Part 8

2341 Words
Dellia keluar dari toilet sekolah sambil mengeringkan kedua tangannya dengan tisu yang emang tersedia di dalam toilet, ia berjalan sendirian di koridor yang mulai sepi akibat para siswa yang sudah duduk manis di bangku masing-masing di kelas mereka saat ini, begitu pun dengan Putri dan Novita yang memang sejak keluar dari kantin mereka berdua langsung berjalan menuju kelas, membiarkan Dellia ke toilet sendirian karena takut terlambat mengikuti pelajaran Sejarah yang dibawakan oleh Pak Bambang yang terkenal galak dan juga membosankan dengan materi yang dibawakannya. Ia baru saja akan melewati ruang guru saat tak sengaja melihat Raka keluar dari sana. Pemuda tampan itu sedang membawa beberapa buku tebal di kedua tangannya, sehingga saat ia akan menutup kembali pintu ruangan yang ditempati oleh para guru ia sedikit kewalahan dengan buku-buku yang dibawanya. Melihat Raka yang tampak kesusahan dan kebetulan ia sedang ada di sana menyaksikan hal itu membuat Dellia tergerak untuk membantunya. Ia melangkah lebih cepat agar mendekat pada pemuda tampan itu yang ternyata belum menyadari keberadaannya. “Biar aku bantu,” ujarnya yang membuat tubuh pemuda di hadapannya sedikit tersentak dan menoleh dengan cepat ke arahnya. Dellia tak menunggu jawaban dan dengan segera menutup kembali pintu di hadapannya dengan pelan. Sementara Raka menatapnya tanpa ekspresi yang berarti. “Terima kasih,” ucapnya sebelum beranjak dari sana seperti tak ingin berlama-lama bersama Dellia yang membuat gadis itu termenung cukup lama di posisinya. Dellia tak habis pikir dengan sikap pemuda itu, ia pikir Raka mengenalinya seperti yang ia katakan di pesannya tempo hari. Ia juga begitu ramah padanya dan terkadang menghubunginya lebih dulu meskipun sekadar obrolan ringan di antara keduanya. Namun, sikapnya hari ini entah kenapa membuat Dellia berpikir bahwa pemuda itu seperti tak mengenalinya dan bahkan sikapnya jauh dari kata ramah sama seperti Raka yang ia kenali lewat telepon. Tak mau berlama-lama di sana dan kedapatan guru yang akan keluar dari ruangan untuk mengajar di kelas, Dellia segera beranjak dari sana berjalan menuju kelasnya sebelum Pak Bambang sudah ada di kelas dan memberinya hukuman yang tentu saja akan membuatnya sakit seluruh badan esok hari. Tidak jauh dari ruang kelasnya ia berpapasan dengan seorang pemuda yang tampak ramah dengan senyum mengembang di wajahnya. Dellia membalas senyumnya dengan sedikit canggung karena ia merasa tak mengenali pemuda itu, bahkan ia sangat yakin bahwa ini kali pertama mereka bertemu. “Apakah dia siswa baru?” pikirnya, kemudian berjalan memasuki kelasnya bersamaan dengan pemuda itu berjalan melewatinya. ***** Dellia memasukkan buku-bukunya beserta pena yang baru saja ia gunakan belajar ke dalam ransel, gerakannya sedikit buru-buru saat matanya melihat kedua sahabatnya sudah berjalan menuju pintu tak menunggunya sama sekali. “Tunggu aku!” teriaknya yang tentu saja diabaikan kedua sahabatnya sambil tertawa, mereka berdua memang sangat suka menjahilinya namun begitu mereka berdua adalah teman yang baik dan selalu ada untuknya di kala suka mau pun duka. “Kalian itu kebiasaan, deh. Kalau pulang bukannya ditungguin malah ditinggal. Kalian tidak lupa ‘kan kalau masih punya satu teman lagi.” Novita mencubit pipi kiri Dellia yang memang lebih bulan dan berisi dibanding mereka berdua dan tentu saja ia mencubitnya sedikit keras sehingga sang pemilik menjerit kesakitan, tak lupa di pipinya juga terdapat bekas kemerahan hasil karya Novita yang terlalu gemas padanya. “Tidak mengerjaimu sama sekali tidak seru, Dell.” Dellia tak membalas, kedua matanya hanya melotot dengan tangan kirinya yang mengusap-usap pipinya guna untuk mengurangi sedikit rasa sakit di pipinya yang berdenyut nyeri. Ia biarkan saja kedua sahabatnya itu berjalan di depannya dan saat keduanya sudah mulai jauh ia mengeluarkan suaranya, tak begitu keras agar orang-orang di sekitar mereka tak mendengarnya dan hanya bisa didengar oleh kedua sahabatnya. “Tadi aku bertemu Raka berdua saja.” Ia sedikit menyombongkan diri saat mengeluarkan kalimatnya itu dna tentu saja Putri dan Novita yang mendengarnya langsung menghentikan langkah mereka dan menoleh pada Dellia yang sudah memamerkan senyum penuh kesombongan miliknya. “Yang benar?” tanya keduanya secara kompak, mereka berdua bahkan tak mengindahkan tatapan risih siswa lainnya yang merasa terhalangi oleh keduanya yang memang berdiri di tengah koridor. Dellia mengeratkan genggamannya pada tali ranselnya dan berlajan melewati kedua sahabatnya yang masih mematung menunggu jawaban darinya. Senyum penuh kemenangan miliknya masih terukir jelas di wajahnya, tampak begitu puas melihat wajah penasaran milik Putri dan Novita yang jelas tampak lucu di matanya saat ini. Ia bahkan mengabaikan teriakan kedua sahabatnya dan malah berlari meninggalkan keduanya yang mulai berlari mengejar langkahnya dengan rasa kesal. ***** “Tadi kamu beneran ketemu Raka, Dell?” Dellia memutar matanya sedikit jengah mendengar kalimat pertama yang ia dengar dari mulut Putri saat ia membuka pintu rumahnya. Sementara di sampingnya ada Novita yang mengangguk antusias dengan pertanyaan Putri yang ia juga sangat menunggu jawabannya. Mereka berdua segera mengunjungi rumah Dellia setelah berganti pakaian sepulang sekolah, karena Dellia benar-benar menolak untuk bercerita pada mereka bagaimana ia bisa bertemu dengan pangeran berkuda putih milik mereka dan apa saja yang mereka bicarakan saat bertemu hanya berdua. “Kalian seperti tidak punya pekerjaan lain saja. Datang ke rumahku cuma mau menanyakan hal tidak penting seperti itu.” Dellia berjalan menuju kamarnya melewati Rio yang sedang fokus bermain game di ruang tamu, padahal ada komputer di kamarnya, tapi ia lebih memilih untuk bermain game di komputer milik ayahnya yang memang disimpan di ruang tamu demi memudahkan ayahnya bekerja sambil curi-curi menonton televisi. “Dellia, siapa yang datang?” Maya, ibu Dellia keluar dari dapur dengan spatula di tangannya, serta celemek yang menempel di tubuhnya yang masih ramping di usianya yang sudah menginjak kepala lima. Matanya menangkap sosok kedua sahabat anaknya dan tersenyum ramah, senyum yang tentu saja jarang ia perlihatkan di hadapan Dellia yang membuat gadis itu cemberut .“Eh, ada Putri sama Novita.” Putri dan Novita tersenyum sopan pada ibu Dellia serta mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu dengan lembut. “Kami mau mengerjakan tugas bersama-sama, tante. Ngomong-ngomong tante semakin cantik saja.” Putri berujar sambil menyikut Novita yang ada di sampingnya. “Ah, kamu bisa saja, Putri. Padahal tante sudah keriput begini.” Ibu Dellia memegang pipinya sedikit malu-malu yang membuat Dellia seperti tak mengenalinya, karena selama ini yang ia lihat hanya sisi galak milik ibunya. Ibunya itu kalau bertemu kedua sahabatnya atau orang lain seperti orang yang berbeda, sangat lembut dan ramah tak seperti dirinya yang ia suka mengomel saat di rumah. “Mah, aku mencium aroma gosong dari dapur.” Maya yang mendengar itu langsung memasang wajah panik. “Astaga, ibu lupa lagi tumis kangkung di dapur.” Matanya beralih pada Putri dan Novita yang selalu memasang senyum manis di wajah mereka. “Tante ke dapur dulu, ya, mau lanjut masak. Kalian ke kamar Dellia dulu. Nanti tante bawakan cemilan.” Novita mengangguk sopan. “Iya, tante, terima kasih.” Melihat ibunya yang terburu-buru berjalan ke arah dapur, Dellia mengajak Putri dan Novita menuju ke kamarnya yang letaknya memang tak jauh dari ruang tamu. Novita segera merebahkan tubuh tingginya di atas ranjang milik Dellia dan memeluk boneka beruang yang ada di sana. Sedangkan Putri lebih memilih untuk duduk di meja belajar Dellia. “Jadi?” Putri mengeluarkan suaranya saat melihat Dellia yang duduk manis di samping ranjang sambil membaca novel baru yang ia beli minggu lalu. Terlihat belum mau memulai ceritanya yang sudah membuat kedua sahabatnya penasaran setengah mati, bahkan keduanya melewatkan makan siang demi ingin segera mendengar cerita Dellia yang bertemu Raka. Dellia menutup novelnya dan menghembuskan napasnya pelan. “Tadi ak-“ “Dellia, tolong bantu mamah bawa cemilan untuk Putri dan Novita!” Teriakan ibunya dari arah dapur menghentikan kalimat Dellia, gadis itu merenggut kecil sembari berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu, sebelum membuka pintu dan keluar dari kamarnya ia menoleh pada Putri dan Novita yang menatapnya dalam diam. “Tunggu, ya,” ucarnya yang mendapat anggukan kedua sahabatnya. Ia kemudian berjalan menuju dapur dan melihat nampan berisi sepiring pudding yang baru saja dibikin ibunya beserta tiga gelas teh hangat untuknya dan kedua sahabatnya. Ibunya yang menyadari keberadaannya di sana menoleh sambil membersihkan kompor gas yang sudah ia pakai memasak. “Oh, kamu sudah datang. Cepat bawa cemilan itu ke kamarmu. Terus bilang sama Putri dan Novita kalau mau nambah bilang saja, jangan sungkan. Masih ada banyak di dalam kulkas.” “Oke.” Dellia mengangguk dan membawa nampan yang lumayan berat untuk ia bawa ke dalam kamarnya. Saat melewati Rio, adiknya itu menghalangi langkahnya dan menatap isi nampannya dengan pancaran mata yang kelaparan. “Minta satu, dong.” Rio baru saja akan mengambil satu pudding cokelat namun Dellia segera menjauhkan nampan itu dari hadapan Rio dengan wajah kesal. “Minta sama mamah sana. Ini untuk aku, Putri sama Novita.” “Dasar pelit.” Melihat Rio sudah menghilang dari hadapannya menuju dapur, Dellia segera memasuki kamarnya. Samar-samar ia bisa mendengar suara Rio yang merengek meminta pudding pada ibunya. Di dalam kamar Novita tengah memainkan boneka beruangnya dengan bosan, sedangkan Putri kini duduk di tempatnya tadi di samping ranjang sambil membaca novelnya karena cukup penasaran dengan ceritanya. “Wah, pudding.” Novita segera turun dari ranjang dan menyendokkan satu potongan pudding ke dalam mulutnya, disusul oleh Putri yang segera meletakkan novel dalam genggamannya dan ikut menyendokkan pudding ke dalam mulutnya. Melihat kedua sabahatnya yang seperti orang kelaparan belum makan selama berhari-hari membuat Dellia geleng-gelang kepala dengan senyum di bibirnya, ia ikut menikmati pudding buatan ibunya dengan tenang bersama kedua sahabatnya. “Ngomong-ngomong, kamu belum menyelesaikan ceritamu.” Ucapan tiba-tiba Novita membuat Dellia yang baru saja akan menikmati puddingnya terhenti seketika, ia memasang wajah kesal. “Setidaknya biarkan aku makan dulu, Nov.” Novita memberikan cengirannya. “Oke, oke, silakan.” “Jadi?” Kini Putri yang bertanya saat melihat Dellia sudah menelan makanan di dalam mulutnya. Dellia rasanya ingin meledak saat ini juga gara-gara kelakuan kedua sahabatnya. Ia bahkan menyesali perbuatannya tadi yang sudah membuat Putri dan Novita menerornya untuk bercerita, padahal ceritanya sama sekali tidak ada yang istimewa. Pertemuannya dengan Raka sama sekali tidak bisa dibanggakan, niat hati ingin mengerjai kedua sahabatnya malah seperti ia yang berbalik dikerjai saat ini. “Aku ketemu Raka saat pulang dari toilet, dia baru saja keluar dari ruang guru sambil membawa buku yang banyak. Karena melihatnya kesusahan menutup pintu, jadi aku membantunya.” Dellia memperhatikan ekspresi kedua sahabatnya yang hanya diam dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. “Terus?” Novita bertanya sambil mengunyah pudding di dalam mulutnya. “Dia mengucapkan terima kasih dan sudah, selesai. Cerita hanya sampai di situ.” “Kalau mau cerita itu tidak usah pakai acara bohong, deh, Dell. Kami tahu ceritanya pasti tidak seperti itu. Kita juga tahu bagaimana sikap Raka sama kamu saat kalian berkirim pesan.” Putri menyeruput teh hangatnya yang membuat tenggorokannya terasa sangat lega saat ini. “Aku serius, Put. Aku sendiri bingung sama sikapnya yang cuek. Malah rasanya dia tidak kenal aku sama sekali.” “Mungkin dia malu.” Novita menimpali, pudding sudah dihabiskan olehnya membuat Dellia sedikit kesal dibuatnya. “Tapi Raka bukan tipe cowok pemalu, Nov.” Putri menyangkal ucapan Novita dengan fakta yang ia ketahui kemudian pandangannya beralih pada Dellia yang sedang menikmati teh hangatnya. “Mungkin dia lagi buru-buru, makanya dia tidak punya waktu untuk mengobrol sama kamu, Dell. Kamu bilang sendiri kalau dia bawa banyak buku ‘kan? Bisa jadi itu untuk dia bagikan pada teman sekelasnya.” Novita mengangguk setuju. “Benar, mungkin alasannya karena dia lagi buru-buru.” Dellia tidak terlalu menghiraukan ucapan kedua sahabatnya, bahkan ia tak begitu ambil pusing dengan sikap Raka yang sangat berbeda antara di dunia nyata dan dunia maya. Namun ada satu yang sedikit mengganjal di pikirannya, tentang sosok pemuda yang tidak sengaja berpapasan dengannya di koridor saat akan memasuki kelasnya. Melihat dari sikapnya sepertinya pemuda itu mengenalinya, namun saat mengingat-ingat setiap wajah siswa yang ia kenali di sekolah, tidak ada wajah pemuda itu dalam daftar. “Ngomong-ngomong ….” Dellia menggantung kalimatnya di tengah-tengah demi menarik perhatian kedua sahabatnya yang saat ini tengah memusatkan perhatian penuh padanya. “Setelah ketemu Raka, aku berpapasan sama cowok di depan kelas. Dia senyum sama aku, tapi aku tidak kenal siapa dia dan dari kelas mana dia berasal. Dia memakai seragam sekolah yang sama dengan kita jadi aku yakin dia pasti siswa di sekolah itu juga. Tapi aku tetap tidak kenal dia siapa.” Putri dan Novita saling berpandangan sejenak, saling melempar tatapan penuh tanya sebelum kembali menatap Dellia. Putri mengeluarkan suaranya terlebih dahulu. “Bagaimana ciri-cirinya?” Dellia menatap langit-langit kamarnya, berpikir keras untuk mengingat kembali bagaimana sosok pemuda itu. “Dia tinggi, mungkin setinggi Raka. Kulitnya putih, matanya agak sipit, kalau kuperhatikan dia agak mirip dengan Raka. Tidak terlalu mirip, tapi saat dia tersenyum wajahnya terlihat manis seperti Raka. Tapi kalau soal ganteng, sih, masih lebih ganteng Raka.” Putri dan Novita kembali bertatapan, mereka seperti berbicara melalui telepati dengan gerakan tubuh yang tidak bisa dimengerti oleh Dellia yang menatap keduanya dengan bingung. “Mungkin yang kamu lihat itu Raka.” Novita memberikan tebakannya yang membuat Dellia memutar matanya. “Jelas bukan Raka lah. Raka kulitnya sawo matang, kamu ‘kan bilang sendiri kalau Raka suka bermain basket di lapangan yang membuat kulitnya lebih gelap dari aslinya. Terus cowok ini juga terlihat sedikit kurus dari Raka, kupikir dia bukan tipe yang sering berolah raga di luar ruangan.” “Aku tidak kenal cowok dengan ciri-ciri yang kamu sebut. Mungkin dia siswa yang baru pindah hari ini.” Novita mengangguk membenarkan ucapan Putri. “Putri benar, mungkin dia memang siswa baru.” “Aku juga berpikir begitu.” Dellia menatap pudding di piring mereka yang sudah habis tak bersisa. Seketika ia melupakan pembicaraan serius mereka mengenai pemuda misterius yang ia temui di koridor sekolah. “Kalian masih mau nambah? Masih ada banyak di kulkas.” Kedua mata Novita berbinar cerah. “Serius bisa nambah? Asyik, aku mau.” Putri menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Novita yang seperti tak punya rasa malu. Ia menatap Dellia yang ternyata menunggu tanggapannya juga. “Aku juga mau, dong,” ujarnya dengan cengiran di akhir kalimatnya. Kemudian ketiganya berjalan keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil pudding sebanyak yang mereka inginkan yang tentu saja sudah mendapat izin dan ibu Dellia. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD