Papa Adi Masuk Rumah Sakit

1392 Words
Ternyata yang di bolak-balik Ega sedari tadi adalah buku album kenangan dari kampus Ega yang wisuda tahun ini. Di dalamnya ada nama Milea Adara Putri yang menjadi kekasihnya. Sejak merawat Papa nya, Ega praktis tidak pernah pulang ke rumah. Sebagai putra sulung dari Adi Purnomo, Ega bertanggung jawab terhadap beliau sepenuhnya. Sementara Dina, Mama dari Ega hanya tahu merawat suaminya saja. Sementara administrasi dan lain-lain Ega lah yang sepenuhnya bertanggung jawab. "Mas kenapa sih dari tadi diam terus. Papa sudah sembuh dan sekarang sudah kembali ke rumah. Apa Mas masih mau mendiami ku terus? Sampai kapan Mas. Aku capek tahu?" Keluhan Deasy yang terdengar orang lain seperti rengekan anak kecil, tidak mampu membuat Ega bersuara. Posisinya pun tidak berubah sama sekali, tetap menatap buku kenangan yang ternyata berasal dari Luna, adik kandung Ega. Luna yang berinisiatif membeli buku tersebut di bagian BAK kampus Kakaknya. Diantara keluarga Ega, Luna lah yang paling tahu tentang hubungannya dengan Milea. Meskipun belum pernah di bawa ke rumah keluarga Ega, tetapi Luna dan Milea beberapa kali pernah bertemu karena Ega mengajaknya untuk berkenalan dengan kekasihnya. Tok tok tok! "Ga, tolong buka pintunya Nak, Mama mau bicara sama kamu." Karena Ega tidak juga merespon, akhirnya Deasy lah yang membukakan pintu kamar mereka. "Masuk Ma, silahkan." Deasy dengan sopan mempersilahkan Dina, Mama mertuanya masuk ke kamar Ega. "Loh? Kenapa koper kamu masih belum di bongkar? Kamu capek ya Sayang? Kalau begitu biar di bantu Luna untuk menyusun di lemari ya. Sebentar biar Mama pangg... " "Eh, nggak usah Ma. Deasy bisa sendiri kok. Cuma Deasy belum tahu apa ada tempat kosong buat barang-batang pribadi saya di sini." potong Deasy sebelum Mama mertuanya menyelesaikan kalimatnya. Deasy bukannya tidak mau berbenah, tetapi dari tadi dia tidak di beritahu di mana harus menyimpan barang-barangnya. Bertanya pun tidak ada jawaban. Meskipun dia bukan tergolong gadis yang rajin, tetapi dia perlu menunjukkan kepada mertuanya dia bukan lah perempuan yang tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan rumah. "Loh? Gimana sih? Ega! Ini istrimu tidak tahu di mana harus menyimpan barang-barangnya, kasih tahu dong Sayang. Gimana sih?" gerutu Dina sambil berjalan ke arah sang putra dan menggoncangkan pundaknya agar segera merespon permintaannya. "Dia punya mata 'kan? Seharusnya bisa mencari di mana tempat yang kosong. Karena tempat yang sudah terisi juga sudah aku kunci." sahut Ega dingin. 'Ternyata punya suara juga dia, kirain bisu' batin Deasy kesal. "Oke, Deasy kamu cari sendiri yah tempat untuk menyimpan barang-barang kamu. Ega sudah mengijinkan tuh," Dina tahu kalau Ega belum bisa menerima pernikahan ini. Dari pada Deasy harus mendengarkan kata-kata pedas Ega lebih banyak, lebih baik dia menengahi. Dina maklum dengan situasi yang ada, apalagi sudah seminggu Ega tidak pulang ke rumah dan tetap stay di rumah sakit, pasti sangat capek dan stress. Ega sendiri terlihat murung dan lebih banyak diam. Dia terlalu sibuk memikirkan Papa nya sehingga sekarang barulah Ega ingat dengan janjinya dengan Milea di hari wisuda kekasihnya itu. Sejak saat itu, hubungan Ega dan Deasy tidak ada perkembangan sama sekali, bahkan cenderung buruk. Ega yang tampak acuh dan dingin membuat Adi Purnomo merasa menyesal telah mendesak sang putra untuk menikah demi ambisinya untuk menyenangkan hati sahabatnya. Semakin hari Ega semakin kehilangan semangat hidupnya. Semakin malas bergerak, apalagi ngomong. Hidupnya hanya diisi dengan melamun dan menjelajah dunia maya lewat telepon pintarnya. Dia menelusuri keberadaan kekasihnya dari sosial media dan internet. Karena semua media dan alat komunikasi sudah di blokir Milea, sesekali Ega akan keluar rumah hanya untuk mencari keberadaan kekasihnya. Tetapi nihil, Milea seakan hilang di telan bumi. "Nak, kamu harus makan dan jaga kesehatan. Mama dan Papa minta maaf jika telah memutuskan sesuatu yang salah. Kalau memang semua terasa semakin berat, lepaskanlah. Kami ikhlas, asalkan Ega kembali seperti anak Mama yang dulu." lirih Dina sambil menatap Ega dengan lekat. Anak yang dulu ceria, cerdas, rajin dan gagah itu sekarang menjelma menjadi pribadi pendiam dan pemalas. Tidak ada tanggung jawab sedikitpun baik sebagai anak maupun suami untuk istrinya. Penampilan fisiknya pun tak kalah memprihatinkan. Jambang dan kumisnya yang tampak seperti memenuhi wajahnya yang semakin tirus dan kurus. Kulitnya kusam dan pucat. Pandangan matanya sering kosong, seperti orang yang hilang rohnya. Hati Ibu mana yang tidak sedih melihat yang demikian. Hati orang tua mana yang tidak hancur melihat anaknya yang hancur. Penyesalan akhirnya datang belakangan, setelah semuanya tampak kacau. "Nak, kalau kamu nggak makan, Mama dan Papa juga nggak akan makan. Biarlah kita mati bersama-sama asalkan kita bisa terus bersama. Mama sekarangpun sudah seperti mati melihat anak Mama seperti ini," tak bisa di tahan lebih lama, airmata itu akhirnya lolos juga dari mata Dina. Dan saat terdengar isakan lirih itu, barulah Ega bereaksi. Dia letakkan gawai yang seakan melekat di tangannya di atas nakas, dan di sambarnya makanan yang sedari tadi disediakan oleh sang Mama. Ega makan dengan lahap, dan sebentar saja makanan itu lenyap tak bersisa. "Bagus Nak. Terimakasih karena masih menuruti keinginan Mama. Perlu kamu tahu, Mama dan Papa sangat menyayangimu. Semoga suatu saat Allah mengabulkan segala keinginanmu. Semoga suatu saat Allah mengangkat derajatmu dan diampuni segala khilaf mu." ucap Mama Dina sebelum pergi meninggalkan kamar anaknya. Begitulah setiap hari yang terjadi. Dina harus mengancamnya hanya agar Ega mau makan. Sedangkan Deasy, dimanakah keberadaannya? Deasy masih di rumah itu, tetapi dia sudah capek berbicara dengan Ega, karena tak ada reaksi apapun dari suaminya itu walaupun dia berteriak atau nangis kejer. Deasy anak orang berada. Dia terbiasa manja dan hidup enak. Walaupun cinta, dia juga nggak mau kalau harus terus menerus mengemis perhatian Ega. Apalagi dia merasa semua ini terjadi karena kesalahannya sendiri. Dia yang merengek meminta Papa nya untuk merayu Adi Purnomo untuk mengambilnya menjadi menantu. Dan di saat kritis itu, Adi menggunakan sakitnya untuk menggunakan empathy Ega agar bisa meloloskan keinginannya. Nasi sudah menjadi bubur, Deasy juga tak kalah menyesalnya melakukan itu semua. Kini hidupnya berantakan dan hatinya terus menerus sakit dengan perlakuan Ega yang tidak berhenti mengabaikannya. "Kak, Kakak!!!" pagi yang tenang itu tiba-tiba terusik dengan teriakan lantang Luna yang juga menggedor pintu kamar Ega. Entah apa yang terjadi sehingga dia berbuat demikian. "Papa kak, Papa pingsan dan sedang di bawa Mama ke rumah sakit. Kita nyusul sekarang ya Kak. Luna nggak mau terjadi apa-apa sama Papa," Bukan hanya berbicara lantang tetapi adik semata wayang Ega itu sudah menangis dengan keras. Tanpa mengucapkan apa-apa Ega segera menyeret adiknya untuk pergi ke rumah sakit menyusul kedua orang tua mereka. Ega mengendari mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Beruntung pagi itu jalanan masih tampak lengang sehingga memuluskan perjalanan mereka menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Mama Dina tampak menangis sendirian di ruang tunggu dengan memeluk tangannya sendiri. Sopir yang membawa mereka hanya tampak diam berdiri di dekat beliau. "Ma, gimana Papa?" untuk pertama kalinya sejak dua bulan yang lalu Ega memulai pembicaraan dengan Mamanya terlebih dahulu. "Kita tunggu kabar dari dokter ya Nak, semoga Papa baik-baik saja. Kita berdoa sama-sama," jawab Dina lembut. Di tengah kesedihannya, Dina merasa bahagia karena anaknya mau memulai bicara dengan normal kembali. Bahkan dari raut mukanya Ega tampak sangat mengkhawatirkan kondisi sang Papa. Sedangkan Luna juga bersyukur Kakaknya tampak semangat kembali. Walupun hanya satu kalimat yang di ucapkan Ega, semoga menjadi awal yang baik untuk semuanya. "Iya Ma, Ega minta maaf karena nggak memperhatikan Papa akhir-akhir ini. Ega egois karena memikirkan diri sendiri. Sekali lagi maaf Ma," Ega memeluk Mamanya erat, seakan tidak mau melepaskan lagi. Entah apa yang ada di pikirannya sampai bisa membuat orang tuanya sangat sedih. Ega yakin mereka seperti ini karena memikirkannya. "Kamu nggak salah Nak, kami yang salah dan tolong maafkan kesalahan kami. Kami lupa bahwa membahagiakan orang lain, meskipun itu seorang sahabat, tidak harus mengorbankan anak sendiri. Kamu yang kuat, apapun keputusanmu kami akan dukung. Jadi jangan berputus asa. Masa depanmu masih panjang, banyak yang harus kamu kerjakan. Kalau kamu sampai seperti ini hanya karena seseorang yang tidak kamu inginkan, kamu rugi Nak. Jadi, jika kamu merasa tidak bisa bangkit karena satu orang saja, ubahlah pikiran itu. Oke? Mulai saat ini kamu harus semangat, paham? tutur Dina lembut, yang di sambut dengan anggukan Ega cepat. Ega berjanji akan membayar pengorbanan Papanya dengan pencapaian-pencapaian positif. Jika memang orang tuanya mendukung keinginannya untuk lepas dari pernikahan ini, itu yang pertama kali harus dia lakukan. "Oh ya, mana Deasy, kenapa nggak ikut?" Satu pertanyaan tiba-tiba meluncur dari mulut Diana secara spontan karena dari tadi Deasy tidak tampak di mana-mana. Pertanyaan yang akhirnya membuat perempuan paruh baya itu menyesali kelancangan mulutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD