"Issh! Nggak lucu! Cepetan ini udah capek, pengen cepat sampai rumah. Kangen sama Zio. Gimana kabar Zio? Dia ikut kakak ke rumah Ibuk 'kan?" tanya Milea sambil memeluk pinggang kakaknya. Dia memang sangat manja kalau sama kakak laki-lakinya ini. Berbeda kalau sama kakak perempuannya, cenderung kayak musuh, banyak debat pokoknya. Tapi meski begitu mereka adalah keluarga yang sangat dicintainya.
"Dia sehat, tambah ganteng kayak bapaknya," ucap Rendy narsis, yang membuat Milea mencebik.
"Tahun ini rencana mau masuk PAUD loh," lanjut kakaknya yang terlihat bangga memiliki anak yang hendak masuk sekolah.
"Kok tadi nggak diajak, biasanya dia paling seneng kalau lihat kereta," tanya Milea sambil memasuki mobil kakaknya. "Tadi itu dia mau ikut tapi terlanjur ketiduran waktu mau berangkat, kalau dipaksa nanti yang ada jadi rewel seharian," jawab Rendy kalem. Milea jadi tambah kangen sama tuh bocil. Membayangkan lucunya sang keponakan jika sedang tidur, semakin membuat dia tak sabar untuk sampai rumah.
Mobil Rendy berjalan dengan kecepatan sedang, agak macet hari ini. Jadi, jika biasanya hanya menghabiskan waktu 20 menit untuk sampai rumah, ini jadi setengah jam. Kayaknya habis ada kecelakaan atau insiden apa, karena nggak biasanya macetnya sampai padat banget.
"Tante!" Teriakan anak kecil menyambut kedatangannya, bahkan sebelum kakinya menjejak ke tanah.
"Halo gantengnya Tante, sudah makin besar aja. Makannya apa ciih?" Lea segera melompat dari mobil dan menggelitiki perut sang keponakan sampai keduanya tertawa lepas.
"Sudah-sudah, biar Tante nya istirahat dulu. Apa kabar Nduk? Sehat?" Ibunya tiba-tiba datang menengahi dan memeluk si bontot kesayangannya.
"Nih, seperti yang Ibuk lihat. Alhamdulillah sehat terus. Ibu sendiri bagaimana? Sehat juga 'kan?" tanya Milea balik sambil mencium tangan perempuan yang telah melahirkannya itu. Tak lupa dia mencium kedua pipi sang ibu.
"Alhamdulillah sehat juga. Bapakmu sudah berangkat duluan ke rumah pakde mu. Acara intinya besok, tapi hari ini sudah repot banget di sana. Dari pada di rumah bengong, mending di sana bisa bantu-bantu." Tanpa ditanya ibu Ratmi, ibunda Milea menjelaskan keberadaan sang bapak. Karena sebentar lagi pasti putrinya itu akan menanyakan keberadaan beliau. Maklum, jarang mudik jadi kangen berat, apalagi Milea terhitung sangat dekat dengan ayahnya.
Setelah bercengkerama sambil makan siang, Milea memilih istirahat di dalam kamarnya.
"Kemarin kakak iparmu yang membersihkan kamar kamu. Ibu nggak sempat, beberapa hari di rumah Pak Dhe mu bantu-bantu," celotehan sang Ibu masih bisa Lea dengar sebelum dia memasuki kamar. Kakak dan keponakan serta kakak iparnya sudah pulang kerumahnya. Jarak rumah kakaknya dan rumah orang tuanya hanya sekitar 15 menit perjalanan saja.
"Iya Buk, nggak apa-apa, yang penting sudah dibersihkan. Nanti kalau ketemu Mbak Mala, Lea mau ngucapin terima kasih deh," sahut Milea sebelum menutup pintu kamarnya.
Banyak memori yang tersimpan didalam kamarnya ini. Dulu, dia selalu menghabiskan banyak waktu di dalam kamar ini. Mulai mengerjakan tugas, tidur atau sekedar tiduran dan ketika dia chat sama mantan, juga ia banyak terima telpon dari Ega waktu itu, di kamar ini.
Sempat ia taruh foto berbagai pose dari sang kekasih. Kini semua telah tiada, semua telah ia musnahkan. Kamar ini juga menjadi saksi bisu dimana dia menangisi kepergian sang kekasih hati untuk mengikat janji dengan gadis lain. Kini semua telah berlalu, dan seharusnya ikut berlalu pula cintanya untuk sang pujaan hati.
Tetapi itu tidak mudah untuk dilakukannya. Apalagi setelah mendengar penjelasan Ega yang di luar perkiraannya. Sudah jelas akan lebih susah buat move on.
"Lea, keluar dulu! Ini Bapak datang!" teriak Ibunya dari luar kamar.
"Iya Buk, sebentar!" balas Milea tak kalah keras, takut Ibunya tidak bisa menangkap suaranya, karena kamarnya cukup luas dengan pintu terkunci rapat.
Dengan setengah berlari Milea keluar dari kamar. Ingin segera berjumpa dengan sang ayah. Cinta pertamanya itu adalah laki-laki yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan. Kesabaran yang dimiliki seakan tak terbatas. Milea merindukan laki-laki yang menjadi idolanya itu.
"Assalamualaikum Bapak, bagaimana kabar Bapak? Sehat?" berondong Milea begitu sampai di hadapan ayahnya.
"Baik Nduk, berkat doa kamu," jawab Ayahnya sambil meraih putrinya ke dalam dekapan. Sebenarnya sang ayah tahu apa yang menjadi pikiran putrinya hingga memilih hidup merantau dan memilih hidup sendiri sampai sekarang. Tetapi sebagaimana laki-laki pada umumnya dia tidak mau terlalu banyak bicara atau kepo dengan kehidupan putrinya.
Beliau takut malah memperparah keadaan putrinya jika terlalu banyak ikut campur. Beliau yakin putrinya sudah dewasa dan bisa menyelesaikan sendiri masalahnya. Dia sudah tahu mana yang benar mana yang salah. Jika merasa tidak sanggup pastilah mengadu kepada dirinya. Dia bukan ayah yang arogan sehingga putrinya sendiri takut mengadu kepada dirinya.
"Pasti lah Pak, Milea selalu doakan Bapak supaya sehat terus, bahagia terus dunia akhirat," sahut Milea sambil mengecup kedua pipi Ayahnya.
"Aamiin. Oh ya Nduk, kamu mau ke rumah Pak dhe mu kapan. Akad nikah dan resepsinya besok. Tapi nanti juga ada acara di rumah Pak dhe mu. Semua keluarga juga ngumpul disana," tanya Bapaknya setelah duduk di sofa ruang tengah.
"Lea besok saja ya Pak, yang penting kan dateng ke acara inti. Milea masih capek, mau lanjut istirahat dulu". Milea memberikan alasan capek agar bisa absen malam nanti. Dia malas kalau harus bertemu dengan tante-tantenya yang julid. Mereka tak pernah ada bosan-bosannya bertanya kapan Lea nikah, punya pacar apa belum. Dan ujung-ujungnya membandingkan dengan sepupunya yang sudah lebih dulu berumah tangga walaupun usianya jauh lebih muda dari Milea.
Dan ayahnya juga tahu Milea selalu menghindari momen seperti itu. Berbeda kalau Lea datang di acara utama besok. Semua orang pasti sibuk sehingga tidak ada waktu untuk membully nya. Walaupun mereka tidak sibuk bantu-bantu, pasti mereka sibuk foto dan selfie sana sini. Ada juga yang bantu habisin makanan pastinya.
"Oya Nduk, ini seragamnya jangan lupa dicoba, siapa tahu ada yang perlu dirubah. Entah kebesaran atau kekecilan, biar dijahit Ibu kamu. Kalian datang besok saja biar bapak sama keluarga kakak-kakakmu yang datang sekarang," ucap Ayahnya penuh pengertian. Bagaimanapun beliau juga ikut sakit hati kala anaknya di bully. Bahkan jika ada yang berusaha menjodoh-jodohkan anaknya dengan seorang laki-laki yang mereka pilih, dia orang pertama yang tidak suka. Walaupun kata orang anaknya perawan tua, tapi anaknya bukannya tidak laku, hanya saja putrinya itu masih butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya.
Dan keesokan harinya keluarga Milea telah bersiap dengan seragam masing-masing. Semua kebagian termasuk bocil-bocil. Keluarga kakak-kakaknya mampir terlebih dahulu ke rumah orangtuanya, sebelum pergi ke rumah Pak dhe nya.
