Part 7

1137 Words
Dellia baru saja membuka matanya saat mendengar suara ponselnya berbunyi singkat tanda sebuah pesan masuk. Ia sedikit penasaran siapa yang mengirim pesan padanya pada pagi hari begini. Karena Putri atau Novita tak pernah mengirim pesan padanya pada pagi hari sebelum berangkat sekolah, kedua sahabatnya itu selalu bangun terlambat dan membuatnya selalu menunggu. Berbeda dengan dirinya yang tidak mungin bangun kesiangan gara-gara panggilan ibunya yang mampu membangunkan seluruh tetangga akibat teriakannya yang keras. [Selamat pagi. Sudah bangun?] Itu adalah pesan dari Raka yang seketika membuat kesadarannya penuh. Ia melirik jam, sekarang masih pukul lima pagi, masih ada cukup waktu untuk membalas pesan pemuda itu sebelum bersiap-siap menuju sekolah. [Pagi, aku baru saja bangun.] [Aku pikir masih tidur, tadi sempat ragu untuk kirim pesan pagi-pagi takut mengganggu.] [Sudah bangun, dong. Aku memang selalu bangun pagi karena sudah terbiasa.] Dellia sedikit tertawa geli membaca pesan yang ia kirim untuk Raka, ada sedikit kebohongan di sana. Ia memang selalu bangun pagi saat hari-hari sekolah tapi bukan karena terbiasa melainkan dibangunkan oleh teriakana ibunya. Jika tidak, sudah dipastikan saat ini ia masih membuat peta di bantalnya dan menyelami alam mimpi. [Keren. Aku malah baru kali ini bangun pagi gara-gara tetangga samping rumah terlalu ribut. Maklum, lagi renovasi rumah.] Dellia baru saja akan mengetik pesan untuk Raka namun teriakan membahana milik ibunya sudah terdengar dari arah dapur sehingga ponsel dalam genggamannya hampir saja jatuh mencium lantai kamarnya. “Dellia, bangun! Kamu mau terlambat ke sekolah!” “Iya, mah, sebentar.” ***** Saat baru saja mendudukkan dirinya di kursi miliknya, Putri mencolek punggungnya dari belakang. Ia memasukkan ranselnya ke dalam laci meja yang beruntungnya muat untuk ia letakkan di sana. Kemudian menoleh pada Putri yang tampak gelisah. Dellia mengerutkan keningnya tanda bingung melihat sabahatnya itu yang terlihat tak seperti biasanya yang tenang, bukan panik seperti ini. “Ada apa, Put?” Novita yang ada di samping Dellia ikut bingung dengan sikapnya. “Iya, Put, ada apa? Tidak biasanya kamu panik begini.” Putri mengeluarkan buku tugas Fisikanya yang masih kosong dengan sedikit cengiran di bibirnya. “Aku lupa kalau hari ini ada tugas. Tadi malam juga cepat tidur. Aku lihat punya kalian, ya. Kalian sudah selesai, kan?” Novita menggeleng-gelengkan kepalanya sedangkan Dellia dengan segera mengeluarkan buku tugasnya yang tentu saja sudah penuh dengan jawaban yang ia salin dari Novita tadi malam. Ia begitu bangga saat menunjukkan jawabannya pada Putri yang biasanya tak pernah lupa untuk mengerjakan tugas rumah, tidak seperti dirinya dan Novita yang suka lupa dan harus datang pagi-pagi untuk menyalin milik Putri. “Nih, kamu bisa lihat punyaku dengan bebas.” Putri memberikan tatapan herannya melihat Dellia yang sudah mengerjakan tugas dengan tepat waktu, apalagi ini menyangkut salah satu pelajaran yang ia benci. “Tumben sekali kamu mengerjakan tugas tepat waktu, biasanya juga kamu yang ada di posisiku.” “Aku, kan anak rajin dan teladan.” “Pasti bukan kamu yang jawab, kan? Ngaku, deh, pasti kamu nyalin punya Novita. Benar, kan?” Dellia menarik bukunya dari hadapan Putri yang masih memberikan tatapan curiga padanya. “Kalau tidak mau nyalin ya sudah, sini bukunya aku simpan kembali. Mau nyalin aja banyak nanya.” “Ih, sini, dong. Aku belum selesai. Aku, kan cuma bertanya.” Putri berusaha merebut kembali buku milik Dellia yang sudah hampir masuk ke dalam ransel putih milik gadis itu, sehingga terjadi adegan tarik-menarik di antara keduanya yang membuat Novita yang awalnya hanya menjadi penonton dan pendengar mulai jengah melihat pertengkaran kedua sahabatnya itu. “Sudah, hentikan kalian berdua. Jam pertama sebentar lagi dimulai.” Novita merebut buku dari genggaman Dellia dan menyerahkannya pada Putri yang tersenyum penuh kemenangan. “Nih, cepat tulis. Sebelum Bu Sinta masuk dan kamu berakhir dihukum di luar kelas.” “Terima kasih, ya, Nov.” Putri sedikit menjulurkan lidahnya pada Dellia yang cemberut akibat kekalahannya gara-gara Novita lebih memihak Putri dari pada dirinya. Namun begitu ia tak mengatakan atau pun melakukan apa-apa dan diam saja melihat Putri menyalin tugas miliknya yang tentu saja hasil dari menyalin punya Novita. ***** “Tadi pagi Raka kirim pesan sama aku.” Putri dan Novita yang awalnya akan menyendokkan nasi goreng ke dalam mulut mereka mengurungkan niat dan mulai fokus pada Dellia yang sibuk mengunyah nasi goreng miliknya dengan khidmat. Tampak lupa jika tadi ia mengatakan sesuatu yang membuat kedua sahabatnya menatapnya dengan tatapan penasaran akan kelanjutan ceritanya yang menggantung di tengah jalan. Layaknya menonton drama dengan ending membuat penasaran. “Dia bilang apa?” Novita lebih dulu bertanya mendahului Putri yang baru saja akan membuka mulutnya. “Cuma mengucapkan selamat pagi. Oh iya, tadi malam dia juga kirim pesan.” “Tadi malam dia bilang apa?” Kali ini Putri yang bertanya, nasi gorengnya mulai dingin ia abaikan akibat rasa penasaran yang tinggi terhadap cerita Dellia yang malah asyik menikmati nasi gorengnya seperti mengabaikan kedua sahabatnya yang sudah hampir mati karena rasa penasaran yang tinggi. Dellia menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan cepat sebelum menjawab pertanyaan Putri dan Novita yang sejak tadi memusatkan perhatian padanya, seolah-olah ia adalah guru yang sedang mengajar di depan kelas dan anak muridnya mendengarkan materi yang ia bawakan dengan serius. “Cuma pembahasan biasa yang tidak terlalu penting, sih. Dia meminta maaf karena baru bisa membalas pesanku yang dia abaikan seharian penuh. Juga mengabari kalau selama beberapa hari itu dia sibuk.” “Iya, sih. Dia memang kelihatan sibuk. Maklum siswa berprestasi yang selalu disibukkan dengan olimpiade dan semacamnya.” Novita mengangguk-anggukan kepalanya membenarkan isi pesan Raka pada Dellia. Ia tahu Raka memang bukan siswa yang santai dan tidak punya kesibukan seperti mereka bertiga yang selalu punya waktu untuk keluar bersama. Bahkan di hari Minggu sekalipun pemuda tampan itu selalu tampak sibuk. “Tapi aku masih penasaran soal gitarnya. Sejak kapan dia bisa bermain gitar dan kebenaran tentang cerita yang beredar tentang dirinya yang begitu benci sama gitar.” “Aku juga penasaran soal fakta itu, Dell.” Putri menimpali di sela-sela kunyahannya pada nasi gorengnya yang kini tinggal setengahnya. “Padahal aku berharap dia membahas itu di balasan selanjutnya.” Dellia mengangguk. “Benar, mau bertanya pun aku takut nanti dia tersinggung.” “Memang sebaiknya jangan ditanya, Dell. Biar Raka sendiri yang bercerita tanpa merasa terganggu.” Setelah menyelesaikan ucapannya, mata Putri tak sengaja menangkap sosok Raka yang memasuki kantin bersama ketiga teman laki-lakinya. Ia mencolek Dellia dan Novita yang ternyata kembali asyik menikmati makanan mereka tanpa mengetahui kehadiran Raka di kantin yang tentu saja membuat heboh para siswi-siswi di sana. “Lihat, ada Raka,” ujarnya dengan suara berbisik dan nyaris tidak bisa didengar oleh kedua sahabatnya. Dellia dan Novita mengikuti arah pandangan Putri. Reaksinya biasa saja melihat pemuda tampan itu yang bisa membuat siswi lain langsung pingsan di tempat. Berbeda dan Novita dan Putri yang sudah seperti melihat pangeran berkuda putih yang datang menyelamatkan mereka di tengah gurun pasir yang panas. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD