Naya melihat Raline yang ada di dalam kamar. Dia dengan ragu untuk melangkah masuk. Keadaan di meja makan jadi kacau setelah Raline pergi. Arsen juga sempat kesal, meski mungkin sekarang baik-baik saja. Pintu kamar itu terbuka dan Naya dapat dengan jelas melihat Raline yang terdiam. Tidak menangis. Wanita itu lebih kuat dari yang dia duga. Merasa sungkan, Naya memutuskan untuk mengetuk pintunya lebih dulu. Berusaha menarik perhatian Raline. Ini pertama kalinya mereka bertemu dan dia tidak tahu siapa wanita itu. Namun terpikir dalam benaknya untuk sedikit berbincang dengan Raline. Hingga akhirnya, setelah mendengar ketukan pintu, wanita itu menolehkan kepalanya. Bola matanya tampak membulat saat mendapati Naya yang ada di ambang pintu. "Bolehkah aku masuk?" "Kau–" Naya melangkah masuk s

