Aku Mengabaikannya

1467 Words
Milea seketika menepuk jidatnya. Kenapa mendadak dunia sempit banget. Di mana-mana mendadak ada dia. Dia yang menjadi alasan kenapa Milea menjomblo sampai sekarang. Yang jadi pertanyaannya kini, mengapa dia bisa ada disini? Apakah dia kerabat dari pihak pengantin laki-laki atau teman dari sepupunya? Ah, kepala Milea mendadak berdenyut. Terlalu banyak pertanyaan yang sepertinya susah untuk mencari jawabannya. Tanpa sadar Milea menatap laki-laki itu tak berkedip. Milea tidak menyadari bahwa lelaki yang kini sedang memenuhi otaknya juga tengah menatapnya. Pandangan mata mereka bertemu, sempat terkunci beberapa saat. Milea segera mengalihkan pandangannya , sempat ia tangkap senyum kecil dibibir laki-laki paling mempesona itu. "Mil, itu loh Nduk, pendamping pengantin dari pihak laki-laki ternyata lebih cakep. Cocok deh kalau sama kamu," ujar Tante Nia semangat. Rupanya usia tidak serta merta menjadikan seleranya menurun. Tante Nia juga masih tahu pemandangan bagus. "Yang mana sih Tante, Lea nggak lihat," tanya Milea pura-pura nggak tahu. Jangan ditanya degub jantungnya yang berpacu tak biasa, seperti ada yang menggelitik di perutnya, geli dan membuatnya tidak bisa menahan senyumnya. Bodoh! Kenapa dia harus senang sih? "Itu loh Mil, kamu ini nggak peka banget sih kalau ada barang bagus. Pantesan jomblo terus, nggak bisa centil dikit kamu. Radarnya di pasang agak tinggi, biar kalau ada barang bagus bisa langsung tahu. Tuh, pasang mata pasang telinga kalau ada barang bagus, sat set langsung angkut," celoteh Tante Nia semangat, gemas dengan keponakannya yang lemot habis kalau masalah cowok. "Apaan sih Tante ini, malu tahu!Memangnya barang harus diangkut?" sergah Milea sambil menarik tangan Tantenya yang sedari tadi sibuk nunjuk-nunjuk ke depan. Kelihatan banget kalau mereka sedang membicarakan bintang tamu paling ganteng di acara ini. Pandangan Milea beralih ke gawai yang bergetar pertanda ada pesan yang masuk. [ Cantik banget sih, mau foto bareng nggak? Maju aja ya, nanti foto bareng Renata sama Rio ] Apaan sih? Pesan dari nomer tak dikenal tapi nomer yang tak sengaja dihafal Milea. Siapa lagi kalau bukan Ega Zada Aprillio. [ Nggak ah. Belum waktunya di panggil ke depan. Nanti juga dapat giliran buat foto sekeluarga. Kamu kok ada disini? ] Balas Milea dengan emoticon kaget. [ Yaah..sayang banget. Padahal aku pengen foto sama kamu loh. Aku disini sebagai saksi dari pihak pengantin laki-laki, dia staff di yayasan pusat. Jadi nggak usah heran kenapa disini ada duda keren ] Nggak perlu nunggu lama chat nya langsung dibalas Ega. [ Hm ] Milea memandang ke depan, bersamaan dengan itu Ega juga sedang memandanginya lekat. Hah? Malu-maluin banget sih. Kenapa dia pake lihat-lihat kemari. Duh, gimana kalau saudara-saudara dan kerabatnya menyadari bahwa tatapan Ega tak lepas darinya? Mendadak suasana menjadi panas. Wajah Milea memanas, tanpa sadar Milea melipir untuk meninggalkan lokasi. Dia salting berat karena pandangan Ega yang tak lepas dari dirinya. Khawatir kepergok sama keluarganya. Padahal nggak ada yang tahu juga siapa Ega, dan juga bagaimana hubungan mereka. Hah! Akhirnya Milea bisa bernafas dengan lega. Meskipun di dalam tenda terpasang banyak sekali standing fan, tapi Milea justru merasa gerah. "Mau kabur?" Milea yang baru saja mendaratkan bokongnya di bangku panjang dekat pohon besar, terkejut mendengar suara lembut yang sangat familiar di telinganya menyapa. Rupanya Ega melihat gerak geriknya dan mengikutinya. "Siapa bilang kabur? Di dalam gerah, mau ngadem." sahut Milea ketus. "Jangan modus, sudah ada yang punya ini. Sembarangan pegang-pegang!" sergah Milea ketus saat tangan Ega tiba-tiba mendarat di pundaknya. Ega malah tergelak, tetapi tak urung tangannya pun kembali ke posisi semula. Untung posisi mereka agak jauh dari kerumunan, dan perhatian semua orang sedang fokus kepada sang pengantin baru. Kalau nggak pasti disangkanya gila karena tiba-tiba tertawa kenceng tanpa sebab. Bukan tanpa sebab Ega tertawa dengan sikap Milea. Saat di kantor kemarin terlihat jelas bahwa gadis ini masih memiliki rasa seperti dulu. Rasa yang sama juga seperti yang di rasakan Ega. Bahkan, sebelum Milea keluar dari ruang kerja Ega, Milea sudah menunjukkan itu lewat gestur tubuhnya. Peluka Ega berbalas saat itu. Jika memang Milea sudah punya pacar Ega yakin Milea tidak akan melakukan itu bagaimanapun keadaannya. Milea gadis baik-baik yang menjunjung tinggi etika dan adab. Tidak sembarang orang bisa menyentuh tubuhnya walau seujung kuku pun tanpa komitmen tertentu. Pasti karena malu dan gengsi yang tinggi Milea kembali memperlihatkan taringnya. "Oh ya? Kemarin Renata sempat cerita tuh tentang kamu. Kok ceritanya lain ya," pancing Ega setelah berhasil meredakan tawanya. "Emang cerita apa? Memangnya kamu tahu Renata itu siapanya aku?" Milea kembali bertanya karena dia juga penasaran apa Ega tahu kalau dia sepupunya Renata. Jika dilihat dari seragamnya pasti semua orang tahu, mereka kerabat dekat. Tetapi tepatnya sebagai apa belum tentu tahu bukan? "Kamu sepupunya Renata, lebih tepatnya anak dari Omnya dia. Bener nggak? Dan kemarin setelah aku cerita aku kenal kamu, dia langsung banyak cerita tuh tentang kamu. Katanya kamu itu kayak nggak normal. Eit, jangan marah dulu." Melihat gelagat Milea yang hendak marah, Ega langsung menyelanya. "Alasannya begini, kamu tuh nggak pernah mau dijodohin dengan siapapun, bahkan sekedar kenalan aja nggak mau. Kalaupun ada yang nekat datengin rumah kamu, pasti malah terjadi sebaliknya, kamu akan sangat membenci laki-laki nekat itu dan menjauhinya. Dan satu lagi, kamu belum pernah terlihat membawa teman laki-laki satupun, bahkan telponan sama laki-laki secara pribadi belum pernah mereka lihat. Jadi, apakah aku bisa percaya kalau kamu sekarang ada yang punya?" Lanjut Ega panjang lebar. Kalimatnya yang jelas dan lugas membuat Milea terbungkam. Kosa katanya mendadak lenyap dari otaknya. Malu! Malu sekali saat dirinya ketahuan belum bisa move sama mantan pacar. "Mil," panggil Ega sangat lembut. Milea masih saja diam tak bergeming. Kenapa harus sebegini susahnya untuk move on? Kenapa harus sesakit ini melepaskan Ega buat orang lain? Bukankah level tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan untuk dia berbahagia? Apakah itu berarti dia tidak mencintai Ega melainkan hanya obsesi? "Sekali lagi maaf ya jika karena aku kamu bisa sesakit ini. Jika karena aku kamu bisa setrauma ini, aku pun menyesal tidak mau berjuang sedikit saja untuk kita. Aku pun tak kalah sakitnya dibanding kamu. Apalagi melihatmu tidak baik-baik saja, sakit itu berkali-kali lipat aku rasakan. Please, jangan menjauh, izinkan aku menyembuhkannya, oke?" mohon Ega sekali lagi. Tatapan mata yang lembut sekaligus tajam semakin membuat Milea belum mampu berkata-kata. Dia hanya diam sembari menahan airmata yang hendak tumpah. Sekali lagi dia bertanya dalam hati, benarkah laki-laki yang sampai saat ini masih dicintainya ini menyesal? Milea memberanikan diri sekali lagi untuk menatap mata itu untuk menemukan kebohongan itu di sana. Tapi tidak ia dapatkan sama sekali. Justru sebaliknya, tatapan sendu itu menyiratkan luka yang tak kalah dalam dengan apa yang dialaminya. Apakah dia tidak bahagia dengan pernikahannya dulu sehingga harus bercerai? "Maaf, aku ke dalam dulu, nggak enak dilihat orang, nanti ada yang mengira aku adalah pelakor." Tanpa mau menunggu jawaban Ega, Milea secepat kilat masuk ke tenda meninggalkannya. Tetapi gerakan Ega tak kalah cepat, tangan Milea tahu-tahu sudah di pegang dengan lembut oleh laki-laki yang masih bertahta di hatinya itu. "Lea, please! Kasih aku kesempatan buat menyelesaikan penjelasan aku kemarin. Oke?" Kini kedua tangan Milea sudah di genggaman Ega. Tidak ada alasan untuk menolaknya. Mereka kembali duduk di bangku panjang. Kapan lagi Ega bisa mengakhiri ke salah pahaman ini? Biarlah dia agak memaksa Milea untuk mau mendengarkannya. Seandainya waktu bisa diulang, dia juga tidak ingin menyakiti hati gadis yang dia anggap tercantik di dunia itu setelah ibunya. Keadaan yang memaksanya menyakiti wanita berhati lembut ini. Dan takdir telah membawanya sejauh ini, rasa sakit yang sama-sama dirasakan Milea dan dirinya, telah menimbulkan reaksi hampir sama. Semenjak bercerai Ega tidak mau dekat dengan perempuan manapun, bahkan hanya kenalan saja dia tidak pernah memberi kesempatan untuk perempuan lain selain Milea. "Lea, dengerin baik-baik Mas ya. Tidak akan ada sebutan pelakor buat kamu. Meskipun Mas pernah menikah, tapi Mas sudah cerai lama. Sehabis Papa meninggal, Mas langsung urus ke Pengadilan Agama untuk bisa bebas dari pernikahan itu." Melihat Milea sudah mulai melunak, Ega kembali menyebut dirinya dengan kata Mas di depannya. Panggilan yang saat mereka pacaran selalu di gunakan Milea untuknya. Selain lebih tua dia tahun, Ega juga kakak tingkatnya waktu itu. "Aku nggak pernah menganggap dia ada, aku mengabaikannya. Kata orang sikapku terlalu kejam kepadanya walaupun aku tidak pernah menyentuhnya walau seujung kuku pun. Aku juga tidak pernah memakinya sama sekali. Hanya saja Mas yang biasa ramah kepada siapa saja mendadak jadi pendiam, bahkan pada saat dia bicara pun tidak pernah Mas tanggapi. Mas tidak pernah merespon apapun yang mereka bicarakan, kata orang Mas gila, stress, depresi dan masih banyak lagi yang lainnya. Tapi Mas tidak peduli. Yang ada di pikiran Mas, bagaimana caranya bisa menemukan kamu kembali dan mendapatkan maafmu. Itu saja Lea! Hanya kamu yang ada di sini. Hanya kamu! " ucap Ega penuh dengan penekanan di setiap kata yang keluar dari mulutnya, seakan mewakili emosi yang dia tahan semenjak dia kehilangan jejak Milea. Sambil menunjuk pelipis dan dadanya, Ega menatap tajam Milea. Menuntut wanita itu untuk mengerti bahwa dunia Ega hanya tentang dirinya, bukan yang lain!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD