"Lo itu pembunuh, Lea!"
"Kamu udah bikin Papa malu!"
"Gue kecewa sama lo, Le!"
"Kamu itu pembunuh! Kamu bukan cucu saya!"
"BUKAN GUE YANG NGEBUNUH!"
Lea terbangun dengan keringat dingin yang membasahi dahinya. Sial! Mimpi itu kini datang lagi.
Lea melihat ke sekeliling dan mendapati dirinya sedang berada di ruangan rumah sakit. Sungguh, Lea sangat membenci rumah sakit.
Dirinya kini hanya sendirian, tidak ada orang yang menemaninya dan itu membuat Lea tertawa sinis.
"Siapa yang peduli sama orang gila kayak gue?" monolognya.
Dirinya kini menarik paksa infusan yang berada di tangannya kemudian melepasnya.
Ia berjalan lemas ke arah pintu untuk keluar dari ruangan terkutuk itu.
Saat membuka pintu, dirinya berpapasan dengan Lia yang hendak masuk ke dalam ruang rawatnya.
"Lo mau ke mana?" tanya Lia dan Lea hanya menatap malas ke arahnya.
"Urusannya sama lo apa?" sinisnya.
"Lo itu benar-benar nggak tau diri ya, Le?"
Lea hanya menaikan sebelah alisnya, setelahnya tertawa mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Lia.
"Gue? Nggak tau diri?"
"Apa lo pernah mikir? Di sini sebenarnya siapa yang jadi parasit?"
"Atau, lo mau gue panggil dengan sebutan benalu?" tanya Lea bertubi-tubi.
Wajah Lia memerah mendengar ucapan Lia yang benar-benar menusuk ke dalam hatinya. Ia menatap ke arah Lea dengan ekspresi marah.
"Lo bakal mati, Lea!" pekik Lia yang membuat Lea tertawa.
"Lo mau ngebunuh gue? Silahkan. Bukannya lo itu memang pembunuh ya?" sarkas Lea.
Lia benar-benar dibuat marah. Tangannya terkepal kuat sehingga urat-urat tangannya terlihat.
Lia melayangkan tangannya untuk menampar wajah Lea, tetapi, Lea lebih dulu menahannya sebelum tangan itu sampai ke pipinya.
"Gue bisa jadi lebih jahat kalau lo mau," bisik Lea, penuh dengan penekanan.
Lea meninggalkan Lia yang masih mematung di depan pintu dengan tangan yang terkepal.
"Gue benar-benar akan bikin lo mati, Lea!"
*****
Lea berjalan santai menuju lift. Tidak peduli dengan tatapan-tatapan yang dilontarkan oleh orang-orang kepadanya, ia tetap berjalan.
Saat pintu lift terbuka, tampak seorang pria yang tidak asing lagi bagi Lea. Orang itu adalah Alfa.
"Lea?" panggil Alfa.
Lea hanya menatap Alfa malas kemudian pergi meninggalkan lift tersebut.
Alfa yang melihat hal tersebut segera keluar dari lift dan mengejar Lea.
"Lea!" pekiknya.
Lea hanya menulikan telinganya dan terus berjalan entah ke mana.
Dengan langkah kaki yang besar akhirnya Alfa berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Lea.
Alfa segera menarik lengan Lea dan membawa gadis itu menuju taman yang berada di rumah sakit.
Kedua insan tersebut pun duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
"Lo sakit?" tanya Alfa dan Lea hanya membalasnya dengan decakan.
"Lo sakit apa, Le?" tanya Alfa, lagi.
Lea menjawab dengan ketus. "Bukan urusan lo."
"Lo udah mau pulang apa gimana? Kabur lo ya?" tuduh Alfa dan Lea hanya memutar bola matanya malas.
"Cerewet."
Alfa bangkit dari duduknya yang membuat Lea mendongak ke arahnya.
"Lo mau ke mana?" tanya Lea yang membuat Alfa tersenyum.
"Dia peduli juga ternyata," batin Alfa.
"Mau bawa lo ke ruangan lo lagi. Gue tau lo pasti kabur," jawab Alfa yang membuat Lea ikut bangkit dari duduknya.
"Lo kenapa ribet banget si jadi manusia?" kesal Lea.
Alfa hanya mengedikan bahunya kemudian menarik lengan Lea.
Saat ingin berjalan, tiba-tiba ada sebuah gumpalan kertas yang di dalamnya berisi batu terlempar mengenai dahi Lea.
"Jidat gue!" desisnya.
Alfa segera menoleh ke arah Lea kemudian membawa gadis itu duduk.
"Lo tunggu di sini! Gue mau ambil obat merah." Lea mengangguk.
Sepeninggalan Alfa, Lea mengambil kertas yang menjadi bungkusan batu yang mengenai kepalanya.
Saat melihat tulisan yang berada di kertas tersebut, Lea hanya tertawa sinis kemudian meremat kertas tersebut dan melemparnya ke sembarang arah.
"Lo ngobarin api ke orang yang salah, Aletta." Lea bermonolog.
Tak lama kemudian, Alfa datang dengan obat merah dan plester yang berada di tangannya.
Ia segera mengobati dahi Lea yang tadi terkena lemparan batu tersebut.
"Siapa si orang yang iseng banget ngelempar batu?" tanya Alfa dengan nada kesal.
Lea hanya menahan tawanya. Alfa benar-benar membuatnya selalu bahagia.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja," sindir Alfa dan Lea hanya menaikan sebelah alisnya.
"Ruang rawat lo di mana? Gue antar," ujar Alfa dan Lea hanya bangkit dari duduknya kemudian berjalan mendahului Alfa.
Alfa mengikuti langkah Lea dari belakang, tidak berniat mensejajarkan langkahnya membuat Lea mengerutkan dahinya, bingung.
Namun Lea hanya bersikap tidak acuh dan membiarkan Alfa mengikutinya sampai mereka berdua sampai di depan ruang rawat Lea.
Lea membuka ruangan tersebut dan mendapati semua anggota keluarnya berada di dalam sana. Tidak hanya orang tuanya, Oma dan Opanya pun berada di ruangan itu.
Selma segera menghampiri Lea dengan wajah yang khawatir.
"Kamu dari mana saja, Lea?" tanya Selma dengan nada yang masih panik.
"Apaan, si? Lebay," ketus Lea dan Alfa segera menyenggol lengan gadis itu.
"Maaf, Tante. Tadi saya menjenguk Lea dan Lea meminta jalan-jalan di taman untuk mencari udara segar," jawab Alfa, berbohong.
"Bohong. Lea mau kabur tadi, tapi dicegah sama Alfa."
"Dahi kamu kenapa?" tanya Selma lagi.
"Bisa enggak Mama gak usah tanya-tanya? Berisik," jawab Lea yang lagi dan lagi membuat Selma menahan kesedihannya.
Alfa yang merasa ini adalah urusan keluarga memilih pamit dengan sebelumnya menyalami puncak tangan Selma.
Lea akhirnya sudah memasuki ruangan dan menatap malas seluruh anggota keluarganya, terutama Oma dan Opanya.
"Kamu itu emang nggak pernah bisa diam ya, Lea? Bikin susah orang lain terus," ujar Omanya.
Lea hanya tertawa sinis mendengar ucapan Omanya itu. Lucu, sangat lucu bahkan, pikir Lea.
"Saya pernah nyusahin anda di bidang apa ya?" tanya Lea sinis.
Tiba-tiba saja Lea merasakan hal aneh di tubuhnya. Sial! Sosok itu datang di dalam tubuh Lea.
Lea sekuat tenaga menahannya. Menahan agar sosok Aza tidak menyakiti anggota keluarganya.
"Keluar!" seru Lea yang membuat seluruh anggota keluarganya bingung.
"Gue bilang keluar!" pekiknya dan akhirnya seluruh anggota keluarganya keluar meninggalkan Lea sendirian, ah tidak, berdua bersama Aza.
Lea segera menuju kamar mandi yang berada di kamar rawatnya untuk mencari kaca.
Setelah melihat kaca, lagi dan lagi pantulan dirinya terlihat nyata.
"Kenapa lo muncul?" tanya Lea dengan air mata yang sudah membendung di kelopak matanya.
"Orang tadi udah nyakitin lo, Lea," jawab Aza.
"Gue nggak butuh bantuan lo! Bisa nggak si lo pergi?" tanya Lea, berteriak.
"Kesengsaraan harus dibayar dengan kesengsaraan, Lea," jawab Aza.
"Gue bisa balas itu sendiri! Gue nggak butuh lo!" pekiknya.
Lea menarik rambutnya frustasi memudian memukul-mukul kepalanya menggunakan tangannya sendiri.
"Pergi," lirihnya.
"Gue mohon pergi!" pekiknya dan akhirnya sosok itu menghilang dari dalam cermin.
Kini di cermin benar-benar hanya ada Lea dan pantulan dirinya.
Lea menatap sendiri penampilannya yang terlihat menyedihkan.
"Lo gila, Lea."