Milea terpaku, tidak menyangka akan reaksi Ega terhadap istrinya saat itu. Meskipun cemburu berat kepada gadis itu, tetapi Milea merasa iba kepadanya. Jika Milea berasa di posisi sang gadis, belum tentu dirinya mampu. Karena diabaikan adalah sesuatu yang sangat menyakitkan setelah pengkhianatan.
"Berapa lama pernikahan kalian bertahan kalau boleh tahu?" tanya Milea dingin tetapi sudah tidak se ketus tadi. Sudah tidak ada yang dia pertahankan di sini. Gengsi dan harga dirinya sudah di beli lunas oleh Ega dengan cintanya yang tulus. Semua hati dan jiwanya masih untuk Ega seorang. Dia adalah wanita dewasa yang tidak harus memasang gengsi tinggi untuk satu informasi yang memang dia butuhkan.
"Kurang lebih tiga bulan,"
"Setelah itu dekat atau pacaran sama siapa saja?" tanya Milea lagi.
"Nggak pernah ada siapapun!" jawab Ega tegas dengan kata-kata yang penuh penekanan. Tampaknya dia sedikit emosi walaupun di tahan. Gemas sendiri karena Milea menanyakan hal yang tidak penting. Bukankah dari semua penjelasan Ega sudah terang benderang semuanya? Bahwa tidak ada satupun wanita yang berhasil mendekatinya karena Ega tidak pernah bisa lepas dari jerat pesona seorang Milea. Bahkan dalam mimpi pun Milea masih jadi super star nya!
"Baiklah, aku masuk ke dalam dulu ya, nanti dicariin Ibuk sama Bapak," pamit Lea lembut, diusapkan jempol jarinya ke punggung tangan Ega. Ega membalasnya dengan tak kalah lembut. Hati keduanya menghangat. Ada keharuan yang tidak bisa di tutupi lagi, tetapi tak bisa meluapkannya sekarang. Banyak sekali orang di sekitar mereka walaupun tidak memperhatikan mereka dengan seksama. Mereka sama-sama manusia dewasa dan tahu etika, tidak mungkin mereka bermesraan di depan umum.
"Aku sudah mengerti semuanya, dan aku masih butuh waktu untuk mencernanya. Jika ini dibilang kesalahpahaman, aku juga masih belum bisa mengambil kesimpulan pasti apa itu. Oke? Kita sama-sama merenung apa yang akan kita putuskan nantinya," ucap Lea lembut, dia bermaksud menenangkan Ega agar tidak terlalu merasa bersalah. Milea juga berharap Ega tidak menganggap dirinya 'menolaknya' atau 'menerimanya' kembali. Semua masih butuh pemikiran yang matang. Tidak bisa asal ambil keputusan yang bisa memperkeruh keadaan yang sudah mulai ada titik terang.
"Besok pulang ke Surabaya jam berapa?"
"Rencananya aku pulang nanti naik kendaraan umum. Tapi belum tahu jam berapanya. Kenapa?"
"Nanti bareng ya, Please..!", Ega menatap manik mata Milea sambil memohon agar mau kembali ke Surabaya sama-sama Ega.
"Lihat nanti ya, Ini sebentar lagi aku mau pulang, siap-siap takut nanti kemalaman pulang ke Surabaya."
"Makanya bareng Mas aja. Biar aman walaupun kemalaman. Secepatnya kabari jika sudah siap balik Surabaya, nanti Mas jemput, Oke? Sana masuk, di cari Ibu nanti."
Milea berlalu menuju ke dalam tenda tempat resepsi pernikahan Renata sebentar lagi. Resepsi pernikahan Renata digelar sangat meriah. Sepanjang acara digelar, tak semenit pun waktu luang untuk istirahat bagi pasangan pengantin baru itu. Maklum ini adalah puncak acara yang digelar hari ini. Banyak sekali tamu undangan yang hadir. Keluarga Pak Dhe Milea ini memang bukan keluarga sembarangan. Beliau seorang pengusaha kelas menengah. Tetapi relasinya sangat banyak mengingat anaknya juga pengusaha walaupun di bidang yang berbeda-beda.
Baik tamu undangan maupun keluarga tuan rumah tampil dengan maksimal. Kalau melihat penampilan mereka, tak ubahnya melihat fashion show secara live.
Milea memilih segera meninggalkan lokasi acara sekaligus rumah Pak Dhe nya. Dia butuh istirahat lebih sebelum nanti meninggalkan kota kelahirannya menuju kota tempatnya mengais rejeki.
Dengan menumpangi taksi online dia pulang meninggalkan keluarganya. Kepalanya mendadak pusing. Tidak ada yang tahu bahwa pertemuannya kembali dengan Ega telah menguras emosi dan pikirannya. Banyak fakta yang dia tidak tahu terungkap.
Belum lagi tentang perasaannya dan seluk beluknya. Bagaimana dia harus bersikap setelah ini. Bagaimana dia harus memutuskan jika Ega mengajaknya untuk kembali. Semuanya tidak lagi menjadi hal sederhana karena mereka terpisah dalam jangka yang lama dan dalam kesalahpahaman yang besar.
Sepasang mata elang terus menatapnya dari jauh. Tak sedetikpun melepas pandangannya. Senyum kecil terbit dari bibirnya yang agak tebal bertekstur. Kata orang bibir Ega adalah gambaran bibir seksi yang sebenarnya versi laki-laki.
Ega tampak lega Milea telah pulang lebih dulu, dan sepanjang pengamatannya tak ada laki-laki special seperti yang diucapkannya seperti tadi pagi. Ega maklum jika memang Milea mengatakan itu hanya karena malu karena terlihat masih belum move on darinya.
[ Hati-hati di jalan, cepat istirahat kalau sampai rumah. Nanti langsung WA kalau sudah mau berangkat ke Surabaya. Aku juga otw mau pulang kok ]
Milea tersenyum membaca pesan Ega, seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Setelah sekian lama tidak merasakan getaran di hatinya, kini rasa itu hadir kembali. Walaupun laki-laki yang berhasil menggetarkan hatinya adalah laki-laki yang sama di masa lalu, tapi Milea bahagia.
Milea hanya membalasnya dengan emoticon senyum dan jempol sebelum mematikan gawainya dan memasukannya ke tas kecil yang di sandangnya.
Sementara Ega juga meninggalkan tempat acara tak lama setelah taksi yang membawa Milea berlalu. Sesampainya di rumah, Ega tidak langsung memasuki kamarnya, dia bingung mau meluapkan kebahagiaannya. Ega duduk diruang tengah, menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan melonggarkan dasinya. Ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut dengan kasar. Ega bener-bener galau.
Ega terbiasa curhat ke mamanya. Tetapi ini masalah yang berbeda, orang yang membuatnya bahagia saat ini bukan orang yang dikehendaki keluarganya saat itu. Mamanya tahu dia tidak bisa mencintai mantan istrinya karena masih ada cinta untuk gadis lain.
"Sudah datang? Kok lama, katanya tadi mau sebentar saja." Tiba-tiba mamanya Ega sudah muncul di ruangan itu. Ega masih melamun sehingga tidak dengar derap langkah dari orang yang telah melahirkannya itu.
"Iya ma, acaranya seru, sampai lupa waktu dan kelamaan di sana," sahut Ega berusaha memberikan alasan yang masuk akal.
"Oh ya? Asik dong! Ada yang cakep nggak? Banyak loh orang yang menemukan jodohnya setelah menghadiri acara pernikahan. Siapa tahu kamu kecantol salah satu yang hadir di sana," ucap mamanya Ega semangat. Dia paling suka menyemangati putranya untuk segera meminang gadis pilihannya.
"Ada lah Ma. Cantik banget anaknya. Tapi masih pendekatan dulu baru bisa di bawa pulang. Sabar aja Ma, nanti juga kalau sudah waktunya Ega bawa dia pulang,"
"Oh ya? Mama seneng banget tahu? Aah, Mama do'ain cepet jadian, dan lamaran trus nikah deh. Pantes saja dari tadi senyum-senyum terus. Rupanya lagi bahagia ya anak Mama," Ega tersenyum lebar melihat binar kebahagiaan yang Mamanya tunjukkan. Seandainya Milea mau menikah dengannya dan Mamanya setuju berapa bahagianya dirinya nanti.
Berbeda dengan orang tua Milea yang lebih slow dan pengertian, orang tua Ega selalu mendesaknya untuk segera naik ke pelaminan. Beliau tidak mengerti bahwa semangat yang disuntikkan ke sang putra untuk segera menikah malah membebani pikiran putranya sendiri. Ega tidak punya pikiran untuk menjalin hubungan dengan siapapun sebelum menemukan Milea nya.
Mereka menjalin hubungan setahun lamanya, tidak lama untuk ukuran orang pacaran, tidak juga sebentar. Tetapi kesan untuk keduanya begitu dahsyat dan dalam. Keduanya ternyata terikat begitu dalam dan seperti ada ikatan batin yang kuat. Terbukti sampai sekarang masih sama-sama memiliki cinta yang besar dan sama-sama susah move on.
Hingga Milea berusia 29 tahun masih melajang, dan Ega 31 tahun masih juga betah sendiri dengan status duda.
Yang jadi beban untuk Ega saat ini, apakah mamanya akan setuju jika dia menjalin hubungan dengan Milea lagi. Karena setahu mamanya Milea lah yang menyebabkan Ega menceraikan mantan istrinya, gadis pilihan almarhum suaminya.
Ega tidak pernah membicarakan tentang Milea secara pribadi dengan sang Mama. Saat Ega masih dalam pencarian, Ega sama sekali tak siap jika harus membagi keluh kesahnya tentang Milea, karena itu akan membuat hatinya semakin terluka. Bisa menyebut namanya dan mengingat kenangannya tetapi tidak bisa bertemu orangnya.
Akibatnya, sang Mama belum tahu seperti apa Milea sampai saat ini, karena hanya namanya saja yang beliau dengar dari mulutnya. Saat ini Ega segan mau memulai bercerita tentang Milea, apalagi belum ada kepastian hubungan antara keduanya saat ini.
Flashback On
Jadi kejadian waktu itu almarhum papanya Ega sedang kritis karena serangan jantung. Sempat sadar beberapa lama dan disaat itulah tiba-tiba almarhum papanya memintanya untuk segera menikah.
"Nak, Papa ingin kamu menikah dengan anak sahabat Papa. Waktu Papa tidak banyak, tetapi sebelum meninggal Papa ingin kamu menikah dengannya. Anaknya cantik dan sopan. InsyaAllah kamu akan bahagia nantinya. Apakah kamu bersedia?" bisik sang Papa ketika Ega mendapat giliran menjenguk Papanya di ruang ICU.
Suaranya yang terdengar lirih dan terbata. Seakan tengah menahan sakit yang luar biasa. Tidak ada waktu untuk berpikir panjang lagi saat itu, yang dia pikirkan hanya keselamatan papanya.
"Baik Pa. Ega akan menuruti keinginan Papa. Tapi Papa harus berjanji Papa akan sembuh, biar bisa melihat Ega menikah," balasnya dengan suara bergetar karena menahan gemuruh di dadanya. Ega benar-benar tidak siap jika harus kehilangan Papanya sekarang.
Akhirnya pernikahan pun terjadi. Tak lama setelahnya Adi Purnomo, Ayah dari Ega keadaannya berangsur membaik. Sampai akhirnya sembuh dan dinyatakan boleh pulang oleh dokter yang menanganinya.
"Mas, ini barang-barang ku di taruh di mana? Apakah ada lemari yang masih kosong di sini Mas?" Deasy yang sejak beberapa hari yang lalu sah menjadi istri Ega, mulai hari ini secara resmi tinggal di kediaman orang tua Ega bersamaan dengan pulangnya Adi Purnomo ke rumahnya.
"Mas! Kok dari tadi diam saja sih. Kamu dengar nggak aku ngomong apa?" imbuh Deasy yang melihat Ega tak bergeming dari duduknya. Ega terlihat melamun sambil membolak-balikkan buku yang tengah di pegangnya. Entah buku apa, tetapi terlihat asik sampai tidak peduli sekitar.