Lea masih bersandar di pundak Alfa sembari berusaha menahan air matanya yang sedari tadi memberontak untuk keluar.
"Kalau lo mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan," ujar Alfa dan Lea segera menjauhkan dirinya dari Alfa.
"Kenapa lo baik banget sama gue?" tanya Lea dan Alfa hanya tersenyum.
"Lo tahu apa jawabannya."
"Kenapa lo suka sama gue? Bukannya banyak cewek baik yang mau jadi pacar lo?" tanya Lea, lagi.
"Gue macarin yang gue suka, bukan yang orang suka."
Lea hanya diam, bingung mau menjawab apa, Alfa memang benar-benar selalu menjadi obat bius untuknya.
"Le," panggil Alfa lembut, yang membuat Lea menoleh ke arahnya.
"Untuk sekarang, apa lo udah mau jadi pacar gue?"
Lea hanya diam, ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Ia tidak ingin kejadian di masa lalu terulang kembali.
"Kayaknya gue pulang dulu, udah sore," jawab Lea mengalihkan pembicaraan yang membuat Alfa tersenyum miris.
"Gue antar," ujar Alfa dan Lea hanya mengangguk.
Lea dan Alfa akhirnya pergi menuju garasi, dan Alfa segera megantarkan Lea menggunakan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Lea hanya menatap ke arah jedela. Pikirannya kini fokus pada ucapan yang Alfa lontarkan kepadanya.
Haruskah sekarang? Haruskah Lea membuka kembali hatinya dan melupakan semua kejadian buruk di masa lalunya? Atau Lea harus memendam perasaannya dan menguburnya dalam-dalam?
Tak terasa, mobil kini sudah sampai di depan pekarangan rumah Lea, Lea segera keluar dari mobil Alfa dan masuk ke dalam rumahnya. Sementara Alfa kini sudah menghilang dari pekarangan rumah Lea.
Lea kini sudah berada di dalam rumahnya, hal yang pertama ia lihat adalah Lia yang sedang tersenyum sinis ke arahnya. Dirinya tidak menghiraukan gadis yang menurutnya sangat tidak jelas. Ia lebih memilih memasuki kamarnya dan istirahat untuk menenangkan pikirannya.
*****
Saat sampai di dalam kamar, mata Lea tertuju pada sebotol obat penenang yang terletak di atas meja belajarnya. Lea kemudian mengambil dan menatap botol obat tersebut. Seketika pikirannya tertuju pada ucapan yang Alfa lontarkan kepadanya.
Bunyi notifikasi dari Line membuat Lea meletakan kembali obat tersebut dan membuka ponselnya. Ternyata Line tersebut dari Alfa.
Alfa Bagaskara : Buang semua obat penenang yang ada di kamar lo, kalau lo butuh ketenangan, gue siap jadi ketenangan untuk lo.
Sial, Alfa benar-benar bisa membuat hati seseorang melayang dan mabuk kepayang.
Lea mengambil kembali obat tersebut, mengamati obat itu dengan intens. Memori tentang bagaimana kedekatannya dengan Alfa tiba-tiba saja berputar di kepalanya. Alfa yang menyebalkan, Alfa yang cerewet, Alfa yang melindungi, dan Alfa yang menjadi obat bius untuknya.
"Lo nggak boleh jatuh cinta, Lea!" Aza tiba-tiba saja berbicara saat Lea sedang melihat pantulan dirinya di cermin.
"Lo nggak boleh bodoh karena cinta!"
Lea hanya diam, ia bingung. Ia merasa dirinya benar-benar gila. Sampai kapan ia akan sembuh? Kapan penyakitnya akan hilang dan ia dapat hidup dengan tenang?
"Gue nggak butuh ucapan lo, Aza!" ketus Lea dan Aza hanya menyeringai.
"Lo bodoh! Cinta itu hanya membuat seseorang patah hati!" teriak Aza.
"Jangan bodoh, Lea!"
Lea benar-benar merasa kesal. Ia ingin Aza menghilang dari hidupnya untuk selamanya. Ia membenci Aza, Lea membenci Aza.
"Gue nggak butuh nasehat dari lo! Pergi!" pekik Lea sembari menutupi telinganya agar suara Aza menghilang.
"Lo harus ingat perlakuan Almi ke lo Lea!"
"Lo harus ingat perlakuan Lia dan Zidan!"
"Mereka semua orang yang lo cinta tapi berkhianat, begitu pun dengan kedua orang tua lo!"
"Jangan bodoh, Lea!"
"Jangan mengulangi kejadian di masa lalu!"
"Pergi!" pekik Lea lagi, saat sosok Aza tidak berhenti berbicara dan mengungkit masa lalunya.
Sosok Aza kini sudah menghilang. Lea dapat mengetahuinya karena bayangan dirinya di dalam cermin tidak bergerak. Sekarang, bayangan-bayangan kelam dari masa lalu muncul kembali ke dalam pikiran Lea.
Saat semua orang yang ia cintai mengkhianati dan tidak percaya dengannya. Sekarang, Lea menjadi ragu sendiri dengan sikap Alfa. Apakah Alfa akan mengkhianatinya juga? Apakah Alfa tidak mempercayainya di saat semua orang menyalahkan dirinya? Intinya, Lea tidak mau jatuh ke jurang yang sama. Bagaimanapun, dikhianati dan dikucilkan dengan orang-orang yang ia sayang itu sangat menyakitkan.
Lea menatap kembali obatnya, mengeluarkan beberapa isinya kemudian meminumnya. Ia tidak memperdulikan ucapan Alfa, yang jelas, Lea bisa tenang dengan cara itu.
Obatnya kini sudah tertelan sempurna. Tubuh Lea menjadi sedikit lebih tenang dari tadi.
*****
Alfa kini sedang menikmati waktu makannya di kantin sekolahnya. Di sampingnya sudah ada Catline yang sedari tadi membuatnya risih. Gadis itu kini sedang bergelayut manja di lengan Alfa yang membuat Alfa benar-benar merasa kesal.
Di saat itu pula, Lea datang ke kantin dan langsung melihat pemandangan yang membuat hatinya memanas. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia merasa seperti itu. Bukankah dirinya tidak menyukai Alfa?
Lea yang tadinya ingin ke kantin mengurungkan niatnya dan bergegas pergi entah ke mana. Sementara Alfa yang melihat Lea pergi segera berdiri dari tempatnya dan mengejar Lea.
"Kamu mau ke mana?" tanya Catline namun Alfa tidak menggubrisnya.
Alfa terus memanggil nama Lea namun gadis itu tidak menjawabnya. Lea terus saja melangkahkan kakinya dan Alfa terus mengejarnya.
Ternyata Lea pergi ke rooftop, tempat yang menurutnya bisa menghilangkan rasa kesal. Alfa sudah berada tepat di belakang Lea. Ia memegang pundak Lea dan Lea pun membalikan badannya.
"Gue sama Catline nggak ada apa-apa," ujar Alfa.
"Urusannya sama gue apa?" tanya Lea yang membuat Alfa tertawa getir.
"Gue lupa, kita nggak ada hubungan apa-apa."
Lea juga ikut tertawa getir. Kenapa kejadian ini sangat lucu sekaligus menyakitkan?
"Kenapa gue harus marah saat melihat lo dekat dengan Catline sementara kita nggak ada hubungan apa-apa?" tanya Lea dan Alfa hanya diam, bingung ingin menjawab apa.
"Kenapa gue harus kesal?"
"Lo nggak perlu kesal atau marah," jawab Alfa.
Lea tersenyum sendu. "Harusnya. Harusnya gue nggak kesal dan marah, kan?"
Alfa menatap Lea bingung. "Maksud lo?"
"Kenapa sekarang gue merasa marah dan kesal setelah melihat lo dengan Catline?" tanya Lea.
"Apa lo ... sudah mulai menyukai gue?" tanya Alfa dan Lea mengangkat bahunya.
"Gue harap enggak, dan nggak akan pernah," jawab Lea.
"Sekali pun gue sudah mulai suka dan cinta sama lo, gue akan menjauh, Al."
"Kenapa?"
Lea diam sejenak.
"Kenapa?" tanya Alfa lagi.
"Menurut gue cinta itu omong kosong Al. Gue juga bingung kenapa gue bisa kayak gini ke lo. Tapi gue harap, rasa gue hanya sampai di sini, karena gue nggak mau, dikhianatin dan tinggalin sama orang yang gue cintai untuk kedua kalinya," jawab Lea.
"Gue nggak akan ninggalin dan ngekhianatin lo, Le."
Lea tersenyum sendu. "Maaf, Al. gue nggak mau patah hati untuk kedua kalinya karena percaya sama orang gitu aja."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Lea pergi meninggalkan Alfa dengan perasaan yang masih bingung.
Kenapa sakit banget saat nolak Alfa? Batin Lea.