Sepulang sekolah tadi Lea terpaksa pulang bersama Zidan karena pria itu memaksanya. Dengan wajah yang ditekuk, Lea menaiki motor Zidan sembari menggerutu.
Kini, motor sudah melaju meninggalkan parkiran sekolah. Banyak orang yang menganggap mereka pacaran karena hanya sedikit yang tahu hubungan asli Lea dan Zidan. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumah karena padatnya jalan raya ibu kota. Setelah sampai, Lea membuka pintu rumahnya. Menatap tajam ke arah perempuan yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Masih ada hak lo tinggal di sini?" sarkas Lea, membuat gadis yang seumuran dengannya menoleh ke arahnya.
"Lo udah pulang?" tanya gadis itu sembari tersenyum ramah, tetapi Lea tidak menggubrisnya.
Zidan kini sudah masuk ke dalam rumah. Memperhatikan kedua gadis tersebut dan menjaga-jaga supaya tidak terjadi peperangan.
"Gue tanya, ngapain lo di sini?" Lea bertanya dengan nada tinggi.
"Mulai sekarang Lia akan tinggal di sini."
Fasha turun dari tangga yang membuat Lea menatap tajam ke arahnya.
"Yaudah, bagus. Sudah punya anak perempuan jadi saya tidak usah tinggal di sini lagi, kan?" sarkas Lea.
"Tidak ada yang pergi dari rumah ini!" seru Fasha yang membuat Lea tertawa sinis.
"Keluarga ini hancur gara-gara ibu dari perempuan ini!" teriak Lea sembari menunjuk ke arah perempuan yang kini masih terduduk di atas sofa.
Selma kini ikut bergabung ke dalam kerumunan itu. Menatap kasihan ke arah anak perempuannya, Lea.
"Le, udah. Tenangin diri kamu. Biarin Lia tinggal di sini. Kasihan dia, ibunya sudah meninggal," ujar Selma berusaha menenangkan Lea.
Aletta Azilia, anak dari perempuan yang berselingkuh dengan Fasha, anak dari perempuan yang telah merusak keluarganya.
"Kasihan? Karena keluarga dia, saya jadi nggak bahagia!" seru Lea dengan mata yang sudah memanas.
Kenangan pahit dari masa lalu kembali membuat Lea merasakan luka lama itu. Di mana keluarnya benar-benar hancur saat malam itu, dan itu semua terjadi karena ibunya Lia yang datang ke kehidupan mereka.
Lia kini berdiri dari duduknya. Menatap Lea dengan tatapan tidak suka yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Lea.
"Lo takut kalah saing kalau gue tinggal di sini?" Ia bertanya sinis.
Dengan wajah yang memerah, Lea segera menampar pipi kanan Lia dengan kencang sehingga membuat pipi gadis itu memerah dan membuat gadis itu mengeluarkan air mata.
"Lea!" bentak Fasha.
Lea menatap sendu ke arah Fasha. Gadis itu akhirnya menangis di depan Fasha setelah sekian lama.
"Karena dia, saya nggak bahagia!" pekik Lea. "Karena dia, keluarga saya hancur!"
"Satu lagi, karena dia, keluarga saya sendiri nggak menganggap saya ada!"
Lea segera berlari menuju kamarnya, mengabaikan panggilan dari Zidan, Selma dan Fasha.
Zidan menatap sinis ke arah Lia. Ia tau, bagaimanapun gadis itu juga adiknya meskipun dari rahim yang berbeda.
Zidan kini ikut meninggalkan ruang keluarga itu dan berniat menghampiri Lea di kamarnya.
Dari luar kamar, sudah terdengar suara Lea yang menangis sejadi-jadinya. Zidan benar-benar merasa tidak becus sebagai seorang Kakak.
Jika saja kecelakan di masa lalu tidak terjadi, Lea tidak akan mengalami penderitaan seperti ini.
Zidan mengetuk pintu kamar Lea. "Le, buka pintunya!"
Tidak ada jawaban dari sang pemilik kamar, yang terdengar hanyalah suara tangisan yang begitu menyedihkan.
"Lo nggak usah sedih. Gue nggak bakal ninggalin lo lagi. Buka ya, pintunya," pinta Zidan dengan nada sendu.
Lea tetap menangis. Mengabaikan ucapan Kakak laki-lakinya itu dan terus saja mengeluarkan kesedihannya melalui air mata.
Lea sudah begitu lama memendam kepedihan dan tidak menangis. Namun saat ini, luka itu muncul kembali dan membuat hatinya benar-benar terasa pedih.
Ia hanya melindungi orang yang ia sayang di masa lalunya namun mengapa ia harus menderita di masa sekarang?
"Lea, buka pintunya, Nak. Mama nggak akan ninggalin Lea dan membuat Lea merasa kesepian lagi."
Kini Selma yang mengetuk kamar Lea dan membujuknya untuk membukakan pintu kamarnya. Lagi dan lagi, Lea tetap menangis tanpa berniat untuk membukakan pintu kamarnya.
Lea merindukan keluarga kecilnya yang terasa hangat di masa lalu. Sangat, Lea sangat merindukannya.
Bagaimana ia sangat diperlakukan istimewa oleh Mama-nya, ia yang sangat dimanja oleh Papa-nya, dan dirinya yang selalu dilindungi oleh Kakak laki-lakinya.
Sungguh, Lea sangat merindukan momen-momen itu.
Lea kini menghapus air matanya kasar. Ia tidak boleh lemah. Dirinya harus kuat dan membuktikan kepada dunia bahwa dirinya bisa sukses walaupun dikucilkan oleh keluarganya sendiri.
Lea bangkit dari tempat tidurnya. Membereskan barang-barangnya dan memasukannya ke dalam koper.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah frame foto yang berada di dalam laci nakas.
Lea membalik frame foto tersebut dan mendapati foto dirinya bersama dengan keluarga kecilnya saat semuanya masih baik-baik saja.
Lea tersenyum miris kemudian memasukan kembali foto tersebut ke dalam laci.
Lea membuka pintu kamarnya dengan koper yang berada di tangannya. Saat sudah membuka pintu, di depan sana terdapat Zidan, Fasha dan juga Selma.
"Kamu mau kemana?" tanya Fasha berusaha sabar.
"Peduli apa?" tanya Lea dengan nada sinis.
Sampai kapanpun, Lea dan Fasha memang tidak akan pernah berdamai.
"Saya nanya serius, Aletta." Fasha berusaha meredam emosinya.
"Aletta yang mana maksudnya? Di rumah ini yang namanya Aletta ada dua, bukan?" Lea terus saja memancing emosi Fasha.
"Taruh kembali barang-barang kamu ke kamar!" seru Fasha namun Lea tidak menggubrisnya.
"Saya mau pergi," jawabnya.
Zidan merebut paksa koper yang ada di tangan Lea dan melemparnya asal.
"Lo pikir dengan lo pergi semua kepedihan yang lo alamin bakalan hilang?" Zidan bertanya dengan nada tinggi.
"Mau jadi apa lo di luaran sana nanti? Mau makan apa? Mau jadi cewe gak bener lo?"
"Minggir!" seru Lea kepada Zidan yang menghalangi jalannya.
"Minggir!" teriaknya.
Zidan memegang kedua bahu Lea kemudian menatap manik mata adik kesayangannya itu.
"Lo dengerin gue. Kehidupan di luar sana lebih bikin lo menderita. Lo nggak kasihan sama Mama?" tanya Zidan dengan nada lembut sembari menatap Lea, sementara Selma hanya bisa menangis melihat putrinya yang kini sudah sangat jauh dengannya.
"Minggir! Gue mau pergi," lirih Lea.
"Gue mau pergi!" pekiknya sembari menangis sejadi-jadinya.
"Orang-orang di sini jahat. Gue benci kalian semua!"
"Lo boleh benci sama orang-orang di sini. Tapi jangan buat diri lo jadi orang lain," ujar Zidan sembari menggoyang-goyangkan tubuh Lea.
Lea hanya diam. Ia benci keluarganya. Ia membenci keluarganya yang telah membuatnya merasa kesepian.
Lea membenci Lia. Karena kejadian di masa lalu yang dibuat oleh Lia, Lea jadi dibenci oleh semua keluarganya.