Malam harinya, Naya tidak bisa tidur. Dia memikirkan kakaknya yang belum pulih sepenuhnya. Meski tadi Naya bisa melihat Arsen tampak sudah lebih baik dengan mata kepalanya sendiri. Naya tahu, Arsen akan membela Raline dan mengatakan wanita itu tidak salah. Dia yang memang tidak ingin bertengkar dengan kakaknya, memilih mengalah. Walau dalam hati, Naya kesal setengah mati. Kini, sebotol whiskey 'lah yang menjadi temannya. Duduk di meja kerja kakaknya sembari menatap lembaran-lembaran kertas penting yang tidak dia mengerti. Ruangan dibuat dengan pencahayaan remang-remang dan hanya membiarkan cahaya bulan sebagai penerangan. Malam ini sangat cerah, namun berkebalikan dengan hatinya yang mendung. Naya hanya bisa menghela napas dan kembali menuangkan whiskey ke dalam gelas sloki sebelum kemud

