnya di ruang guru saat diminta bantuan oleh Bu Santi membawa buku ke mejanya di ruangan para guru. Pemuda tampan itu memang cukup berprestasi dan selalu menjadi juara umum di sekolah sehinga jika ada olimpiade ia selalu ditunjuk untuk mewakili sekolah dan itulah yang dilakukan oleh Raka saat ini sehingga ia jadi jarang terlihat di sekolah.
[Aku hanya tidak sengaja melihatmu bertemu Pak Indra di ruang guru.]
[Begitu, ya.]
Kening Dellia sedikit berkerut melihat balasan dari Raka yang seperti tak senang dengan jawaban singkatnya. Ia berpikir mungkin pemuda tampan itu akan kembali membalas pesannya namun saat ia menunggu lebih dari lima menit, pesan yang ia harapkan tak pernah muncul. Seolah-olah Raka berusaha menghindarinya, namun ia tak tahu letak kesalahannya di mana sehingga Raka harus melakukan itu padanya.
Sempat terbesit di dalam pikirannya untuk mengirim pesan duluan, sekaligus ia ingin bertanya mengenai gitar yang sangat dibenci oleh Raka namun kenyataannya bisa digunakan oleh pemuda itu tanpa ada masalah. Namun di satu sisi ia takut jika hal itu akan menyinggung perasaan Raka.
Lelah menunggu, Dellia memutuskan untuk melanjutkan kegiatan yang memang menjadi tujuan utamanya yaitu mengerjakan tugas yang diberikan Bu Sinta, tugas Fisika yang sama-sama memusingkannya dengan Matematika. Ia benar-benar benci dengan angka-angka yang tertera di bukunya. Ia benci Matematika atau soal apa pun yang menyangkut dengan angka.
Baru berselang lima menit ia menatap soal Fisika di depannya yang sampai kapan pun tidak bisa ia temukan jawabannya hanya dengan melotot, ponselnya yang sengaja ia letakkan di atas ranjang bergetar singkat. Ia ingin mengabaikannya namun ponselnya kembali bergetar yang membuatnya mau tidak mau tak mengabaikannya dan meraihnya dengan rasa penasaran yang luar biasa besar. Ia pikir itu adalah pesan dari Raka namun ternyata Novita lah yang mengirim pesan padanya.
[Kalian jahat.]
[Kumpul tanpa aku]
Dellia memutar bola matanya membaca pesan Novita yang terkesan berlebihan baginya yang ditambah dengan emotikon menangis yang semakin membuatnya ingin menemui sahabatnya itu dan menjitak keningnya saat ini juga. Beruntung jarak rumahnya dengan Novita lebih jauh dari jarak rumah Putri.
[Jangan berlebihan, deh, Nov. Aku ke rumah Putri gara-gara tidak bisa masuk ke rumah karena terkunci di luar.]
[Tapi tetap saja kamu harus panggil aku. Kalian bersenang-senang tanpa aku. Mana sambil makan biskuit cokelat enak buatan mamah Putri lagi. Aku ‘kan juga mau, Dell.]
“Ini anak kenapa lebay sekali, sih?” Dellia bergumam pada diri sendiri tak habis pikir dengan sikap Novita yang terlalu manja berbeda dengan dirinya yang biasanya, namun tentu saja ia tak bisa benar-benar kesal dengan sahabatnya itu.
[Ya sudah, nanti kapan-kapan aku panggil, deh. Janji.]
[Serius? Kalau kamu ingkar harus traktir aku makan.]
[Iya, iya, janji. Sudah lah, aku mau kerja tugas. Kamu sudah selesai belum?]
Agak butuh lama bagi Novita membalas pesannya yang membuat Dellia sempat berpikir bahwa sahabatnya satu itu sudah tidur atau sengaja mengabaikan pesannya. Namun berselang satu mnit kemudian pesan Novita kembali muncul, ia mengirim sebuah foto yang menunjukkan jawaban dari soal-soal yang membuat kepala Dellia pusing tujuh keliling.
Dellia sedikit terkesima melihatnya, ia tidak berpikir bahwa Novita akan menyelesaikan tugas perhitungan rumit seperti itu dengan cepat. Ditambah dengan sikap malasnya yang kurang lebih sama dengan dirinya membuat sahabatnya itu biasanya baru akan mengerjakan tugasnya di sekolah pagi-pagi sebelum pelajaran dimulai.
[Aku salin punya kamu, ya.]
[Boleh, tapi besok traktir bakso, ya.]
[Dasar, orang kaya tapi sukanya minta traktir. Ya sudah, besok aku traktir, jadi kirim jawaban lengkapnya, dong.]
[Oke.]
Beruntung Novita segera mengirim foto jawabannya pada Dellia sehingga ia bisa mengerjakan tugasnya dan menyelesaikannya dengan cepat sehingga ia punya lebih banyak waktu untuk bersantai bermain ponsel sebelum beranjak menuju alam mimpi.
*****