Kekesalan Jonathan

1434 Words
Naya menggenggam selimutnya dengan sangat erat. Tubuhnya benar-benar lelah karena harus melayani permainan kasar Jonathan. Tidak di rumah atau di pesta, dia tetap harus melayani laki-laki itu. Bahkan sekarang, Jonathan terus mendekapnya sangat erat. Setelah memakainya, laki-laki itu tertidur pulas namun tidak dengan Naya. Entah kenapa, hatinya mendadak gelisah setelah pertemuannya dengan laki-laki asing tadi. Kepalanya terus memikirkan tentang si pria rambut cokelat yang menolongnya. Naya seperti pernah bertemu dengannya, tapi di mana? Kenapa juga laki-laki itu bisa mengenalnya sementara dia sendiri tidak? Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apa laki-laki itu adalah orang di masa lalunya? "Kau masih memikirkannya? Kau memikirkan laki-laki itu?" Suara berat dan bernada marah yang berasal dari Jonathan, membuat tubuh Naya harus tersentak. Dia kaget sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ternyata, Jonathan masih belum tidur. Mata laki-laki itu terbuka lebar dan Jonathan seakan tahu apa yang kini tengah Naya pikirkan. "Katakan padaku, siapa laki-laki itu?" Tubuh mungil Naya, langsung dibalik dengan cepat oleh Jonathan. Menariknya bangun dan membuat mereka harus terduduk dengan mata yang kini saling bertatapan. Naya menatap iris mata hitam tajam milik Jonathan dengan takut. Bukan karena dia buruk rupa atau jelek' melainkan karena aura gelap yang melingkupi di sekelilingnya. Naya tidak bisa melupakan saat dia melihat Jonathan yang menembakkan peluru ke arah Vincent di klub. Dia tahu saat itu keadaan sedang sangat kacau, dan Jonathan tidak sengaja menembak ayahnya sendiri. Namun karena Naya menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dia jadi takut dengan laki-laki yang kini tengah memeluknya sangat erat. "Naya, jangan mengabaikanku." Merasa tidak ada jawaban, dengan kasar Jonathan mencengkeram rahang Naya. Membuat agar wajahnya mendongak. Setelah menghukum wanitanya, dia masih belum puas. Jonathan masih merasakan hatinya yang terbakar saat tahu kalau Naya sempat disentuh pria lain. Tidak ada yang tahu, betapa dia sangat kebingungan ketika wanita itu tak kunjung kembali setelah berjalan ke arah toilet. Padahal sudah hampir tiga puluh menit berlalu. Firasatnya merasakan ada sesuatu yang tidak beres, ketika melihat dua orang mencurigakan. Meski beruntung, wanita itu baik-baik saja dan dia melihat dua laki-laki yang mencurigakan sudah diseret oleh petugas keamanan. Namun justru, kenyataan saat Naya sempat disentuh laki-laki lain telah membuatnya marah. Tentu saja, apa yang dirasakannya sangat wajar. Tidak ada seorang pun yang mau jika mainannya dimainkan oleh orang lain. Seperti itulah yang saat ini Jonathan rasakan. "A-aku, aku tidak tahu. Aku b-benar-benar tidak t-tahu," ucap Naya sambil menggeleng. Dia meringis saat cengkeraman tangan Jonathan semakin kuat. Sebelum dengan kesal, laki-laki itu melepaskan tangannya dari rahang Naya. "Dia hanya menolongku. Ada orang yang berniat buruk padaku. Mereka menggedor-gedor pintu toilet dan dia datang menyelamatkanku," tambahnya, menatap Jonathan takut-takut. "Lalu kau membayar dia dengan tubuhmu? Begitu? Semurah itukah harga dirimu?" sinisnya. Ketara sekali, jika Jonathan sangat amat kesal dengan Naya. Sampai Naya tak berani lagi bersuara. Dia menunduk dengan mata berkaca-kaca. Memangnya, dia masih memiliki harga diri? Apa harga dirinya masih ada setelah tubuhnya digilir? Bahkan Jonathan saja memperlakukannya seperti mainan. Memakai Naya seenaknya. Kenapa sekarang laki-laki itu menanyakan soal harga diri? Apa ini, hanyalah permainan untuk merendahkan dia saja? "Kalau kau mau merendahkanku, lakukan saja. Aku memang murahan, tapi aku tidak melakukan 'itu' dengannya," jawab Naya dengan jujur. Namun, Jonathan tetap saja tak puas. Bukti yang dia lihat, cukup memerlihatkan jika Naya memang bermain di belakangnya. "Benarkah? Aku tidak percaya." "Aku tidak peduli kau percaya atau tidak. Tapi, kau sama sekali tidak ada hak untuk melarangku! Kau bukan orang yang membeliku. Kita juga tidak pernah terlibat dalam hubungan kerjasama apa pun. Kau menahanku semaumu," ucap Naya dengan serius. Namun tatapan matanya, menunjukkan kesedihan yang mendalam. Sudah dari kemarin Naya ingin mengatakan ini. Jonathan bukan tuannya. Laki-laki itu bukan orang yang membelinya, tapi dengan seenaknya, Jonathan bisa menggunakan Naya begitu saja. Meski Jonathan selalu memerhatikan semua keperluan Naya, tapi tetap saja mereka tak terikat dalam perjanjian apa pun. Dia di sini atas dasar terpaksa. "TAPI KAU MILIKKU SEKARANG!" Ucapan yang akan membalas kata-kata Jonathan harus tertahan saat Naya dibuat tersentak oleh bentakan keras laki-laki itu. Air matanya tanpa sadar ikut meleleh. Namun dia berusaha untuk menutupinya sekuat tenaga, meski sudah terlambat, karena Jonathan sudah melihatnya. Mata Jonathan membesar saat melihat linangan air mata jatuh di pipi halus wanita itu. Jarang, atau mungkin ini baru pertama kalinya dia melihat Naya menangis? Apa dirinya terlalu kasar dalam membentak? Jonathan hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain, mulutnya terkunci. Dia tidak mau minta maaf. Ini salah Naya yang memancing emosinya. Jadi, tidak seharusnya dia minta maaf. "Kau harusnya perhatikan mantan tunanganmu itu. Dia yang menyuruh orang-orang untuk berbuat jahat padaku!" Naya berujar dengan pelan. Mengusap lembut air matanya dan berusaha untuk tidak membuat laki-laki marah. Meski begitu, Naya ingin Jonathan tahu kalau semua ini karena Sherly. Walau pun dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya niat Sherly melakukan ini. Namun saat laki-laki yang menolongnya tadi mengatakan bahwa semua ini adalah ulah mantan tunangan Jonathan, dia sepertinya paham apa yang Sherly inginkan. Naya langsung mendorong tubuh kekar Jonathan yang memeluknya erat. Dia bangkit dari ranjang dan berniat untuk memakai pakaiannya kembali. Tidak, pakaiannya sudah rusak, hanya ada kemeja milik Jonathan yang tergeletak di lantai dan Naya tentu tidak memiliki pilihan lain selain memakainya. Saat tengah memakai pakaiannya, matanya teralihkan pada kamar yang sangat berantakan akibat ulah mereka berdua. Kamar mewah yang hanya diisi oleh orang-orang berdompet tebal itu, kini menjadi sangat berantakan bak kapal pecah. Siapa lagi pelakunya jika bukan oleh Jonathan? Naya tidak tidak mau menjelaskan bagaimana laki-laki itu melakukannya. Satu hal yang pasti, dia menjadi susah berjalan karena perbuatan Jonathan. Terasa sakit saat melangkah, membuatnya ingin pulang dan berendam di dalam air hangat. Sayangnya, keinginannya dengan Jonathan sangat bertentangan. Saat Kiana baru saja selesai memakai baju, Jonathan tiba-tiba kembali menarik lengannya dan membuat dia terjatuh di ranjang. Tangan kekar itu melingkar di tubuhnya. "Apa maksudmu ini semua perbuatan Sherly?" "Memang kau memiliki tunangan selain dia?" Jonathan menatap Naya dengan tatapan serius. "Tidak, mereka hanya teman tidur sama sepertimu." Semua wanita yang dekat dengannya, tidak pernah sekali pun Jonathan anggap sebagai kekasih. Partner ranjang. Tak lebih dari itu, mereka saling melengkapi. Para wanitanya butuh uang dan dia butuh kepuasan. "Jika semua ini adalah ulahnya, aku akan membuatnya membayar apa yang dia lakukan." Perasaan Naya menjadi kesal saat Jonathan sudah mengklaimnya sebagai wanita milik laki-laki itu. "Ya dan tolong katakan padanya untuk jangan menggangguku." Jika Sherly kesal, harusnya wanita itu tidak menargetkan dia untuk menjadi pelampiasan dari amarahnya. Orang yang seharusnya dibenci atau patut dihukum adalah Jonathan. Kenapa wanita itu tidak menyuruh seseorang untuk menghajar laki-laki ini saja? "Itu pasti, tidak ada yang boleh mengganggu apalagi menyentuhmu selain aku, termasuk laki-laki itu. Naya, aku masih marah denganmu," bisik Jonathan di telinga Naya. Laki-laki itu menghembuskan napas panasnya di sana. "Tapi aku tidak salah. Aku tidak melakukan apa pun!" Kekesalan Naya kembali tersulut mendengar perkataan Jonathan, meski air matanya kini sudah surut. Namun anehnya, laki-laki itu memilih diam dan tanpa mau membalasnya. Naya menghembuskan napasnya kasar, melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul dua malam. Pesta pasti sudah selesai. Namun sang pemilik acara justru meninggalkannya begitu saja . Sudah dapat dipastikan, esok paginya berita miring tentang dia dan Jonathan pasti akan tersebar luas. Naya takut. Dia takut kalau publik mulai mengorek tentang masa lalunya, karena lambat laun semua mata pasti akan mengintai gerak-geriknya. "Nathan, lepas. Aku mau pulang. Pesta itu, kau meninggalkannya." "Tidak, biarkan saja mereka mencari kita. Pesta itu sangat membosankan." "Tapi aku ingin pulang." Tidak. Naya tidak bisa membiarkan semua orang tahu kalau dia dan Jonathan baru saja menghabiskan malam yang panas bersama. "Jangan memancing emosiku kembali, Kiana. Biarkan mereka, aku lelah. Kita akan pulang saat pagi," ucap Jonathan sambil menarik Naya dan langsung menciumnya tanpa basa-basi. Membuat Naya langsung berpikir, jika Jonathan akan kembali bertindak kasar. Namun yang terjadi kali ini sedikit berbeda, bibir Jonathan memagut bibir Naya dengan lembut. Tidak kasar atau bringas seperti sebelumnya. Jonathan, seolah ingin menikmati saat-saat dia menyentuh wanita itu. Bahkan dengan perlahan, tangannya mengusap bekas kemerahan karena ikatan tali di pergelangan tangan Naya. Dia seolah menunjukkan rasa bersalahnya. Bahkan, tanpa disangka, Jonathan membersihan air mata Naya dengan bibirnya. Tindakannya, jelas membuat Naya terkejut. Sampai setelahnya, Jonathan lantas melepaskan bibirnya. "Aku tidak akan menyentuhmu. Tidurlah, kau pasti lelah." Setelah mengatakan hal tersebut, Jonathan lantas membawa Naya kembali berbaring. Memeluk wanita itu dari depan dan berusaha memejamkan mata. Namun Naya yang masih tidak yakin dan merasa aneh, hanya diam memerhatikan Jonathan. "Tidur Naya, atau kaumau kita mengulang ronde ke lima?" Mata Naya terbelalak saat mendengar kata-kata Jonathan. Kepalanya refleks menggeleng dan dengan cepat memejamkan matanya. Jonathan yang melihatnya langsung menyunggingkan senyum miring. Dia membiarkan Naya terlelap dalam pelukannya. 'Aku bisa memberikanmu apa pun yang kaumau, tapi tidak dengan kebebasan.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD