"Sialan! Mereka banyak," ucap Rey sembari menatap beberapa mayat yang bergelimpangan di bawah kakinya. Cairan merah menggenang di sekitar tubuh-tubuh yang kini terbujur kaku. Sebagian lain cairan itu menyiprat dan membasahi pakaian bersihnya. "George sudah tahu kedatangan kita." Jonathan menatap pintu villa di depannya dengan tajam. Dia menendang pintu yang terbuat dari kayu jati itu tanpa ragu. Menyebabkan pintu tersebut terbuka. Hening. Seperti dugaannya, tidak ada siapa pun di dalam. Meski begitu, Jonathan sama sekali tidak mengurangi sikap waspadanya. Matanya bergerak menatap sekitar. Berbeda dengan Rey yang menatap santai. Ada jejak darah terlihat di tempat mereka berdiri saat ini. Keadaan ruang tengah pun tampak kacau. Sampai sesuatu yang mengejutkan, dapat mereka lihat. Seonggok

