9. She's Broken.

1011 Words
Matahari mulai memancarkan sinarnya, dengan mata sembab dan hidung yang masih memerah, Lea terbangun dari tempat tidurnya. Ia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan berangkat sekolah. Selama Lia berada satu rumah dengannya, Lea jadi sangat membenci rumah. Lea kini sudah siap dengan seragam khas sekolahnya. Memakai sepatu dan mengambil tas, kemudian keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Saat sampai di bawah, langkahnya terhenti saat melihat Lia memakai pakaian yang sama dengannya. Lea menatap sinis ke arah Lia kemudian berpaling ke arah Fasha. "Maksudnya apa?" tanyanya. "Lia akan satu sekolah dengan kamu. Jadi, Papa harap ... kalian bisa akur," jawab Fasha. "Akur?" Fasha mengangguk. "Pindahin dia dari sekolah saya, atau saya yang akan keluar dari sekolah itu!" Lea mengancam kemudian menatap tajam ke arah Lia. "Bisa nggak lo enggak usah muncul di kehidupan gue?" tanya Lea dengan nada kesal. "Lo selalu bikin hidup gue menderita!" teriaknya, lalu detik berikutnya Lea menjambak rambut Lia dengan sangat kuat. "Lo bikin hidup gue hancur! Dasar parasit!" Zidan berusaha melepas cengkraman tangan Lea dari rambut Lia. Menarik tubuh adiknya itu menjauhi gadis yang ia benci juga. "Stop it!" bentak Zidan. "Gue nggak akan biarin lo hidup! Dasar parasit!" Lea terus saja berteriak dan memberontak di dalam kukungan Zidan. Zidan menarik Lea ke dalam pelukannya. Berusaha membuat gadis itu tenang dan itu berhasil. Lea kini sudah tidak memberontak di dalam pelukan Zidan. "Sekarang lo sarapan, terus kita berangkat sekolah," ujar Zidan, sembari membelai halus rambut Lea. Lea menggelengkan kepalanya. "Gue nggak mau sarapan." "Okay, kita berangkat sekarang." Lea pun mengangguk. Lea jalan mendahului Zidan menuju garasi rumahnya tanpa mempedulikan panggilan dari Selma dan Fasha. "Lo berangkat sama supir aja. Gue nggak mau mobil gue dijadiin tempat untuk berantem," ujar Zidan kepada Lia dan Lia hanya diam sembari mengepalkan tangannya. Harusnya gue yang bang Zidan sayang, Lea, bukan lo. Batin Lia. Zidan kini menghampiri Lea yang sedang menunggunya di samping mobil. Zidan segera membukakan pintu mobil untuk adiknya itu, kemudian mengitari mobil dan masuk kemudian duduk di bangku pengemudi. Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah. Keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Sesekali Zidan melirik ke arah Lea, menatap kasihan adiknya yang sangat terlihat terpuruk. "Wanna play some of music?" tanya Zidan dan Lea hanya diam, terus menatap ke arah jendela. Zidan akhirnya memutuskan untuk meng-play sebuah lagu dari radionya. Bersenandung kecil dan terus memperhatikan adiknya itu. Zidan menggenggam tangan Lea yang membuat gadis itu menoleh ke arahnya sementara pandangan Zidan masih fokus ke arah jalanan. "You're the princess in this world. Don't be sad, pretty." Lea hanya terdiam mendengar ucapan kakak laki-lakinya itu. Zidan masih menggenggam tangannya sampai mobil berhenti di parkiran sekolah. Bahkan saat keduanya sudah keluar dari mobil, Zidan tetap menggenggam tangan Lea yang membuat mereka menjadi pusat perhatian di sekolah. Tiba-tiba saja Irsyad menghampiri mereka berdua. Dirinya terkejut lantaran melihat mata Lea yang sembab dengan hidung yang memerah. "Lo kenapa?" tanyanya dan Lea hanya diam. "Bukan urusan lo," jawab Zidan dengan nada tidak suka. Bagaimanapun, Zidan tidak ingin Lea berpacaran terlebih dahulu. "Irsyad!" Tiba-tiba saja seorang perempuan menghampiri mereka bertiga yang membuat Irsyad lagi-lagi membulatkan matanya. "Lo ngapain di sini?" tanya Irsyad bingung. "Gue jadi anak baru di sini," jawab Lia sembari memeluk lengan Irsyad yang membuat pria itu merasa risih. "Lo apa-apaan si, Li," ujar Irsyad sembari menjauhkan lengan gadis itu dari lengannya. Lea hanya menatap tidak suka ke arah Lia. Kemudian matanya tertuju pada Alfa yang sedang berjalan sendirian. "Alfa!" Lea meneriaki nama Alfa yang membuat Alfa menoleh ke arahnya. Alfa tersenyum ke arah Lea kemudian menghampiri gadis itu. "Kenapa?" tanyanya. Irsyad menatap tidak suka ke arah Lea dan Alfa. "Lo mau ke mana?" tanya Lea. "Lagi ngurusin panggung. Mau ikut?" ajak Alfa dan Lea mengangguk. Lea melepaskan genggaman tangan Zidan kemudian berjalan beriringan dengan Alfa. Sebelum meninggalkan tempat, Zidan menepuk pundak Alfa dan berkata, "Jangan sakitin adik gue." Alfa pun mengangguk. Zidan, Alfa dan juga Lea berjalan meninggalkan Irsyad dan Lia. "Tadi pacarnya Lea?" tanya Lia yang membuat Irsyad kesal. "Lea pacar gue," jawan Irsyad kesal kemudian meninggalkan Lia yang kini sedang mengepalkan tangannya. "Bahkan cowo gue sekalipun lo ambil? Yang parasit itu lo, Lea." ***** "Mata lo kenapa?" Alfa bersuara dan Lea hanya menggeleng. "Lo habis nangis?" Lea kembali menggeleng. "Lo tau? Muka lo persis banget kaya anak kucing," ujar Alfa yang membuat Lea mencubit lengannya. "Aduh! Sakit, Le," ucap Alfa sembari mengelus-elus lengannya. Lea menatap sinis ke arah Alfa. "Nyebelin, lo!" Alfa hanya terkekeh kemudian menyuruh Lea untuk duduk di pinggir lapangan sembari melihat panggung yang akan digunakan untuk acara tujuh belas Agustus nanti. "Rambut lo-" "Cat jadi warna hitam sebelum digunting sama bu Beti." Lea memotong ucapan Alfa sembari menirukan gaya bicara pria itu. Alfa hanya terkekeh mendengar ucapan Lea. "Lo bilang biar kaya singa. Emang singa ada yang rambutnya merah ya?" tanya Alfa. "Gue singa yang beda dari singa lain." Lea menjawab asal dan Alfa hanya mengangguk sembari terkekeh. "Lo kenapa tadi? Tumben banget manggil gue, biasanya kalau gue panggil lo malah kabur," ujar Alfa. "Gue mau jadi baik sehari sama lo." "Lo nyembunyiin sesuatu ya dari gue? Ada masalah lo?" tebak Alfa dan Lea menggeleng. "Gue nggak papa." "Ketauan kali dari mata sama hidung lo kalau lo habis nangis. Cerita sama gue. Lo ribut sama Zidan?" tanya Alfa lagi dan Lea hanya menghela nafasnya kasar. "Salah nggak si kalau gue pengen bahagia?" tanya Lea sembari menatap lurus ke depan. "Gue mikir. Cerita fiksi sekalipun banyak banget cewe yang nggak bahagia padahal itu cuma settingan. Apa gue bakal kayak cewe di cerita-cerita fiksi itu?" "Kenapa hidup gue harus penuh drama si?" keluhnya. Alfa hanya diam. Membiarkan Lea terlebih dahulu untuk mengeluarkan keluh kesahnya. "I'm broken, Al." Alfa segera menarik dagu Lea kemudian menatap manik mata gadis itu. Ia dapat melihat bahwa Lea benar-benar memendam kepedihan dalam hidupnya. "Kalau lo lupa. Nggak semua cerita fiksi berakhir sedih. Biar Tuhan ngatur semuanya. Tugas kita cuma ngejalanin," ujar Alfa. "Jangan sedih. Lo bilang lo itu singa, kan? Tunjukin ke semua orang kalau lo itu yang paling kuat." "Meskipun gue nggak bisa jadi pacar lo, gue rela jadi pundak yang selalu nampung tangisan lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD