Part 10

1156 Words
Dellia menatap bangunan bertingkat di hadapannya dan Novita secara bergantian, alisnya bertaut dengan berbagai pertanyaan yang bersarang di kepalanya saat ini. Padahal ia sudah mempersiapkan diri dengan sempurna, bahkan bayangan ketika mereka jalan-jalan ke mall sudah memenuhi kepalanya sejak keluar dari rumah dan naik ke dalam mobil milik ayah Novita. “Nov, kamu tidak lupa ini hari apa, kan?” Novita tertawa lebar. “Tentu saja aku ingat, ini hari Minggu, kan?” Dellia memutar matanya. “Ini sekolah, Nov. Kenapa kita malah ke sini bukannya ke tempat lain.” Putri yang baru saja turun dari mobil menepuk pundak Dellia yang masih menampilkan wajah kesalnya, adalah kesalahan baginya dan Novita karena tidak memberi tahu Dellia bahwa yang akan mereka kunjungi saat ini adalah sekolah, bukan seperti bayangan gadis itu. “Maaf, Dell. Kami memang sengaja tidak bilang sama kamu tentang tujuan kita hari ini karena kami yakin kamu pasti tidak akan mau ikut.” “Itu kalian tahu. Seeharusnya aku tinggal di rumah saja, rebahan sambil nonton drama.” Dellia memperhatikan penampilannya sendiri kemudian kedua sahabatnya yang hanya memakai celana denim dan kaos biasa, terlihat sangat berbeda dengan dirinya yang sudah tampil maksimal hanya untuk jalan-jalan ke sekolah. “Bahkan aku berpakaian seperti ini karena mengira kita akan ke café atau semacamnya.” Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Memangnya kita ke sini mau apa? Apa yang istimewa dari sekolah di hari Minggu?” Putri dan Novita saling berpandangan, saling menunjuk satu sama lain untuk menjelaskan pada Dellia. Mereka berdua sebenarnya sudah menduga reaksi sahabatnya itu akan seperti ini, namun mereka berdua tetap saja merasa tidak enak. Mereka tahu betul bagaiman Dellia benci ke sekolah di hari libur begini. Mengalah, Putri berusaha menjelaskan pada Dellia. “Dell.” Tangannya menyentuh lengan atas Dellia yang kini tampak murung dengan pandangan kosong ke depan, seperti raganya telah meninggalkan tubuhnya saat ini. “Hari ini ada pertandingan basket antara siswa di sekolah kita dengan sekolah lain. Bukan pertandingan formal, sih, melainkan hanya pertandingan persahabatan. Dan yang main kali ini adalah Raka. Memangnya kamu tidak mau melihat Raka bermain basket melawan sekolah lain dan memenangkan pertandingannya?” “Iya, benar. Lagipula kamu selama ini belum pernah melihat Raka bermain basket, kan?” Novita menimpali dengan rasa percaya diri dan berharap Dellia akan luluh, namun yang ia dapatkan hanya tatapan jengkel dari sahabatnya itu. “Aku sudah sering lihat Raka main basket, terlalu sering sampai bosan.” “Itu kan cuma pas saat olahraga, kamu belum pernah melihatnya bermain basket dengan serius dan keren.” Dellia mencebikkan bibirnya mendengar kalimat terakhir dari Putri yang membuat mood-nya semakin memburuk, ia benar-benar tidak mengerti apa istimewanya pemuda bernama Raka itu sehingga kedua sahabatnya sangat mengidolakannya seperti ini. Ia akui pemuda itu memang tampan dan mungkin di sekolah ini tidak ada yang bisa mengalakan ketampananya yang paripurna itu, dan ia juga mulai tertarik dengan sosok asli pemuda itu setelah beberapa kali berbalas pesan dengannya. Ia awalnya berpikir pemuda itu dingin seperti karakternya yang selalu ia tunjukkan di sekolah, namun nyatanya ia begitu ramah saat membalas pesannya seolah-olah mereka adalah dua orang yang berbeda. Novita membaca pesan yang masuk dari ponselnya dengan wajah panik, pandangannya ia pusatkan pada Dellia. “Ayolah, Dell. Kita nonton pertandingan Raka sekali saja untuk hari ini, yah. Soalnya tidak seru kalau kami cuma berdua. Nanti kalau pertandingannya sudah selesai aku akan ajak kamu jalan ke mana pun yang kau mau. Oke?” “Iya, Dell. Ikut saja dulu untuk hari ini. Siapa tahu habis ini kamu malah jadi tertarik untuk nonton pertandingan Raka lainnya. Lagipula Novita juga sudah janji mau bawa kamu kemana pun hari ini setelah pertandingan sepuas yang kamu mau.” Dellia berpikir sejenak, memperhatikan wajah kedua sahabatnya yang seperti orang yang sudah tidak tahan ingin ke toilet saat ini. Sebenarnya ia sangat malas untuk menonton pertandingan basket yang tentu saja harus berpanas-panasan di pinggir lapangan, ditambah lagi tidak ada jajanan yang mereka bisa beli di sana. Namun, tawaran Novita cukup menggiurkan untuknya. Kapan lagi ia bisa pergi jalan-jalan dengan puas tanpa ada yang protes. Ditambah lagi akan sangat rugi rasanya jika ia pulang begitu saja hari ini dengan penampilan yang sudah ia siapkan dengan sempurna seperti saat ini. Karena biasanya ia memang lebih suka memakai pakaian kasual yang membuatnya nyaman. “Baiklah, tapi janji, ya. Habis ini kita jalan ke tempat yang aku inginkan sepuas yang aku mau.” Novita mengangguk antusias, ia memang sudah menantikan jawaban itu dengan perasaan tak tenang sejak tadi karena pertandingan memang sebentar lagi akan dimulai. “Iya, janji.” ***** Sudah tak terhitung berapa kali Dellia menguap lebar, pertandingan yang sedang berlangsung di depannya saat ini sama sekali tidak menarik baginya dan malah membuatnya mengantuk berat. Jika bisa, ia ingin sekali pulang ke rumah saat ini dan tidur siang dengan nyaman di kasurnya yang empuk. Ternggorokannya juga sudah sangat kering namun tidak ada air yang bisa ia minum saat ini. Pandangannya beralih pada Putri dan Novita yang begitu antusias meneriakkan nama Raka tanpa khawatir suara mereka berdua akan habis. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada Raka yang sedang men-dribel bola menuju ring lawan yang tentu saja tidak akan berjalan mulus dengan beberapa anggota lawan sudah menghalanginya, namun bahkan saat dikepung pun Raka mampu untuk menembus pertahanan lawan dan memasukkan bola ke dalam ring lawannya yang membuat skornya semakin jauh di atas lawannya. Teriakan orang-orang di samping kiri dan kanannya atas keberhasilan Raka memasukkan bola membuat tubuh Dellia sedikit tersentak, ia begitu serius menonton pertandingan di hadapannya sehingga ia lupa bahwa di sekitarnya ada banyak orang. Bahkan ia sudah lupa dengan rasa bosan yang tadi selama beberapa waktu menghampirinya. Mendadak ia merasa ingin ke toilet saat ini padahal sejak tadi ia belum makan atau minum apa pun. Ia menepuk pundak Putri yang dengan segera menoleh padanya dengan ekspresi bertanya. “Aku mau ke toilet sebentar.” Putri mengangguk sambil menjawab ucapannya dengan suara yang agak dikeraskan mengingat kebisingan yang terjadi di sekitar mereka. “Oke, jangan lama-lama.” Dellia tak menjawab dan hanya berlalu dari sana melewati beberapa teman sekolahnya yang tak begitu ia kenali dan berjalan menuju toilet yang jaraknya lumayan jauh dari lapangan. Ia berjalan di koridor dengan langkah sedikit tegesa-gesa berusahan menahan hajatnya yang sudah ingin keluar saat matanya menangkap sosok pemuda yang sedang berdiri di koridor bersandar pada pintu kelas dan menatap diam pada lapangan yang ramai. Saat Dellia memperhatikan wajahnya, ia yakin bahwa itu adalah pemuda misterius yang berpapasan dengannya di depan kelas beberapa hari yang lalu. Namun saat jarak mereka sudah semakin dekat, pemuda yang masih belum ia ketahui namanya itu malah berjalan menjauh sehingga ia tak bisa bertemu dengannya. Dellia memandangi kepergian pemuda itu yang malah berjalan menuju gerbang sekolah dan pergi dari sana. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya karena tidak bisa berbicara dengan pemuda itu untuk sekadar menanyakan namanya, namun mengingat niat awalnya untuk ke sana adalah toilet, ia langsung berlari dengan langkah yang lebih cepat sebelum ia mengeluarkannya di sana. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD