Lea sedari tadi hanya mengurung diri di kamarnya. Kedatangan Lia benar-benar membuat dirinya muak dan kesal. Lia selalu bertingkah sok baik di depan Fasha.
Dirinya kini beranjak dari atas kasur dan menuju ke kamar mandi. Lea melihat bayangan dirinya di kaca yang berada di dalam kamar mandi. Bayangan dirinya bergerak seolah hidup yang membuat Lea ketakutan.
"Lo siapa?" tanyanya dengan nada takut kepada bayangan dirinya sendiri.
Bayangan tersebut hanya tersenyum miring membuat Lea semakin ketakutan. "Lo nggak perlu takut. Nama gue Aza. Gue akan melindungi lo." Lea semakin ketakutan saat bayangan itu bicara.
"Gue nggak butuh diri lo! Kenapa lo harus muncul lagi?" teriak Lea seperti orang kesetanan.
"Gue akan ngejagain lo dari orang-orang jahat, Lea." Aza terlihat semakin nyata.
"Gue bisa jaga diri gue sendiri. Gue nggak butuh lo. Pergi!" teriaknya lagi kemudian mengambil pot mini yang berada di dekat washtafle dan melemparnya ke arah kaca tersebut hingga kaca itu pecah.
Lea menarik rambutnya frustasi. Dirinya benar-benar ketakutan sekarang. Sosok itu muncul kembali setelah sekian lama dan Lea membencinya. Ia mengambil pecahan kaca tersebut kemudian menggoreskannya ke pergelangan tangannya, berharap urat nadinya terputus lalu dirinya mati.
"Gue nggak pantas hidup. Gue udah gila!" monolognya sembari terus menggoreskan serpihan kaca tersebut, membuat darah segar terus-menerus keluar dari pergelangan tangannya dan dirinya tidak merasakan sakit apa pun.
"Kenapa lo muncul lagi? Kenapa?" teriaknya lagi.
Lea melempar pecahan kaca tersebut kemudian memojokan dirinya ke pintu toilet sembari terus menarik rambutnya. Suara-suara dari orang-orang di masa lalunya kembali terdengar di telinganya dan ia semakin ketakutan.
"Gue bukan pembunuh," lirihnya.
"Gue bukan pembunuh!"
"Bukan gue yang bikin dia meninggal. Enggak, bukan gue!"
"Bukan gue." Lea menangis sembari terus menarik rambutnya.
"Gue bukan pembunuh."
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar mandi. Diikuti oleh suara Zidan yang berteriak memanggil nama Lea. "Buka pintunya, Le!"
"Lo ngapain teriak-teriak di dalam? Buka pintunya, Lea!"
Lea tidak menjawab. Dirinya hanya diam sembari memandangi pergelangan tangannya yang sudah penuh dengan darah. Jika nyawa harus dibayar dengan nyawa, makan Lea harus mati detik ini juga.
Karena merasa tidak ada jawaban, Zidan mengambil kunci cadangan yang berada di asisten rumah tangganya dan setelah mendapatkannya ia kembali menuju ke toilet kamar Lea. Zidan segera membuka pintu tersebut dan terkejut setelah melihat banyak pecahan kaca di dalam sana. Dirinya segera menoleh ke arah Lea yang ikut terdorong saat pintu terbuka. Ia dapat melihat tatapan Lea kosong sembari mengeluarkan beberapa kata.
"Gue bukan pembunuh."
Zidan segera menghampiri adiknya itu kemudian menggendongnya dan membawanya keluar dari kamar. Zidan melewati beberapa orang yang berada di ruang keluarga. Selma yang melihat putrinya berdarah banyak pun ikut panik dan menyusul Zidan.
Lea kini sudah berada di dalam mobil Zidan dengan Zidan yang duduk di bangku kemudi. Dengan kecepatan cepat, Zidan segera membawa Lea menuju rumah sakit. Di sepanjang perjalanan Lea terus melontarkan kata-kata yang mengatakan bahwa dirinya bukan pembunuh. Zidan sedari tadi terus menggenggam lengan adik kesayangannya itu.
Mobil kini sudah tiba di rumah sakit. Zidan segera keluar dari dalam mobil dan membopong tubuh Lea memasuki rumah sakit tersebut. Para suster dan dokter segera menghampiri mereka dan membawakan tempat untuk menidurkan Lea dan mendorong Lea ke ruangan UGD.
Zidan menatap cemas ke arah ruangan UGD dan berharap adiknya akan baik-baik saja.
Sudah lebih dari setengah jam Zidan menunggu dan dokter belum juga keluar dari ruangan tersebut sehingga membuat dirinya panik. Setelah satu jam, Dokter pun keluar dan Zidan segera menghampirinya.
"Gimana keadaan adik saya, Dok?" tanya Zidan dengan wajah cemas.
"Goresan di tangannya cukup banyak dan ada beberapa serpihan kaca yang masuk ke dalamnya, untungnya dia segera dibawa ke rumah sakit sehingga tidak terjadi infeksi," jelas sang Dokter yang membuat Zidan semakin khawatir.
"Tapi adik saya nggak apa-apa kan, Dok?"
"Untuk sementara dirinya harus banyak beristirahat dan tidak boleh begitu setres. Saya sarankan untuk terapi psikis supaya trauma yang dideritanya menghilang," saran Dokter tersebut dan Zidan pun mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi, kamu sudah boleh menjenguk pasien," ujar sang Dokter kemudian pergi meninggalkan Zidan.
Zidan segera memasuki ruangan UGD tersebut dan melihat Lea yang sedang berbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Pria itu mengusap puncak kepala adiknya kemudian mencium kening Lea. Ia benar-benar merasa gagal menjadi seorang kakak.
"Kenapa lo selalu nyakitin diri lo sendiri?" tanya Zidan, lirih.
Zidan menatap pergelangan tangan kiri Lea yang kini dibalut dengan perban.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka menampilkan Fasha dan Selma yang kini sedang menuju ke arah mereka.
"Sebenarnya Lea kenapa?" tanya Selma sembari menangis menatap putrinya.
"Saya nggak tau. Dia teriak-teriak di dalam kamar mandi dan pas saya buka pintunya, kaca kamar mandi sudah pecah dan tangan Lea sudah mengeluarkan banyak darah," jelas Zidan.
Selma terus menerus memegang lengan kiri putrinya yang dibalut dengan perban putih. "Maafin Mama, Sayang. Mama nggak bisa jaga kamu," lirih Selma sembari menangis.
Fasha sedari tadi hanya diam melihat istrinya yang terus-menerus menangisi Lea. Dirinya juga merasakan kekhawatiran yang sama namun ia memilih untuk memendamnya.
"Coba Papa nggak bawa Lia ke rumah. Lea nggak mungkin kayak gini," ucap Zidan dengan nada marah.
"Apasi yang Papa banggain dari Lia? Dia hanya bikin kita susah, Pa."
"Lia itu adik kamu, Zidan," jawab Fasha, tegas.
"Iya, saya tau Lia itu adik saya. Tapi Papa bisakan nggak usah bikin Lea dan Lia tinggal satu atap?" tanya Zidan dan Fasha hanya diam.
Sementara itu, di luar ruangan Lia hanya bisa mematung mendengar semua pembicaraan keluarganya. Setidak ingin itukah mereka akan kehadirannya di rumah tersebut? Lia hanya mengepalkan tangannya. Menurutnya, Lea sudah benar-benar merebut semuanya dari hidupnya. Gadis itu memutuskan untuk pergi dari tempat itu menuju taman yang berada di rumah sakit tersebut.
Air mata terus mengalir di pipinya. Banyak orang-orang yang menatapnya bingung namun dirinya tidak peduli dan terus melangkahkan kakinya. Lia kini duduk di atas bangku taman dengan air mata yang masih terus mengalir di pipinya.
Ia membenci Lea. Ia membenci Lea yang mendapatkan perhatian dari banyak orang sementara dirinya dikucilkan. Ia terus saja menangis dengan tangan yang mengepal. Kejadian di mana keluarganya lebih menyayangi Lea dibanding dengan dirinya benar-bebar membuat dirinya kesal dan marah.
"Gue benar-benar benci sama lo, Lea," monolognya.
"Orang kayak lo itu nggak pantas hidup."