Apakah Semua itu Palsu

1363 Words
Keesokan harinya, Ega menjalani hatinya dengan penuh semangat. Pagi-pagi dia sudah berkutat dengan kertas-kertas yang menumpuk di mejanya. Pertemuannya kembali tak dipunkirinya telah membawa pengaruh positif untuk dirinya. Hari ini dia sedang menyusun program baru di sekolah yang dipimpinnya, serta melanjutkan program lama yang menurutnya bagus. Sebagai kepala sekolah yang ditunjuk langsung oleh yayasan, Ega harus bisa berinovasi untuk kemajuan sekolah yang dia pimpin, agar tidak mengecewakan pimpinan.Minimal jangan sampai akreditasinya merosot. Karena usianya yang masih sangat muda memang banyak yang menganggap sebelah mata kinerjanya. Sebagian besar orang beranggapan karirnya menanjak karena postur tubuh yang sempurna dan wajah yang rupawan. Wajar orang berpikiran seperti itu, mereka hanya akan melihat apa yang tampak. Padahal, jika dipikir kembali, tidak ada hubungan antara wajah tampan dan jabatan. Tetapi siapa yang bisa mencegah opini yang berkembang di masyarakat. Jadi, jangan bantah mereka dengan omongan, tapi tunjukkan bukti bahwa kita mampu dan layak menempati posisi ini. "Bu Milea bisa minta tolong datang ke ruangan saya?" Ega bukannya modus, saat ini dua siswanya lolos seleksi OSN bidang studi matematika dan sains. Jadi memang betul, dia sekarang lagi butuh guru yang menguasai kedua bidang studi tersebut untuk membimbing siswa yang sedang mengikuti OSN menuju tingkat Propinsi. Ega yakin dengan kemampuan yang dimiliki Milea, bukan tidak mungkin kedua anak didiknya lolos jadi pemenang tahun ini.Di samping itu Ega belum banyak mengenal guru yang potensial di sekolah ini. Jadi perlu bantuan Milea untuk mengenal mereka lebih dekat, baik secara keilmuan atau secara pribadi. Ega tidak akan mempertaruhkan keberhasilan siswanya untuk OSN tingkat berikutnya hanya karena salah memilih guru pembimbing. Tok tok tok "Masuk!" Suara bariton itu masih saja sanggup menggetarkan relung hati Milea hanya dengan mendengarnya sekilas. "Silahkan duduk." Milea segera duduk di sofa tengah ruangan. Ega harus profesional kali ini. Ini hal serius, bukan lagi main-main. "Sebelum saya lanjut, apakah Ibu termasuk pembimbing siswa kita yang mengikuti seleksi OSN tingkat kota? "Iya Pak," jawab Milea tak kalah serius. Jika Ega sedang bersikap profesional, dia juga akan melakukan hal yang sama. Ini di kantor, bukan di luar. Meskipun ada yang sesak di dadanya mendengar Ega memanggilnya Ibu, karena kemarin dia merasa sudah mulai 'dekat ' dengan Ega. "Berapa waktu yang kita miliki untuk mempersiapkan diri sampai hari H?" "Kurang lebih tiga bulan Pak." "Biasanya bagaimana metode yang diterapkan untuk membimbing anak-anak agar bisa maksimal?" tanya Ega lebih lanjut. Kali ini dia akan banyak bertanya mengingat dia sangat baru di sini. "Bimbingan dilakukan setiap hari disela waktu belajar mereka Pak. Di tempatkan di ruangan khusus agar tidak menggangu PBM untuk anak-anak yang lainnya. Ada beberapa metode yang digunakan agar siswa bimbingan bisa maksimal menggali potensinya." Lea tampak menjeda kalimatnya sejenak. Dia mengambil nafas dan menghembuskannya kembali dengan agak kuat. Dia kesal karena harus bicara formal begini dengan Ega. Tapi, apalah daya, Ega dan juga dirinya hanya pegawai di sini. So, harus mengikuti aturan jika ingin karirnya langgeng. "Yaitu metode mentoring, tanya jawab dan latihan soal," lanjut Milea lagi. "Menurut Ibu apa yang membuat anak-anak kemarin sukses lolos ke tingkat Propinsi? Apakah menurut Ibu perlu ada perubahan metode atau penambahan waktu misalnya, agar lebih maksimal?" Ega bertekad untuk bisa membawa siswanya juara OSN tingkat Propinsi kali ini. "Faktor yang utama tetap karena kecerdasan siswa yang kita kirim, dan juga semangat mereka. Tetapi metode yang kita gunakan hanya sebagai pemancing potensi-potensi lain yang bisa saja masih terpendam dan belum kelihatan di permukaan. Dan yang paling mempengaruhi metode yang kita terapkan berhasil atau tidaknya adalah ada pada guru pembimbing itu sendiri Pak." Lagi, Ega terkagum-kagum dengan penjelasan mantan kekasihnya itu. Tampak dia menguasai seluk beluk OSN kemarin. Seakan sulit mengelak dari masa lalu, memang inilah salah satu yang menyebabkan dia jatuh cinta sedalam-dalamnya pada gadis didepannya ini. "Baik, kalau begitu saya percayakan pemilihan guru pembimbing yang layak untuk anak-anak menghadapi OSN di tingkat Propinsi nanti kepada Ibu. Ibu tahu sendiri saya masih baru disini. Kalau hanya membaca data saja tidak akan menjamin saya mengenal mereka. Saya takut salah pilih. Sayang kalau nanti anak-anak kurang maksimal karena keputusan saya yang keliru. Apakah Ibu bersedia membantu saya?" Entah mengapa Milea masih saja kesal dengan bahasa formal Ega. Tanpa Milea sadari, dia telah menaruh harapan besar terhadap hubungan mereka ke depannya kali ini. Dia merasa Ega dan dirinya sama-sama memiliki visi dan misi yang cocok untuk menjalin hubungan kembali. "Insyaallah bersedia Pak." Milea mau tak mau menggunakan bahasa formal juga. Sementara Ega sangat menggantungkan harapannya pada sang mantan untuk bisa membantunya sukses mengantarkan anak didiknya menjuarai OSN tingkat Propinsi kali ini. Bukan hanya karena dia adalah mantannya, tetapi karena dia benar-benar tahu kualitas dari Milea seperti apa. "Ada yang mau ditanyakan sebelumnya? Saya harap waktu tiga bulan bisa kita gunakan dengan maksimal dengan tidak mengulur-ulur waktu. Maksimal lusa harus sudah terkumpul nama-nama guru pembimbing sebanyak 6 orang termasuk Ibu. Serta jadwal masing-masing orang sudah harus ditetapkan juga. Saya percaya pada Ibu, jadi sekian dulu dari saya. Silahkan, Ibu Lea sudah bisa kembali ke tempat," ucap Ega tegas dan tak terbantahkan. Apa ini? Ega mengusirnya? Tidak ada kalimat basa basi apa dan bagaimana gitu? Tunggu, tunggu! Kenapa di sini justru Milea yang antusias di banding Ega? Mengapa kali ini Milea tidak bisa berpikir positif? Bukankah wajar jika di kantor mereka berkomunikasi dengan bahasa formal? Tetapi, bukankah dj hari pertama mereka bertemu di ruangan ini bahkan Ega membicarakan masalah pribadi? Ah! Sebel! "Baik, saya sudah mengerti, secepatnya saya akan memberikan hasil kerja saya besok lusa seperti permintaan Bapak. Terimakasih atas kepercayaannya, semoga saya tidak mengecewakan Bapak. Permisi, assalamualaikum." Milea segera berlalu dengan wajah dongkol dan dingin diiringi tatapan misterius dari sang mantan. Ega menatap tajam punggung Milea yang menjauh hingga menghilang di balik pintu. Ega tersentak ketika sang mantan sudah menghilang dari pandangan. Dia lupa menjawab salam dari Milea. Dia hanya terpaku pada wajah Milea yang tampak kesal. Mungkin karena dia bersikap profesional seperti kepada orang asing. Ega menghembuskan nafas kasar, dia merasa serba salah, terlalu profesional juga menyakiti Milea jika bersikap hangat takut Milea merasa tertekan. Satu senyum tipis tiba-tiba terbit dari bibir seksinya, Ega meyakini jka Milea sudah menerima kehadirannya kembali meskipun belum terucap secara eksplisit. Setelah dua hari diberi waktu untuk membentuk tim pembimbing dan menyusun schedule masing-masing pembimbing, Milea kembali menghadap kepala sekolah untuk melaporkan hasil kerjanya. "Bagus, saya harap besok sudah bisa mulai bimbingannya. Oh ya, sebentar lagi rapat. Panggil semua anggota tim yang kamu bentuk tanpa terkecuali. Setengah jam lagi saya ke ruang rapat, dan siapkan semuanya." "Baik, Pak, saya permisi dulu." "Silahkan." Tak ada basa basi apapun. Semua berjalan sebagaimana mestinya seorang atasan dan bawahan. Setelah setengah jam tim yang dibentuk Milea sudah hadir di dalam ruang rapat, termasuk kepala sekolah. Semua mendengarkan dan mencatat instruksi Bapak kepala sekolah. Hingga bel pulang berbunyi barulah berakhir pula rapat yang diadakan hari ini. "Bu Milea, tidak membawa kendaraan hari Ini?" tanya pak Akbar, salah satu guru yang ditunjuk Milea untuk menjadi bagian dari tim pembimbing OSN. "Iya Pak Akbar, kendaraan saya lagi di service di bengkel," jawab Milea sopan. "Bareng saya saja, kita kan pulangnya searah. Mari Bu, kebetulan saya bawa mobil hari ini." Pak Akbar guru yang dikenal naksir Milea sejak lama, menggunakan kesempatan langka ini untuk pdkt. Tetapi seperti biasanya Milea menolaknya secara halus. "Maaf Pak, saya sudah pesan ojek, nggak enak kalau harus cancel, dia langganan saya selama ini." Ada saja alasan Milea menolak tawaran dari rekan kerjanya itu. "Baiklah, saya duluan kalau begitu, mari Bu." Pak Akbar menyerah kali ini. Dia tahu banget Milea seperti apa. Memaksanya sama juga dengan menciptakan permusuhan dengannya. Dari pada dimusuhi mending pdkt dengan cara lain lagi. Lain kali dia akan lebih berusaha lagi.! Tak lama setelah pak akbar berlalu, Milea yang memang posisinya agak tersembunyi di dekat gerbang sekolah, melihat seorang wanita cantik yang ikut di dalam mobil Ega. Ega tidak menyadari kalau ada sepasang mata penuh tanda tanya mengiringi kepergiannya. Milea terus bertanya di dalam hati siapa gerangan wanita cantik itu, apakah dia pacar barunya yang sengaja menjemput Ega pulang? Jika itu sepupu atau adiknya Ega, dia pasti tahu. Milea pernah akrab dengan Luna adiknya Ega, juga dengan Jihan sepupu Ega. Dada Milea kembali sesak dan sakit. Bukankah Ega sudah meminta maaf kepadanya? Pun dengan kata-katanya yang penuh dengan harapan baru. Apakah semua itu palsu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD