Satu minggu telah berlalu dan Dellia sudah tidak pernah bertemu dengan pemuda misterius itu lagi. Ia sedikit penasaran dengannya karena sikapnya yang begitu ramah seolah-olah ia begitu mengenalinya, namun sekuat apa pun Delli mencoba mengingat wajahnya di jajaran orang-orang yang ia kenal, wajah pemuda itu tetap tidak ia temukan.
Bahkan Putri dan Novita juga tak mengenalinya, namun saat ingin mengambil kesimpulan bahwa pemuda itu adalah siswa baru di sekolah mereka juga tidak mungkin, karena tidak ada informasi yang beredar di antara siswa-siswi di sekolah mereka yang biasanya memang selalu heboh jika ada siswa atau siswi baru yang masuk, apalagi jika siswa atau siswi baru itu tergolong tampan dan cantik.
Pemuda itu memang tidak bisa dikategorikan sebagai siswa yang tampan, namun bagi Dellia pemuda itu cukup menarik di matanya. Apalagi dengan lesung pipi tunggal di pipi kanannya yang semakin membuat wajahnya menarik.
Dellia geleng-gelang kepala dengan cepat berusaha menyingkirkan pikirannya yang saat ini sibuk dengan bayangan pemuda misterius itu. Ia tak ubahnya seperti gadis yang sedang kasmaran saat ini, padahal ia tak mengenali pemuda itu. Lagipula ia tak mengenalinya dan mungkin saja senyum yang dilemparkan pemuda itu padanya di depan kelas saat itu hanya senyum ramah yang selalu ia berikan pada orang-orang yang ditemuinya.
Satu tepukan lumayan keras mendarat di kepala Dellia yang membuatnya segera mengerang kesakitan, ia menoleh dengan wajah merah padam menatap adik laki-lakinya yang berdiri di belakang sofa sambil tertawa puas. “Dasar adik kurang ajar. Tidak ada sopan-sopannya sama yang lebih tua.”
Rio hanya mengangkat bahunya tak acuh seraya berjalan memutari sofa dan duduk tepat di samping kakaknya yang sedang mengusap-usap kepalanya guna mengurangi rasa sakit yang ia rasakan. “Makanya jangan bertingkah seperti orang gila. Dan juga seharusnya kamu itu berterima kasih sama aku, karena berkat aku, setan yang awalnya ingin bersemayam di tubuhmu itu lari menjauh.”
“Yang ada juga setannya itu kamu.” Dellia merebut bantal kecil sofa yang dipeluk Rio dengan sekali hentakan sehingga adiknya itu hampir ikut tertarik dan oleng ke arahnya. Ia tertawa puas melihat adiknya itu yang kini berbalik melotot padanya. “Ini bantal aku.” Dellia menjullurkan lidahnya kemudian kembali menatap layar televisi yang menampilkan kilas berita saat ini.
“Aku yang memegangnya duluan, jadi itu bantal aku.” Rio berusaha merebut kembali bantal sofa yang ada dipelukan kakak perempuannya itu namun ternyata Dellia lebih dulu menjauhkannya dari jangkauan sang adik dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke belakang tubuhnya.
“Ambil saja kalau bisa.” Melihat wajah kesal adiknya membuat Dellia semakin ingin mengerjainya dan tentu saja ia tak ingin mengalah dengan mudah padanya, meskipun adik laki-lakinya itu sudah memberikan ancaman yang menurutnya cukup ampuh.
Ia sedang sibuk menggerakkan tangan kanannya yang memegang bantal sofa dengan tujuan untuk menggoda adiknya saat merasakan seseorang merebut bantal dalam genggamannya dari belakang. Saat ia menoleh dan bersiap untuk mengomel pada siapa pun itu yang dengan tidak sopannya merebut miliknya, bibirnya malah bungkam seribu bahasa saat melihat ternyata itu adalah ayahnya yang duduk di sofa tunggal seraya bersandar dengan bantal yang ia simpan di belakang punggungnya.
“Ada apa, sih rebut pagi-pagi begini? Dari pada kalian ribut begitu lebih baik kalian pijitin papah. Nih, punggung papah pegal setiap hari di depan komputer.” Ayahnya menepuk-nepuk punggungnya sambil menunggu kedua anaknya bergerak untuk melakukan perintahnya dengan suka rela.
Dellia menatap adiknya yang juga ikut menatapnya. Ia menggerakkan bibirnya tanpa suara. “Kau saja yang pergi, aku ada tugas yang mau dikerjakan.”
Rio menggeleng dengan cepat kemudian membalas bisikan kakaknya juga tanpa suara. “Kau saja, aku juga ada tugas.”
“Tapi aku sudah melakukannya kemarin, jadi sekarang giliranmu.”
“Aku sudah tadi malam, jadi sekarang seharusnya giliranmu.”
“Kalian sedang apa? Kenapa malah berbisik-bisik begitu?” Ayahnya bertanya dengan alis bertaut memandangi kedua anaknya yang malah saling melotot dengan dan berbicara tanpa suara.
Rio menoleh dengan cepat pada ayahnya dengan senyuman lebarnya yang membuat perasaan Dellia tidak enak, seperti akan mendapat buruk. “Tidak apa-apa, pah. Ohya, Rio ada tugas sekolah yang mau dikerjakan sekarang, kakak katanya dengan senang hati mau memijit papah.” Ia melirik singkat sekadar melihat ekspresi kakaknya yang sudah masam namun tak bisa berkata apa-apa.
“Ya sudah kerjakan sana, tugas sekolah memang seharusnya diselesaikan dengan cepat, bukan ditunda-tunda.” Wisnu, kemudian menoleh pada Dellia yang hanya tersenyum dipaksakan. “Ayo, pijitin papah sekarang. Kamu lagi tidak ada tugas, kan?”
Dellia semakin mengembangkan senyumnya, senyum mengejek pada dirinya sendiri karena kalah dari adiknya yang selalu sukses membuatnya sakit kepala setiap harinya. “Kebetulan Dellia lagi tidak ada tugas, pah,” akunya pasrah seraya berjalan dengan lemas mendekati ayahnya.
*****
[Lagi sibuk?]
Dellia membalas pesan dari Putri sambil berbaring di atas ranjang. Ia baru saja selesai mandi dan merebahkan tubuhnya yang lumayan lelah setelah menjalankan tugas istimewa dari ayahnya. Beruntung ayahnya dapat panggilan dari teman kantornya yang membuat tugasnya untuk memijat ayahnya jadi berakhir dengan cepat.
[Tidak, kenapa? Mau ke rumah?]
[Novita ngajakin jalan, kebetulan ayahnya lagi di rumah dan mobil ayahnya nganggur. Mau ikut?]
[Mau, dong. Kapan lagi bisa jalan-jalan naik mobil mewah ayahnya Novita.]
[Ya sudah, kamu siap-siap, ya. Nanti kami jemput.]
[Oke.]
Dellia berjalan turun dari ranjangnya dengan perasaan senang, langkahnya riang menuju lemarinya untuk memilih baju apa yang akan ia kenakan. Saat memperhatikan pakaiannya yang digantung di dalam lemari dan tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya, rasanya ia seperti tidak memiliki apa-apa untuk ia kenakan saat ini. Namun, karena tak ingin membuang-buang waktu dan membuat kedua sahabatnya menunggu lama yang akhirnya akan meninggalkannya seperti yang pernah mereka berdua lakukan sebulan yang lalu, pilihannya kemudian jatuh pada gaun panjang selutut berwarna cokelat milo dengan lengan yang panjang dan sebuah tali pita panjang di bagian kerahnya.
Ia tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin panjang yang memperlihatkan seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki. Tas kecil berwarna putih sudah tersampir indah di bahu kanannya, tak lupa ia juga memakai sepatu berwarna senada dengan tasnya dan bersiap kelluar kamar saat mendengar bunyi klakson mobil dari ayah Novita di luar rumahnya.
Saat keluar dari kamar ia bisa melihat ayah, ibu dan adiknya sedang berkumpul di ruang tamu sambil menonton dan tak lupa cemilan ringan yang ibunya siapkan di atas meja. Ibunya yang pertama kali menyadari keberadaanya, matanya memandangi penampilan anak perempuan satu-satunya itu dari atas hingga ke bawah.
“Mau kemana?”
Pertanyaan ibunya membuat Dellia yang ingin mengambil cookies di atas meja terhenti. Ia menoleh pada ibunya dan tersenyum. “Mau jalan sama Putri dan Novita, mah.” Keinginannya untuk mencicipi cookies buatan ibunya itu sudah hilang dan kini melangkah mendekati ayahnya untuk mencium punggung tangannya. Sebelum melakukannya juga pada ibunya dan hanya memberikan senyum kemenangan pada Rio yang iri padanya, apalagi saat adiknya itu melihat mobil ayah Novita yang terparkir rapi di depan rumah mereka.
“Dia pasti mau jalan sama pacarnya, tuh, mah.” Rio bersuara dengan keras sengaja membuat kakak perempuannya itu panik dengan tuduhan palsunya. “Lihat saja penampilannya.”
Dellia kelabakan. “Bohong, mah. Aku beneran pergi sama Putri dan Novita.” Matanya mendelik tajam pada Rio yang hanya mencebikkan bibirnya. “Kalau begitu aku berangkat dulu, mah, pah.”
“Iya, hati-hati di jalan.”
Dellia hanya mengangguk sambil melempar senyum sebagai tanggapan dari ucapan ayahnya, pikirannya sudah sibuk memikirkan kemana mereka bertiga akan pergi dan bagaimana mereka bertiga akan menghabiskan waktu liburan mereka itu dengan perasaan senang.
*****