bc

Terikat Perjodohan dengan Pewaris Dingin

book_age18+
78
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
HE
love after marriage
age gap
fated
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
bold
office/work place
enimies to lovers
love at the first sight
friends with benefits
addiction
like
intro-logo
Blurb

Anggita Larasati Notowirayan selalu hidup seperti putri keluarga ningrat Jakarta. Cantik, dimanja, dan dijaga semua orang.

Ia pikir Ario Kusumaningrat adalah cinta yang akan memilihnya.

Sampai ia sadar, laki-laki itu justru diam-diam tertarik pada Mira, sahabatnya sendiri.

Yang lebih menyakitkan, Mira bukan hanya sahabat biasa. Ia adalah anak dari perempuan yang dulu menghancurkan keluarga Notowirayan.

Saat cinta pertama Anggita hancur, datang Adiwangsa Hadiningrat—pria dingin, angkuh, sempurna, dan dijodohkan dengannya tanpa persetujuan siapa pun.

Adi awalnya membenci Anggita yang ceroboh dan terlalu banyak bicara. Tapi semakin Anggita terluka, semakin ia ingin memilikinya.

Karena bagi Adi, gadis menyebalkan itu ternyata satu-satunya perempuan yang mampu membuat hidup dinginnya berantakan.

chap-preview
Free preview
Chapter 1 - Harapan hati Anggita
“Anak Mama cantik sekali malam ini. Mau ke mana, Anggita Larasati?” tanya Mama Kus sambil menatap anak gadisnya dari ruang keluarga. Anggita yang baru saja turun dari tangga langsung tersenyum. Ia sudah rapi dengan gaun berwarna lembut yang membuat kulitnya terlihat semakin cerah. Rambut panjangnya dibiarkan terurai, jatuh manis di bahunya. “Mama ini lebay banget, deh. Tiap hari juga bilang Anggi cantik,” jawab Anggita sambil berdiri di depan cermin besar. Mama Kus tersenyum kecil. Tangannya masih sibuk merangkai bunga di dalam vas kristal. Sejak dulu, rumah keluarga Notowirayan memang tidak pernah lepas dari bunga segar. Kata Mama Kus, rumah tanpa bunga terasa seperti perempuan tanpa senyum. “Karena memang anak Mama cantik. Masa Mama harus bilang jelek?” balas Mama Kus. Anggita tertawa pelan. Ia mengambil parfum kecil dari meja, lalu menyemprotkannya ke leher dan pergelangan tangannya. Setelah itu, parfum itu ia masukkan ke dalam tas mahal yang sudah menunggu di atas meja kecil dekat sofa. “Mama jangan tunggu Anggi buat makan malam, ya. Anggi pergi sama teman-teman dari Sydney.” Mama Kus langsung mengangkat alis. “Teman-teman dari Sydney?” “Iya.” “Mira ikut?” “Ikut,” jawab Anggita santai. “Yang lain?” “Ada beberapa orang juga.” Mama Kus memperhatikan wajah anaknya. “Ario juga?” Tangan Anggita yang sedang merapikan isi tas langsung berhenti sebentar. Hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat Mama Kus tersenyum menggoda. “Nah, kan. Mama baru sebut nama Ario saja wajah kamu sudah berubah.” “Apaan sih, Ma,” ucap Anggita sambil pura-pura sibuk menutup tasnya. “Ario cuma teman.” “Teman yang bikin kamu dandan hampir dua jam?” “Ma!” Mama Kus tertawa pelan. “Mama cuma tanya.” Anggita duduk sebentar di samping mamanya. Pipinya sedikit memerah, tapi ia berusaha terlihat biasa saja. Ario Kusumaningrat memang bukan orang asing di hidup Anggita. Mereka sudah saling kenal sejak sama-sama berada di Sydney. Ario tampan, ramah, dan berasal dari keluarga yang baik. Setidaknya, itu yang selalu dikatakan orang-orang tentangnya. Dan bagi Anggita, Ario selalu punya cara untuk membuatnya merasa diperhatikan. “Mama jangan mulai ceramah, ya,” kata Anggita cepat sebelum mamanya bicara lebih jauh. Mama Kus meletakkan bunga yang sedang ia pegang, lalu menatap anaknya dengan lembut. “Mama belum ceramah.” “Wajah Mama sudah kelihatan mau ceramah.” “Memangnya wajah Mama seperti apa?” “Seperti mau bilang, ‘hati-hati sama laki-laki, nduk.’” Mama Kus tertawa kecil. “Ya memang Mama mau bilang begitu.” Anggita langsung menyandarkan punggungnya ke sofa. “Tuh, kan.” “Anggi,” panggil Mama Kus lebih lembut. “Mama cuma tidak mau kamu terlalu percaya sebelum waktunya.” “Mama tidak suka Ario?” “Bukan begitu. Mama tidak punya alasan untuk tidak suka. Ario sopan. Keluarganya juga baik.” “Terus?” Mama Kus diam sebentar. Matanya menatap Anggita dengan cara yang membuat gadis itu sedikit gelisah. “Perempuan itu kadang terlalu cepat merasa dirinya menjadi satu-satunya. Padahal laki-laki belum tentu berpikir sejauh itu.” Anggita terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah kenapa membuat dadanya seperti tersentuh sesuatu. Namun ia cepat-cepat menepis rasa aneh itu. Malam ini ia tidak mau memikirkan hal buruk. Malam ini ia hanya ingin bahagia. “Ario baik, Ma,” kata Anggita pelan. “Mama harap memang begitu.” “Dia selalu baik sama Anggi.” Mama Kus tersenyum, tapi senyumnya tidak sepenuhnya lepas. “Kalau begitu, jaga diri baik-baik. Jangan membuat Papa kamu khawatir.” Baru saja Mama Kus selesai bicara, suara mobil terdengar masuk ke halaman rumah. Anggita langsung menoleh ke arah jendela besar. “Papa pulang?” Mama Kus melirik ke luar. “Sepertinya.” Anggita langsung berdiri cepat. “Waduh, Anggi harus pergi sekarang sebelum Papa mulai tanya Anggi mau ke mana, sama siapa, pulang jam berapa, duduk di mana, makan apa.” Mama Kus tertawa. “Papa kamu cuma sayang.” “Sayang sih sayang, Ma. Tapi kadang lebih mirip komandan keamanan.” “Anggita Larasati,” tegur Mama Kus, tapi matanya ikut tersenyum. Anggita sudah hendak berlari kecil ke arah pintu ketika pintu utama terbuka. Raden Mas Wirayanto masuk dengan setelan kerja yang masih rapi. Wajahnya lelah, tapi begitu melihat Anggita, ekspresinya langsung berubah lembut. “Lho, putri Papa mau ke mana cantik-cantik begini?” Anggita berhenti di tengah langkah. “Papa…” Wirayanto menatap putrinya dari atas sampai bawah, lalu menghela napas dramatis. “Waduh. Anak Papa sudah besar sekali. Bahaya ini.” Anggita tertawa dan langsung menghampiri ayahnya. “Papa mulai lagi, deh.” “Papa cuma tanya. Mau ke mana?” “Makan malam sama teman-teman Sydney.” “Teman yang mana?” “Banyak, Pa.” “Banyak itu siapa saja?” Anggita menoleh ke Mama Kus dengan wajah meminta bantuan. Mama Kus hanya tersenyum sambil pura-pura sibuk dengan bunganya. “Pa, Anggi sudah hampir telat,” rengek Anggita. Wirayanto menyipitkan mata. “Ada Ario?” Anggita langsung diam. Wirayanto mengangguk pelan seolah sudah mendapatkan jawaban. “Oh, jadi ada Ario.” “Papa jangan mulai, ya.” “Papa belum mulai.” “Wajah Papa sudah seperti mau mulai.” Mama Kus yang mendengar itu langsung tertawa kecil. “Anakmu hafal sekali wajah orang tuanya.” Wirayanto ikut tersenyum, lalu mengusap kepala Anggita dengan sayang. “Pulang jangan terlalu malam. Sopir tunggu di luar?” “Iya, Pa. Pak Darto sudah siap.” “Jangan pindah mobil tanpa kasih kabar. Jangan matikan handphone. Kalau ada apa-apa langsung telepon Papa atau Mas Wira.” “Papa, Anggi cuma makan malam. Bukan pergi perang.” “Buat Papa, membiarkan anak perempuan secantik kamu keluar malam itu sudah seperti melepas prajurit ke medan perang.” Anggita tertawa. “Papa lebay.” “Papa realistis.” Anggita tidak mau berdebat lebih lama. Ia segera meraih telapak tangan ayahnya, lalu menciumnya cepat seperti kebiasaannya sejak kecil. “Anggi pergi dulu ya, Pa. Jangan marah. Anggi janji kabari Mama begitu sampai.” Belum sempat Wirayanto menjawab panjang, Anggita sudah berbalik dan setengah berlari menuju pintu. “Anggita! Jangan lari pakai heels!” seru Mama Kus dari ruang keluarga. “Iya, Ma!” Tapi Anggita tetap mempercepat langkahnya. Di depan rumah, Pak Darto sudah berdiri di samping mobil hitam keluarga. Sopir itu segera membukakan pintu belakang saat melihat Anggita keluar. “Malam, Den Ajeng.” “Malam, Pak Darto. Kita langsung jalan ya. Nanti telat.” “Baik, Den Ajeng.” Anggita masuk ke mobil sambil masih tersenyum. Dari jendela, ia melihat Papa dan Mama berdiri di ambang pintu. Papa masih memasang wajah khawatir, sementara Mama melambaikan tangan kecil. Anggita membalas lambaian itu dengan ceria. Mobil mulai bergerak meninggalkan halaman rumah Notowirayan. Di dalam mobil, Anggita menarik napas pelan. Ia menatap bayangannya di kaca jendela. Entah kenapa, hatinya terasa sangat ringan malam itu. Seperti ada sesuatu yang indah sedang menunggunya. Ponselnya bergetar di dalam tas. Anggita segera mengambilnya. Sebuah nama muncul di layar. Ia tersenyum sebelum membaca pesan itu. Namun senyum itu perlahan memudar saat pesan kedua masuk menyusul pesan pertama. Anggita menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama. “Mau langsung ke restoran, Den Ajeng?” tanya Pak Darto dari depan. Anggita tidak langsung menjawab. Matanya masih menatap pesan itu. Lalu perlahan, ia menggenggam ponselnya lebih erat. “Iya, Pak,” jawabnya akhirnya. “Langsung ke restoran.” Mobil terus melaju membelah malam Jakarta. Anggita belum tahu apa yang sedang menunggunya di sana. Ia hanya tahu satu hal. Untuk pertama kalinya malam itu, rasa bahagia di dadanya mulai terasa sedikit tidak tenang.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
779.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
999.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
370.7K
bc

Not just, the Beta

read
355.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook