"Kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Naya sedikit heran, saat Jonathan membawanya ke pesta perusahaan milik laki-laki itu yang kini diselenggarakan di ballroom hotel. Dia merasa risi karena tatapan aneh tamu lainnya. Mereka menatap Naya seolah-olah adalah sampah yang begitu hina.
Tanpa perlu dijelaskan, Naya sudah tahu jika semua orang pasti menuduh dia yang telah merusak hubungan Jonathan dan Sherly. Dugaan tersebut, bisa terlihat dari pandangan sinis para wanita juga meremehkan dari laki-laki. Meski sebagian laki-laki di sana terang-terang menunjukkan rasa tertarik.
Tentu saja, semua itu karena Naya datang dengan dress berwarna merah tanpa lengan yang cukup membuat lekuk tubuhnya terlihat, namun tidak terlalu mengekspos bagian-bagian pribadinya. Wajahnya dipoles oleh make-up yang benar-benar menunjukkan keseksian yang dimiliki Naya. Tidak murahan melainkan glamor. Beruntung, luka di wajahnya sudah menghilang, karena Jonathan hampir setiap saat tak pernah absen mengoleskan obatnya.
Haruskah Naya merasa beruntung? Sepertinya tidak. Jonathan hanya menyukai wajahnya saja. Sikap posesifnya juga karena laki-laki itu sangat berambisi padanya. Naya akan dipuja bagai seorang putri saat dia masih berguna. Kini bahkan, pinggangnya dipeluk mesra oleh Jonathan. Laki-laki itu tak sedikit pun membiarkan Naya lepas dari pandangannya.
Jonathan menatap tajam mata para laki-laki yang kini terus menatap Naya. Tampak sangat jelas, sorot penuh rasa tidak suka yang seketika berhasil membuat lawannya ciut. Naya miliknya, dan dia tidak suka miliknya diganggu atau ditatap orang lain.
“Aku ingin mengenalkan wanitaku,” jawabnya singkat, menatap Naya kembali. Jonathan tersenyum menyeringai ke arah Naya, membuat beberapa wanita yang tengah memperhatikan keduanya tertegun ketika melihat senyum milik Jonathan.
Jonathan yang terkenal hampir tidak pernah tersenyum, kini memerlihatkannya saat bersama dengan Naya. Senyum yang tentunya mampu membuat semua wanita jatuh ke dalam pelukannya. Tentu saja karena Jonathan termasuk ke dalam deretan pria terseksi yang bisa membuat semua wanita yang melihatnya menjadi tak berdaya. Jika Jonathan memerintahkan salah dari mereka untuk naik ke ranjangnya, sudah pasti tidak akan ada yang menolak.
Sayangnya, itu tidak berlaku untuk Naya yang dengan sangat acuhnya berpaling dan memasang wajah kecut. Naya enggan datang ke tempat ramai seperti ini, dia merasa takut sekaligus tak nyaman dengan pandangan melecehkan semua orang. Dia juga khawatir, jika salah satu mantan ‘pélanggannya’ ikut hadir dalam acara ini.
“Kau ingin mereka tahu, kalau aku adalah simpananmu?” sindir Naya, membuat Jonathan mengangkat bahunya acuh.
“Jika kau menganggapnya demikian, anggaplah seperti itu. Kau memang simpananku, wanitaku yang bertugas memuaskanku di ranjang,” balas Jonathan dengan sangat bangga.
Naya rasanya muak mendengar perkataan Jonathan, tapi dia sama sekali tidak bisa membantahnya. Naya memang simpanannya mulai sekarang. Suatu fakta yang harus dia terima. Alhasil, dia hanya bisa diam dan menurut saja ketika Jonathan membawanya berjalan menyambut tamu yang hadir.
Diam adalah keputusan yang tepat untuk Naya. Dia tidak mau menimbulkan masalah jika harus membuka mulut. Terlebih takut jika kehadirannya bisa saja mempermalukan Jonathan dan membuat laki-laki itu marah. Dia diam dan menurut saat Jonathan terus memeluk pinggangnya posesif, sementara laki-laki itu beberapa kali sibuk menyapa orang-orang.
Mata Naya mulai menjelajahi seisi ballroom. Menatap para wanita dan pria yang hadir. Sampai saat sibuk mengamati keadaan, tatapannya berhenti di satu titik. Seorang laki-laki yang terduduk di sudut ruangan. Tidak terlalu jauh dari posisinya, hingga Naya bisa dengan jelas melihat perawakan laki-laki itu. Laki-laki itu berambut cokelat tua dan menyeringai begitu mata mereka bertatapan.
Sesaat, Naya seperti terhipnotis. Dia tidak bisa memalingkan wajahnya. Laki-laki itu tersenyum seolah dia mengenalnya, bukan senyum menggoda yang bisa dia lihat dari pria haus belaian. Lebih seperti, 'akhirnya aku menemukanmu'.
"Aku tidak pernah mengizinkanmu menatap pria lain, Naya."
Bisikan hangat merasuk ke dalam telinga Naya. Membuatnya tersentak saat Jonathan tiba-tiba mengencangkan pelukan di pinggangnya. Membuatnya mau tak mau memutus tatapan dia dengan laki-laki berambut cokelat itu. Rupanya Jonathan menyadari kalau dia sibuk memelototi laki-laki lain.
"Tidak. Aku tidak—"
"Ah, akhirnya kamu datang. Mama kira, kau akan berpura-pura sibuk seperti biasa," ujar seseorang, menyela perkataan Naya. Membuatnya langsung menoleh dan melihat Isabel datang sambil membawa Sherly.
Spontan, mulutnya langsung bungkam. Naya memerhatikan penampilan Isabel dan Sherly. Seorang yang dulunya merupakan pelayan, kini statusnya naik menjadi bangsawan. Takdir tidak ada yang bisa menebak. Sebuah kesalahan sang majikan yang menghamilinya hingga melahirkan seorang penerus, membuat posisi Isabel ikut naik kasta. Apalagi semenjak kesusksesan yang Jonathan raih.
Naya menoleh ke arah Jonathan. Dia ingin tahu bagaimana reaksi laki-laki itu saat melihat ibu dan mantan tunangannya. Namun dengan wajah tanpa dosa, Jonathan justru memalingkan muka, seolah-olah tidak melihat ibunya. Dia bahkan sama sekali tidak membalas perkataan Isabel. Matanya hanya fokus menatap Naya.
"Naya, apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Jonathan yang malas meladeni sapaan mamanya. Dia menarik Naya ke sebuah meja berisi makanan dan beberapa minuman seperti wine, ada juga juice biasa tanpa alkohol.
Tentu saja sikap tidak sopannya Jonathan, membuat Isabel murka. Dia baru saja dipermalukan oleh anaknya sendiri. Wanita tua itu mengepalkan tangan dan menipiskan bibirnya. Semua sikap Jonathan semakin kurang ajar, semenjak anaknya membawa jalang itu masuk. Orang yang mengambil perhatian suami dan anaknya. Isabel ingin sekali memaki, namun sadar kalau di sini banyak orang yang memerhatikannya. Alhasil, dia hanya bisa menahan amarahnya kuat-kuat dan tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa.
Sherly yang ada di sebelahnya hanya bisa berusaha menenangkan Isabel, meski dia sendiri sudah sangat kesal dengan Jonathan yang lagi-lagi mengabaikannya. Laki-laki itu bahkan tidak menatap ke arahnya. Membuat harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat terluka. Bagaimana mungkin, Jonathan lebih memilih wanita yang asal-usulnya saja tidak jelas dibanding dia yang merupakan wanita berkelas? Wanita itu bahkan diambil dari tempat prostitusi.
'Aku tidak akan tinggal diam. Lihat saja nanti, kau akan mendapatkan pelajaran, jalang.'
Sementara di sudut ruangan. Di tempat yang jarang sekali terlihat, seseorang tampak terkekeh kecil melihat drama yang terjadi antara sang pemilik acara dengan para wanitanya. Dia mengamati semuanya dari awal. Sejak kedatangan pasangan yang membuat semua pusat perhatian tertuju pada mereka. Mengesankan. Akan lebih mengesankan jika terjadi perkelahian di sana. Namun sayang, harapannya tidak terwujud. Semua berjalan terlalu lancar.
Jonathan Rhys. Pria yang membatalkan pertunangan dan pernikahannya karena tergila-gila dengan wanita milik ayahnya. Pria gila. Melihat betapa posesif laki-laki itu saat ini, bahkan seolah membenarkan isu yang beredar. Namun memang sepertinya itulah yang diinginkan Jonathan. Laki-laki itu tidak berusaha menutup-nutupinya.
Matanya kemudian beralih pada wanita yang ada di pelukan Jonathan. Tampak begitu jelas jika wanita itu sama sekali tidak nyaman. Datang karena sebuah paksaan. Wanita yang harus dia ambil dan selamatkan dari pria gila itu atas perintah temannya, tapi sepertinya itu tidak bisa dilakukan sekarang. Dia masih jengkel dengan wanita itu dan juga, penasaran apa yang akan terjadi ke depannya.
Sampai saat matanya tengah mengamati suasana pesta dan Jonathan diminta untuk melakukan penyambutan, dia melihat Naya yang tadinya tidak dilepas, berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu.
Hal tersebut, menarik perhatiannya saat tanpa sengaja dia juga melihat mantan tunangan Jonathan yang diam-diam mengikuti Naya dari belakang. Membuatnya spontan bangkit dari kursi dan berjalan menuju ke arah Naya pergi.
Firasatnya tidak baik. Apalagi saat melihat Sherly ternyata menghampiri dua orang lelaki bertubuh besar dan seperti berbicara sesuatu, lalu dua laki-laki itu berjalan ke arah di mana Naya menghilang. Ke arah toilet.
Seringai lebar tersungging di bibir tipisnya. Dia menjilat bibir bawahnya sembari menghembuskan napas panjang. Sepertinya ada mangsa baru yang bisa dia mainkan. Tubuhnya benar-benar sudah kaku dan dia butuh latihan untuk melemaskan otot-ototnya.
"Aku sangat menantikan saat-saat seperti ini."