"Boleh aku keluar?" tanya Naya saat sudah dua hari dia tidak boleh beranjak dari ranjang. Jonathan memperlakukannya seperti orang yang akan mati. Meski beruntung, laki-laki itu tidak menyentuh dia seenaknya, tapi semakin lama hal ini semakin membosankan.
"Tidak, kau sedang sakit. Buka mulutmu dan minum obatnya."
Jonathan menyodorkan sebuah obat berbentuk tablet untuk menyuapkannya ke dalam mulut Naya. Namun wanita itu terlihat enggan dan menggelengkan kepala. Membuat tatapannya semakin tajam. "Jangan membuatku mengulang perintah. Minum atau kau akan tahu akibatnya."
Akhirnya, mau tak mau Naya membuka mulutnya dan menelan obat yang diberikan oleh Jonathan. Menatap laki-laki itu yang tidak menunjukkan senyum atau ekspresi apa pun. Datar dan matanya hanya menyorot tajam. Naya sama sekali tidak bisa menebak apakah Jonathan khawatir atau tidak. Hingga tepat setelah memastikan Naya meminum obatnya dengan benar, Jonathan langsung pergi meninggalkan kamarnya begitu saja. Menutup pintu dan membiarkan dia sendiri dalam keheningan.
Naya menghembuskan napas pelan. Dia mendudukkan dirinya dan berusaha beranjak dari ranjang. Berjalan menuju ke arah cermin yang memerlihatkan dirinya dalam kondisi lemah. Luka di wajahnya masih belum hilang dan tampak diolesi salep.
Pantulan dirinya yang terlihat seperti sebuah manekin hidup. Rambut sehitam arang, bibir merekah bak kelopak mawar—sayangnya sekarang terlihat sedikit pucat—kulit seputih salju dan mata biru yang sayu tampak menggoda. Lengan kecil dengan punggung ramping namun memiliki pinggul yang besar serta tubuh bagian atasnya yang menonjol. Naya cantik, tapi kecantikannya justru yang menyebabkan dia menderita.
Naya tidak pernah senang mengetahui fakta saat dirinya dipuja. Dia membuat semua wanita iri dan para lelaki menginginkannya. Dibanding menyenangkan, ini lebih terdengar menakutkan. Salah-salah, dirinya menjerat orang seperti Jonathan. Naya tidak menginginkan hidupnya menjadi seperti ini. Ini bukan anugerah baginya, melainkan kutukan.
Kakinya melangkah ke arah jendela. Menatap pemandangan luar sambil menghembuskan napas. Beberapa saat, rasanya seperti menangkan. Dia merindukan rumah dan keluarga yang sudah sangat lama telah direnggut paksa darinya.
Hah, mau dipikir bagaimana pun, Naya tidak bisa membalikkan waktu. Dia tidak bisa memutar hari di mana tragedi mengerikan terjadi. Walaupun sebuah dendam masih tertanam dalam lubuk hatinya. Naya benci pada orang-orang yang membuatnya harus menjalani hidup seperti ini.
Saat tengah sibuk meratapi nasibnya, tiba-tiba Naya mendengar suara teriakan dan disusul benda pecah dari arah luar. Suara seorang wanita yang marah-marah. Awalnya dia kira itu adalah Sherly, wanita yang mau kembali melabraknya. Namun setelah dipikir, rasanya tidak mungkin Sherly berani datang lagi setelah diusir dengan sangat kasar oleh Jonathan. Lantas siapa?
Naya spontan berjalan melangkah mendekati pintu. Dia berusaha untuk membukanya hingga akhirnya berhasil.
Sepertinya, Jonathan lupa menguncinya.
Rasa penasaran membuatnya berjalan untuk melihat apa yang terjadi. Sampai kemudian, dia melihat di lantai bawah ada Isabel yang datang. Wanita yang merupakan ibu dari Jonathan itu tampak seperti tengah memarahi anaknya. Naya melihatnya dari dekat pintu kamarnya di lantai dua, di mana hanya dari posisi Jonathan yang bisa melihat keberadaannya.
Semua ini pasti karena dirinya atau mungkin karena Sherly? Naya tidak tahu apa yang Jonathan lakukan sampai membuat Isabel terlihat sangat marah dan menyebut-nyebut namanya juga Sherly. Namun pasti, itu bukan sesuatu yang baik.
Naya ingin terus melihat mereka, sebelum kemudian mata Jonathan melirik ke arahnya. Membuatnya tersentak sampai mundur beberapa langkah ketika tatapan tajam laki-laki itu seolah menyuruhnya untuk kembali masuk. Alhasil, Naya mau tak mau menurutinya sebelum laki-laki itu menjadi sangat marah. Meski dia sama sekali tidak tahu, apa yang ibu dan anak itu bicarakan. Pasti ini memang tentangnya.
Sejak awal Isabel sudah menunjukkan ekspresi tidak suka padanya. Walaupun mereka belum bicara berdua dengan serius. Apalagi saat upacara pemakaman Vincent. Wanita tua itu terang-terangan memerlihatkan tatapan tajam. Hal yang sebenarnya sangat masuk akal untuk Naya. Memangnya ibu mana yang senang melihat anaknya memiliki simpanan dari suaminya sendiri? Meski sebenarnya, Naya tidak pernah benar-benar menjadi simpanan Vincent.
Naya kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. Tak ada ekspresi senang atau pun sedih terlihat di wajahnya. Dia bingung harus berbuat apa. Naya bingung bagaimana caranya dia lepas dari Jonathan. Kehadirannya tidak dibutuhkan di mana pun. Dia dibenci di mana pun dia berada. Semua orang tidak senang dengan kehadirannya. Seandainya saja, keluarganya masih ada, Naya tidak akan mengalami hal ini.
***
"Pesta, ya? Haruskah aku datang? Aku lebih suka mengacaukannya dibanding menikmati pesta," gumam seorang laki-laki berambut cokelat tua, sembari menenggak whiskey miliknya.
Satu tangannya bermain-main dengan senapan api. Menembak sebuah apel di atas kepala seseorang, tanpa peduli jika orang itu gemetar ketakutan. Apa jadinya, jika tembakannya meleset? Namun beruntungnya, dia terlalu hebat dalam menembak. Hanya cukup sekali tembakan, dia berhasil melubangi apel tersebut. Hingga tidak ada nyawa yang melayang sia-sia untuk hari ini. Ya, untuk hari ini.
Segera saja, beberapa temannya membantu orang yang tadi ketakutan untuk keluar dari tempat latihan mengerikan tersebut. Tempat yang dipenuhi oleh senjata-senjata tajam dari berbagai bentuk dan jenis yang terpasang di dinding. Ruangan yang hanya bisa dimasuki oleh laki-laki berambut cokelat dan beberapa bawahan yang diizinkannya.
"Tuan, bukankah ini kesempatan untuk Anda menemui wanita itu?"
Laki-laki berambut cokelat dengan senyum manis itu mengangkat kedua alisnya. Terdiam mendengar penuturan bawahannya sebelum dia memberikan senjata api dan sarung tangan miliknya. Berjalan pelan menuju sebuah kursi dan duduk sambil menaikkan kakinya di atas meja.
Mengambil dan mengamati amplop yang merupakan surat undangan pesta. Bukan pesta pernikahan atau pertunangan, melainkan pesta perusahaan. Lebih tepatnya pesta keberhasilan seorang pengusaha muda yang sukses. Laki-laki itu mendengkus saat membaca nama yang tertera di sana. Lalu dia melemparnya begitu saja. Sama sekali tidak seru. "Benarkah? Bagaimana jika dia tidak datang?"
Sang ajudan terdiam sebentar. Pertanyaan itu membuatnya memikirkan segala kemungkinan. "Saya yakin, wanita itu pasti datang. Sepertinya, acara itu bukan bertujuan untuk merayakan keberhasilan saja, tapi mengenalkan wanita itu ke hadapan publik," ujarnya penuh keyakinan.
Tanpa sadar, perkataannya membuat si rambut cokelat tertawa keras. Entah apa yang dirasa lucu, namun hal tersebut sudah biasa. Para bawahan yang ada di sana sudah mengenal bagaimana sifat asli atasannya.
"Menarik, tapi jika tebakanmu salah, kau dalam masalah."
Sang ajudan tampak gugup. Dia tahu konsekuensi yang mungkin harus diterimanya jika menganalisis. Walaupun memang, dia berpikir demikian berdasarkan berita yang beredar. Tentang orang itu yang katanya tengah tergila-gila pada wanita simpanannya, sampai-sampai ada yang menyebutkan pembunuhan ayahnya juga dilakukan demi memenuhi hasrat gilanya.
"Oh, ya, apa Arsen sudah tahu tentang hal ini?"
Gelengan kepala terlihat di sana. Orang yang merupakan ajudannya itu tidak mendapat perintah dari orang yang bernama Arsen tersebut. "Tidak, Tuan. Kami belum memberitahukannya."
"Ya, dia pasti sibuk dengan wanitanya. Jangan beritahu dia untuk masalah ini."
Masalah akan semakin runyam jika Arsen tahu dan dia tidak bisa membiarkan ketenangannya terganggu. Temannya itu selalu bertindak gegabah, dia takut kejadian yang sama terulang seperti dulu. Dia tidak bisa lupa saat Arsen berusaha menyelamatkan wanita itu, temannya justru ditusuk. Benar-benar wanita tidak tahu diri.
Jika bukan perintah temannya, dia sangat enggan mencari di mana keberadaan wanita itu. Lebih baik dia pergi mencari buruan untuk memuaskan hasratnya. Menjadi pembunuh bayaran dan bertarung jauh lebih menyenangkan, ketimbang mencari dan membebaskan seorang wanita.
"Aku akan datang, tapi aku hanya ingin melihatnya. Kita harus tahu dulu, orang seperti apa yang akan kita hadapi."