"Lea, sudah siap belum? Buruan, nanti terlambat loh. Akad nikahnya jam 9 ini." Dengan suara cerewetnya kakak perempuannya mengingatkan agar Milea cepat bersiap. Alya memang selalu begitu, sudah sifatnya terlalu banyak bicara begitu.
"Sudah Kak, yuk berangkat." Milea ternyata sudah siap berangkat dengan seragamnya. Dia terlihat sangat cantik dengan kebaya warna sage green, sesuai tema dekorasinya hari ini. Make up nya yang minimalis justru menambah kesan elegan dan tak berlebihan.
"Wih, anak Ibuk cantik banget, kayak mau diwisuda dulu. Ibuk takut kalau kayak gini," ujar Bu Ratmi terlihat panik.
"Takut kenapa Buk?" tanya suaminya penasaran. Dahinya mengernyit, heran dengan reaksi istrinya melihat kecantikan sang putri.
"Takut pengantinnya kalah cantik sama anak Ibuk," sahut Ibu Milea yang di sambut derai tawa keluarganya. Mereka geleng-geleng kepala menghadapi kenarsisan sang Ibu. Pujian sang Ibu, tak pelak membuat Milea tersipu.
"Ibuk ada-ada saja. Ayuk berangkat nanti ketinggalan acara akad loh. Kan sayang banget sudah dandan capek-capek nggak bisa lihat akad nikahnya," kilah Milea menyembunyikan kegugupannya akibat pujian ibunya.
Mereka berangkat dengan dua mobil. Milea ikut dengan keluarga Rendy, kakak laki-lakinya, dan orang tua Milea ikut rombongan Alya, kakak perempuannya.
25 menit perjalanan mereka sampai di tempat acara. Suasana tampak meriah walaupun tidak menyewa gedung. Halaman rumah Pak Dhe nya memang luas dan ditambah tenda yang mewah dan kekinian membuat kesan wah sangat kentara.
Mereka disambut penerima tamu yang didandani dengan make up yang cetar dengan seragam yang berbeda dari mereka.
Karena waktu sudah mepet, Keluarga besar sudah menempati tempat duduk khusus di dekat acara akad nikah berlangsung. Keluarga Milea tak ketinggalan untuk mengambil tempat yang disediakan.
"Milea kapan datangnya, kangen tante sama kamu. Tambah cantik saja," sambut tantenya sambil menciumi pipi keponakannya.
"Kemarin Tante, Om dan yang lainnya apa kabar?" tanya Milea sambil mencium tangan tantenya takzim. Karena lama tak bertemu, Milea sempat ber basa basi sebentar dengan beberapa kerabat.
Acara segera di mulai seiring dengan suara MC yang mulai menggema ke seluruh ruangan di dalam tenda. Semua tegang dan khidmat menyimak rangkaian acara yang berlangsung. Milea jadi membayangkan bagaimana nanti jika dia yang jadi pengantin. Mungkin lebih tegang dari yang dia lihat sekarang atau lebih santai. Trus siapa yang akan jadi pengantin lelakinya. Kapan waktu itu akan tiba? Apakah pengantinnya lebih cakep dari Ega ataukah lebih jelek? Hish... mikirin apa sih aku?
"Mil, itu suaminya Renata ganteng ya?" bisik Tante Nia dari samping telinganya.
"Iya, Tante. Cakep," canda Milea. Baginya yang paling cakep hanya lah sang mantan. Kalau itu semua orang juga pasti mengakuinya.
Saah? Saah!!
Lamunan Milea mendadak buyar seketika saat suara sah menggema bersahut-sahutan di depan sana. Posisi duduknya yang agak di belakang membuat pandangannya tidak leluasa melihat pasangan pengantin baru itu. Sebab, kursi di deretan depan diisi kerabat yang sudah tua-tua.
Setelah sedikit melakukan usaha, akhirnya dia bisa melihat pasangan pengantin baru yang tampak memancarkan aura kebahagiaan.
Milea tiba-tiba terharu melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah sepupunya.
'Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah' Doanya tulus dari dalam hatinya.
Milea terus menatap ke depan, bahkan sampai sang pengantin merubah posisinya karena mau diambil gambarnya oleh sang fotografer.
Mata Milea melotot seketika menyaksikan apa yang ada di depan. Matanya agak menyipit untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Ya Allah, ya Tuhanku! Kenapa harus ada dia juga di sini?