Naya menatap Jonathan yang berdiri di panggung kecil untuk memberikan sambutan. Dia berdiri sendiri dengan wajah terangkat. Sebisa mungkin, dia mengabaikan perhatian dan tatapan orang-orang terhadapnya. Naya ingin tetap fokus. Namun tanpa ada Jonathan di sisinya, Naya tetap merasa terintimidasi oleh pandangan orang-orang. Meski dia telah berusaha sebisa mungkin untuk menghiraukannya. Hingga akhirnya, Naya menyerah. Dia memilih untuk pergi ke arah toilet.
Mungkin Jonathan takut kalau Naya akan melarikan diri. Walaupun itu memang telah menjadi keinginannya. Jika ada cara, Naya akan segera melarikan diri. Namun yang jelas, semua pintu keluar kini dijaga ketat oleh orang suruhan Jonathan. Naya tidak akan bisa keluar dengan mudah dari sana. Laki-laki itu, pasti akan mengejarnya.
Naya hanya bisa menghembuskan napas kasar dan terus berjalan ke arah toilet. Dia tidak nyaman dengan pandangan semua orang terhadapnya. Meski itu memang risiko karena menjadi wanita simpanan dari seorang milyarder muda, yang terkenal dengan sifat kejamnya, berperilaku seenaknya atau bahkan memutuskan sesuatu tanpa peduli orang lain suka atau tidak. Yang paling penting adalah kepuasan dirinya sendiri. Itulah Jonathan.
Lorong menuju kamar mandi yang saat ini Naya lewati cukup sepi. Mungkin karena semua orang sibuk mendengarkan pidato atau sambutan dari sang pemilik acara. Tentang kehebatan, tentang kesuksesannya yang gemilang. Namun sayangnya, watak dan sikap laki-laki itu tidak sebaik dengan prestasi yang berhasil ditorehkannya.
Sesampainya di depan pintu toilet, Naya mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya karena merasa lega bisa terbebas dari laki-laki itu dan semua tamu yang semenjak kedatangannya tidak sekali pun mengalihkan perhatian darinya. Begitu juga dengan Sherly, Naya tidak akan pernah bisa lupa saat wanita itu menatapnya dengan penuh permusuhan.
Siapa yang tidak marah? Tunangan yang sebentar lagi harusnya menjadi suaminya, direbut oleh wanita yang bahkan asal usulnya saja tidak jelas. Seorang wanita yang dibawa dari tempat hiburan malam. Naya selalu merasa jika dirinya rendah saat memikirkan hal tersebut.
Naya kemudian membasuh wajahnya di wastafel dan menatap penampilan dirinya yang luar biasa cantik. Jonathan mendatangkan perias terbaik untuk mempercantik penampilannya saat ini.
Tak mau lama-lama memandangi wajahnya, Naya dengan cepat berjalan masuk ke salah satu bilik toilet. Sayangnya, satu hal yang tidak dia sadari, dua orang asing ternyata membuntutinya dari tadi. Mereka berjalan masuk ke dalam toilet dan langsung menutup pintu dengan sangat keras, mengejutkan Naya yang saat ini ada di dalam bilik toilet.
Awalnya Naya berpikir, jika itu adalah orang yang masuk untuk membuang hajat, namun ternyata tidak. Naya tidak mendengar apa pun selain pintu toiletnya yang tiba-tiba digedor sangat keras.
"Keluar, keluar sekarang juga."
Suara khas seorang laki-laki membuat matanya seketika melotot. Naya tidak salah dengar, orang yang tengah menggedor-gedor adalah seorang laki-laki. Namun kenapa mereka bisa masuk ke sini? Naya menelan ludahnya gugup. Wajahnya pucat pasi. Tidak tahu apa yang harus dilakukan saat gedoran pintu semakin keras.
Apa yang akan terjadi jika dia sampai keluar? Apa yang akan mereka lakukan? Naya tidak bisa membayangkannya. Dia hanya terdiam dengan bingung sekaligus panik. Naya ingin menghubungi Jonathan, namun sialnya dia tidak punya ponsel. Sementara laki-laki itu pasti sibuk dengan para kliennya.
Naya takut sesuatu yang buruk terjadi.
Dulu, ketika Naya masih menjadi seorang wanita bayaran, dia acapkali diganggu oleh beberapa rekannya yang sama-sama seorang penjual jasa. Mereka mengunci, meneror Naya bahkan ada yang sampai berusaha mencelakainya dengan mengirim orang-orang jahat. Semua itu jelas tak lepas karena Naya merupakan primadona di sana.
Beruntungnya, selama ini Naya selalu baik-baik saja, karena bosnya selalu melindungi dia dari para rekan kerjanya yang lain. Hal itu pula yang membuat Naya tidak memiliki teman karena dijauhi, selain karena dirinya juga adalah orang yang tidak boleh disentuh sembarangan.
Jika hal tersebut terjadi lagi saat ini, Naya benar-benar tidak tahu kepada siapa dia bisa meminta tolong. Alhasil, Naya hanya bisa menunggu di dalam toilet sembari berharap kalau Jonathan akan datang menyelamatkannya.
"Keluar atau pintu ini akan dihancurkan!"
Naya semakin takut mendengar ancaman itu. Dia hanya bisa naik di atas toilet duduk dengan jantung yang berdegup sangat cepat. Sampai benar saja, mereka mengambil ancang-ancang untuk merusak pintu toilet di mana Naya berada. Akan tetapi, sebelum itu sempat terjadi, pintu masuk toilet telah didobrak oleh seseorang. Mengurungkan niat dua orang laki-laki yang berniat membuka paksa pintu toilet tempat Naya bersembunyi.
Tidak ada yang bisa Naya lakukan selain mendengarkan apa yang terjadi, karena setelahnya hanya terdengar suara dua orang atau lebih yang seperti tengah berkelahi.
"Berengsek, ini terlalu mudah."
Suara itu membuat Naya mengernyitkan dahi, lalu tak lama setelahnya, terdengar teriakan kesakitan yang begitu keras. Naya tidak bisa melihat ke luar. Dia tidak tahu apa yang terjadi di sana. Siapa laki-laki yang mengumpat itu dan siapa yang berteriak kesakitan?
Hanya butuh beberapa detik sampai suasana yang tadinya berisik oleh teriakan dan adu jotos, kini hening seperti tidak ada siapa pun. Apakah semuanya sudah berakhir? Pertanyaan itu memenuhi isi kepalanya. Naya sedang mempertimbangkan apakah dia bisa keluar dengan selamat saat ini atau tidak?
Awalnya, Naya ingin membuka pintu, namun mengurungkan niatnya saat mendengar suara langkah kaki yang mendekati pintu toilet di mana kini Naya berada, dengan saksama. Kini, siapa lagi yang ada di luar sana? Jantung Naya kembali berdegup keras. Dia menduga kalau itu adalah orang yang sama, sampai kemudian terdengar sebuah suara yang memerintahkannya untuk membuka pintu.
“Bukalah pintunya. Mereka sudah kubereskan.”
Ucapan bernada perintah itu terdengar menyentak Naya, membuatnya spontan menjauh. Suara itu jelas adalah suara laki-laki, namun bukan suara milik Jonathan, melainkan orang asing.
Antara percaya atau tidak, Naya berusaha membuka pintunya. Sayangnya, kunci pintu itu rusak saat orang bar-bar tadi menendangnya keras dan dia tidak tahu mana yang membuatnya sulit dibuka. "Aku ... aku tidak bisa membukanya. Kunci pintunya rusak."
"Kalau begitu, menjauhlah dari pintu."
Tidak memiliki pilihan lain, Naya dengan cepat duduk di atas toilet dan membiarkan laki-laki asing di luar sana melakukan tugasnya untuk membuka pintu. Sampai kemudian dengan sekali tendangan saja, pintu kamar mandi langsung terbuka, mengagetkan Naya hingga hampir saja jatuh terpeleset sebelum laki-laki yang mendobrak pintu tersebut, menarik tangannya. Laki-laki itu mengeluarkan Naya dengan memeluk pinggangnya.
Akhirnya, Naya berhasil keluar dari sana. Namun karena Naya masih sangat kaget, dia hanya bisa terdiam kaku untuk beberapa menit. Memeluk laki-laki itu dengan erat. Sampai kemudian, Naya tersadar saat laki-laki itu berkata, “Sampai kapan kau akan terus memelukku?”
Suara itu membuat kepala Naya mendongak. Matanya menatap ke arah laki-laki yang menolongnya. Tampak senyum meremehkan, terlihat di sana. Ada sorot nakal, bahkan dengan kurang ajarnya, dia menatap ke arah tubuh Naya dengan sangat berani.
“Sshh, sexy.”
“Apa?” Mata Naya terbelalak ketika mendengar ucapan laki-laki yang menolongnya. Membuatnya seketika mendorong laki-laki tersebut dan menatap keadaan sekitar. Melihat apakah ada orang yang terkapar setelah berkelahi, karena suara orang yang menolongnya ini jelas sangat berbeda dengan orang yang tadi berteriak dan memintanya keluar. Namun anehnya, Naya tidak melihat siapa pun selain mereka. Hanya dia berdua dengan laki-laki di depannya dan ... darah?
Bercak darah tampak membanjiri lantai. Cukup banyak dan membuat Naya mengernyitkan dahi. Menolehkan kepalanya dan menatap si pria asing itu. Sampai matanya bertatapan langsung dengan laki-laki itu. Naya baru menyadari kalau laki-laki di hadapannya adalah si pemilik rambut cokelat yang tadi menatapnya dengan intens sampai membuat Jonathan marah. "Kau ... ini, mana orang-orang tadi?"
"Di tempat yang aman. Mereka tidak akan mengganggumu lagi," jawabnya dengan santai.
Naya justru curiga, dia menatap laki-laki asing itu dengan pandangan menilai, hingga matanya melihat sebuah bercak darah di tangan laki-laki itu. Matanya sedikit membesar. Naya menelan ludahnya takut. Apa yang sebenarnya dilakukan laki-laki ini? "Terima kasih sudah menolongku, tapi aku harus pergi sekarang."
Tidak. Dia tidak boleh lama-lama di sini. Bersama laki-laki ini. Hawa menakutkan itu begitu terasa saat dia menatapnya. Namun sayangnya, saat Naya baru saja melangkah, tangannya justru ditahan oleh laki-laki itu. Membuatnya mau tak mau jatuh kembali ke dalam pelukannya.
“Aku tidak tahu kalau itu sangat seksi, Naya. Bagaimana jika tidur denganku sekali saja? Aku sudah menolongmu,” ucapnya sambil menjilat bibir bawahnya.
Sebelum Naya sempat menjawab, laki-laki itu dengan segera mendorongnya ke dinding. Dia mencium bibir Naya tanpa basa-basi. Melumatnya dengan rakus sampai Naya harus kaget karena tindakan yang laki-laki tak dikenalnya lakukan.
"Hh--hhm ...."
Naya menolak, dia menggelengkan kepalanya saat kedua tangannya dikunci. Ciuman laki-laki asing itu, begitu menggebu. Naya juga harus dibuat keheranan dengan ucapan laki-laki tersebut yang seolah mengenalnya. Kenapa laki-laki asing itu tahu namanya? Padahal Naya sendiri tidak pernah merasa bertemu sebelumnya. Dia hanya melihat laki-laki itu tadi di pesta. Itu pun tak sengaja bertatapan.
Belum sempat pertanyaannya terjawab, tangan laki-laki itu dengan berani menyentuh dadanya. Menggodanya cukup kuat sampai Naya memekik, terlebih saat bajunya hendak ditarik paksa. Segera saja, Naya menampar wajah laki-laki itu dengan tangannya yang terbebas.