"Oh ya, mana Deasy, kenapa nggak ikut?" Satu pertanyaan tiba-tiba meluncur dari mulut Diana secara spontan karena dari tadi Deasy tidak tampak di mana-mana. Pertanyaan yang akhirnya membuat perempuan paruh baya itu menyesali kelancangan mulutnya.
Tubuh Ega yang masih memeluk Mamanya seketika menegang demi mendengar pertanyaan dari wanita yang sudah melahirkannya ini. Segera dia lepaskan pelukan mereka dengan raut wajah canggung. Sebentar kemudian wajah dingin Ega yang se dingin kutub selatan tiba-tiba kembali. Tangannya terkepal erat, dengan gigi terkatup rapat.
"Ma, tadi Papa sempat sadar atau tidak sewaktu dalam perjalanan?" celetuk Luna tiba-tiba. Pertanyaan yang masuk akal sekaligus bodoh di tengah usahanya mencairkan suasana yang tiba-tiba kembali canggung setelah Mamanya menyebutkan sebuah nama yang sangat di benci kakaknya.
"Nggak Sayang, Papa hanya terus memegangi dadanya tetapi masih dalam kondisi tidak sadar. Mungkin sakit yang di rasakannya luar biasa, sampai-sampai dalam kondisi belum sadar pun masih terus memegangi dadanya. Semoga Papa kuat ya Nak,"
Dina adalah seorang Ibu yang berhati sangat lembut, sehingga langsung menangkap maksud Luna menanyakan hal itu. Dengan sedikit mengungkapkan keadaan suaminya yang memprihatinkan tadi, beliau berharap Ega tidak lagi fokus pada pertanyaannya.
Dan benar saja, mendadak tangan Ega terulur untuk menggenggam tangan Dina. Ada kelegaan sekaligus kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh Dina. Melihat gelagat Ega yang mulai peduli dengan sekitar, tampaknya Ega akan segera seperti dulu.
"Keluarga Bapak Adi Purnomo?"
"Iya, saya istrinya," sahut Dina dengan raut wajah yang tampak terkejut karena suara yang tiba-tiba menginterupsi keharuannya atas perubahan sikap Ega.
"Bisa bicara sebentar? Mari Bu. Ini anak-anaknya?" tanya dokter Nugroho dengan raut wajah tak terbaca.
"Iya Dok. Ini anak-anak saya."
"Mari semuanya saja ikut saya."
"Begini Bu, kali ini keadaan Bapak kurang baik. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk beliau. Bahkan kami sudah berkonsultasi dengan dokter Willian yang sebelumnya memegang beliau. Tetapi semua kembali kepada kehendak yang maha kuasa. Apapun yang terjadi memang kita harus bersiap untuk hal terburuk. Saat ini yang bisa kita lakukan hanya berdoa, selebihnya kita serahkan kepada sang pemilik hidup. Kami tim medis hanya manusia biasa, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Sekarang Ibu bisa menengok Bapak di ICU bergantian. Setiap orang saya beri waktu sepuluh menit."
Mama Ega dan anak-anaknya terlihat sedih, bahkan Luna sudah terlihat terisak lirih sambil memeluk erat lengan Mama nya. Maklum, Papa Adi adalah cinta pertama Luna, dan memang Luna lah yang sangat dekat dengan beliau. Apalagi Ega yang tidak mau melanjutkan bisnis Papanya, otomatis Luna lah yang menjadi tumpuan keluarga saat ini untuk melanjutkan usaha keluarga. Dengan begitu Luna banyak di bimbing langsung oleh Papa nya. Meskipun masih menyelesaikan skripsinya, Luna sudah terjun langsung memimpin di perusahaan keluarganya.
Luna adalah sosok gadis yang ceria, tekun, dan penurut. Dia juga perempuan yang sangat mencintai keluarganya. Sehingga dia tidak pernah mengeluh dengan segudang kesibukannya di perusahaan maupun di kampus yang padat. Bahkan, jika sedang memimpin perusahaan Luna tidak terlihat seperti gadis yang masih kuliah.
"Baik Dok, Terima kasih banyak atas atensinya."
"Sama-sama Bu, mari ikut saya, biar saya tunjukkan di mana Bapak Adi di rawat," Dina membungkukkan badannya sedikit dan selanjutnya berjalan mengikuti Dokter Nugroho masuk ke dalam satu ruangan.
Dina dan Luna sudah mendapatkan giliran untuk menjenguk sang Papa. Tiba saat Ega yang menjenguk, rupanya bertepatan dengan sadarnya sang ayah. Dokter memeriksanya sebentar, setelah memastikan keadaan Adi Purnomo yang stabil, Ega tetap diijinkan menjenguk sang Papa. Disaat itulah Adi Purnomo memberi pesan kepada sang putra untuk nanti melepaskan ikatan pernikahannya dengan Deasy, agar Ega bisa melanjutkan hidup normal seperti biasa.
Belum genap lima jam setelah Ega berkomunikasi yang terakhir kalinya dengan sang Papa, tim Dokter mengabarkan bahwa Bapak Adi Purnomo telah meninggal dunia.
Dina dan anak-anaknya terkejut luar biasa. Duka mendalam mereka rasakan saat itu. Ega yang paling merasa bersalah, berjanji untuk membuat Papanya bangga di alam sana dengan meniti karirnya sekaligus mengejar cintanya.
Ega yang tidak mencintai Desy memilih untuk menceraikannya dengan alasan tidak bisa membahagiakannya. Desy pun tidak bisa menolak. Selama pernikahan, Ega tidak pernah berlaku kasar atau berkata-k********r. Hanya saja dia tidak pernah dianggap ada. Ega tenggelam dalam dunianya sendiri. Keluarga kedua belah pihak prihatin dan memilih untuk membebaskan Ega.
Barulah setelah perceraian itu terjadi, Ega seketika menemukan semangat hidupnya kembali. Dengan berbekal ijazah sarjananya, dia mulai mencari kerja sekalian mencari keberadaan mantan kekasihnya. Ada rindu yang menggunung, tetapi perasaan bersalahnya lebih mendominasi. Dia ingin meminta maaf.
Flash back Off
"Mama yakin bakalan setuju misalnya Ega bawa pulang gadis itu?"
"Ga, kamu jangan gitu dong nak, kayak yang mama ini jahat banget jadi ibu dan mertua. Siapapun gadis itu, mama akan terima dengan senang hati jika bisa membuatmu bahagia. Tolong, jangan ingat-ingat lagi yang sudah berlalu." Ega terkejut di dalam hatinya, dia menyesal menanyakan hal itu ke mamanya. Ega tidak menyangka bahwa mamanya akan berpikir sejauh itu, dan wajahnya akan terlihat sesedih itu.
"Bukan maksud Ega begitu ma, Ega sudah benar-benar melupakan masa lalu
Buat apa juga diingat-ingat. Maaf kalau pertanyaan Ega salah. Ega merasakan bagaimana susahnya mendekati gadis ini. Takutnya begitu sudah dapat, mama kurang sreg, gitu maksud Ega ma." Ega tampak merasa bersalah telah membuat hati mamanya sedih. Ternyata mamanya masih sensitif jika mengungkit tentang hal itu.
"Ga, banyak yang sudah kita korbankan karena kesalahan kami sebagai orang tua. Mama minta maaf sekali lagi ya. Jangan pernah berpikir bahwa mama punya kriteria khusus untuk gadis yang akan menjadi menantu mama. Siapapun dia asal kamu suka mama juga suka. Jangan kamu sekali-kali membatasi diri karena mama akan menuntut ini dan itu. Enggak nak, mama tidak seperti itu." Ega ikut sedih jika sudah begini. Mamanya tampak menyesal pernah mendukung suaminya menjodohkan Ega dengan anak dari sahabat mereka.
Ega tampak lega sudah mengungkapkan kekhawatirannya kepada mamanya. Ternyata kejadian masa lalunya masih memiliki pengaruh terhadap psikisnya. Sungguh, dia tidak mau mengulang momen itu. Ada gadis yang tersakiti dengan begitu dalam karena dia. tetapi diapun mengalami hal yang lebih menyakitkan. Perasaan bersalahnya telah membunuh semangat hidupnya kala itu.
"Ma, malam nanti Ega balik ya. Takut besok bangun kesiangan. Masa belum seminggu kerja sudah telat. Kan malu ma." Ega harus menjelaskan posisinya saat ini, dia sebenarnya berat meninggalkan orang tua satu-satunya itu. Tapi mau bagaimana lagi, Ega kerja di tempat orang jadi harus taat aturan.
"Iya, mama ngerti nak, berangkatlah hati-hati di jalan jangan lupa berdoa. Minggu depan pulang nggak?"
"Nggak tahu ma, lihat ntar ya. Sibuk enggaknya. Tapi Ega usahain pulang, kan deket nggak kayak dulu ketika masih di Jakarta, lama baru bisa pulang." Ega sangat bahagia dengan kepindahannya ke Surabaya. Selain alasan orang tua, sekarang malah dipertemukan dengan pujaan hatinya. Dengan perjalanan kurang lebih dua jam kendaraan darat sudah bisa pulang kampung.
[ Sudah di mana? Jadi balik bareng apa enggak? Mas juga sudah siap-siap ini ]
Ega segera mengirim chat kepada Milea untuk di ajak pulang bareng ke Surabaya. [ Aku sudah di kereta, maaf nggak ngabarin ]
Ega mendesah berat. Dia yang terlalu antusias di sini. Milea tentu saja masih trauma dengan dirinya. Dia masih perlu waktu untuk mencerna semua informasi yang dia berikan kemarin. Walaupun kecewa tidak jadi balik ke Surabaya sama-sama, Ega sudah cukup lega dengan sikap Milea yang melunak kepada dirinya.