10. Rooftop and Indoor Court

1027 Words
"Guys! Buat kalian semua jangan lupa datang ke pesta ulang tahun gue, ya! Gue bakal ngadain pesta topeng!" Seruan yang keluar dari mulut Salsa membuat Lea mengerang frustasi lantaran gadis itu mengganggu tidurnya. Hanya karena sebuah pesta dan ia seheboh itu? Lea membenci orang-orang yang terlalu hiperbola. "Sal, lo undang si Lea?" tanya salah satu teman Salsa yang bernama Azri dengan nada meledek. "Ngapain ngundang berandal kayak dia? Yang ada pesta gue rusak." Salsa menjawab sembari menatap sinis ke arah Lea. Lea tidak menanggapi ucapan tersebut. Mengacuhkannya dan menganggapnya sebagai angin lewat saja. Sekalipun diundang, Lea tidak akan pergi ke pesta yang menurutnya sangat alay itu. Tiba-tiba saja ia merasa bahwa ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Saat ia mendongakkan kepalanya, ternyata orang itu adalah Almi, sahabatnya saat kecil. "Kalau kayak gini, gue jadi rindu masa kecil." Almi bersuara. "Lo berubah drastis ya, Le?" "Bahas apaan sih, lo?" Lea bertanya sinis dan kembali memfokuskan pandangannya kepada ponselnya. Almi hanya tertawa getir. Ia menyukai Lea sejak lama, sejak mereka berada di bangku sekolah menengah pertama atau bahkan sejak mereka kecil. "Lo lebih dekat sama Alfa dan Irsyad ya dibanding sama gue? Padahal, kan, yang kenal duluan sama lo itu gue." Almi berucap sembari tersenyum miris. Lea yang sudah muak dengan ucapan Almi segera bangkit dari bangkunya dan meninggalkan kelas. Saat melewati barisan Salsa, samar-samar ia mendengar wanita itu sedang menggosipinya. Gadis itu tidak mau ambil pusing. Ia sedang tidak bersemangat untuk adu argumen bersama orang-orang yang tidak penting itu. Lea berjalan menyusuri koridor dengan earphone berwarna putih yang berada di telinganya. Ia benar-benar malas belajar dan memutuskan untuk membolos ke rooftop. Semenjak kehadiran Lia di sekolahnya, sekolah menjadi tempat kedua yang paling ia benci setelah rumah. Dirinya kini sudah sampai di atas rooftop. Melihat sekeliling dari atas sana memang sangat menenangkan. "Suka ke sini juga?" Suara dari seseorang yang tidak familiar terdengar di telinga Lea. Earphone yang tadi ia pakai sebelumnya sudah ia kalungkan di leher. Lea mengacuhkan pertanyaan itu dan tetap fokus menatap langit biru yang menurutnya dapat membuat hati tenang. "Gue dikacangin nih jadinya?" Irsyad kembali bersuara. Lea tetap diam dan Irsyad akhirnya memilih untuk menghampiri gadis itu dan berdiri di sebelahnya. "Lo bolos?" Lea mengangguk. "By the way, lo diundang ke partynya Salsa?" Lea hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. "Bagus deh kalau enggak diundang, jadinya nanti malam gue bisa ajak lo jalan," ujar Irsyad dan Lea segera menanggapinya. "Gue nggak mau." "Kapan lo mau buka hati buat gue?" tanya Irsyad dan Lea hanya diam. Setelah melihat kedekatan Irsyad dengan Lia, Lea jadi beranggapan bahwa mereka mempunyai hubungan di masa lalu. "Lo sama Lia aja. Dia udah pindah ke sini, kan? " ucap Lea, dingin. "Pasti yang waktu itu Zidan kenalin sebagai adiknya Lia, ya? Dia bilang ke lo dan teman-teman lo kalau adik dia cuma satu, yaitu Lia. Benar, kan?" tanya Lea yang bisa terbilang panjang. Irsyad bingung harus menjawab apa. Saat ia sudah menemukan hati yang baru kenapa hati yang lama harus muncul? "Gue emang mau jatuh cinta. Tapi gue bosan sama orang-orang yang gue temuin," ujar Lea. "Kebanyakan dari mereka cuma banyak omong." "Menurut lo apa gue juga begitu?" tanya Irsyad dan Lea hanya mengangkat bahunya. Lea melenggang pergi dari tempatnya, meninggalkan Irsyad sendirian tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Irsyad hanya menatap nanar kepergian Lea. Sesulit itu kah membuat gadis itu luluh padanya? ***** Lea kini sedang memantul-mantulkan bola basket di lapangan basket indoor sekolahnya. Lengan seragamnya ia gulung agar tidak menghalangi permainannya. Berkali-kali ia berhasil memasukan bola ke dalam ring. "Lo nggak masuk kelas?" Lea memberhentikan permainannya saat mendengar suara yang tidak familiar di telinganya. "Malas. Kelas isinya anak-anak caper," jawab Lea yang kini sudah melanjutkan permainannya. Alfa hanya terkekeh mendengar jawaban dari Lea. Menurutnya, gadis itu sangat unik. Banyak sekali hal yang tidak disukai gadis itu. Lea kini sudah berhenti memainkan bola basket. Dirinya memilih duduk di pinggir lapangan dan disusul oleh Alfa yang duduk di sebelahnya. Lea mengipasi wajahnya menggunakan tangannya. Keringat bercucuran di wajah putih gadis itu yang kini berubah menjadi agak merah karena terlalu lelah. "Le," panggil Alfa dan Lea pun menoleh ke arahnya. "Dating yuk!" ajak Alfa dengan nada yang ragu-ragu. Lea menampilkan ekspresi terkejutnya sembari menatap ke arah Alfa. "Dating?" ulangnya yang dibalas dengan anggukan oleh Alfa. "Mau, kan, lo?" "Dalam rangka apa?" Alfa menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal. "Ya, nggak dalam rangka apa-apa, sih. Cuma mau ngajak lo dating aja." "Kapan?" tanya Lea dan Alfa menjawabnya dengan semangat. "Malam ini, bisa?" jawab dan tanyanya. "Uhm ... gue pikir-pikir dulu deh." Alfa pun mengangguk. "Mau tanding basket?" ajak Alfa dan Lea segera memasang ekspresi yang meremehkan Alfa. "Siapa takut!" serunya. Keduanya pun akhirnya memulai pertandingan. Tubuh Alfa yang jauh lebih tinggi dari tubuh Lea, membuat gadis itu kesulitan untuk menggapai bola. Alfa terus-menerus menguasai pertandingan yang membuat Lea berdecak sebal. Menurtnya pertandingan ini tidak fair karena bentuk tubuh keduanya benar-benar tidak kontras. "Udahanlah, gue nggak bakal menang kalau bolanya lo angkat terus," cibir Lea yang membuat Alfa terkekeh. "Makanya punya badan tuh ditinggiin!" ledek Alfa yang membuat Lea mendengkus kesal ke arahnya. Alfa hanya terkekeh memperhatikan wajah Lea yang menurutnya sangat menggemaskan jika sedang kesal. Ia segera menghampiri Lea dan merangkul bahu gadis itu yang membuat Lea meremang di tempatnya. "Pendek banget si lo," ledek Alfa dan detik berikutnya dirinya harus menerima pukulan bertubi-tubi dari Lea. Alfa meringis kesakitan sembari mengangkat kedua tangannya, meminta ampun. "Aw ... sakit, Le. Iya, iya, ampun!" Lea memberhentikan pukulannya sembari menatap tajam ke arah Alfa. Alfa hanya tersenyum jahil. Mundur beberapa langkah ke belakang dan berteriak. "Lea cebol!" Lea mendengar itu kini sudah memasang ekspresi siap perang sementara Alfa sudah lari menjauh dari gadis itu. Lea mengejar Alfa yang terus berlari hingga terjadinya aksi kejar-kejaran di lapangan indoor itu. "Berhenti lo!" teriak Lea namun Alfa tetap meneruskan larinya. Lea memilih untuk menyudahi aksi kejar-kejaran itu dan duduk kembali di pinggir lapangan yang disusul oleh Alfa. Lea melirik sinis ke arah Alfa yang membuat pria itu lagi-lagi terkekeh. Alfa menarik dagu Lea. Menatap manik mata gadis itu dengan seribu keseriusan yang membuat gadis itu membeku di tempatnya. "Lo tahu? Cuma lo yang bisa bikin gue sebahagia ini." Lea dibuat membeku oleh tatapan itu. "Kapan gue bisa jadi yang lo suka, Lea?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD