Alfa mengacak rambutnya frustrasi. Kenapa sesulit itu menaklukan hati Lea? Kenapa sesulit itu menjadi api untuk melelehkan gunung es?
"Apa emang sesusah ini menaklukan hati perempuan?" monolog Alfa.
Alfa terus memikirkan cara bagaimana untuk menaklukan hati Lea, terlebih lagi ia harus bersaing dengan sang kapten basket, Irsyad. Pria itu memilih pergi ke meja belajarnya kemudian membuka laptop, berharap mendapat pencerahan setelah mencari cara di Google.
"Kenapa caranya menjijikan semua?" monolognya lagi.
Ia terus men-scroll kemudian memilih untuk menutup laptopnya. Bukannya mendapat pencerahan, Alfa justru semakin pusing.
"Besok aja omongin sama Lea," ujarnya, kemudian memilih untuk tidur.
*****
Ke esokan paginya, Alfa dapat melihat Lea sedang berjalan beriringan dengan Irsyad. Irsyad terus saja menggoda Lea, tetapi gadis itu hanya memasang ekspresi datarnya, seolah Irsyad tidak ada di sebelahnya.
Alfa memilih untuk tidak mengganggu mereka berdua, menurut Alfa mengganggu seseorang yang sedang berjuang adalah cara seorang pengecut. Dirinya memilih menuju ke rooftop sekolah untuk menjernihkan pikirannya. Setidaknya ia tidak belajar dengan isi kepala yang tidak tenang dan uring-uringan.
Sesampainya di rooftop Alfa dapat melihat seseorang di sana, orang itu adalah Lia, yang Alfa ketahui merupakan saudari tirinya Lea.
"Lo ngapain di sini?" tanya Lia.
"Pengin aja," jawab Alfa seadanya.
Lia hanya mengangguk, dan setelahnya hanya ada keheningan menemani mereka berdua.
"Lo suka sama Lea?" tanya Lia memecahkan keheningan dan Alfa mengangguk.
"Enak ya jadi Lea, dia bukan orang baik tapi banyak orang yang suka sama dia," ujar Lia dengan nada lirih.
Alfa melirik sebentar ke arah Lia. Menurutnya gadis itu sedang merendahkan dirinya sendiri sembari mejelekan Lea.
"Kenapa lo suka sama Lea?" tanya Lia lagi.
"Karena walaupun dia bukan orang baik, dia nggak pernah ngomongin orang apalagi sampai ngejelekin orang itu," jawab Alfa yang membuat Lia diam seketika, kehabisan kata-kata untuk berbicara.
Alfa memilih untuk meninggalkan rooftop sekolah, alasannya memilih rooftop untuk menjadi tempat mencari ketenangan ternyata salah, di sana ia justru mendapatkan kekesalan setelah mendengar ucapan Lia.
Pria itu sebenarnya menyetujui ucapan Lia. Lea memang bukan gadis yang baik, dia tidak pintar, dan pembuat onar. Kenapa Alfa bisa jatuh cinta dengan bad girl seperti itu?
Alfa sendiri belum menemukan jawabannya, yang jelas, ia hanya ingin membuat gadis itu bahagia, menjadi pundak untuk dijadikan sandaran saat gadis itu merasa lelah, menjadi telinga saat gadis itu membutuhkan teman cerita, Alfa ingin selalu melindungi Lea.
Jam kini sudah menunjukkan pukul sembilan, artinya KBM sudah dimulai sedari tadi. Alfa tentu tidak susah untuk masuk ke kelasnya, ia bisa langsung bilang jika dirinya ada urusan mendadak bersama para pengurus OSIS, licik memang, tapi itu semua demi dirinya yang tidak terkena hukuman.
Sebenarnya Alfa bukan tipe orang yang seperti itu, ia akan bertanggung jawab atas kesalahannya, tetapi untuk saat ini, Alfa sedang sangat malas untuk menjalankan sebuah hukuman. Cukup hukuman dari Lea yang tidak pernah membalasnya cintanya.
*****
Lea berjalan sendirian menuju kantin. Sedari awal masuk sekolah, dirinya memang tidak memiliki teman. Ia malas berteman dengan siapapun di dunia ini, kecuali musik. Langkahnya terhenti saat dirinya berpapasan dengan Alfa. Saat Lea ingin menghindar, Alfa mencekal tangannya dan menatap lekat manik mata dengan tatapan tajam itu.
"Bisa bicara?" tanya Alfa.
"Lo tahu jawabannya,” ucap Lea. “Gue lagi malas berinteraksi sama orang," lanjutnya dengan nada malas.
"Kita perlu bicara," ucap Alfa dan Lea memilih untuk mengalah.
Alfa membawa Lea menuju ruang OSIS, di sana tidak terdapat siapa-siapa, hanya mereka berdua, Alfa dan Lea.
"Apa lagi?" tanya Lea.
"Kita beneran nggak bisa bersama?" tanya Alfa dan Lea hanya menghembuskan nafasnya kasar.
"Love is broken, Al," ucap Lea.
Alfa menarik tangan Lea kemudian menggenggamnya dengan lembut. "Apa yang lo takutin?"
Lea hanya menunduk, tidak kuat menatap wajah Alfa yang begitu dekat dengan dirinya. Alfa menarik dagu Lea agar gadis itu menatap ke arahnya, ia dapat melihat keputus asaan yang terdapat di dalam mata Lea.
"Keluarin semuanya, Le. Cerita sama gue," ucap Alfa dengan lembut.
Lea segera menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Alfa, ia sudah tidak kuat. Ia sudah tidak bisa memikul beban ini sendirian, Lea butuh teman.
Alfa mengelus kepala Lea dengan lembut, menangkan gadis yang berada dalam dekapannya. "Kalau kamu mau nangis, nangisnya di depan mata saya, biar saya bisa ngehapus air mata kamu," ucap Alfa dan Lea hanya mengangguk sembari terisak.
"Gue capek," lirih Lea.
Alfa hanya diam, terus menenangkan Lea, sekarang ia tau apa yang gadis itu rasakan, Lea memiliki banyak masalah, Lea butuh teman untuk berbagi keluh kesahnya.
Detik berikutnya Lea merasakan gejolak aneh di dalam tubuhnya. Sial! Aza datang di saat yang sangat tidak tepat. Lea segera mendorong tubuh Alfa dan mundur beberapa langkah.
"Keluar dari sini sekarang, Al!" perintah Lea namun Alfa hanya diam karena dirinya tidak mengerti.
"Keluar, Alfa!" perintah Lea lagi namun dengan nada yang lebih tinggi.
"Lo kenapa?" tanya Alfa bingung.
"Keluar sekarang sebelum gue nyakitin lo!" ucap Lea. "Keluar!"
Alfa tidak keluar, ia justru menarik Lea kembali ke dalam pelukannya, namun kali ini Lea membrontak. "Lepasin! Keluar sekarang, Al!" pekik Lea.
"Gue nggak peduli lo mau nyakitin gue atau bahkan sampai ngebunuh gue, lo ingat? Gue akan selalu jadi obat penenang untuk lo," ujar Alfa dan Lea kembali membrontak.
"Gue gila, Al. Lo nggak pantes pacaran sama cewe gila kaya gue," ucap Lea masih dengan membrontak dalam pelukan Alfa.
"Lo tarik nafas sekarang, dan tenangin diri lo," ujar Alfa dan Lea melakukannya sesuai dengan perintah Alfa.
Tubuh Lea sedikit menenang sekarang. Ia melepaskan dirinya dari pelukan Alfa kemudian menangis sejadi-jadinya. Menarik frustasi rambutnya kemudian mulai mengeluarkan kata-kata penuh keputus asaan.
Alfa menghampiri gadis itu, menenangkan Lea dengan terus menyuruh gadis itu menarik nafasnya perlahan.
"Ambilin obat gue," ujar Lea dengan suara yang lemah namun Alfa menggeleng.
"Obat lo udah ada di depan mata lo, peluk gue kalau lo butuh ketenangan," ujar Alfa.
"Lo baik, lo nggak bisa sama gue," ucap Lea. "Tolong jatuh cinta sama cewek lain, Alfa."
"Apa gue harus jadi jahat supaya kita bisa bareng-bareng?" tanya Alfa.
"Gue nggak butuh cewek baik, Le. Gue cuma butuh dan mau sama lo, hanya lo."
"Gue siap jadi telinga buat mendengar keluh kesal lo, pundak untuk dijadikan sandaran saat lo capek, dan raga untuk lo berlindung."
"Walaupun hubungan kita hanya sebatas teman."