Naya menatap laki-laki di depannya dengan marah. Pipinya merah padam, tak kuat menahan rasa kesal karena merasa dilecehkan. Dia menepis tangan laki-laki itu kasar. "Berengsek! Kau melecehkanku!"
Niatnya yang ingin berterima kasih, malah membuat Naya kini harus mengumpat. Dia berang bukan main karena tindakan tak sopan yang dilakukan penolongnya.
Sayangnya, bukannya minta maaf, orang itu malah memegangi pipinya yang merah karena bekas tamparan Naya dengan senyum miring. Tak merasa terganggu sedikit pun. Malah dia tampak sangat senang ketika melihat kemarahan di wajah wanita cantik yang tadi ditolongnya. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi mulus Naya, namun dengan segera ditepis oleh wanita itu. Membuat salah satu alisnya terangkat.
Berbeda dari dugaannya, wanita di hadapannya ini cukup menarik. Biasanya semua wanita menginginkan lebih saat dia merayunya. Apalagi setelah melihat masa lalu Naya sebagai seorang wanita penghibur, bagaimana caranya wanita itu menarik laki-laki jika bersikap ketus seperti ini? Akan tetapi, karena itu pula, dia menjadi penasaran bagaimana Naya jika di ranjang. Di bawahnya dan pasrah menanti setiap sentuhannya ataukah bergerak liar menggodanya?
"Kucing liar. Aku semakin tertantang membawamu ke ranjangku," ucapnya sambil menatap Naya mendamba.
Sementara Naya yang mendapat perkataan tak senonoh dari laki-laki tersebut, membelalakkan bola matanya. Dia tak percaya, jika ada orang yang lebih gila dan tak tahu malu dari Jonathan. Padahal Naya kira, Jonathan adalah orang yang paling tidak tahu malu dan tidak tahu diri. Ternyata ada laki-laki gila yang hanya mementingkan kepuasannya saja.
"Dalam mimpimu, sialan!" Naya mengumpat, lalu mendorongnya menjauh, namun belum sempat dia keluar dari pintu toilet, laki-laki itu kembali mencekal tangannya. Menarik Naya hingga tubuhnya membentur d**a bidang laki-laki itu. Kedua tangannya dicekal ke belakang. Membuat Naya menjadi tidak bisa berkutik.
Naya terhenyak. Dia sampai menahan napas kaget dengan tindakan tiba-tiba yang dilakukan laki-laki itu. Hingga selang detik kemudian, tubuhnya dibuat merinding ketika hembusan napas panas menerpa lehernya. Disusul oleh kecupan lembut namun sedikit menuntut. Bahunya yang memang sedikit terbuka, membiarkan laki-laki tersebut dengan sangat mudah mendaratkan bibirnya di sana.
Meremang. Naya mendadak gugup. Napasnya bahkan mulai tak beraturan. Apalagi saat laki-laki itu mengusap lengannya dengan lembut.
"Menyingkir! Kau mau apa?"
Naya bergerak tidak nyaman dan berusaha melepaskan diri saat tangan kurang ajar itu menyentuh area pinggangnya ke bawah. Ini sangat memalukan. Tidak mungkin mereka akan melakukannya di tempat seperti ini, bukan? Namun Naya tidak bisa meloloskan diri. Tangannya dipegang terlalu kuat.
"Kau takut atau senang? Sepertinya tubuhmu suka saat disentuh seperti ini," kekehnya. Naya yang mendengar hal tersebut semakin malu.
"Tutup mulutmu dan lepaskan aku."
"Sayang sekali, padahal ini baru akan dimulai, tapi kekasihmu pasti akan datang." Sebentar lagi, Jonathan pasti akan mencari kekasihnya. "Zanaya, aku tidak sabar menantikan pertemuan kita selanjutnya. Jika saat itu tiba, kau harus tidur denganku," ucapnya sebelum benar-benar mengecup pundak Naya cukup kuat, hingga wanita itu mengerang frustrasi. Sementara laki-laki itu tertawa puas karena berhasil membuat Naya tergoda.
"Ah iya, satu lagi. Mantan tunangan kekasihmu itu mengincarmu. Kau harus hati-hati. Mungkin dia tidak akan berhenti sebelum kau celaka," sambungnya, sebelum kemudian melepas pelukannya dan memberi kecupan singkat di bibirnya. Meninggalkan Naya begitu saja. Keluar dari pintu toilet dengan penuh hati-hati.
Tubuh Naya hampir saja luruh ke lantai, karena ucapan dan perlakuan gila laki-laki tak dikenalnya itu. Untunglah, dia berpegangan pada tembok. Namun di sisi lain, Naya diam-diam menikmatinya. Ciuman penuh pemujaan, benar-benar membuat Naya terlena. Jonathan jelas tidak pernah memperlakukannya seperti itu.
"Siapa orang itu?"
Kejadian yang begitu singkat, membuat Naya sama sekali tidak bisa tahu identitasnya. Akan tetapi, kenapa laki-laki itu bisa mengetahui namanya? Apakah, dia salah satu orang yang pernah Naya layani? Tidak. Naya rasa, itu mustahil.
Selama dia menjadi seorang wanita pemuas nafsu, Naya tidak pernah memakai nama aslinya sekali pun. Dia hanya memakai nama samaran. Jadi, rasanya sangat aneh jika laki-laki itu bisa tahu namanya dengan mudah. Publik pun hanya tahu kalau dia adalah wanita simpanan yang asal-usulnya tidak jelas. Merebut suami orang. Walau mungkin, sebentar lagi akan ada banyak orang yang mencari tahu tentangnya.
Jadi, dari mana laki-laki itu tahu namanya? Bahkan nama kecilnya. Zanaya.
Hal tersebut membuat Naya bertanya-tanya, walau tidak bisa dipungkiri kalau laki-laki itu memiliki wajah yang menawan. Naya sampai tidak bisa melupakannya. Senyumnya, tidak. Tatapan nakal di matanya, membuat Naya tidak bisa lupa. Cara bicaranya juga yang sangat kurang ajar.
Naya menggeleng cepat. Dia berusaha mengenyahkan orang kurang ajar tadi dalam pikirannya. Memijat kepalanya dan mendesis. Bisa-bisanya, Naya hampir terpikat pada pria kurang sopan santun seperti dia! Mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Sambil menggerutu dalam hati, Naya berjalan keluar dari toilet, bertepatan dengan dia yang keluar, dua orang laki-laki berpakaian hitam dengan wajah datar masuk ke dalam. Hanya masuk, tanpa menegurnya sedikit pun. Yang mengherankan lagi, pintu langsung ditutup begitu Naya sudah berada di luar. Sontak, hal tersebut menimbulkan banyak tanya baginya, penasaran apa yang akan dilakukan keduanya. Dia kira, itu adalah orang yang tadi menggedor-gedor paksa kamar mandi. Namun sepertinya bukan.
Naya menggeleng, dia melanjutkan langkahnya untuk kembali ke ballroom. Tidak usah dipedulikan. Kepalanya pusing karena melihat darah yang tadi bercecer di lantai. Sayangnya, tak disangka, saat dia sedang berjalan, seseorang memanggilnya.
"NAYA!"
Terlihat Jonathan yang datang menghampirinya dengan langkah tergesa-gesa. Wajahnya sangat panik. Laki-laki itu sedikit berlari menghampiri Naya. Sampai, ketika sudah mendekat, Jonathan tanpa sungkan memeluk erat tubuh Naya. Deru napasnya terdengar memburu dan sangat cepat, seolah baru saja dikejar sesuatu.
"Kau baik-baik saja? Syukurlah," gumam Jonathan.
Tentu saja perkataan Jonathan, sontak membuat Naya kebingungan. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang Jonathan pikir dan lakukan saat ini. Begitu juga, dengan rasa khawatir yang bisa Naya rasakan dari laki-laki itu. Mungkinkah ini hanya perasaannya saja atau Jonathan memang khawatir padanya?
"Aku tidak apa-apa. Tolong lepas!"
Naya sedikit risi dengan sikap Jonathan yang seperti ini. Dia sangat tidak nyaman. Beruntung, Jonathan akhirnya melepaskan pelukannya. Menatap Naya dengan serius. Matanya menelisik, memerhatikan kondisi tubuh wanitanya dengan cermat. Sampai beberapa saat kemudian, matanya tak sengaja menemukan sebuah bekas kecupan di leher Naya.
Seketika itu, mata Jonathan langsung marah. Matanya menyorot tajam. Rahangnya mengeras dan tangannya terlihat terkepal. Menyentuh area leher Naya yang terdapat bercak kemerahan. "Ini ... siapa yang melakukannya?"
Jonathan menatap Naya dengan tajam. Kekhawatiran yang tadi terlihat, kini berganti menjadi kemarahan. Membuat Naya bingung bukan main. Dia menyentuh tangan Jonathan dan berusaha menjauhkannya dari lehernya. "Apa? Melakukan apa?"
Bukannya menjawab, Jonathan malah menarik tangan Naya menjauh dari sana. Dia melangkah tergesa-gesa ke arah kamar hotel presidential suite miliknya. Lantas saja, Jonathan mendorong Naya dengan kasar ke ranjang.
Matanya masih berkilat marah. Sampai Jonathan membuka dasi dan tuxedo miliknya. Melemparnya sembarangan dan menghampiri Naya dengan langkah pelan. Jantung Naya spontan berdetak kencang. Dia sedikit ketakutan, ketika melihat kemarahan dalam mata laki-laki itu. Bibirnya ikut bergetar, bahkan tanpa sadar Naya sedikit beringsut menjauh.
"A-apa yang m-mau kaulakukan? Kita t-tidak bisa d-di sini. B-bagaimana dengan p-pestanya?" tanya Naya dengan sangat gugup. Jangan bilang, jika Jonathan akan melakukannya?
"Siapa orang yang baru menyentuhmu? Apa kau baru saja bercumbuu dengan laki-laki lain?" ucap Jonathan sembari mencengkeram rahang Naya. Dia memalingkan wajah Naya dan menyibak rambut yang menghalanginya, untuk melihat dengan jelas bekas cumbuan seseorang di leher wanitanya.
Sesaat, Jonathan berpikir jika dia telat menolong Naya. Akan tetapi, wanita itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka memar di tubuhnya, dan hanya ada bekas cumbuan, membuat Jonathan marah. Berpikir, jika mungkin Naya baru saja memadu kasih dengan laki-laki lain.
"Ah? Itu, tidak benar. Aku, aku ... tidak tahu ...."
Naya tidak bisa membela diri. Semua yang dituduhkan oleh Jonathan adalah benar. Seseorang baru saja menyentuhnya, walau Naya sudah sekuat tenaga menolak. Namun karena perkataan yang terbata-bata, Naya membuat Jonathan menatapnya dengan sorot menusuk.
Semakin membayangkannya, semakin membuat kemarahan Jonathan bertambah besar. Sampai akhirnya, dia tanpa basa-basi menutup mulut Naya dengan bibirnya. Hatinya terbakar saat tahu jika Naya disentuh laki-laki lain selain dirinya. Terlebih, di mana saja orang itu menyentuhnya?
"Akan kuhapus semua jejaknya," ucapnya sambil mencengkeram rahang Naya.
Tindakan yang Jonathan lakukan, sangat amat kasar. Naya sampai tidak sadar, jika Jonathan mengoyak paksa pakaiannya, hingga terdengar suara kain yang robek. Kondisi Naya saat ini, sampai tak berbusana sama sekali. Berbeda dengan Jonathan yang masih mengenakan celananya. Hingga laki-laki itu kemudian juga ikut menanggalkan pakaiannya. Membuat dirinya sama-sama tanpa busana.
"Kau milikku, Naya. Aku sudah bilang, kau milikku. Jangan biarkan orang lain menyentuhmu lagi. MENGERTI!" Jonathan berucap dengan nada marah. Napasnya memburu karena perasaan kesal, juga hasrat yang menumpuk, meminta dilepas.
"Tidak, aku tidak melakukan apa-apa. Kami tidak melakukannya," ujar Naya sambil terus menggeleng. Harus berapa kali dia mengatakan? Namun Jonathan seakan memilih tidak peduli. Bukti sudah ada di depan mata.
Tangan Naya bahkan diikat di kepala ranjang. Membuatnya tidak bisa melawan dan hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Jonathan. Dia menatap laki-laki itu dengan sendu. Jonathan selalu seenaknya seperti ini. Kesalahannya dulu karena membiarkan tubuhnya disentuh, membuat Naya kini benar-benar dikekang.
Pasrah saat Jonathan mulai menyentuh dan mereguk kenikmatan dari tubuhnya tanpa peduli, jika tak jauh dari kamar mereka, pesta sedang diselenggarakan. Orang-orang tengah berpesta atas keberhasilan Jonathan dalam meraih kesuksesan. Sedang laki-laki itu sendiri, malah asyik berpesta bersama wanitanya. Jonathan sudah buta. Naya telah membuatnya gelap mata.