Mata safirnya membidik lekat lelaki di hadapannya. Guratan di dahinya tampak terlihat. Rasa heran muncul begitu sadar akan kehadiran lelaki yang sebelumnya tidak dia sangka. Dari sekian luasnya ibukota, kenapa orang yang harus Naya temui adalah George? Desah napas terdengar berhembus, bersamaan dengan dia yang memilih melangkah pergi ke sisi lain tanpa menjawab pertanyaan sok akrab lelaki itu. Naya tidak ingin dekat dengan George. Sayangnya, suara langkah kecil terdengar beriringan dengan langkah kakinya. Seperti lelaki itu tengah membuntutinya. Hingga dia harus jengkel bukan kepalang dan membalik badan tanpa aba-aba. Jari telunjuknya mengarah pada lelaki yang kini juga ikut berhenti. "Bisa tidak, kau tidak mengikutiku? Itu sangat mengganggu." Bukan merasa tersinggung atau apa oleh kalim

