Harusnya Kau Melawan

1310 Words
"Aku tidak bisa datang. Aku sibuk. Mama saja yang urus semuanya," ucap sebuah suara. Samar-samar, suaranya tertangkap telinga Naya yang kini tengah tertidur. Membuat keningnya berkerut. Matanya yang terpejam rapat, mulai terbuka secara perlahan. Merasa sangat terusik. "Enghh ...." Naya melenguh. Dia mengusap wajahnya sambil mendesis, membuat Jonathan yang ada di sebelahnya berpaling. Tampak, dia buru-buru menutup panggilan telepon dari mamanya. Segera mendekat ke arah Naya dan memeriksa dahinya. Sampai mata mereka akhirnya bertatapan. Naya menatap tepat ke dalam mata Jonathan. Terpaku beberapa saat melihat laki-laki itu. Kenapa Jonathan bisa ada di sini? Tubuhnya. Naya langsung berpaling dan memeriksa tubuhnya. Apakah ada bekas perbuatan laki-laki itu atau tidak. Namun ternyata, tidak terjadi apa-apa padanya. Pakaiannya lengkap. Bahkan selimut tebal tampak membungkusnya. "N-Nathan ...." Bibirnya gemetar, berucap lirih. Entah kenapa, Naya sama sekali tidak punya tenaga. Tubuhnya lemas tanpa sebab. Keringat dingin juga keluar dari kulitnya. Sampai Jonathan harus menyekanya. "Kenapa kau melakukannya?" tanya Jonathan dengan sorot matanya yang tajam dan sangat menusuk. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan yang mengepal. Jonathan sangat tidak suka, jika wanitanya harus terluka seperti ini. "M-melakukan a-apa?" Naya yang belum sepenuhnya sadar, bertanya lemah dan menatap laki-laki itu bingung, yang setelahnya dibalas dengusan kesal oleh Jonathan. Apa yang sebenarnya sedang laki-laki itu bicarakan? Memangnya dia berbuat apa? "Aku sudah bilang, jangan sembarangan melukai tubuhmu. Kau harus menjaganya baik-baik. Kau milikku, ingat itu!" Jonathan sedikit menekankan kalimatnya. Dia menunjukkan kemarahannya pada Naya. Naya, wanita itu tadi dia temukan tergeletak di lantai kamar mandi dengan air yang mengguyur seluruh tubuhnya. Bibirnya pucat pasi dan wajahnya tampak lemas. Jelas saja, Jonathan sedikit kaget melihatnya. Padahal dia baru meninggalkan Naya sebentar untuk pergi menghukum Sherly dan kembali ke kamar, berniat mengecek keadaan wanita itu. Namun tak dia sangka, Jonathan justru menemukan Naya yang pingsan, dan tentu saja hal tersebut membuatnya marah. Sayangnya, Naya tak lagi menjawab. Dia hanya mengangguk patuh. Menatap Jonathan aneh sampai laki-laki itu berjalan ke arah meja. Entah untuk apa, karena sesaat setelahnya, laki-laki itu kembali berjalan ke arah Naya, sambil membawa minum dan obat. Naya langsung paham. Tubuhnya kemudian dibantu untuk bersandar oleh Jonathan. Laki-laki itu ikut duduk di samping ranjang dan mengambil obat tadi. "Minumlah." Jonathan menyodorkan obat tersebut pada Naya. Membuat Naya menatapnya ragu dan bingung, apakah dia harus memakannya? Namun karena tatapan mata Jonathan yang seakan berniat melubangi kepalanya, Naya mau tak mau menelannya. Hingga Jonathan sendiri yang meminumkannya air. "Kenapa kau tidak melawan?" "Apa?" Decakan kesal, keluar dari mulut Jonathan mendengar Naya membalas pertanyaannya dengan pertanyaan juga. "Kenapa kau tidak melawan perlakuan Sherly?" Bukannya menjawab, Naya malah memalingkan wajahnya ke samping. Cengkeraman tangannya di gelas itu menguat. Pertanyaan Jonathan, membuat Naya sangat enggan menjawab. Sampai laki-laki itu dengan sengaja menarik dagu Naya, agar mendongak ke arahnya. Memerhatikan wajah Naya yang kini sudah dibersihkan dan diberi salep. Meski lecet akibat kuku tajam mantan kekasihnya, tidak bisa langsung hilang begitu saja. Jonathan kesal. Wajah cantik Naya rusak gara-gara mantan tunangan sialannya itu. Meski Jonathan sudah menghukumnya, tapi dia masih belum puas. Sherly harusnya mendapatkan ganjaran yang lebih setimpal. Namun gara-gara dia harus mengingat jika Sherly adalah anak terpandang, dan memiliki banyak koneksi, Jonathan tidak bisa menghabisi wanita itu dengan mudah. "Karena kekasihmu benar, aku memang w************n. Kau juga menganggapku begitu. Tubuhku sudah dijamah oleh banyak laki-laki. Apalagi yang bisa aku sangkal?" jawab Naya dengan lirih. Naya tahu, semakin dia melawan, maka Sherly akan semakin menyiksanya. "Aku hanya seorang pelacur." Sorot matanya memancarkan luka dan itu terlihat oleh Jonathan, yang kini tertegun melihatnya. Sontak saja, dia langsung melepas tangannya begitu saja dan menatap Naya penuh peringatan. Selama Naya masih miliknya, tidak ada satu pun yang berhak untuk menghina wanita itu! Siapa pun itu. "Tidak. Kau milikku. Kau hanya perlu melayaniku. Tidak dengan laki-laki lain. Aku tidak akan melepaskanmu. Tidak boleh ada yang melukai atau menyentuhmu selain aku. Hanya aku yang boleh melakukannya," ucap Jonathan dengan suara serak. Membuat Naya tersenyum kecut. Justru inilah yang membuat dia begitu ketakutan. Iblis gila bernama Jonathan. Naya sama sekali tidak bisa lepas darinya, meski dia sangat menginginkan sebuah kebebasan. Bisakah seseorang menyelamatkannya? Namun siapa? Naya sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Dia seorang diri di dunia yang kejam ini. Tidak ada satu pun tempat yang bisa dia jadikan untuk berlindung. Semua yang dia miliki telah dirampas beberapa tahun lalu. "Akkhh ...." Naya memekik, saat bibirnya digigit oleh Jonathan, membuat darah harus mengalir di sana. "Aku sangat tidak suka diabaikan," desisnya. Ketara sekali, jika Jonathan marah pada Naya. Namun berlawanan dengan kata-katanya, laki-laki itu dengan lembut menyeka darah yang keluar karena gigitannya. "Sebaiknya aku pergi, aku tidak bisa menjamin tidak akan menyetubuhimu jika masih di sini." Ucapan terakhir Jonathan, dibalas dengusan kasar oleh Naya. Dia tidak habis pikir, apa hanya itu yang ada dalam benak Jonathan? Tidakkah pikirannya lebih sedikit bermoral? Kenapa sebenarnya Jonathan memilih dia untuk menjadi wanitanya? Jelas Naya hanya wanita kotor, ada gadis lain yang tentunya masih perawan dan sukarela mengangkang untuk laki-laki itu. "Tidurlah. Kau harus sembuh, agar aku bisa mendengar desahanmu lagi." Sebelum benar-benar pergi, tangan Jonathan dengan kurang ajarnya meremas tubuh bagian atas Naya hingga wanita itu memekik. Ada tatapan berhasrat yang kini harus dia tahan. Setelah melakukan hal yang tak senonoh, Jonathan dengan santainya berjalan meninggalkan kamar. Membiarkan Naya seorang diri sambil menahan umpatan kasar karena telah dilecehkan. Dia ingin marah, tapi tidak bisa. Jonathan bisa saja menyakitinya. Naya menghela napas frustasi. Kenapa harus seperti ini? Dia benar-benar menjadi wanita lemah tak berdaya. Naya tidak punya kekuatan apa pun untuk melawan apalagi melukai seseorang. Dia rasa, dia memang tidak pernah bisa melawan Jonathan. Seandainya saja ada kesempatan, Naya akan menggunakannya dengan baik. Saat tengah memikirkan hal tersebut, Naya tiba-tiba teringat sesuatu. Dia sedikit tersentak. Malam saat Jonathan membunuh Vincent. Naya jelas tidak pernah bisa melupakan saat Jonathan membunuh ayah kandungnya sendiri, di klub saat Vincent bersamanya. Membuat seisi klub malam pada saat itu menjadi kacau. Meski memang Jonathan tidak sengaja. Menembak sembarang orang-orang hingga hampir mencelakainya. Naya jelas tidak pernah lupa awal dari setiap masalah yang menimpanya saat ini. Di mana dia harus terjebak dan menjadi tempat di mana Jonathan memuaskan nafsunya. Di sana, jika Naya ingat dia sempat menusuk seseorang yang berusaha membawanya pergi dari tempat kejadian. Siapa? Entahlah, orang itu terlihat menyeramkan karena memakai topeng. Sekarang Naya menyadari sesuatu. Saat itu, dia benar-benar bodoh. Dia malah menusuk orang yang mungkin berniat menyelamatkannya. Kini, Naya harus menerima akibatnya saat dia terpenjara dan terbelenggu dalam rantai besi milik Jonathan. Bodohnya dia. *** Jonathan menatap layar laptop miliknya dengan perasaan tak menentu. Ada perasaan yang sangat mengganggunya soal Naya. Membuat dia sama sekali tidak bisa fokus sedari tadi. Bahkan untuk meninggalkan wanita itu, rasanya sulit. Jonathan lebih memilih untuk bekerja di rumah, dia tidak masuk kantor. Tak hanya itu, dia juga mengabaikan panggilan mamanya. Jonathan enggan pergi saat Naya sedang sakit dan semua ini, karena ulah dari mantan tunangannya. Wanita tidak tahu diri itu! Tangannya terkepal. Memukul meja dengan kuat. Perjodohannya dengan Sherly terjadi karena bisnis. Ketika pria tua bangka itu masih hidup. Sekarang, Vincent sudah mati jadi untuk apa Jonathan melanjutkannya? Seringai keji, tersungging jelas di bibirnya. Walaupun dia tidak sengaja membunuh ayahnya, tapi Jonathan bersyukur Vincent mati. Secara tidak langsung, kini dia juga sudah berhasil membalas sakit hatinya. Anak haram yang dulu sama sekali tidak diakui, sekarang disanjung oleh semua orang. Mereka menginginkannya meski dulu, hanya cacian yang Jonathan dapat. Bahkan dengan mudahnya Jonathan lolos dari jerat hukum. Semua itu bisa dia lakukan asal ada uang. Sesuatu yang dulu tidak pernah dia miliki. Terlahir dari ibu yang merupakan seorang pelayan, jelas menjadi aib bagi keluarga ayahnya. Banyak orang yang memandangnya sebelah mata, tapi saat ini Jonathan mampu membuktikan semuanya, jika dia bukan orang yang pantas untuk diremehkan. Meski ada satu orang lagi yang bisa saja menjadi batu sandungan untuknya. Saudara tiri Jonathan sendiri, George. Satu-satunya orang yang harus dia waspadai karena semenjak kematian ayahnya, laki-laki itu terlalu tenang. Jonathan tidak mau kecolongan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD